Kamis, 28 Mei 2009

Tangga Menuju Langit

Sehari lalu, aku berada di atas bangsal ke-4. Di sana ada sebuah beranda tanpa atap yang memanjang ke utara.

Aku sedang mencari langit biruku, tapi awan-awan tak kunjung berhenti berarakan. Lama aku menunggu disana bersama bara api. Agak sedikit panas rasanya. Tapi bara apilah yang menunjukkan padaku sebuah tangga menuju langit. Tapi tangga itu berjarak ratusan mil jauhnya. Ternyata sulit sekali untuk pergi bertemu langit.

"Aku benci awan! Karenanya aku tak bisa bertemu dengan langit." kataku.
"Sepertinya awan ingin menggantikan langitmu. Tapi sepertinya tak bisa. Ia hanya menutupi langit saja, bukan menggantikannya."
"Ya, kau benar."

Awan selalu jadi pemisah antara aku dan langit.
Lama-lama, awan menutupi tangga menuju langit. Aku menunggu bersama bara api selama berjam-jam. Dan matahari terlelap di sebelah barat laut.
Lama menunggu lalu awan itu berlalu menuju utara. Tapiaku tak lagi bisa melihat tangga menuju angkasa itu lagi.

"Mungkin, tangga itu adalah tangga terakhir menuju angkasa. Dan awan telah menghapuskannya. Mungkin dia ingin membuatmu melupakan langit. Kini, kau akan lebih sulit lagi untuk bertemu dengan langit."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar