Kamis, 30 April 2009

Matahari dan Awan Mendung

Sora, aku ingin bercerita padamu.

Hari-hari terakhirku ku habiskan melihat langit. Tapi aku dapat melihat matahari akrab sekali dengan awan mendung. Bukan awan yang dulu pernah menjauhkanku darimu, tetapi awan yang lain. Awan pembawa hujan yang datang bersama angin barat daya.
Sepertinya aku iri pada awan mendung. Aku ingin aku bisa bercanda dan tertawa bersamamu seperti halnya matahari dan awan. Tapi aku juga ingin, senyuman matahari hanya jadi milikku, seperti halnya birumu jadi milikku.

Sabtu, 25 April 2009

Si Penabur Benih dan Benihnya

Sora, dengarkan pengakuanku ini padamu.
Di sudut langit, aku terhenyak di antara padang rumput-rumput setinggi lutut. Aku tak sengaja menemukan sebuah bibit yang tlah berkecambah. Berkecambah di hati yang tlah lama menggersang. Bagaimana bisa bibit itu bisa tumbuh tanpa dirimu? Aku tak tahu.
Di sudut malam, aku nyenyak di antara cahaya matahari-matahari kecil yang berkembara di antara semesta. aku tak sengaja telah menemukan si penabur benih yang telah berkecambah di hati itu. Bagaimana bisa si penabur benih itu masuk tanpa ijinku? Aku tak tahu.

Biar ku ingat kembali, Sora. Saat tengah hari, awan membasuh tanah setelah terik tak terperi menghantarkan air pada awan. Seakan awan ingin mengembalikan air pada bumi. Di antara tetes-tetes air yang dikirimkan peri hujan, matahari tertidur di antara ilalang setinggi mata kaki. Dan keindahan senyumnya tak mungkin tak ku abadikan diantara gulungan perkamen tua, bukan?

Saat jarum jam tak lagi bergerak dan dunia seakan mati, tunduk pada gelap purnama yang mati, aku sadar bahwa kecambah itu akan terus tumbuh. Baik kau ada atau tanpamu. Terus akan tumbuh dan jadi perintis di permukaan hati yang seperti rupa bulan. Ku temukan pula mengapa benih itu bisa ada di hati. Karena ada celah yang telah lama kau buat. Seperti air yang mengikis batu. Ku temukan pula mengapa benih itu bisa tumbuh tanpamu. Karena ada senyum matahari yang tak pernah berhenti. Tapi, kini percuma saja Sora. Benih itu akan tumbuh, tapi saat itu pula, ia akan mati. Karena semuanya telah terlambat.

Maka, biarlah cinta ini berjalan dengan semestinya.

Jumat, 17 April 2009

Seuntai Tasbih

Kawan, masih kah kau ingat dulu ketika kau memberikan seuntai tasbih padaku?

Aku masih ingat betul. Satu tahun lalu, kau berikan seuntai tasbih milikmu dari ibumu kepadaku. Masih ku simpan tasbih itu, kawan. Karena tasbih itu adalah untaian keberanianmu yang kau sumbang kepadaku saat malam membekukanku.

Aku bahagia dalam ketakutanku, karena kau mendukungku, dan mencoba menghilangkan rasa takutku. Tapi kawan, kenapa kau sekarang tak lagi seperti dulu? Aku tahu, keberanian dalam tasbih itu telah menguap setahun ini. Aku juga agak sangsi menyebutmu teman. Masihkah kau adalah temanku?

Aku tahu kau tak mungkin membaca tulisanku ini, tapi...biarlah dunia tahu, bahwa aku dulu pernah punya kau, teman. Teman yang dapat diandalkan kapan saja.

Suatu saat bila kau telah kembali jadi dirimu, bolehkah aku menyebutmu kawan lama?

Cowok yang jadi Sumber Cahaya bagi Bunga Matahari

aku rindu senyummu
Senyum yang seperti sinar matahari
hangat dan sejuk meresap di antara batangku


aku rindu senyummu
Senyum yang seperti terik matahari
panas dan membakar tapi membuatku merasa tinggi


tapi, kau pun tahu,
aku hanya sebuah bunga matahari
bukan matahari,
seperti dirimu









special to Himawari Taiyo

Rabu, 08 April 2009

Cowok Berwajah Latin yang Tersenyum padaku Tempo Hari

Aku bertemu lagi dengan cowok itu. Cowok berwajah latin. Cowok yang berwajah latin itu tersenyum padaku. Cowok berwajah latin yang tersenyum padaku dengan senyum yang telah lama ku kagumi. Bukannya aku menduakan Sora, hanya saja, senyum itu terlihat menggoda.

Aku bertemu lagi dengan cowok itu. Cowok berwajah latin. Cowok yang berwajah latin itu menyapaku. Cowok berwajah latin yang menyapaku dengan suara yang telah lama ku kagumi. Bukannya aku menyeleweng kawa, hanya saja, suaranya terdengar begitu merdu.

Aku bertemu lagi denga cowok itu hari ini. Hanya saja, dia tak tersenyum padaku juga tak menyapaku. Aku hanya dapat melihatnya dari kaca spion motorku.
Kawan, cowok berwajah latin yang tersenyum tempo hari adalah temanku. Teman baikku.

Senin, 06 April 2009

Hime,

hime,
aku sudah lelah
mencari dan menanti.

hime,
kucukupkan saja pencarianku ini
kuakhiri saja penantianku ini
lelah, lama ku mengais tumpukan debu
juga album-album dan buku tentang dulu
aku sudah lelah.

tapi hime,
akhirnya aku menemukannya
ya, aku telah menemukan langitku
di antara jaring-jaring yang tlah berkarat
di antara asap-asap yang tlah menguap

hime,
aku tak tahu, waktu 4 tahun bisa
membuat sebuah langit berubah
ya hime, langitku dulu biru
tapi kini ia sudah jadi abu-abu
terbakar di katulistiwa
bersama angin tenggara yang pertama.

hime,
aku tak tahu, waktu 4 tahun bisa
membuat sebuah langit punya sayap
ya hime, langitku dulu diam
tapi kini ia ingin pergi ke bulan
lewat angin barat daya
yang berjanji esok akan mengantarnya.

hime,
aku sudah lelah
walau aku tlah bertemu dengannya
tapi biarlah saja
semua kata-kata penantian dan pencarian
agar jadi beku dan jadi tanda bagiku
bahwa aku dulu
menanti langitku.

Minggu, 05 April 2009

Sepertinya aku sudah....

Sepertinya aku sudah jadi paranoid. Aku membenci semua hal yang disukai oleh orang yang aku benci. Aku hampir membenci semua hal yang kusukai tapi ternyata disukai oleh orang yang aku benci. aku menyukai hampir semua hal yang dibenci oleh orang yang ku benci.

Waduh, bagaimana ini?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai orang yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai teman yang paling kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai mata pelajaran yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai tempat duduk yang paling kususkai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai tempat rahasia yang paling kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai buku yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai semua pengarang yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai komik yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai komikus yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai lagu yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai penyanyi yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai grup band yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai artis yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai film yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai warna yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai makanan yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai minuman yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai program televisi yang kusukai?
Bagaimana kalau orang yang kubenci ternyata menyukai anime yang kusukai?
Bagaimana...? Bagaimana...? Bagaimana...?


STOP!!!!
Paranoid sedang teridap ditubuhku!

Benci Segitiga

Orang yang temanku benci adalah orang yang membenciku. Masih orang yang sama, orang yang membenciku adalah orang yang dibenci temanku.

Orang yang paling bodoh di dunia ini adalah orang yang dibenci temanku. Mengapa aku bisa menganggapnya bodoh? Karena dia terlalu bodoh untuk membuat temanku membencinya. Perlu kau tahu kawan, temanku itu paling pantang membenci orang. Hm, jangan-jangan dia membenci temanku karena temanku menyukainya? Oh, tentu saja tidak. Aku tahu betul siapa yang temanku suka. Tapi kawan, dia membenci temanku? Kurasa orang itu sudah tidak waras. Gegar otak dan kurang pikiran mungkin. Aku tak begitu tahu mengapa dia membenci temanku. Padahal, sejauh yang aku tahu kawan,dia dan temanku adalah teman baik. Lantas, mengapa dia sekarang membenci temanku? Bisakah aku berspekulasi bahwa dia menyukai temanku? Kurasa juga tidak. Aku memang tidak tahu siapa yang sedang dia sukai, tapi sejauh yang aku dengar dari temanku, dia menyukai orang lain.

Orang paling bodoh nomor dua di dunia ini adalah orang yang membenciku. Aku tak tahu mengapa dia membenciku. Sepanjang yang aku tahu, aku tak pernah berbuat salah padanya. Atau jangan-jangan dia suka padaku? Ah, kurasa tidak. Hanya orang bodoh yang menganggap dia menyukaiku. Aku jadi penasaran dan ingin tahu mengapa dia membenciku. Jangan-jangan, malahan aku yang menyukainya? Tentu saja tidak dan tidak akan pernah kawan. Dan mungkin kau juga sudah tahu siapa yang aku sukai. Aku sempat berpikir, apakah dia membenciku karena temanku membencinya?

Jika betul begitu kawan, aku tenyata juga membenci temanku itu. Mengapa bisa begitu? Entahlah. Aku tak begitu tahu. Tak ada alasan untuk mencintai seseorang bukan, maka membenci seseorang pun demikian.

Kalau di dunia ini ada cinta segitiga, boleh-boleh saja kan, kalau ada benci segitiga. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah, siapakan yang akan jadian? Jadi musuh bebeuyutan beneran maksudnya. ~_~



Cerita di atas terdapat unsur fiksi dan kesamaan nama samaran bukan disengaja melainkan hanya kebetulan semata.