Kamis, 28 Mei 2009

Cowok Seputih Kapas

Beberapa hari lalu, aku bertemu dengan cowok seputih kapas.

Aku hampir tak melihatnya, dihamparan tumpukan salju musin dingin. Mungkin karena namanya, cowok seputih kapas.

Aku suka sekali senyumnya yang seperti anak kecil. Tapi aku jauh lebih suka senyum matahari.
Dia suka sekali mengejekku sebagai bunga matahari kerdil yang tak mungkin menggapai langit.
Aku jadi sebal padanya, tapi aku tetap suka senyumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar