Rabu, 25 Maret 2009

sebuah kisah, sebait sajak

kisah yang kau kasih tempo dulu belum usai
sajak yang kau buat juga belum tamat

tapi kau terburu
mau mengejar senja katamu

fajar malah sudah datang mendahuluimu,
senja yang kau kejar ada bersama fajar,
sekarang dia ada di sisiku

nah, maukah kau menamatkan kisah dan sajakmu untukku?




buat Sora
Ps. Hati2 jangan mpe jadi gosong di sana!
Kan bentar lagi matahari ada di atas katulistiwa

Minggu, 22 Maret 2009

Sampai kapan aku harus dan terus....

Sampai kapan aku harus menunggumu
Sampai kapan aku bisa terus menunggumu
Sampai kapan aku harus mengingatmu
Sampai kapan aku bisa terus mengingatmu
Sampai kapan aku harus tenggelam dalam ingatan tentangmu
Sampai kapan aku bisa terus tenggelam dalam ingatan tentangmu
Sampai kapan aku harus bertahan akanmu
Sampai kapan aku bisa terus bertahan akanmu


seorang teman pernah berkata padaku,
"kita ini hidup sendiri"
aku juga berpikir demikian.
aku hidup sendirian di dunia ini.
memang aku hidup ditengah-tengah manusia lainnya.
tapi aku masih merasa aku tetap sendirian.
berpikir sendiri,
melihat sendiri,
bernapas sendiri,
mendengar sendiri,
meraba sendiri,
berjalan sendiri,
menangis sendiri,
tersenyum sendiri,
bahagia sendiri,
sedih sendiri,
marah sendiri,
kaget sendiri,
bingung sendiri,
jatuh cinta sendiri,
membenci sendiri,
menyukai sendiri,
mencintai sendiri,
mendendam sendiri,
sendiri, hanya aku sendiri
tapi ucapan temanku itu belum selesai
masih ada lanjutannya.
"tapi kita harus tetap bersosialisasi dengan sesama manusia"



tapi kenyataannya
aku tetap sendiri, Sora
aku mencarimu sendiri
aku hanya ingin tahu,
apakah kau masih mengingatku,Sora?


Senin, 09 Maret 2009

Aku sudah hampir lupa bagaimana...........

Aku sudah hampir lupa bagaimana aku pertama kali melihatnya
Aku sudah hampir lupa bagaimana aku pertama kali bertemu dengannya
Aku sudah hampir lupa bagaimana senyumnya yang telah membekukan pandangan
Aku sudah hampir lupa bagaimana angin meniup rambut kecoklatannya
Aku sudah hampir lupa bagaimana matahari membakar kulit putihnya
Aku sudah hampir lupa bagaimana dedaunan rontok di antara tatapannya
Aku sudah hampir lupa bagaimana hujan membasahi bahunya
Aku sudah hampir lupa bagaimana suiletnya di antara senja dan sindrakala
Aku sudah hampir lupa bagaimana desah nafasnya saat perpisahan itu tiba
Aku sudah hampir lupa bagaimana kata-kata terakhir darinya saat dia pergi (untuk selamanya ?)
Aku sudah hampir lupa bagaimana aku baru tersadar bahwa aku menyukainya
Aku sudah hampir lupa bagaimana aku terlelap dalam genangan airmata
Aku sudah hampir lupa bagaimana cara mengeja namanya
Aku sudah hampir lupa bagaimana cara mengucap namanya





tapi kini aku kembali teringat
padamu
juga kisah-kisah
yang kita tinggalkan pada halaman-halaman buku perpustakaan,
pada lantai-lantai berdebu, pada bangku-bangku usang,
pada dinding-dinding pagar, juga pada setapak jalan yang pernah kita lalui

aku tak tahu bagaimana dirimu saat ini,
tapi aku hanya ingin tahu
tentang perasaan kita yang dahulu