Kamis, 31 Desember 2009

Aromamu dan Rumah itu

Masih kah kau ingat padaku?
Hari-hari penuh dengan tetesan hujan yang bergelayut pada awan. Angin telah mengantarkan waktu pada lalu. Hanya aku yang tak berubah di sini, kau mengerti itu?

Sakura milik tetangga rumahmu yang dulu telah gugur habis terkikis dan terbawa hembusan angin barat daya. Hujan meresapi tanah dan tulang belulangku yang terhenti pertumbuhannya. Seatan ingin memprotes waktu agar berhenti sejenak menantinya sekali saja.

Tapi sebelum aku pergi, ku buka kembali kaleng harta karun, tempatku menyimpan surat-suratnya. Masih kah kau ingat kepadanya, tetanggamu yang sering bertukar kertas bersamaku? Katanya, perasaan itu datang dengan begitu cepat, tanpa ada alasan yang bisa menjelaskan, tanpa teorema yang bisa memecahkan kode arti rasa itu, tapi kepergiannya begitu cepat dengan meninggalkan bekas, luka atau seulas senyum.
Lima tahun berlalu begitu cepat tanpa kurasa, tapi aku yakin kau telah melupakannya. Hujan masih sama, jalanan masih sama, embun masih sama, angin amsih sama, langit masih sama, matahari masih sama, aku masih sama, tapi kau telah berubah sebelum sempat aku tersadar bahwa kau telah lama berubah.

Hari-hari aku lewat depan rumahmu dulu, hujan masih sama, mendung masih sama, udara masih sama, dan aromamu yang tertinggal di rumah itu masih sama. Aroma yang menguap ketika satu-satu hujan membawahi tanah dan aku yang masih menantimu. Ya, aromamu itu masih tertinggal di sana, yang selalu ku nikmati dengan perlahan menghidup udara, seolah aku ingin menghentikan waktu agar aku bisa menghidupnya lebih banyak lagi. Aroma yang seperti aroma buah semangka yang menuntaskan dahaga di bawah terik matahari. Ya, itulah aromamu, surga bagi imajiku yang terus hidup dengan menghentikan waktu meski aku telah menua.

Sora, andai saja kau tahu, aku ingin sekali melupakanmu. Andai saja aku bisa melupakanmu, tapi aku tak bisa, tak akan pernah bisa.

Sabtu, 26 Desember 2009

Kata-katamu

Andai saja kau tahu, aku masih menantikanmu di tempatku ini. Barang sekedar kirimi aku kata-katamu saja kau pun tak bisa. Hari-hari langit berganti, tapi aku masih menunggu kata-kata yang kau janjikan. Kau bilang, kau telah lupa padaku, pada semua kalimat yang masih tetap aku pegang walau angin tak mau lagi membisikkannya padaku. Aku tau kau telah lupa dan telah menanggalkan semua sejarah yang masih tetap aku jaga, tapi aku meminta padamu tolong jangan kau hapus namaku dari tempatmu menyimpat gambar orang lain itu. Aku tak punya tempat lagi, tak dimanapun, tak ada di hati siapa pun. Ya, aku tak peduli keberadaanku di hati orang lain, aku hanya ingin namaku masih tetap kau ingat di dalam benakmu jika hatimu telah penuh.

Sora, jika kau memang benar-benar berniat untuk melupakanku, maka biarkanlah hatiku yang telah kau bawa pergi kembali padaku. Ya, kembalikan hatiku yang telah kau bawa pergi kepadaku. Tapi asal kau tahu saja, aku tak akan pernah menggantikanmu dengan orang lain. Tak akan pernah.

Rabu, 23 Desember 2009

Anak Laki-laki Keluarga Bittersweet dan Roket Kayunya

Beberapa hari lalu seorang gadis datang padaku untuk bercerita tentang kakak laki-lakinya. Ia mengaku berasal dari keluarga yang bernama Bittersweet, dan ia memiliki seorang kakak laki-laki bernama Basil. Mereka tinggal berdua sejak kematian ayah dan ibu mereka. Basil, sang kakak bekerja sebagai tukang kayu. Dan mereka tinggal di pinggir negeri yang bernama Burnet, dekat hutan Elder.

Katanya, kakaknya sedikit aneh, jarang bicara, tapi ketika ia ingin berbicara maka ia akan berbicara sangat lama. Satu hal yang membuatnya semakin aneh adalah karena ia 'menyukai' awan, sangat 'menyukai'. I amembenci musim panas karena ia akan jarang melihat awan. Jika hari di musim panas dengan langit yang berawan, ia pasti akan segera pergi ke hutan untuk menebang kayu, lalu pulang siang dan bersantai sambil mengagumi awan. Aneh sekali bukan?

Hal yang membuatnya semakin aneh adalah ketika ia ingin pergi ke negeri di atas awan. Ia pernah mendenagr cerita dari Jack, anak laki-laki yang pernah pergi ke negeri di balik awan dengan kacang ajaibnya. Ya, sejak saat itu, anak laki-laki keluarga Bittersweet itu bertambah aneh.

Suatu hari, ia menjual banyak sekali kayu untuk di jual ke kota. Saat tengah hari, ia berkeliling kota mencari penjual kacang ajaib. Tapi tentu saja ia tak menemukannya. Lalu ia pergi ke tukang loak dan menemukan buku aneh yang membuatnya ingin membuat roket kayu. Gadis itu heran, bagaimana bisa roket kayu bisa mengantarkan kakaknya ke balik awan?

Suatu ketika, anak laki-laki keluarga Bittersweet membawa pulang sebuah kantong yang berisi serbuk terbang lalu menaburkan separuhnya pada roket kayunya. Lalu ia pergi tanpa berpamitan kepada adiknya dan pergi ke negeri di balik awan stratus, negeri bangsa bertopi kerucut. Sesampainya di sana, ia bahagia, berhari-hari ia di sana. Tapi ia tak bisa melihat awan lagi, ia malah ingin pergi ke bintang.

Ia lalu pergi ke negeri di balik awan Cumulus, negeri raksasa, untuk mencari sebuk terbang. Ia tak mendapatkannya, hanya mendapatkan serbuk roket. Hingga ia bisa sampai ke bintang. Di sana, ada sebuah negeri bernama Arbor Vi. Dari sana ia bisa melihat awan, tapi tak secantik dari rumahnya. Lalu ia meminta seseorang dari Arbor Vi mengantarkannya pulang. Ia pun akhirnya bisa pulang dengan tunggangan bintang jatuh.

Sejak saat itu, anak laki-laki keluarga Bittersweet jadi semakin aneh. Kini ia 'menyukai' bintang dan juga awan. Kurasa ia sudah gila.

Anak perempuan itu bertanya padaku, haruskah ia membawanya ke rumah penyembuh jiwa?

Kamis, 17 Desember 2009

Kisah Seorang Pengamat

Dahulu kala, hidup seorang bernama Fir, yang tinggal di sebuah negeri bernama Saffron yang makmur dan tercukupi. Ia adalah seorang pemilik kedai minum yang memiliki pohon Periwinkle di depan kedainya sebagai penanda kedai miliknya. Di kedai itu, berbagai orang dari berbagai negeri berdatangan dan saling bertukar kabar. Dan ia dengan setia kadang menemani tamu-tamunya hingga malah larut.

Suatu ketika, ia merasa bosan mendengarkan kabar para pengelana yang datang kepadanya. Ia ingin pergi ke semua tempat, semua negeri yang pernah ia dengar keindahannya. Hingga suatu hari, datanglah seorang yang bernama Kronos yang mengaku berasal dari negeri yang bernama Chasovnik. Seseorang yang aneh itu menawarkan kebebasan kepadanya. Ia dapat bepergian ke semua negeri hingga antah berantah dengan bayaran jiwanya. Ia menyetujuinya, menukarkan jiwanya kepada Kronos, dan Kronos lalu memberikan sebuah emblem bernama Acorn, biji pohon oak, simbol keabadian dari negeri bernama Nordic.

Sejak saat itu, semua orang melupakan semua hal tentangnya. Bahkan sejarah tak pernah mengenal seseorang dengan nama Fir yang dulu mempunyai kedai dengan pohon Periwinkle di depannya sebagai penanda. Kedai minumannya berubah menjadi kedai minuman milik seseorang yang lain. Pohon Periwinkle di depan kedainya pun telah terganti dengan semak-semak Azalea. Ya, ia telah benar-benar menjadi seorang pengelana yang mengamati dan mengabarkan cerita dan dongeng kepada semua orang yang ia temui di berbagai negeri tanpa menjadi bagian dari cerita itu sendiri.

Hingga suatu ketika, bertahun-tahun lalu, ia datang kepadaku. Bercerita tentang berbagai negeri yang telah ia datangi. Ia merasa sangat renta untuk tetap berkelana. Ia telah lelah berjalan menapaki dan memunguti kata yang berserakan di jalanan di depannya untuk membangun sebuah kisah dongeng yang akan dikenang sepanjang masa. Lalu ia menawarkan padaku, emblem Acorn, biji pohon oak, simbol keabadian dari negeri bernama Nordic. Ah, terbesit keinginan untuk menolaknya tetapi tanganku akhirnya meraihnya. Mungkin aku tak tega melihatnya menua. Lagipula, ia sudah lama ingin pergi dan bercinta dengan waktu lagi. Sedangkan aku telah lama menantikan kisah pengelanaan untuk mencari langit dan kata-kata yang berserakan agar jadi kisah yang akan dikenang sepanjang masa.

Sejak pertemuanku dengannya itu, aku mulai berkelana, mengamati dan berkabar cerita kepada semua negeri yang kujumpai, juga mencari dimana langit berada, walau aku tahu, aku telah terhapus dari sejarah sejak saat aku menerima biji pohon oak itu.

Berita yang Belum Terkabar

Baru saja aku mengambil cuti dari pengamatan, angin tergesa datang padaku. Sepertinya ada hal yang harus kuketahui dan kususun jadi cerita. Katanya ada kabar gembira, dari pemilik rumah penghuni bintang utara 2 mil dari bumi. Katanya, ia baru saja bertemu dengan Cheren Kon.

Ah, teman lamaku ternyata sedang menyiapkan pesta. Tapi, mengapa tak ada surat yang teralamatkan padaku barang untuk mengundangku ke sana? Apakah ia telah lupa padaku? ah, ya, mungkin saja ia telah lupa padaku, pada jiwa yang telah dipertukarkan waktu.

Haruskah aku datang dan mengucapkan salam gembira kepadanya?

Rabu, 16 Desember 2009

Cycle

Kemarin aku datang ke sebuah tempat pengujian bagi semua pencerita di dunia. Nama tempat itu adalah Ecole, tempat dimana semua pencerita di dunia akan menyajikan ceritanya. Aku tak ikut ujian itu, karena aku telah lulus dari Level 3. Hanya saja, hari itu aku ingin melihat para pencerita di dunia ini, siapa tahu, aku akan bertemu dengan seseorang dan saling bertukar cerita.

Hanya saja hari itu terik. Matahari ti Ecole selalu saja terik, menyengat tengkuk yang tak terlindungi oleh Sapka, topi dari negeri Macedonia. Kedai lengang dan aku memutuskan untuk duduk di bar minuman dingin. Tapi kali itu aku malah bertemu dengan cahaya. Katanya ia mencari-cariku sejak waktu lalu. Ia ingin mengatakan sesuatu kepadaku.

Aku mengikutinya duduk di sudut ruangan sedang pikiranku terus bergerak mencari tahu kemungkinan topik yang akan ia bicarakan. Akhirnya ia mulai berbicara, mengakui semuanya selama bertahun-tahun negerinya, tentang mengapa ia marah padaku, tentang masalah ku dan dia yang tak terselesaikan dengan baik, tentang alasan mengapa ia kembali ke negerinya walau harus melintasi angkasa. Dan sekarang ia kembali hanya karena ingin mengatakan hal itu kepadaku.

Katanya, ia terus mengejarku, ingin melampauiku, yang dipikirnya tak pernah bisa ia lampaui. Hari itu ia ikut ujian pencerita dan hendak memasrahlan semua kepada ujian itu. Jika ia berhasil lulus Level 1, maka kami akan jadi teman lagi, seperti sebelumnya.

Mari berkirim Surat

Kemarin aku berkirim surat kepada langit lewat angin dan arakan awan. Aku tak sabar hanya menatapnya di atas sana tanpa menanyakan kabarnya. Suratku sangat sederhana, hanya beberapa kata saja, menanyakan kabarnya. Ku harap langit baik-baik saja walau aku tahu ini telah pertengahan penghujan tapi bila hujan tak datang aku sangat senang. Suratku telah sampai lewat tengah malam tadi, dan langit mengirim balasannya cepat-cepat dititipkan pada bintang jatuh malam tadi. Aku senang tahu ia baik-baik saja.

Hanya saja, langit sedang sakit ingatan, bahkah ia tak tahu siapa aku.

Kamis, 03 Desember 2009

Tempat Dimana Kalian Menyebutnya Sebagai Rumah

Ini adalah tempat dimana kalian menyebutnya rumah, dimana pertemuan secepat perpisahan.
Teman adalah kawan, tapi kawan bukanlah teman. Langit begitu luas untuk diarungi tapi ayo sama-sama buat bahtera agar bintang satu-satu jadi oleh-oleh.

Ini adalah tempat dimana kalian menyebutnya rumah, tempat dimana perjamuan tak pernah berakhir.
Ayo kita makan nasi lauk rindu sayur tawa biar kenyang berteman. Lalu ayo membaca koran canda pagi menonton tangis tekenovela sore bersama.

Ini adalah tempat dimana kalian menyebutnya rumah, tempat dimana matahari seperti jam pasir mengalir.
Sudah pagi ayo pergi mengambil ilmu pada buku dan bangku. Tas-tas tergeletak di pinggir kali kaki terkecipak ayo brenang panas hari haus duka minum canda. Sidah sore, ayo pulang menonton berita lari ke angkasa bulan terbang bawa kabar ayo tidyr mimpi sama-sama.

Ini adalah tempat dimana kalian menyebutnya rumah, tempat dimana kita bertemu berpisah pada hari-hari makan nasi lauk rindu sayur tawa haus duka minum canda susu sari ilmu hingga kenyang sama-sama.

Penyakit Langka

Aku baru saja kembali dari sebuah negeri berwajah ayam. Lalu aku pergi ke dokter, katanya aku sedang mengidap penyakit langka yang sangat susah disembuhkan. Gejala penyakit yang kurasakan sangat aneh. Aku tak demam, tapi badanku memanas. Aku tak batuk, tapi tenggorokanku serak. Aku tak sakut gigi, tapi lidahku kelu. Aku berpikir, tapi pandangan mataku kosong. Aku lapar, tapi tak nafsu makan. Orang lain suka padaku, tapi ia tak bisa masuk hatiku. Yang lebih parah, dimataku, semuanya sebiru langit.

Ah, mungkin dokter itu benar. Aku sedang sakit masuk kangit. Satu-satunya obat adalah bertemu dengannya, denganmu Sora.

Jika Memang Harus Dua Kali


Sebelum kau membaca tulisanku ini, pahamilah dulu arti kata maaf.


Seperti yang telah aku katakan dulu kawan, maaf tak akan menyelesaikan masalah. Nah, sekarang kau menyadarinya sendiri, bukan? Kalaupun memang kau mengaku kalau aku dan kau telah berada di jalan yang sama, kau pasti sudah buta. Lihat jalan di depanmu dan teman seperjalananmu. Sayangnya dia bukan aku.
Maaf saja, aku tak akan mengulang kata-kataku dua kali.

Minggu, 22 November 2009

Kisah Tentang Hujan

Ini November akhir, hujan telah benar-benar bertemu mencium tanah. Suatu hari dimana hujan sedang turun dengan rintik-rintik, aku sedang membantu membereskan buku-buku dan dokumen tua di perpustakaan pinggir kota. Lalu tanpa sengaja aku menemukan sebuah surat lama yang tak tersegel ujungnya. Tak ada alamat di sana, hanya saja di sana tertulis sebuah klausa, 'untuk orang pertama yang menemukan kisah ini'. Dengan tak sabar aku segera membukanya dan membacanya di sudut perpustakaan.

Di suatu negeri yang jauh, negeri yang bernama Raqia, terdapat sebuah kerajaan dengan seorang raja yang bijaksana. Raja Raq mempunyai seorang putri yang cantik jelita, sayangnya, sang ratu telah lama meninggal dunia, hingga Putri Raq tak diperbolehkan untuk melihat dunia luar. Setiap hari, Putri Raq bermain bersama dayang-dayang istana di halaman kerajaan dan setiap malam, ia selalu pergi ke menara sebelah barat, untuk melihat kota yang bercahaya lampu malam, terlihat sangat indah. Ia ingin sekali pergi ke luar kerajaan, menyapa penduduk, pergi ke festival kota, pergi ke pasar, atau berperahu di bantaran sungai yang melintas ibukota.

Suatu ketika saat bulan bersinar penuh, Putri Raq pergi menyelinap ke luar istana melalui gerbang belakang yang tak pernah dijaga oleh penjaga istana. Namun sayangnya, seseorang memergokinya sebelum ia sempat berhasil membuka grendel gerbang. Seseorang itu ternyata tak melaporkannya kepada penjaga, malah membantunya untuk keluar istana. Dia bersedia mengantarkan Putri Raq berkeliling kota yang telah sepi di malam berbulan penuh kali itu.

Seseorang itu memperkenalkan dirinya sebagai seorang pemuda pengurus kuda di istana. Katanya, keluarganya berhutang banyak kepada raja, sehingga dia bersedia mengabdi kepada raja sejak ia masih kanak. Keduanya pun sering bertemu di malam hari sejak saat itu. Pemuda itu mengantarkan Putri Raq kemana pun putri itu hendak pergi. Tanpa sadar, diantara keduanya, tumbuh perasaan naluriah manusia, cinta.

Namun suatu ketika, seorang penjaga istana memergoki keduanya dan melaporkannya kepada Raja. Raja kemudian membawa penjaga istana untuk menangkap pemuda pengurus kuda itu. Tanpa sengaja, pengawal istana menembakkan panah dan mengenai pemuda itu. Pemuda pengurus kuda itu terjerembab dan Putri Raq lantas memeluk kepalanya. Pemuda penggembala itu pun mengaku kepada sang Putri bahwa ia telah lama mencintai sang Putri. Setelah pengakuannya itu, sang pemuda pengurus kuda itu pun mati. Putri Raq menangisi kematian orang yang juga ia cintai itu, dan ia mati sebelum sempat mendengar bahwa sang putri juga mencintainya.

Sejak saat itu, Putri Raq dihukum di menara utara kerajaan. Ia tak pernah diperbolehkan lagi untuk keluar dari istana. Suatu hari datang lah seorang ratu peri dari langit, menghiburnya karena sang Putri tak pernah mau tersenyum lagi. Ratu peri itu datang kepadanya untuk mengajaknya pergi ke dunia peri, dengan satu syarat, sang putri harus mau menjadi peri hujan. Sang Putri setuju dan berubah menjadi peri. Sejak saat itu, raja Raq sakit-sakitan hingga akhir hayatnya. Sementara sang putri menjadi peri hujan yang mengirimkan rintik ke bumi. Saat ia bertugas, ia sering menangis mengingat pemuda pengurus kuda. Dan tetes air matanya itu pun ikut jatuh ke bumi, menjadi tetes hujan pembukaan.

Menurut cerita yang disebarkan oleh angin,jika tetes air mata sang putri itu menetes di ujung hidung seseorang, maka sang putri akan mempertemukan seseorang itu kepada orang yang ditaksirkan untuknya.

Cerita itu berakhir demikian.
Ah, aku jadi teringat kepada sebuah parodi yang penah kulihat di sebuah kotak ajaib yang ku jumpai di sebuah toko kelontong tua.

Kamis, 19 November 2009

Meminta Penjelasan

Lagi-lagi datang orang yag belum aku kenal sebelumnya. Aku sebenarnya tau siapa dia, hanya saja aku yakin bahwa orang itu tidak pernah mengenalku sebelumnya, karena selama ini aku adalah seorang pengamat yang mengamatinya dari jauh. Aku adalah seorang penulis, dan tak pernah sekalipun aku pernah berkomunikasi dengan tokoh-tokoh dalam ceritaku itu. Tak mungkin pula aku masuk ke dalam alur cerita. Kalaupun aku masuk, lantas, siapa yang memegang kendali cerita?

Lagi-lagi datang seseorang yang meminta cerita utuh dariku. Memangnya aku ini siapa sehingga mereka semua datang kepadaku untuk menanyakan cerita kepadaku? Aku bukan seorang peramal atau pembaca kartu tarot, aku hanyalah seorang penulis yang kebetulan tahu saja. Dan etika bagi seorang penulis adalah untuk tidak memberitahukan semua yang mereka ketahui kepada penanya.

Jadi maafkan aku kawan, kali ini aku sedang tak bisa membantumu. Mungkin lain waktu saja ketika aku sudah pensiun jadi penulis.

Selasa, 17 November 2009

Mendengarnya berbicara

Mungkin aku berkhayal, mungkin aku sedang berharap,mungkin harapan ini tak pernah akan terkabul, tapi mendengarnya berkata bahwa ia akan kembali, membuat sel-sel dalam otakku hampir berhenti, memohon agar kali ini waktu benar-benar berhenti, berdoa agar hal itu benar-benar akan terjadi.

Sora, benarkah kau akan kembali?

Membuat Matahari Meredup

Ini salahku, atau salahnya? Sungguh, benar aku tak tahu apa yang membuat matahari meredup kali itu.

- Ah, cuma perasaanmu saja kalau kau berpikir begitu?!

Bukan, aku benar-benar tak tahu, tak mengerti kalau matahari tak mengatakannya padaku.
Kalau memang apa yang ku pikirkan mengenai penyebab matahari meredup, bolehkan aku mengambil kesimpulan bahwa aku masih mempunyai kesempatan untuk memiliki senyumannya itu?

Mencoba Menggodaku

Adakah hari-hari terakhir ini kau mencoba untuk menggodaku?

Aku baru saja sampai ke menara Gou dan tak menemukan bidadari di sana. Hanya saja mungkin kau sedang mencoba untuk menggodaku saat ini. Ku lihat di sana, di udara utara menara, tangga menuju langit terjuntai dengan indahnya begitu menggodaku untuk menaikinya, barang untuk satu atau dua anak tangga saja.
Mungkin kah kau sedang menggodaku?

Kemarin lusa, saat aku bangkit dari tidur dan berniat menjengut bidadari, lagi-lagi kau mencoba untuk menggodaku. Dengan begitu perlahan dan lembut, lagi-lagi tangga menuju langit terjulur membuatku merasa ingin berlari menaikinya untuk menemuimu di ujung sana.

Ah, kau tahu Sora, aku sedang tak ingin bercanda. Apakah kau tak membaca pesanku yang kutulis tempo hari? Aku sedang tak ingin menunggu dan mencarimu sekarang.
Lagipula, aku tak ingin menjadi Cinderela yang kehilangan sepatu di antara anak tangga itu.

Kisahku dan hatiku

Aku tinggal di sebuah kota bernama Kaleo, sebuah tempat yang terkenal kaena banyak melahirkan seniman kerajaan. Orang-orang biasa datang ke rumahku untuk sekedar melihat gambar yang ku buat, atau untuk memintaku membuatkan gambar mereka. Tentu saja dengan imbalan keping emas. Tapi, entah sejak kapan, aku merasa bahwa aku telah kehilangan inspirasi, seseuatu yang indah yang belum pernah ku lihat.

Lalu suatu ketika di awal Juli, datanglah angin di depan rumahku. Kami sempat minum teh bersama kali itu. Dia datang untuk berkabar padaku. Katanya, di suatu negeri barat jauh sana ada sesuatu yang akan membuatku terinspirasi, sesuatu yang indah, keindahan yang melebihi apa yang pernah ku lihat. Aku terlalu penasaran dan memintanya bercerita lebih banyak padaku. Dia bersedia bercerita asalkan besok saat Fajar telah sampai ke gerbang kota, aku datang untuk bersedia berkelana bersamanya.

Malamnya aku berkemas, lalu paginya angin telah menungguku di gerbang kota. Di perjalanan ia mulai bercerita padaku mengenai sesuatu yang indah itu. Dalam benakku selama ia bercerita padaku, sesuatu yang indah itu bagaikan sapuan warna-warna di udara. Mula-mula muncul sapuan biru membentuk langit dan awan stratus. Lalu muncul warna lain, warna yang sehangat matahari dan seindah bintang, bersinar dalam benakku, lama-lama jatuh ke dasar hatiku seperti tetas hujan yang memang seharusnya menyentuh tanah. Begitu halus dan sangat perlahan, hingga aku tak menyadarinya.

Angin lalu membawaku ke sebuah negeri bernama Nii dan memintaku untuk memesan sebuah kamar untukku. Lalu aku menepati janjiku dengan membawa kuas dan kanvas, mengikutinya terus melewati padang rumput setinggi mata kaki dan menembus rapat hutan hingga ia terhenti di ujungnya. Bisa kulihat di sana, ya, warna-warna sehangat matahari dan bersinar seperti bintang. Ku tanyakan kepadanya siapa wanita yang termangu di ujung jendela itu. Dan ia hanya memjawab dengan senyuman dan mulai menceritakan semuanya. Mulai dari bagaimana pengawal awan membawa wanita itu dan mengurungnya di sana.

Aku terpesona untuk yang ke dua kalinya. Aku ingin melukisnya, bukan, api melukis apa yang ada dalam bola mata yang lebih indah dari pada sapir itu. Ku benarikan diri untuk beranjak dari balik hutan dan menuju kaki menara. Dia tak menoleh sedikitpun walau aku menyapanya dengan sangat sopan. Aku mulai menggambarnya, warna yang terlukis dari kedua matanya itu, warna yang kelam, seperti kisahnya. Ku beranikan diri untuk menawarkan gamabr itu keadanya, tapi di tolaknya dengan sangat halus. Aku pun pergi, pulang ke penginapan.

Sesampainya di penginapan, benakku masih terisi oleh wanita itu. Tanpa sadar, tanganku sudah bergerak dengan sendirinya dan melukisnya yang sedang termangu di jendela menara. Saat tidurpun, lukisan itu tetap terpancang di benaku, seolah aku sedang mengamati wanita itu.

Hari berikutnya, aku datang membawa dua lukisan yang sama ke menara itu. Tapi ia menolaknya dengan senyuman yang sama. Tak mengapa, aku masih bisa kembali esok hari. Aku kembali lagi ke tempat itu, dan ia menolakku. Entah ke berapa kunjunganku ke sana, ia bersedia mengambil lukisan hati sewarna tembakau itu.

Suatu hari, angin datang padaku dan menyadarkanku bahwa aku telah jatuh cinta kepada wanita itu. Angin lalu menceritakan mengenai alasan wanita itu berada di sana. Ternyata wanita itu adalah penghuni balik awan dan hanya bisa kembali jika ia mau menerima hati dari manusia. Sayangnya, manusia yag kehilangan hatinya, akan mati. Ya, aku tahu konsekuensinya itu. Tapi aku tetap ingin datang kepadanya, membebaskannya, meski aku tahu aku akan mati karenanya.

Aku datang ke menara dengan pakaian terbaikku, bercerita bersamanya seperti biasanya. Tiba-tiba seorang laki-laki muncul dari balik hutan dengan napas terengah, menanyakan kabarnya. Dan wanita itu terlihat sangat bahagia, terlihat dari pancaran matanya. Laki-laki itu lalu menawarkan hatinya yang sewarna tembakau kepadanya. Aku lalu pergi, aku telah tahu ceritanya dari angin, aku telah tahu. Dan aku cukup tahu diri untuk menarik diriku dari persaingan ini.

Aku berkemas, lalu pulang ke negeriku, Kaleo. Galeri kota telah menungguku 2 bulan lagi.

Festival dimulai dan pagelaran telah terselenggara. Lukisanku didaftarkan orang kota untuk mengikutinya. Lukisan itu adalah lukisan terbaik yang pernah aku buat, ya, lukisan wanita itu, yang ku beri nama Re Incarnies of Venu.

Saat penggunjung sepi dan aku sedang sibuk dengan lukisanku yang baru, datang lah seseorang yang memuji lukisanku itu. Saat aku berbalik, aku sedikit terkejut mengetahuinya. Ternyata orang itu adalah wanita itu, yang datang dengan membawa warna matahari dan senyuman di bibirnya.

Senin, 09 November 2009

Membuatku Berpikir

Kemarin aku kembali lagi ke negeri milik Ramses. Kali ini aku harus menerjemahkan papirus-papirus tua, agar dapat dibaca anak seluruh negeri. Saat aku baru tiba di tempatku menerjamah, datang lah seseorang yang membawakanku sebuah gulungan perkamen. Katanya itu surat untukku. Ku buka surat itu dan ternyata itu adalah surat dari seorang laki-laki yang telah meninggalkan jejak hari. Surat itu tertanggal tadi malam dan isinya hanya dua kata saja.

Aku jadi berpikir hal sepenting apa yang membuatnya mengirimkan surat itu padaku, padahal kepentinganku tidaklah begitu penting. Aku heran, dari mana dia tahu aku ada di negeri milik Ramses. Ah, aku jadi berpikir, jangan-jangan hal itu benar.

Tappi, aku tak mau terlalu berpikir semikian. Aku takut dia akan jadi seperti matahari.

Minggu, 08 November 2009

Kisah Pemuda Penggembala dan Hatinya

Kali ini mungkin aku bisa gila karenanya. Lagi-lagi seseorang menawarkan sebuah alkitab dari negeri yang belum pernah aku datangi. Seseorang yang memberiku kitab itu berjubah sapire, dengan corak rajah kulit yang belum pernah ku lihat sebelumnya. Seseorang itu memintaku pergi ke negerinya, untuk mengisahkan sebuah cerita dalam alkitab itu pada penguasa negerinya, Negeri Mystikos.

Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda yang sangat miskin. Keluarganya adalah keluarga seniman kuno yang telah lama bangkrut dan berpindah-pindah. Pemuda itu lalu bekerja sebagai penggembala di negeri bernama Brea. Suatu ketika, ia bertemu dengan anak perempuan kepala kota dan mulai jatuh cinta kepadanya. Anak perempuan itu bernama Artems. Kata tikur-tikus dan Kucing, Artems akan menikan dengan seorang Ksatria dari seberang jauh.

Mendengarnya, Penggembala bermuram hati dan memillih untuk menyanyikan sebuah lagu patah hati. Entah bagaimana, suatu ketika datanglah seorang bidadari jelita dari balik awan dan menyapanya. Mengatakan bahwa dirinya telah lama jatuh cinta pada nyanyian dan suara Penggembala. Bidadari itu datang menawarkan hatinya kepada penggembala. Dan penggembala itu menerimanya tanpa berkata apa-apa. Tiba-tiba saja datanglah 2 orang pengawal awan dan menangkap bidadari. Penggembala tak bisa berkata apa-apa melihat kepergian bidadari.

Siang dan malam, penggembala terus memikirkan tentang bidadari dan selalu mengamati hati bidadari yang diberikan padanya. Tanpa disadarinya, ia telah jatuh hati pada bidadari. Lalu, ia pun berusaha mencari sang bidadari. Ia bertanya pada matahari, bintang, dan langit. Tapi tak satupun yang tahu dimana bidadari. Penggembala berpikir, pastinya Bidadari sedang tak ada di balik awan. Ia pun bertanya pada rumput dan pepohonan, tak satupun yang tahu. Waktu berlalu, musim berganti, hingga suatu ketika angin bercerita padanya tentang seorang bidadari yang tertawan di menara Gou, di negeri Nii, bermil-mil jauhnya dari Brea.

Dimulailah perjalanan penggembala untuk menukarkan hatinya kepada bidadari, agar bidadari bisa bebas dan hidup bersamanya selamanya. Suatu ketika, di sebuah senja yang indah, akhirnya ia sampailah ke menara Gou. Di sana, bidadari sedang tidak sendiri. Ada seorang pemuda sebayanya yang menemani bidadari. Dengan menguatkan hati dan perasaan, Penggembala menemui Bidadari. Pemuda yang berada di kaki menara itu tertegun dan seolah telah lama mengenalnya. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Penggembala lalu menawarkan hatinya, hati yang sewarna asap tembakau itu kepada bidadari. Pemuda di kaki menara itu pun pergi. Bidadari terdiam menatap hati penggembala.

Penggembala kecewa dan berjanji akan kembali lagi beberapa waktu kemudian untuk menanyakan keputusan bidadari. Dalam perjalanan pulang, ia bertanya pada setiap rumput, dedaunan, dan ranting yang ia temukan, siapakah pemuda itu, pemuda yang selalu menemani bidadari. Tapi tak ada yang mau mengatakannya kepadanya. Lalu ia bertanya pada angin, dan angin menceritakan semua hal yang ia ketahui, karena angin tak pernah mau berbohong. Jelaslah sudah semuanya, penggembala pulang ke ibukota negara Nii dengan hati yang berkarat.

Tak lama setelahnya, Penggembala datang kembali ke menara itu. Tapi ia tak menemukan bidadari di sana. Tapi dia menemukan sebuah pesan yang tertulis di perkamen. Isinya adalah pesan dari bidadari.

Aku menerima hatimu agar aku bisa mengembalikan hati seseorang
Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku pernah mencintaimu.
Dan hatiku yang kau bawa, dan hatimu yang kubawa, akan menjadi pengingat.


Sejak saat itu, ketika hujan turun dan awan mendung bergelayut di langit, pemuda penggembala itu selalu teringat kepada bidadari. Walaupun sekarang seseorang tengah mencintainya.

Aku sungguh tak mengerti mengapa akhir kisah dalam alkitab itu berkata demikian. Aku tak mengerti. Mengapa kisah ini tak berakhir bahagia? Bukankah keduanya saling mencintai? Bukankah keduanya telah bertukar hati? Aku tak mengerti. Kisah yang aneh. Tapi aku bisa apa? Aku hanyalah seorang pencerita yuang kebetulan tahu saja.

Jumat, 06 November 2009

Memang Demikian

Seseorang yang mengaku berasal dari bintang bercerita padaku tentang cahaya sore tadi. Masihkah kau ingat pada cahaya? Dia adalah seseorang yang telah membisikkan lagu yang mengingatkanku pada orang itu.

Seseorang dari bintang itu singgah di depan rumahku dan mengajakku minum teh di sebuah kedai bergaya eropa lama. Seseorang itu berkata bahwa beberapa saat lalu ia bertemu dengan cahaya. Cukup lama, dan cahaya bercerita padanya tentangku, juga kisah-kisah lain yang ia dapatkan sewaktu pergi ke bumi.

Lalu seseorang itu berniat menemuiku setelah mendengarkan cerita cahaya. Ia pun mulai bercerita padaku tentang sebuah kisah yang belum pernah ku dengar sebelumnya. Bebedapa saat lalum di sebuah bintang, cahaya bertemu dengan seseorang yang bernama Couer. Cahaya berhutang budi pada orang itu karena telah memberikan sebuah tumpangan saat cahaya singgah ke bintang itu. Kemudia Couer memberikannya sebuah Sand Glass yang bisa mengukur banyaknya jarak dan waktu yang telah di tempuh cahaya untuk berpindah menuju bintang yang lain.

Aku terhenyak. Aku pernah bertemu dengan Couer, seseorang yang telah diceritakan seseorang yang berasal dari bintang itu. Dulu, dulu sxekali di sebuah festifal Tanabata. Ya, seperti dugaanku, hal itu memang terjadi. Aku mengerti, kenapa dulu ia menatapku seperti itu. Mungkin karena Couer tahu, aku bisa tahu segala sesuatu lewata mataku.

Surat yang Tak Pernah Bisa Tersampaikan Padanya

Sebelum kau membaca tulisanku ini, kau harus memahami dulu arti kata aku, kau, dan kita.


Perkataan orang-orang membuat telingaku panas.
Aku telah mencoba untuk mmbalas pesanmu yang kau kirimkan padaku kemarin dulu. Duapuluh empat jam setelah aku yakin kau adalah orang yeng mengirim pesan itu. Tapi bukannya tak pernah tersampaikan padamu? Kertas-kertas itu telah mengatakan semuanya kepadaku, kau ingin mengakhirinya dengan sebuah tindakan. Ya, katamu, sebuah tindakan kecil lebih baik daripada seribu kata-kata yang telah kurangkai. Orang-orang itu juga telah bercerita padaku. Seseorang yang mengantarkan pesanku padamu, tapi kau tak pernah membalas, tak menerimanya? Atau sengaja tak mau membalasnya? Haruskah orang-orang itu yang menyampaikan pesan-pesan kita? Kenapa tak kau kirim sendiri pesan itu padaku agar kita kembali seperti dulu? Tidak, katamu kau tak butuh, bukan begitu?

Baik, biar aku luruskan agar tak jadi tambah membengkok. Aku ingin semua ini berakhir. Berakhir karena aku dan kau memang hendak ingin mengakhirinya. Bukan karena mereka, atau orang lain. Ini masalah antara aku dan kau, tak ada tokoh mereka dalam masalah ini. Aku hanya ingin kau memberiku sebuah kesempatan untuk bercerita padamu, tentang semuanya, tentang sebuah awal dan akibat. Aku hanya ingin kau mendengarnya, lalu dengan begitu aku akan dengan lantang dapat mengatakan hal itu kepadamu. Maaf.

Tapi bagiku, maaf bukanlah sebuah akhir dari semuanya. Maaf tak akan bisa menyelesaikan hal diantara kita. Bagiku akhir adalah sebuah penentuan, apakah kau akan berjalan terus tanpa melihat masa lalu, atau kau akan membiarkannya saja. Kau tahu, aku ingin sekali kau membuat sebuah akhir dari semua ini. Akhir bukan sebuah maaf, tapi sebuah keputusanmu, karena aku telah mengambil keputusan untuk terus memegang janjiku.

Epilog

Aku kembali teringat pada sebuah lagu yang kudengar lewat bisik cahaya. lagu itu mengingatkanku padamu, pad akita, dan pada pertemuan kita di awal pancaroba. Aku sudah hampir lupa, hanya saja tiba-tiba perasaan itu kembali.

Mungkin nanti, walau aku tak sepenuhnya yakin, kau akan datang ke tempat yang tak pernah kau janjukan. Tapi aku tetap di tempat itu, tempat itu, padang rumput setinggi mata kaki, menunggumu walau mungkin kau tak akan hendak beranjak dari utara katulistiwa. Aku hanya tak ingin mendenkgarmu menyanyikan lagu itu. Biar lagu itu jadi pengingat ku dan mu tentang kita yang masih ku pertahankan.

Tak mungkin bila aku terus menunggumu seperti ini. Walau tangga langit terbentang dan aku masih kuat menapakinya, kau tak ada di sana. Tak pernah ada di sana. Tangga menuju langit perlahan memudar dan aku harus kembali pada bumi. Lebih baik aku menghapus tangga itu satu-satu sambil berjalan walau aku yakin akan tetap terasa berat. Tapi kau datang dan mengingatkaku akan lagu itu.

Aku mengerti, cukup mengerti. Biarkan aku pergi kembali ke haribaan pertiwi, walau dengan tertatih. Tapi sekali pun aku tak pernah berjanji padamu untuk berhenti menantimu di tempat itu, tempat ini, padang rumput setinggi mata kaki.

Melangit

Kali ini mungkin aku sedang bermimpi. Terlalu lama berada di padang ruput setinggi mata kaki ini sepertinya telah membuatku berkhayal.

Tiba-tiba aku bertemu denganmu di tempat itu, padang rumput setinggi mata kaki. Aku tak yakin, pasti aku bermimpi. Tapi kau tetap di tempat itu dan tersenyum padaku. Aku jadi teringat pada aroma tubuhmu yang seperti bau bunga mahoni yang baru saja terkena hujan pembukaan. Aku rindu pada aromamu itu, juga pada rambut sewarna sindrakala. Lalu kau menunjukkan langit padaku, seakan mengundangku ke sana.

Saat tersadar, aku baru saja tertidur di tempat itu, padang rumput setinggi mata kaki. Dan aku masih di sini, menantimu kembali.

Kamis, 05 November 2009

Kisah Ksatria Hitam dan Hatinya

Kemarin aku pergi ke sebuah negeri dimana dulu Ramses pernah berkuasa. Tak seperti dulu, kegemilangan kota itu telah pudar, seperti halnya batu yang terkikis debu. Di sebuah pasar, aku bertemu dengan seseorang yang menawarkan sesobek transkripsi bersampul hitam. Katanya, lembaran itu berisi tentang sebuah dongeng dari negeri yang jauh. Aku menukarkannya dengan dedak peri yang baru saja hendak ku jual. Lembaran itu berisi cerita tentang seseorang bernama Ksatria Hitam. Ah, aku jadi teringat dongeng dari negeri Berawan Rendah yang dulu ku temukan.


Dahulu kala, hiduplah seorang Ksatia Hitam. Ia terkenal sebagai seorang prajurit yang gagah berani dan telah membantu kerajaan memenangkan Perang Hujan. Suatu ketika, angin berbisik padanya, menceritakan tentang sebuah kisah seorang bidadari yang tertawan di sebuah menara. Ksatria Hitam jatuh cinta pada bidadari yang angin ceritakan.

Suatu ketika, Ksatria Hitam pun mendatangi bidadari yang tertawan di menara Gou. Ksatria Hitam pun jatuh cinta untuk yang kedua kalinya ketika ia menatap sang bidadari untuk yang pertama kalinya. Ia menawarkan hatinya pada sang bidadari agar sang bidadari dapat kembali ke balik awan, meski ia tahu, ia kan mati karenanya. Akan tetapi, sang bidadari menolak hati Ksatria Hitam. Bidadari hanya menginginkan hati yang sewarna asap tembakau.

Ksatria Hitam pun pergi dengan hati yang terlukai. Suatu ketika, seorang penduduk kota bercerita padanya tentang sebuah hati yang bisa berubah warna tertawan di Gua Kardia dan dijaga oleh seorang Kerdil. Berangkatlah Ksatria Hitam untuk mendapatkan hati itu. Sesampainya di sana, ia bisa membawa pergi hati itu dengan syarat ia harus menukarnya dengan hatinya. Sang Ksatria pun setuju dan menukarkannya.

Ksatria hitampun pergi menemui bidadari lagi. Tapi dalam perjalanan menuju menara, ia bertemu dengan seorang pelukis yang bermuka masam. Tak lama setelahnya, ia berselisih jalan dengan seorang penggembala bermuka ceria. Ksatria Hitam pun bergegas dan menemukan sebuah hati yang tertinggal di tepi jendela menara. Bidadari terlihat sangat senang akan hati itu, tapi matanya sedih. Dengan memberanikan diri, Ksatria Hitam pun memberikan hatinya yang baru kepada Bidadari. Tapi bidadari kembali menolak, mungkin karena telah mendapatkan hati dari penggembala.

Ksatria Hitam pun tak hendak mengambil hatinya kembali, ia lantas pergi meninggalkan hatinya di samping hati yang telah ada sebelumnya di samping jendela. Bidadari ingin mengembalikan hati Ksatria, tapi ia tak bisa keluar dari menara. Dan sang Ksatria Hitam pun mati di sebuah padang rumput.

Bidadari pun menerima hati dari sang penggembala. Kutukannya pun terlepas begitu saja, dan ia pun pergi mencari sang Ksatria Hitam. Dikembalikannya hati sang Ksatria Hitam kepada jasat tak bernyawa. Ksatria Hitam pun hidup kembali, dan terkejut mendapati sang bidadari telah menyelamatkannya. Bidadari ingin Ksatria Hitam dapat hidup bahagia dengan seseorang yang lain, seseorang yang bisa menerima hati sang Ksatria Hitam. Bidadari pun pergi, meninggalkan Ksatria Hitam bersama angin di tengah padang rumput.

Menurut angin, Bidadari pun kembali ke balik awan. Dan suatu hari ketika pemuda penggembala kembali ke Menara Gou, ia tak menemukan bidadari di sana, hanya sebuah pesan, yang mengatakan kalau dulu bidadari pernah mencintai pemuda penggembala. Dan setiap penghujan, kedua orang itu, Ksatria Hitam dan Pemuda Penggembala, selalu terkenang akan Bidadari.


Kisah itu berakhir demikian. Aku tak tahu bagaimana akhir dari Bidadari. Aku tak tahu kepada siapa akhirnya ia bersama. Tak ada akhir untuk pelukis, mungkinkah Bidadari kembali mencari pelukis? Entah, aku tak tahu. Karena kisah itu berakhir demikian.

Fantom

Aku lelah menunggu dan mencarimu. Ini sudah kelewat pancaroba. Kau tahu, festival belum usai, ini baru saja dimulai. Tapi rintik-rintik telah selesai menarikan tarian hujan. KIni giliran angin yang mengabarkan cerita.

Aku tiba di tempat ini, padang rumput setinggi mata kaki, sebuah tempat yang pernah diceritakan oleh angin. Aku berharap akan menemukanmu diantara keramaian ini. Dan memang aku menemukannya. Aku menihat bayangmu di antara awan, di langit.

Aku akhirnya memutuskan, sampai tiba hari dimana tangga menuju langit muncul, aku akan tetap di sini, di padang rumput setinggi mata kaki. Menatapmu, menganggapmu selalu di samping kananku.

Minggu, 01 November 2009

Kisah Bidadari dan Hatinya

Suatu ketika aku masih senang berkeliling negeri, aku pernah singgah ke sebuah toko kelontong ti di sebuah kota miskin bernama Ashpire. Di toko itu aku menemukan sebuah buku bersampul hijau mahkota. Buku itu bercerita tentang sebuah dongeng dari negeri Berawan Rendah.

Dahulu kala, hiduplah seorang bidarari jelita yang tinggal di balik awan, tugasnya adalah menghalau awan mendung agar hujan dapat mencium tanah. Suatu waktu ketika bidadari sedang bertugas menghalau awan ke sebuah negeri bernama Brea, ia terhenti di atas sebuah padang rumput di sebelah abrat kota. Di padang rumput itu duduklah seorang pemuda penggembala yang sedang menyanyikan sebuah lagu patah hati. Seketika itu sang bidadari jatuh cinta pada sang penggembala karena mendengar lagu itu sambil bercucuran air mata. Sang bidadari selalu menyempatkan dirinya untu melihat sang penggembala dari balik awan. Dan dari sana, bidadari melihat bahwa ada seseorang yang tengah dicintai oleh sang penggembala, seorang perempuan cantik anak kepala kota. Hanya saja, sang penggembala enggan utuk menyampaikan cintanya, karena kabarnya, anak kepala kota segera akan menikah dengan seorang ksatria dari seberang.

Melihat sang penggembala bersedih hati, sang bidadari lalu turun menemui penggembala pada suatu ketika penggembala sedang melaksanakan tugasnya, menggembala di padang rumput sebelah barat kota. Bidadari lalu menyerahkan hatinya yang sewarna samudra, berharap pemuda penggembala akan melupakan gadis yang dicintainya lalu beralih padanya. Sayangnya, pengawal awan menangkap bidadari karena bidadari telah menyalahi aturan. Penghuni atas awan tidak boleh jatuh cinta pada manusia, apalagi sampai menyerahkan hatinya pada manusia. Penghuni awan tidak sama dengan manusia. Manusia akan mati setelah menyerahkan hatinya. Karena manusia tak dapat hidup tanpa hatinya.

Sang bidadari dihukum dipenjarakan di sebuah menara bernama Gou yang terletak di pinggiran Negeri Nii. Sang bidadari tidak dapat kembali ke balik awan kecuali ia mendapatkan ganti hati yang telah ia berikan pada pemuda penggembala. Ia pun berteman pada angin saat ia menanti seseorang yang dapat menggantikan hatinya.

Suatu hari, datanglah seorang ksatria hitam yang mendengar berita yang disampaikan anin di negerinya. Ksatria hitam datang untuk menawarkan hatinya yang sewarna senja pada bidadari, walau ia tahu ia akan mati karenanya. Sayangnya, bidadari menolak hati ksatria hitam. Hati yang diinginkan oleh bidadari hanyalah hati yang sewarna dengan hati milik pemuda penggembala.

Suatu hari, datanglah seorang pemuda lusuh yang membawa kuas dan kanvas. Sepertinya, seorang pelukis yang mendengar bisik angin bahwa di negeri bernama Nii terdapat seorang bidadari jelita yang tertawan di menara Gou. Pelukis itu datang bukan untuk melukis bidadari, tetapi untu kmelukiskan hati yang diinginkan oleh sang bidadari. Pelukis itu lalu menawarkan lukisannya itu kepada bidadari. Bidadari menolak, walau ia ingin menghiasi hatinya yang kosong dengan lukisan itu. Pelukis itu pergi, dan kembali beberapa hari setelahnya, membawa lukisan yang sama 2 kali lipat jumlahnya mula-mula. Bidadari terus menolah dan pelukis itu pun terus kembali dan membawakan lukisan yang sama 2 kali lipat mula-mula. Terus, terus, demikian, hingga suatu ketika sang bidadari mau menerima lukisan itu.

Suatu ketika setelah musim berganti, pemuda penggembala datang ke menara Gou pada kunjungan sang pelukis, untuk menanyakan kabar pada bidadari. Lalu di hadapan sang pelukis, pemuda penggembala itu lalu menawarkan hatinya kepada bidadari, hati yang selama ini dinanti oleh bidadari. Sang pelukis menatap sang bidadari dan seolah berkata bahwa ia akan pergi, ia lalu berjalan menjauh sambil menyembunyikan hatinya yang sewarna awan mendung, hati yang ingin ia serahkan pada bidadari saat itu, agar bidadari bisa kembali ke balik awan, walau ia tahu ia akan mati karenanya.


Cerita itu terhenti karena halaman buku yang ku baca itu tak lengkap, tersobek, atau disobek? Aku tak tahu. Aku bertanya kepada kakek pemilik toko tapi ia menjawab kalau ia tak tahu dan hanya menemukan buku itu di antara puing-puing kota yang terbakar waktu dulu. Aku meminta buku itu dengan menukar kuarsa. Aku ingin tahu, bagaimana akhir kisah bidadari dan hatinya itu. Mungkin suatu waktu aku akan menemukannya.

Prolog

Musim telah kelewat penghujan. Aku kembali teringan hari itu, hari dimana aku untuk pertama kali salah mengucapkan namamu dan kau hanya tersenyum pada bahasa yang tak kau mengerti itu. Aku rindu pada temapt itu, pada batang-batang mahoni, pada akar-akar yang bangkit dari istirahnya, juga pada aroma bunga mahoni yang mengingatkanku padamu. Aku rindu pada waktu yang ku habiskan untuk menunggu sindrakala dan rasi bintang salib selatan di sampingmu yang berdiri bersandar pada batang mahoni.

Aku selalu ingin pergi ke tempat itu, barang untuk mengingat atau menghitung seberapa banyak waktu yang telah berlalu di tempat ini, walau aku yakin aku pasti tak akan mampu. Karena aku yakin aku tak akan pernah menemukanmu di sana, di tempat itu. Akan ku pastikan padamu, aku akan pergi ke tempat itu, bersamamu atau tanpamu sekalipun.

Seorang Peri

Aku baru saja mendengarnya dari alang-alang, juga rumput liar yang tumbuh di sepanjang jalan, juga dari angin, bahwa ia, cowok seputih kapas, telah bertemu dengan seorang peri. Kata mereka, cowok seputih kapas telah lama mencarinya, mencari peri itu, lewat jejak dedak peri yang tertabur di depan rumahnya.

Kemarin aku bertemu dengan cowok seputih kapas itu yang masih saja sepolos dulu dan tersenyum padaku. Andai saja ia tak pernah menemukan dedak peri di depan rumahnya, apakah ia akan terus berkunjung padaku sambil membawakan senyumnya itu?

Tergantikan

Saat aku menunggu langit di antara hamparan rumput, datang seorang pemuda lusuh yang membawa kuas dan kanvas. Lalu ia bertanya padaku dimana menara Gou berada. Aku menunjukkan pada pepohonan yang rindang, dan angis menghembus tiap rantingnya satu-satu, membantuku menunjukkan jalan. Dia paham, tapi hanya menatapku seolah memintaku mengantarnya. Sebenarnya aku tak mau hanya saja aku sedang ingin bertemu dengan bidadari yang tertawan di sana.

Di perjalanan aku dan pemuda lusuh itu berselisih jalan dengan Ksatria Hitam yang memacu kudanya dengan lambat. Pemuda lusuh itu tersenyum pada Ksatria Hitam. Sepertinya dia mengenalnya. Hanya saja, Ksatria Hitam tak membalasnya.

Sesampainya di kaki menara, pemuda lusuh itu memperkenalkan dirinya sebagai pelukis. Ia langsung melukis tanpa mendengar perkataan Bidadari. Bidadari hanya termenung menatap langit yang mendung. Aku heran kali ini, ku pikir ia datang untuk melukis bidadari, tapi dia malah melukiskan hati yang berwarna asap tembakau. Lalu pemuda pelukis itu menawarkan gamabran itu pada Bidadari. Bidadari tergoda untuk mengambilnya tapi tidak. Si pemuda lalu pergi dan aku mengikutinya samil menoleh pada BIdadari yang terlihat tak rela pemuda pelukis itu pergi.

Aku kembali ke padang rumput tempatku menunggu langit dan berpikir, mungkin akhirnya bidadari bisa kembali ke balik awan lagi. Karena cepat atau lambat, lukisan pemuda lusuh itu akan ia rindukan lagi.

Sabtu, 17 Oktober 2009

Ksatria Hitam

Satu lagi orang bodoh yang kutemui.
Namanya Ksatria Hitam. Aku bertemu dengannya di sebuah desa Pemburu Gajah, saat dia sedang mencasri kereta fusan.

Kemarin dulu aku bertemu dengannya lagi di sebuah padang rumput tempatku menunggu langit. Dia mengira aku telah mati karena aku terbaring sambil memegang bunga Aster di dada, tenggelam dalam mimpi.
Ketika aku menyadari keberadaannya yang duduk tak jauh dariku sambil menunggu kudanya merumput, aku bertanya padanya, tentang keman ia akan pergi, karena ia berbaju zirah dan membawa kuda bersurai hitam. Katanya, ia hendak pergi ke menara Gou yang kata angin, menara itu setinggi awan. Di menara itu, ada seorang bidadari yang tertawan karena menyerahkan hatinya pada seorang gembala. Si Ksatria Hitam hendak menggantikan hati bidadari yang telah hilang itu dengan hatinya, walau ia tahu ia akan mati karenanya.

Ksatria Hitam bergegas berangkat karena membaca udara yang mulai lembab. Ia ingin segera tiba di menara itu sebelum penghujan. Aku mengikutinya di belakang tanpa banyak bicara. Sesampainya di sana, sang Ksatria Hitam tertegun menatap wajah bidadari yang seindah serbuk peri, rambut hitam keperakannya terjulur masai seperti rambut rapunzel, tak terawat. Mungkin karena terlalu tenggelam dalam penantiannya.

Ksatria Hitam memanggil Bidadari dan dengan muka pasi, Bidadari menatapnya. Ksatria menjulurkan hatinya yang berkilau sewarna senja. Tapi Bidadari tak bergeming dari tempatnya menanti karena hati yang ia inginkan harus berwarna asap tembakau. Ksatria Hitam lalu pergi, meninggalkanku di bawah menara Gou, sendiri. Membiarkan Bidadari menatap berkaca padaku. Aku mengerti tatapan itu. Dia sama sepertiku.


Sekarang sudah kelewat penghujan, tapi hujan tak kunjung datang. Kali ini aku kembali melihat Ksatria Hitam yang hendak memberikan hatinya lagi, yang kini berwarna abu.

Janji

Lagi-lagi aku teringat pada malam mereka membakar arang-arang di halaman. Bintang tak banyak karena bayangan rapat pepohonan. Tapi bulan bersinar hampir penuh.

Dia. Tak usah kau tanyakan mengapa. Tapi aku ingin melupakan sebuah kenangan di sana. Aku tetap ingat, tapi kenangan itu akan terpotong di beberapa bagian.
Maaf, aku hanya berusaha menepati janjiku, sebagaimana dia berusaha untuk menepati janjinya.

Sabtu, 10 Oktober 2009

Hujan Pembukaan

Musim penghujan telah lama datang, tapi sekarang ia sedang bersama pancaroba dan bergelayut manja di sudut-sudut kota dan bangunan. Hujan tak mau menyapa tanah yang telah lama ia rindukan.

Tapi kali ini bukan ilusi, hari ini hujan turun di padang rumput tempatku berdiri menatap langit. Dan hujan memaksaku untuk mencari tempat berteduh tapi tak juga kutemukan karena aku enggan beranjak dari tempatku berdiri.
Aku heran dan bertanya-tanya mengapa kali ini yang kulihat adalah awan, bukan mendung yang biasanya mencoba memisahkanku dari langit dan matahari. Kali ini awan, kawan lama yang kukenal saat aku berkembara mencari langit.
Apakah terjadi sesuatu pada awan?

Aku jadi ingat waktu dulu aku menunggu langit sambil ditemani semilir angin. Aku melihat seorang pemburu yang selalu bercerita dengan awan, seolah si pemburu telah menemukan bagian darinya yang hilang. Aku tak tak begitu tahu tapi awan selalu bercerita padaku. Membuat hari-hari ku yang membosankan dalam penantian menjadi sedikit lebih bermakna. Dan kali kemarin aku sama sekali tak pernah lagi melihat si pemburu berada di bawah awan.

Apakah aku bisa menympulkan kalau awan bersedih karena si pemburu? Apakah aku bisa menyimpulkan bahwa hujan kali ini ditujukan pada si pemburu? Apakah aku bisa menyimpulkan bahwa awan tak lagi merindukan pungguk lagi? Apakah aku bisa menyimpulkan kalau awan telah menemukan pengganti si pungguk?

Sabtu, 03 Oktober 2009

Andai Saja

Aku selalu ingin bercerita padanya, Hime. Pada si pungguk yang merindukan bulannya, bahwa kau dan dia adalah manusia yang paling bodoh yang pernah ku temui di dunia ini. Aku selalu saja ingin berkata padanya tentang bepata kau merindukannya, seperti halnya dia merindukan bulannya. Aku tak mengerti mengapa dia begitu mencintai bulannya, padahal rupa bulan tak seindah seperti yang dapat ku lihat dari bumi. Aku ingin bercerita bahwa perasaan bulan itu sehalus permukannya, tapi tak akan pernah bisa sama seperti perasaanmu yang sehalus awan.

Andai saja, aku bisa, maka aku akan mengatakan padanya,kalau tak selamanya sejarah peribahasa akan selalu berkata pungguk merindukan bulan. Andai saja aku bisa, aku akan berdoa agar malam datang tak berbulan. Biarkan bulan hilang termakan bayangan bumi. Ya, biarkan bulan hilang agar awan tak berhujan.

Biarkan sejarah berubah jadi si pungguk yang merindukan awan. Ya, biarkan! Andai saja aku bisa, aku akan berdoa agar sejarah bisa berubah. Agar awan bisa menggantikan bulan. Agar pungguk akan jadi merindukan awan, sebagaimana kau merindukan pungguk.

Senin, 28 September 2009

Sudah Tidak

Kawan, masih kah kau inagt pernyataanku tentang cahaya dan aku?
Jikalau kau masih mengingatnya, sebaiknya lupakan saja. Karena aku menyesal telah mengatakannya padamu.

Aku tahu kalau cahaya itu sangat cepat kawan, bahkan angin pun kalah. Ini bukan salahku, ini salahnya. Bukan aku yang memaksa diriku untuk mengucapkannya. Bukan aku yang memaksa diriku untuk mengingkarinya. Ini salahnya. Dia sendiri yang memulainya. Dia yang memaksaku untuk bersumpah atas langit dan bumi. Ini bukan salahku, jadi jangan salah kan aku.

Sudahlah, aku sedang tak ingin membicarakannya. Jika kita membicarakannya, sama saja aku telah melanggar sumpahku sendiri.

Bagian dari Sejarah

Jika tinta pena dan arang pensil kita telah habis, maka jangan biarkan dirimu terhenti walau aku tak tahu dapat terus atau tetap di sini. Gantilah tinta dan arang itu agar kau dapat menuntaskan ceritamu. Jikalau aku tak dapatkan gantinya, maka tengoklah padaku lalu lanjutlah. Biarkan aku berkisah dengan caraku sendiri, tanpa kau harus terbebani jarak siantara kisah kita.

Tapi tolong tuliskan pada akhir kisahmu selanjutnya, bahwa kita dulu pernah bersama, walau akhirnya aku akan jadi bagian dari sejarah yang akan kau lupakan.

Jamuan

Sepertihalnya matahari dan awan, kita telah lama bertukar hari. mengisi cangkir dengan kopi kata dan ampas rindu. Lalu sama-sama meneguk hingga tandas tanpa ada sisa. Bersulang demi hari dimana kau menjadi matahari dan aku yangtetap berpijak bumi. Tapi tenang saja kawan, aku tetap akan bersedang hati bila kau mau ku jamu minum kopi lagi, asal kau masih ingat bagaimana rasa kata dan rindu itu.

Sabtu, 12 September 2009

Saat Kita

Kawan, aku ingin kau tahu bahwa sekarang kita telah berbeda jalan, walau sama-sama beriringan berjalan ke depan.
Kapan ya, kita terakhir kali bersama menyusuri sungai yang menbentang pada rentang waktu yang telah berlalu bersama kira?
Kapan ya, kita terakhir kali menggelar tikar di bawah terik dan saling bertukar kata bersama?
Kapan ya, kita terakhir kali mengejar layang-layang lalu menjadikannya layar agar kita dapat mengarungi biru laut bersama?

Ah, kawan, ternyata aku mungkin telah lupa. Tapi yang kuingat hanya, saat kita sama-sama saling mengusap peluh ketika kita selesai mengecat dinding hati masing-masing.

Maka, maukah kau ingatkan aku tentang kisah yang kita gores pada dinding dan jendela tempat kita pertama bertemu hinggat saat dimana kita menghabiskan keremajaan kita? Atau, kau telah lupa cerita yang telah kita tulis, kawan?

Selasa, 08 September 2009

Hanya Jika

Sora, jika besok ku temukan seseorang yang bisa membuatku mengalihkan pandanganku darimu, maka aku pastikan separu hatiku kosong, kalau-kalau kau ingin mengisinya lagi.
Jika ia bertanya tentangmu padaku, maka aku akan menjawab kalau kau hanya masa laluku.
Jika ia bertanya seberapa besar cintaku untuknya, maka akan ku jawab, ia menempati urutan ke3 setelah Tuhan dan keluargaku.
Jika ia bertanya dimana posisimu, maka aku akan menjawab kalau kau tetap ada di tempatmu saat ini, di hatiku.

Senin, 07 September 2009

Jika Tiba Saat

Ternyata saat tak dapat diperhitungkan. Bahkan gerak jarum jam tak kan bisa berhitung bilangan.

Teman, jadi katakan saja padaku, telah berapa lama kita bersama, telah berapa lama kita sering berjumpa, telah berapa lama kita saling bercanda, telah berapa lama kita saling bertukar canda, telah berapa lama kita menulis cerita bersama, dan telah berapa lama kita saling mengusap tangis kita.

Aku duduk di bawah rasi bintang scorpio malam kemarin lusa. Dan kita bisa bersama, aku di tengah-tengahnya, menyanyi dan berteriak tergelak bersama. Terpikirkan olehku bahwa telah banyak waktu yang terlewatkan lalu sebagaimana kita tumbuh dalam kebersamaan dan cinta di antaranya.

Jika tiba saat di mana kita masing-masing harus menentukan sebuah bintang tujuan, akankah kita bisa sering berjumpa seperti kemarin dan hari ini, akankah kita bisa saling bercanda seperti kemarin dan hari ini, akankah kita bisa saling bertukar canda seperti kemarin dan hari ini, akankah kita bisa menulis cerita bersama seperti kemarin dan hari ini, dan akankah kita bisa saling mengusap tangis kita seperti kemarin dan hari ini?

Seberapa lama kita masih bisa bersama? Akankah kita akan terus mengingat saat ini?

Aku Beruntung (I)

Aku beruntung karena duduk berlama-lama di depan teras di bawah rasi bintang bulan September. Untung saja tak ada awan, jadi aku bisa melihat langit malam dan bulan yang bersinar kekuningan.

Aku beruntung karena kali ini aku bisa bertemu matahari walau sindrakala telah tergantikan hitam angkasa. Senyum matahari mengalahkan bulan.

Aku beruntung karena masih bisa menatap senyum matahari di saat hampir akhir.

Aku Beruntung (II)

Aku beruntung karena cahaya sudah mau berbicara padaku. Tapi entah mengapa ia jadi aneh. Mungkin karena ia harus menempuh jarak bermil-mil untuk bertemu denganku?!

Aku beruntung karena mendapatkannya di saat terakhir. Namun aku was-was, karena cahaya sangatlah kasar.

Kemarinnya Kemarin Lusa

Tanggal 4 itu kemarinnya kemarin lusa. Aku teringat sedikit kisah pada tanggal itu yang terjadi hampir setahun lalu. Masihkah kau ingat tentang awan yang kuceritakan padamu tempo hari? Aku ingin sedikit berbagi kisah padamu.

Kemarinnya kemarin lusa, genap 1 tahun saat dimana musim beralih ke penghujan. Awan dimana-mana, menutupi langit. Tapi hari tak kunjung hujan karena awan bukan mendung. Aku menyesalkan melewatkan 1 minggu lebih tak menatap langit. Aku khilaf.

Untungnya, kakakku datang menyadarkanku dan aku dapat kembali menatap langit.

Sabtu, 22 Agustus 2009

Euporia

Masih di festival yang sama saat aku bertemu dengan cowok seputih kapas.

Aku berkhayal, kali ini benar-benar sebuah euporia yang tak akan pernah terkabul karena ternyata festival telah lama lewat. Aku mungkin berhalusinasi sepertihalnya seorang pengembara yang haus melihat sebuah fatamorgana sebuah lembah yang sangat subur di tengah gurun seluaa samudra.

Kali ini, aku membiarkan diriku tenggelam dalam euporia masa lalu. Kali ini aku berkhayal Sora datang melihat festival kota. Ia kini tinggal di sini, bersama kerentaan keluarganya yang tersisa. Aku bisa melihatnya di seberang sana, begitu nyata, walau aku yakin betul ini hanya sebuah euporia. Aku bisa melihat Sora berjalan mendekat menuju tempatku dan kudaku menunggu barisan prajurit dari bangsal ke empat. Aku bisa merasa, aorma tubuhya yang telah berdiri di samping tubuhku. Aku benar-benar berkhayal. Ia bertanya padaku mengenai barisan yang lewat di hadapan. Aku menoleh dan ia tersenyum padaku seolah pertemuan kali ini adalah sebuah ketak sengajaan yang ia sengaja buat.

Saat seorang prajurit Nazisme lewat dengan mengumandangkan lagu, aku tersadar kalau aku hanya berkhayal. Dan bayangan Sora lenyap begtu saja seperti kepergiannya yang tiba-tiba.

Sora, kapan kamu pulang?

Lady Penunggang Kuda


Kemarin aku melihat festival kota di lembah. Lagi-lagi aku harus menuruni bukit untuk melihat pawai akbar itu.Aku kaget ketika bertemu dengan cowok seputih kapas. Tak ku sangka ia mau berpanas-panas untuk melihat festival, padahal ia selalu saja berada di antara salju.
Aku melihat matahari tepat berada di belakang mendung yang tersenyum pada semua orang. Sebuah kekontrasan, mendung yang berlari di depan matahari.
Cowok sepuih kapas mengjakku bicara mengenai kemahiranku berkuda yang tak dimiliki lady-lady lain. Ia pikir aku seperti seorang lady yang menentang kodrat sebagai seorang bangsawan wanita.

Ah, tau apa ia soal aku. Tapi aku senang atas perhatiannya padaku.

After Ceremony


Kemarin aku sengaja turun dari perbukitan menuju kota yang letaknya ada di lembah untuk merayakan Hari Pembebasan. Di kota itu aku mengikuti seremony yang berjalan sangat kolot seperti biasanya.
Saat pulang, aku melihat Tuan Muda Shadow di dalam keretanya, berjalan lambat di depanku. Aku melambatkan kudaku dan mengikutinya di belakang. Tuan Muda Shadow tak menoleh ke belakang. Tapi aku tahu bahwa kusirnya telah memberitahunya kalau ada aku di belakangnya.
Aku melaju kudaku menuju arah yang tegak lurus dengan Tuan Muda Shadow. Sekilas sebelum aku merubah arah, aku melihat seberkas senyum di bibirnya.

Aku beruntung mampir ke tempat minum teh bersama temanku setelah seremoni berakhir. Karena dengan begitu aku dapat melihat senyum Tuan Muda Shadow. Kurasa, nyawaku bertambah separuh.

1000 surat


Aku ingin menginkari apa yang telah diperdengarkan oleh matahari padaku saat aku sedang magang jadi ilmuwan di laboratorium kebangkitan frenkenstein.
Cuaca bagus, tapi mendung bergelayut di pojok ruangan ketika matahari bercerita mengenai surat-surat yang ia kirimkan. Matahari berkata bahwa ia telah mengirim surat sebanyak 1000 bulan ini. Aku sangat penasaran sekali, kepada siapa surat itu telah dikirim. Karena tak satu pun surat itu teralamatkan padaku.

Sabtu, 25 Juli 2009

Si Kembang Api

Aku baru ingat, ini Juli. Musim panas masih panjang. Tapi aku lalai karena matahari tak pernah bercerita tentang pucuk bunga pohon mahoni.
Aku baru ingat, ini akhir Juli. Tapi musim panas masih panjang. Festival-festival bertebaran seperti halnya kembang api. KU lihat matahari senang sekali becerita pada kembang api. Aku tak mengerti tapi aku tak suka matahari bercerita pada kembang api. Aku ingin matahari bercerita padaku saja.

Aku jadi ingin tahu, ada apa diantara kembang api dan matahari.

Awan Malang

Bulan masih di akhir Juli tapi awan bergantung rendah di sudut langit barat daya. Hujan turun bergerimis, sangat rapi hingga aku tak sadar kalau embun-embun telah menempel di rambutku.

Sepertinya awan mempermainkanku. Awan mencoba menjauhkanku dari langit dengan menghapus tangga terakhir menuju langit. Kali ini awan lagi-lagi mencoba menjauhkanku dari maahari. Tapi sayangnya, usaha awan sia-sia. Sepanjang hari ini, aku berada di sekitar matahari.

Minggu, 19 Juli 2009

Si Pendaki dari Ngarai Kematian

Aku bertemu dengannya di rumah laut milik Mermaid. Namanya Pendaki. Katanya, dia telah menjelajahi semua gunung di ngarai kematian.

Sudah lama aku tak melihatnya. Aku senang sekali bisa bertemu dengannya di sana. aku suka dengan senyumnya. Senyumnya memang tak seperti milik matahari atau cowok seputih kapas, tapi aku merasa sebuah misteri di balik senyum itu. Si pendaki bukanlah orang yang banyak bicara. Tapi dia sangat akrab dengan temannya, dan dia hanya berbicara padaku ala kadarnya. Aku jadi ingin tahu mengapa dia berbuat demikian.

Saat aku pamit pada Mermaid, dia mendekatiku dan menghadang kudaku. Katanya, dia meminta alamat kotak suratku. Katanya, dia telah menghilangkan alamatnya yang dulu. Aku senang dan memberikannya tanpa bertanya. Lalu aku meninggalkannya tanpa sempat membuatnya berkat-kata lagi.

Di Perpustakaan Lama Bangsa Maya

Kemarin aku bertemu dengan cowok seputih kapas di Perpustakaan lama bangsa Maya. Katanya, dia ingin meminjam codex-codex lama. Ingin mengartikannya, katanya. Aku senang bertemu dengannya, karena sudah laa aku tak bertemu dengannya. Dia tak ikut perjalanan di Pulau Dio.

Aku segera pulang setelah mengembalikan codex yang aku pinjam. Tapi dia berseru meminta ditraktir di restoran. Aku tersenyum dan berkata kalau aku tak punya cukup uang. Seharusnya dia yang mentraktirku. Dia malah tersenyum dan berkata kalau aku pelit.

Kamis, 18 Juni 2009

Dia Bernama Tuan Muda Shadow

Hari ini aku bertemu dengan Tuan Muda Shadow. Dia bukan keturunan bangsawan, tetapi hanya seseorang yang sangat berbangsawan.

Tuan Muda Shadow punya senyuman yang dapat membuat semua wanita bertekuk lutut dihadapannya. Mungkin Tuan Muda Shadow punya senyuman sejenis dengan senyuman si Cowok Latin, Cowok Seputih Kapas dan matahari. Tapi bagiku, senyuman mataharilah yang paling bisa membuatku lumer.

Hari ini aku bertemu dengan Tuan Muda Shadow saat aku mengunjungi tempat kami pernah duduk di sekolah menengah beberapa taun lalu. Di sana sedang diadakan pesta sayonara dan biasanya kau selalu pergi melihatnya. Aku datang untuk bertemu dengannya. Karena tahun lalu aku melewatkan hari dimana Tuan Muda Shadow hadir dalam pesta itu.

Hari ini aku bertemu dengan Tuan Muda Shadow saat aku duduk di sebuah bangku kosong tak jauh dari perpustakaan Alexandria. Tuan Muda Shadow berjalan dihadapanku tapi tak menyapaku. Aku ingin menyapanya tapi kupikir mungkin ia sudah lupa padaku.

Hari ini aku bertemu dengan Tuan Muda Shadow saat aku menunggangi kudaku. Ia tersenyum padaku dan aku tersenyum padanya. Lama aku tak melihat senyumnya yang masih sama seperti dulu itu.

Aku tak menyesal, datang terlambat ke acara Pesta Hitam Putih di sekolah atas. Karena aku mendapatkan senyuman dari Tuan Muda Shadow.

Musim Flu

Beberapa hari ini aku tak bertemu degan cowok seputih kapas. Kata temannya, ia sakit. Mungkin ia sakit karena terlalu lama berdiri di antara tumpukan salju yang menghampar di pekarangan rumahku. Kasihan sekali.

Tapi, kemarin dan lusa aku bertemu dengannya, dan dia tersenyum manis seperti seorang anak kecil yang baru menemukan mainan yang baru. Aku ikut tersenyum dibuatnya.
Hari ini aku juga bertemu dengannya. Dia tersenyum dan melambai membodohiku. Aku kesal, tapi senang. Senang ada orang yang sengaja berusaha membuatku tersenyum.

Senin, 08 Juni 2009

Sebuah Sejarah

Sebuah sejarah dalam hidupmu mungkin, tapi mengejutkanku. Kemairn kau minta maaf padaku. Aku tak bisa berkata apa-apa.

- Aku saat ini sangat menyesal atas semua kesalahanku. Aku sudah tak mau lagi dibenci. Aku hanya ingin mengejar mimpiku saat ini. Aku ingin hidup tanpa rasa saling membenci, walau itu mungkin sulit untukmu. Aku ingin mencoba ingin hidup tanpa ada rasa dendam dan saling membenci di hidupku yang baru. Maaf atas semua salahku.

Aku terhenyak. Sejarah dalam hidupmu meminta maaf padaku. Tapi kau pikir hanya kau saja yang punya mimpi? Aku diam.

+ Terimakasih sudah mau meminta maaf. Tapi mungkin sejak awal, aku yang salah. Aku tahu kau membenciku, entah kenapa. Sejak awal aku tak membencimu. Hanya saja setelah tahu diammu untukku, aku marah. Marah padamu.

Tak ada balasan. Kuteruskan saja kata-kataku.

+ Sekali lagi, sejak awal aku yang salah. Aku tak akan memaksamu untuk tak membencimu, karena itu adalah keputusanmu dan aku menghormatinya. Aku berhutang padamu satu hal. Terimakasih atas keberanian yang dulu pernah kau beri. Tak apa kalau kau lupa.

Tak ada balasan. Sepertinya kau menganggap kalimatku belum selesai.

+ Aku akan mengembalikannya setelah benar-benar menata diri. Kau tahu, kau hampir mendiamkanku selama 6 bulan. Dulu juga pernah, tapi kau kembali jadi dirimu. Tapi, sekali lagi kau seperti dulu hingga kemarin. Sekali lagi, mungkin sejak awal aku yang salah. Kalau begitu, bolehkah aku bertanya satu hal?

+ Mengapa kau dulu mendiamkanku? Aku ingin tahu alasanmu.

Tak ada balasan. Rupanya kau memilih diam. Baiklah, tak apa. Setidaknya kau sudah tahu perasaanku karena kau sudah mendiamkanku sekain lama. Aku memilih tidur. Terserah padamu mau menjawab pertanyaanku atau memilih diam.

- Sebenarnya aku hanya ingin lari dari semuanya. Aku benar-benar sadar telah terlalu egois saat itu. Aku menyesal atas semua yang telah aku lakukan. Aku sekarang ingin meminta maaf kepada semua orang yang pernah ku sakiti. Terimakasih sudah mau memaafkanku. Semua ini membuatku lega.

Kamis, 04 Juni 2009

Tak sepantasnya

"Aku ingin menjadi setitik awan di langit." kata matahari.

Aku heran mengapa ia ingin sekali menjadi awan di langit. Katanya, ia ingin melindungi bunga pohon mahoni dari derai panas dan sinar yang telah lama ia pancarkan.

Bodoh, ku bilang. Aku benci awan. Dan kau menginginkan menjadi awan. Mungkin bagus juga, dengan begitu, hanya ada langit saja. Tak ada matahari juga awan.

Sudahah, tak sepantasnya aku menginginkan senyummu jadi milikku.

Di sebuah kedai

Aku tak percaya ini. Sepertinya aku sedang bermimpi.

Bulan sabit mengambang di langit barat ketika aku singgah sejenak di sebuah kedai kopi yang bernuansa eropa jaman dulu. Aku ingin sekedar mengistirahkan kuda putihku. Di sana aku bertemu dengan matahari. Dan dia tersenyum padaku dan berbasa-basi, menanyakan aku hendak pergi kemana. Katanya, ia akan pergi ke kota seberang, dan dia sedang mampir sambil mengistirahkan kuda-kuda yang menarik keretanya. Suatu kebetulan bertemu. Kupikir bulan telah tinggi dan matahari telah terbenam.

Malam itu, matahari bilang perbekalannya menipis. Dan dengan senang hati aku membagi sedikit bekalku untuknya. Aku rela, asal ia menukar bekalku dengan senyumnya.

Kamis, 28 Mei 2009

Segelas Es Limun

Kali ini panas sekali. Aku punya segelas es limun ditangan. Dan matahari merasa sangat kehausan. AKu ingin membaginya padanya. Seteguk saja, agar ia tak lagi berpeluh dahaga. Lalu ia akan tersenyum padaku dan berkata, 'Terimakasih'.

Tangga Menuju Langit

Sehari lalu, aku berada di atas bangsal ke-4. Di sana ada sebuah beranda tanpa atap yang memanjang ke utara.

Aku sedang mencari langit biruku, tapi awan-awan tak kunjung berhenti berarakan. Lama aku menunggu disana bersama bara api. Agak sedikit panas rasanya. Tapi bara apilah yang menunjukkan padaku sebuah tangga menuju langit. Tapi tangga itu berjarak ratusan mil jauhnya. Ternyata sulit sekali untuk pergi bertemu langit.

"Aku benci awan! Karenanya aku tak bisa bertemu dengan langit." kataku.
"Sepertinya awan ingin menggantikan langitmu. Tapi sepertinya tak bisa. Ia hanya menutupi langit saja, bukan menggantikannya."
"Ya, kau benar."

Awan selalu jadi pemisah antara aku dan langit.
Lama-lama, awan menutupi tangga menuju langit. Aku menunggu bersama bara api selama berjam-jam. Dan matahari terlelap di sebelah barat laut.
Lama menunggu lalu awan itu berlalu menuju utara. Tapiaku tak lagi bisa melihat tangga menuju angkasa itu lagi.

"Mungkin, tangga itu adalah tangga terakhir menuju angkasa. Dan awan telah menghapuskannya. Mungkin dia ingin membuatmu melupakan langit. Kini, kau akan lebih sulit lagi untuk bertemu dengan langit."

Cowok Seputih Kapas

Beberapa hari lalu, aku bertemu dengan cowok seputih kapas.

Aku hampir tak melihatnya, dihamparan tumpukan salju musin dingin. Mungkin karena namanya, cowok seputih kapas.

Aku suka sekali senyumnya yang seperti anak kecil. Tapi aku jauh lebih suka senyum matahari.
Dia suka sekali mengejekku sebagai bunga matahari kerdil yang tak mungkin menggapai langit.
Aku jadi sebal padanya, tapi aku tetap suka senyumnya.

Gambar Matahari

Hari ini aku menggambar matahari. Kenapa ya? Mungkin karena aku merindukan saat-saat dimana dia hanya memberikan senyumnya padaku.

Maaf = ?

Seminggu ini langit mendung. Lama telah aku tak bertemu matahari. Langit juga belum menjawab pertanyaanku.

Hari ini awan mendung menemuiku dan kembali terlihat akrab dengan matahari. Aku bisa melihat matahari dari sini. Tapi aku harus berpaling dari langit agar bisa melihat matahari.

Aku senang saat awan mendung beralih dan matahari menyapaku. Ia bertanya padaku bagaimana cara mengucapkan kata maaf. Katanya, ia ingin minta maaf pada bunga pohon mahoni karena lama tak berjumpa.

Mengapa ia tak minta maaf padaku, karena lama tak bertemu denganku?
Mungkin, karena aku hanya sebatang bunga matahari yang kerdil.

Singgah Sejenak

Hari itu, aku sangat berharap matahari datang. Agak sedikit mendung di sini. Aku jadi bosan karena hari tak kunjung hujan.

Aku jadi berkhayal.
Matahari datang, membawa 2 teman yang dijumpainya di persimpangan Jalan Susu. Kuhabiskan waktuku menikmati cahaya matahari yang menyilaukan. Tapi kilaunya meredup.
Saat seorang penunggang kuda hitam mampir, aku tersadar kalau matahari tak akan datang bersama 2 teman yang ia jumpai di persimpangan Jalan Susu.

Kata Cahaya

Beberapa saat lalu, cahaya bercerita padaku tentang alasanmu membenciku. Katanya, kau ini aneh. Kau akan jadi benci pada apa yang dulu kau sukai tetapi kau tak mendapatkannya.

Aku jadi berpikir, apa benar alasanmu membenciku adalah alasan yang sama dengan perkataan cahaya? Aku tak tahu itu, kupikir, gadis bergaun putih itu yang kau sukai.
Kalau benar, kau memang menyukaiku, maka aku akan melakukan hal yang mirip dengan apa yang kau lakukan.
Kau tahu aku benci sebuah konspirasi, dan alasanmu tak dapat membuatku memaafkanmu. Kau tahu aku benci pengkhianatan, dan alasanmu itu tak dapat membuatku membenarkan pengkhianatanmu itu.

Mungkin, sejak awal aku lah yang bersalah padamu. Bersalah, karena aku mempercayai bahwa persahabatan antara 2 makhluk sebaya berlawanan jenis akan terjalin tanpa ada rasa suka diantara keduanya.

Kalau begitu, aku memang tak pantas lagi jadi temanmu. Kalau kau memang ingin membenciku, bencilah aku seperti halnya kau mencintai kekasihmu. Aku tak butuh alasanmu mengapa kau membenciku. Tak ada alasan mengapa seseorang saling mencintai, karenanya, tak ada pula alasan mengapa seseorang saling membenci.

Tapi, kau janan marah, kalau aku mengembalikan tasbih yang pernah kau beri dulu. Karena kita, bukan teman lagi, bukan?

Kamis, 14 Mei 2009

Sepertinya Peterpan Benar

Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
(ref lagu Peterpan)


Ternyata Peterpan benar. Tak ada yang abadi di dunia ini. Tak selamanya langit tetap membiru. Tak selamanya matahari mampu menyinari. Tak selamanya bulan mampu berpendar. Tak selamanya bintang gemilang. Tak selamanya ombak tercampak di muka pantai. Tak selamanya angin semilir. Tak selamanya hujan berderai. Tak selamanya awan berarakan. Tak selamanya sinar menerangi. Juga tak selamanya gelap membayang.

Aku baru tahu bahwa senyummu itu palsu. Seperti halnya venus saat fajar, atau sungai saat mencapai muara, atau juga seresah diantara sampah. Walaupun kau adalah cowok berwajah latin yag tersenyum padaku tempo haripun, aku tetap tak ingin memiliki senyummu itu. Karena aku baru tahu, bahwa kau telah bersama dengan seorang gadis berkuda merah jambu.

Kamis, 30 April 2009

Matahari dan Awan Mendung

Sora, aku ingin bercerita padamu.

Hari-hari terakhirku ku habiskan melihat langit. Tapi aku dapat melihat matahari akrab sekali dengan awan mendung. Bukan awan yang dulu pernah menjauhkanku darimu, tetapi awan yang lain. Awan pembawa hujan yang datang bersama angin barat daya.
Sepertinya aku iri pada awan mendung. Aku ingin aku bisa bercanda dan tertawa bersamamu seperti halnya matahari dan awan. Tapi aku juga ingin, senyuman matahari hanya jadi milikku, seperti halnya birumu jadi milikku.

Sabtu, 25 April 2009

Si Penabur Benih dan Benihnya

Sora, dengarkan pengakuanku ini padamu.
Di sudut langit, aku terhenyak di antara padang rumput-rumput setinggi lutut. Aku tak sengaja menemukan sebuah bibit yang tlah berkecambah. Berkecambah di hati yang tlah lama menggersang. Bagaimana bisa bibit itu bisa tumbuh tanpa dirimu? Aku tak tahu.
Di sudut malam, aku nyenyak di antara cahaya matahari-matahari kecil yang berkembara di antara semesta. aku tak sengaja telah menemukan si penabur benih yang telah berkecambah di hati itu. Bagaimana bisa si penabur benih itu masuk tanpa ijinku? Aku tak tahu.

Biar ku ingat kembali, Sora. Saat tengah hari, awan membasuh tanah setelah terik tak terperi menghantarkan air pada awan. Seakan awan ingin mengembalikan air pada bumi. Di antara tetes-tetes air yang dikirimkan peri hujan, matahari tertidur di antara ilalang setinggi mata kaki. Dan keindahan senyumnya tak mungkin tak ku abadikan diantara gulungan perkamen tua, bukan?

Saat jarum jam tak lagi bergerak dan dunia seakan mati, tunduk pada gelap purnama yang mati, aku sadar bahwa kecambah itu akan terus tumbuh. Baik kau ada atau tanpamu. Terus akan tumbuh dan jadi perintis di permukaan hati yang seperti rupa bulan. Ku temukan pula mengapa benih itu bisa ada di hati. Karena ada celah yang telah lama kau buat. Seperti air yang mengikis batu. Ku temukan pula mengapa benih itu bisa tumbuh tanpamu. Karena ada senyum matahari yang tak pernah berhenti. Tapi, kini percuma saja Sora. Benih itu akan tumbuh, tapi saat itu pula, ia akan mati. Karena semuanya telah terlambat.

Maka, biarlah cinta ini berjalan dengan semestinya.

Jumat, 17 April 2009

Seuntai Tasbih

Kawan, masih kah kau ingat dulu ketika kau memberikan seuntai tasbih padaku?

Aku masih ingat betul. Satu tahun lalu, kau berikan seuntai tasbih milikmu dari ibumu kepadaku. Masih ku simpan tasbih itu, kawan. Karena tasbih itu adalah untaian keberanianmu yang kau sumbang kepadaku saat malam membekukanku.

Aku bahagia dalam ketakutanku, karena kau mendukungku, dan mencoba menghilangkan rasa takutku. Tapi kawan, kenapa kau sekarang tak lagi seperti dulu? Aku tahu, keberanian dalam tasbih itu telah menguap setahun ini. Aku juga agak sangsi menyebutmu teman. Masihkah kau adalah temanku?

Aku tahu kau tak mungkin membaca tulisanku ini, tapi...biarlah dunia tahu, bahwa aku dulu pernah punya kau, teman. Teman yang dapat diandalkan kapan saja.

Suatu saat bila kau telah kembali jadi dirimu, bolehkah aku menyebutmu kawan lama?

Cowok yang jadi Sumber Cahaya bagi Bunga Matahari

aku rindu senyummu
Senyum yang seperti sinar matahari
hangat dan sejuk meresap di antara batangku


aku rindu senyummu
Senyum yang seperti terik matahari
panas dan membakar tapi membuatku merasa tinggi


tapi, kau pun tahu,
aku hanya sebuah bunga matahari
bukan matahari,
seperti dirimu









special to Himawari Taiyo

Rabu, 08 April 2009

Cowok Berwajah Latin yang Tersenyum padaku Tempo Hari

Aku bertemu lagi dengan cowok itu. Cowok berwajah latin. Cowok yang berwajah latin itu tersenyum padaku. Cowok berwajah latin yang tersenyum padaku dengan senyum yang telah lama ku kagumi. Bukannya aku menduakan Sora, hanya saja, senyum itu terlihat menggoda.

Aku bertemu lagi dengan cowok itu. Cowok berwajah latin. Cowok yang berwajah latin itu menyapaku. Cowok berwajah latin yang menyapaku dengan suara yang telah lama ku kagumi. Bukannya aku menyeleweng kawa, hanya saja, suaranya terdengar begitu merdu.

Aku bertemu lagi denga cowok itu hari ini. Hanya saja, dia tak tersenyum padaku juga tak menyapaku. Aku hanya dapat melihatnya dari kaca spion motorku.
Kawan, cowok berwajah latin yang tersenyum tempo hari adalah temanku. Teman baikku.

Senin, 06 April 2009

Hime,

hime,
aku sudah lelah
mencari dan menanti.

hime,
kucukupkan saja pencarianku ini
kuakhiri saja penantianku ini
lelah, lama ku mengais tumpukan debu
juga album-album dan buku tentang dulu
aku sudah lelah.

tapi hime,
akhirnya aku menemukannya
ya, aku telah menemukan langitku
di antara jaring-jaring yang tlah berkarat
di antara asap-asap yang tlah menguap

hime,
aku tak tahu, waktu 4 tahun bisa
membuat sebuah langit berubah
ya hime, langitku dulu biru
tapi kini ia sudah jadi abu-abu
terbakar di katulistiwa
bersama angin tenggara yang pertama.

hime,
aku tak tahu, waktu 4 tahun bisa
membuat sebuah langit punya sayap
ya hime, langitku dulu diam
tapi kini ia ingin pergi ke bulan
lewat angin barat daya
yang berjanji esok akan mengantarnya.

hime,
aku sudah lelah
walau aku tlah bertemu dengannya
tapi biarlah saja
semua kata-kata penantian dan pencarian
agar jadi beku dan jadi tanda bagiku
bahwa aku dulu
menanti langitku.

Minggu, 05 April 2009

Sepertinya aku sudah....

Sepertinya aku sudah jadi paranoid. Aku membenci semua hal yang disukai oleh orang yang aku benci. Aku hampir membenci semua hal yang kusukai tapi ternyata disukai oleh orang yang aku benci. aku menyukai hampir semua hal yang dibenci oleh orang yang ku benci.

Waduh, bagaimana ini?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai orang yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai teman yang paling kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai mata pelajaran yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai tempat duduk yang paling kususkai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai tempat rahasia yang paling kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai buku yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai semua pengarang yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai komik yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai komikus yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai lagu yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai penyanyi yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai grup band yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai artis yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai film yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai warna yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai makanan yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai minuman yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai program televisi yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai anime yang kusukai?
Bagaimana...? Bagaimana...? Bagaimana...?


STOP!!!!
Paranoid sedang teridap ditubuhku!

Benci Segitiga

Orang yang temanku benci adalah orang yang membenciku. Masih orang yang sama, orang yang membenciku adalah orang yang dibenci temanku.

Orang yang paling bodoh di dunia ini adalah orang yang dibenci temanku. Mengapa aku bisa menganggapnya bodoh? Karena dia terlalu bodoh untuk membuat temanku membencinya. Perlu kau tahu kawan, temanku itu paling pantang membenci orang. Hm, jangan-jangan dia membenci temanku karena temanku menyukainya? Oh, tentu saja tidak. Aku tahu betul siapa yang temanku suka. Tapi kawan, dia membenci temanku? Kurasa orang itu sudah tidak waras. Gegar otak dan kurang pikiran mungkin. Aku tak begitu tahu mengapa dia membenci temanku. Padahal, sejauh yang aku tahu kawan,dia dan temanku adalah teman baik. Lantas, mengapa dia sekarang membenci temanku? Bisakah aku berspekulasi bahwa dia menyukai temanku? Kurasa juga tidak. Aku memang tidak tahu siapa yang sedang dia sukai, tapi sejauh yang aku dengar dari temanku, dia menyukai orang lain.

Orang paling bodoh nomor dua di dunia ini adalah orang yang membenciku. Aku tak tahu mengapa dia membenciku. Sepanjang yang aku tahu, aku tak pernah berbuat salah padanya. Atau jangan-jangan dia suka padaku? Ah, kurasa tidak. Hanya orang bodoh yang menganggap dia menyukaiku. Aku jadi penasaran dan ingin tahu mengapa dia membenciku. Jangan-jangan, malahan aku yang menyukainya? Tentu saja tidak dan tidak akan pernah kawan. Dan mungkin kau juga sudah tahu siapa yang aku sukai. Aku sempat berpikir, apakah dia membenciku karena temanku membencinya?

Jika betul begitu kawan, aku tenyata juga membenci temanku itu. Mengapa bisa begitu? Entahlah. Aku tak begitu tahu. Tak ada alasan untuk mencintai seseorang bukan, maka membenci seseorang pun demikian.

Kalau di dunia ini ada cinta segitiga, boleh-boleh saja kan, kalau ada benci segitiga. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah, siapakan yang akan jadian? Jadi musuh bebeuyutan beneran maksudnya. ~_~



Cerita di atas terdapat unsur fiksi dan kesamaan nama samaran bukan disengaja melainkan hanya kebetulan semata.

Rabu, 25 Maret 2009

sebuah kisah, sebait sajak

kisah yang kau kasih tempo dulu belum usai
sajak yang kau buat juga belum tamat

tapi kau terburu
mau mengejar senja katamu

fajar malah sudah datang mendahuluimu,
senja yang kau kejar ada bersama fajar,
sekarang dia ada di sisiku

nah, maukah kau menamatkan kisah dan sajakmu untukku?




buat Sora
Ps. Hati2 jangan mpe jadi gosong di sana!
Kan bentar lagi matahari ada di atas katulistiwa

Minggu, 22 Maret 2009

Sampai kapan aku harus dan terus....

Sampai kapan aku harus menunggumu
Sampai kapan aku bisa terus menunggumu
Sampai kapan aku harus mengingatmu
Sampai kapan aku bisa terus mengingatmu
Sampai kapan aku harus tenggelam dalam ingatan tentangmu
Sampai kapan aku bisa terus tenggelam dalam ingatan tentangmu
Sampai kapan aku harus bertahan akanmu
Sampai kapan aku bisa terus bertahan akanmu


seorang teman pernah berkata padaku,
"kita ini hidup sendiri"
aku juga berpikir demikian.
aku hidup sendirian di dunia ini.
memang aku hidup ditengah-tengah manusia lainnya.
tapi aku masih merasa aku tetap sendirian.
berpikir sendiri,
melihat sendiri,
bernapas sendiri,
mendengar sendiri,
meraba sendiri,
berjalan sendiri,
menangis sendiri,
tersenyum sendiri,
bahagia sendiri,
sedih sendiri,
marah sendiri,
kaget sendiri,
bingung sendiri,
jatuh cinta sendiri,
membenci sendiri,
menyukai sendiri,
mencintai sendiri,
mendendam sendiri,
sendiri, hanya aku sendiri
tapi ucapan temanku itu belum selesai
masih ada lanjutannya.
"tapi kita harus tetap bersosialisasi dengan sesama manusia"



tapi kenyataannya
aku tetap sendiri, Sora
aku mencarimu sendiri
aku hanya ingin tahu,
apakah kau masih mengingatku,Sora?


Senin, 09 Maret 2009

Aku sudah hampir lupa bagaimana...........

Aku sudah hampir lupa bagaimana aku pertama kali melihatnya
Aku sudah hampir lupa bagaimana aku pertama kali bertemu dengannya
Aku sudah hampir lupa bagaimana senyumnya yang telah membekukan pandangan
Aku sudah hampir lupa bagaimana angin meniup rambut kecoklatannya
Aku sudah hampir lupa bagaimana matahari membakar kulit putihnya
Aku sudah hampir lupa bagaimana dedaunan rontok di antara tatapannya
Aku sudah hampir lupa bagaimana hujan membasahi bahunya
Aku sudah hampir lupa bagaimana suiletnya di antara senja dan sindrakala
Aku sudah hampir lupa bagaimana desah nafasnya saat perpisahan itu tiba
Aku sudah hampir lupa bagaimana kata-kata terakhir darinya saat dia pergi (untuk selamanya ?)
Aku sudah hampir lupa bagaimana aku baru tersadar bahwa aku menyukainya
Aku sudah hampir lupa bagaimana aku terlelap dalam genangan airmata
Aku sudah hampir lupa bagaimana cara mengeja namanya
Aku sudah hampir lupa bagaimana cara mengucap namanya





tapi kini aku kembali teringat
padamu
juga kisah-kisah
yang kita tinggalkan pada halaman-halaman buku perpustakaan,
pada lantai-lantai berdebu, pada bangku-bangku usang,
pada dinding-dinding pagar, juga pada setapak jalan yang pernah kita lalui

aku tak tahu bagaimana dirimu saat ini,
tapi aku hanya ingin tahu
tentang perasaan kita yang dahulu

Sabtu, 28 Februari 2009

Short hishing

I'm Still Nothing
By. Otaku



the sun beam passsed away
and the darkness night closed my way
but the moon guide me
through a pall on day

it's sunshiny airway
and the wind make me awe
my eyes can't stop see
but you are too shiny to me


the sky still blue
you go away and I don't have any clue
to find you

Living is for being
but without you, I'm nothing


the stars sparkling above
and the night be labor of love
changes the day aloft
but I still think of you in my alcove


the sky still blue
you go away and I don't have any clue
to find you

Living is for being
but without you, I'm nothing
I'm still nothing
still nothing






Gimana? Gimana?
Bagus g?
kayaknya g y?
(hiks....hiks....~_~)

Sekarang aku lagi cari orang yang sangup membuat bait2 di atas jadi lagu.
Tolong cariin ya?!