Sabtu, 10 Januari 2015

[ ] *

I

Sekali ini, matahari tergesa-gesa terbit tenggelam
Hari-hari yang dingin, malam-malam yang gigil


II

Pohon-pohon meranggas, orang-orang bergegas
Wewarna hutan dan alon ombak menggapai dermaga
di kejauhan, guruh angkasa dibelah unggas bikinan manusia


III

Momiji yang masih setia, retas perlahan,
diam-diam menunggu salju berguguran


IV

Petang, remang jalanan lengang
Bayang-bayang melintasi aspal yang terang
Ada sedikit percakapan yang bisa kita dengar di sana
Selebihnya, senyap yang pekat


V

Ada yang menanti, kata-kata yang ala kadarnya
diujung hitungan jari yang tersisa



*) Tak kujuduli tulisan ini, karena aku tak tahu bagaimana merangkum semua ini dalam kata-kata yang tepat maknanya

Rabu, 31 Desember 2014

Januari

Sora, pada jarak ini aku ingin kembali menemuimu.

Kita tak pernah menghitung waktu. Tahu-tahu, betapa jauh aku dari kenangan akanmu. Satu dekade dan aku hanya menghitung jari satu tangan saja tak sampai. Kamu, satu diantara jari-jari  yang kuhitung itu. Yang lainnya, ah, tak perlu kita bicarakan di sini.

Kalau boleh aku katakan, saat ini aku begitu putus asa. Mencari jari yang dapat kumasukkan dalam hitungan. Di negeri mimpi ini, aku bermimpi dapat bertemu seseorang. Tapi, ketika batas waktu untuk terjaga telah siaga, aku sadar, aku terjebak dalam sebuah romantika bacaan anak remaja.

Kalau boleh aku katakan padamu, tubuh kita menua. Semakin renta, pada rindu-rindu masa lalu, yang gempita juga pilu, romansa yang tak kunjung habis-habisnya. Adakah kita harus kembali pada masa-masa itu hanya karena aku begitu mendambakan ombak yang bergumul menghempas pantai dan menghalau kupu-kupu yang terbang menggelitiki dada kiriku? Atau adakah kita harus bertemu lagi pada waktu yang tepat tempat yang tepat dikesempatan yang kita buat? Jangan-jangan, sesungguhnya kita saling berdoa, agar jangan dipertemukan lagi, agar kau bertemu romansa yang lebih gampang tapi bukan gampangan, agar kau tak perlu susah payah gelisah tiap malam memikirkan jarak yang harus ditempuh agar benang-benang tak kusut.

Aku susah payah memperpanjang jarakku dan kau, tapi akhirnya lagi-lagi Januari mengingatkanku padamu, pada perpisahan diujung Desember, juga pada surat yang akhirnya aku kirimkan padamu di bulan Januari, juga pada yang aku ambil di bulan Desember, juga pada kerinduanku untuk dapat jatuh cinta di bulan Januari.

Kita sama-sama menua. Romansa itu, bagiku, begitu abadi.

Kamis, 20 November 2014

Sama Bersama

Jangan salahkan takdir, ketika pada akhirnya Ia mengirimmu padanya.

Entah kapan, saya baca sebuah teori fisika aneh, yang ada kaitannya denganmu. Teori itu berkaitan dengan proses nuklir saat penciptaanmu. Mungkin kamu dan dia saling tertarik satu sama lain karena saat terbentuknya semesta, atommu dan atomnya berdekatan. Meski ruang dan waktu mengembang mengempis, meski terlah melalui berbagai dimensi, pada akhirnya atom-atommu dan atom-atomnya akan kembali berdekatan.

Sekali lagi, jangan salahkan waktu, jika pada akhirnya Ia mempertemukanmu dengannya. Jangan salahkan jarak, jika pada ujungnya kau dekat (lagi) dengannya.

Kamis, 06 November 2014

Purnama Kelima

Sukra Kliwon


Kita tak akan pernah bisa beranjak. Selalu ada arus yang membawaku kembali kepadamu, ingatan tentangmu. Seperti ombak yang tiada habis-habisnya kembali ke dermaga, seperti matahari terbit tenggelam yang tak pernah berhitung waktu, seperti rembulan yang sabit kembali purnama. Aku tak membenci laut, matahari pun purnama. Hanya saja, kombinasinya mengingatkanku kepada dirimu.

Kemana saja aku selama ini? Rasanya, aku terdiam begitu lama. Apa yang aku lewatkan? Ah, iya, benar, aku mungkin telah melewatkanmu. Iya, betul-betul melewatkanmu. Dan mungkin, pun aku tak ingin kembali pada saat-saat itu di masa depan. Aku, mungkin tak ingin menemuimu lagi, dalam sebuah roman.

Aku, tak ingin bertemu denganmu dalam sebuah cerita roman. Itu saja.

Senin, 20 Oktober 2014

Hanya Sebuah Pesan Setelah Sekian Lama

Untuk sahabatku, saudara seperguruan, dan partner in crime saat remaja yang sedang berada di bumi Parahyangan. Ah, mungkin juga kuperuntukkan pada sahabat-sahabatku yang lain. Surat ini telat, karena aku kalah dari peperangan dengan kesibukan yang lain


Mari kita buka surat ini, monologku ini.

Sudah lama sejak aku bertatap muka denganmu. Kapan ya itu? Setahun lalu? Dua tahun lalu? Tapi itu tak penting, mengukur waktu itu tak penting. Bukankah waktu benar-benar telah memekarkan jarak kita saat itu hingga saat ini? Kita semakin jauh. Menjauh. Dan ingatan semakin samar. Saru dengan masa lalu, kenangan yang dahulu. Aku mulai susah mengingat kejahatan apa yang pernah kita lakukan bersama di masa lalu. Ah, bahkan, percakapan kita yang terakhir saja aku sudah lupa, atau kapan, aku sudah lupa. Otakku seenaknya saja mereduksi ingatan-ingatan tak penting yang penting. Daripada berusaha mengingat lagi, kita lebih sering mengenang, berusaha mengenang kepayahan. Kita lebih sering menyalahkan waktu, ketimbang berusaha mencari luang, meluang, padahal ya, bukan itu alasannya. Hanya aku kamu tahu, ada yang tak bisa kembali meski dikenang satu-satu

Mungkin kita hanyalah debu di antara udara, atau mungkin lebih kecil daripada itu. Semesta begitu luas, meluas. Dan kita saling menemukan satu sama lain, lalu berpisah dan dipertemukan kembali, lalu berpisah, lagiTapi waktu sepertihalnya air, dan jarak seperti halnya karet, mulur melar, pada setiap langkah yang kita tempuh. Mungkin kau juga tau, ada yang tak bisa aku sambung, meski jarak begitu jauh. Ada yang tak bisa aku seberangi, meski ada jeda begitu lama.


Maaf, mungkin aku memang kurang berusaha, mungkin aku memang malas berusaha, mungkin memang sudah waktunya kita berubah? Atau memang kita telah berubah. Atau memang aku berubah. Begitu pula kau telah sadar itu. Mungkin.


Tapi, aku pastikan satu hal ini. Akan selalu ada tempatmu untuk kembali kepadaku, meski aku bukan yang dulu, dan kamu juga bukan yang dulu. Kita sama-sama baru. Detik ini. Nanti.

Selasa, 08 Juli 2014

Percakapan (Saat) Mendaki

Dan bukankah, Tuhan tak memberikan cobaan yang tak dapat manusia lampaui?



Entah sudah berapa kali, berapa lama, tanjakan ini kutempuh. Kadang pelan-pelan karena memang susah, kadang pelan-pelan karena pemandangan yang menggugah, kadang pelan-pelan karena memang ingin beristirah, kadang pelan-pelan karena terpintas untuk menyerah. Kadang cepat-cepat karena bersemangat, kadang cepat-cepat karena ingin lekas sampai. Tapi, di balik puncak masih ada puncak lagi.

Kadang terpikir, ah, sudah, menyerah saja, di rumah ibu masak makanan kesukaanku. Di rumah ada televisi, nonton sambil tiduran di kursi empuk enak sekali. Sedang, apa-apaan tanjakan ini? Lagipula, mengapa aku harus menempuh tanjakan ini? Tuhan, apa kau sedang bercanda kepadaku? Bukakah kau berikan orang lain jalan yang lebih mudah daripadaku? Aku, aku sungguh tak mengerti lagi. Kalau aku putar balik dan menyusuri jalan pulang, tak mengapa kan?

Tapi, tapi, tapi, aku tak rela. Meski tanjakan ini akan berakhir di tanjakan lainnya, meski puncak yang kutuju bukan lah puncak yang sebenarnya, aku akan terus menyusuri jalan ini. Setidaknya, kalau aku bosan aku akan terus berjalan dan pura-pura senang. Jikalau pemandangan sekitar memang lebih indah, aku akan pelan-pelan saja. Sesekali nyasar juga tak mengapa. Tapi aku tak akan berhenti di sini, meski aku tak dapat berlari. Gila aja tanjakan lari, mau bunuh diri dengan mematahkan kaki apa?

Ya, begitu saja, aku setuju. Aku akan simpan tangis keputus asaanku ini buat esok, esok ketika aku menyelesaikan tanjakan ini. Ya, tanjakan ini, dan tanjakan tanjakan lainnya.

*

Hidup memang seperti mendaki. Puncak sudah terjanji, nanti kamu akan moksa lebur ing pati.

Selasa, 20 Mei 2014

Menolak Lupa

Menjelang senja, kutemukan serangkaian kata yang kau tuturkan dengan begitu syahdu, hingga ngilunya sampai kepadaku.

Aku telah belajar untuk merelakanmu, kawanku, membagimu dengan orang yang kini lebih mengenalmu. Karena aku tahu, yang kukenal darimu hanya secuplik dari masa lalumu, masa-masa ketika kau baru akan tumbuh jadi orang dewasa yang kini sering kali menyebalkan. Kau bilang kau mulai lelah dengan pertemanan ini. Tapi mengapa aku malah semakin merasa aku ingin terus bersamamu hingga entah kapan? Bukan bersamamu untuk berbagi hidup, tapi bersamamu untuk mengenang masa lalu yang begitu jaya, yang nikmatnya mungkin tak terkalahkan oleh kebahagiaan manapun yang kita rasakan sekarang.

Aku tahu kamu hanya sedikit cengeng. Dikit-dikit mengeluh malas bertemu, dikit-dikit ngambeg dan mutung karena ketidak jelasan kita yang masih bertahan sejak dulu. Tapi bukankah kau sudah mengenalku dan mereka setelah sekian lama? Apa jangan-jangan, selama tahun-tahn terakhir ini kau telah melupakan nikmatnya menjadi anak muda yang suka basa basi bercanda sana sini tak jelas ujungnya seperti yang biasa dulu kita lakukan? Ah, mungkin kau memang sudah menua, hingga lupa.

Kau bilang, pada akhirnya, tak ada yang benar-benar kau kenal dariku, darinya, dari mereka. Itu kata-kataku, kau ingat? Dulu mungkin aku akan bersikeras kalau aku tak menyukai perubahan. Tapi apa daya, bahkan semesta saja mendukung setiap perubahan yang ada.

Kawan, aku sedih melihatmu menghindar seorang diri, menghindari teman-temanmu yang kau bagi masa muda di masa lalu, mengabaikan semua jenis kontak yang kucoba lakukan untuk menjangkaumu. Aku merasakan kehilangan yang teramat sangat akan penolakanmu itu. Sudah cukup bagiku hanya bertemu denganmu setahun dapat dihitung jari. Tapi jangan kau tambahi lagi dengan ke-takbersediaan-mu untuk bertemu.

Ah, aku tulis panjang lebar disinipun, kau bahkan tak pernah meliriknya, kan?
Sudah, aku tahu kau berubah. Semua orang berubah. Tapi kita harus berkompromi dengan perubahan ini. Karena aku menolak untuk melupakanmu.