Kamis, 18 Juni 2009

Dia Bernama Tuan Muda Shadow

Hari ini aku bertemu dengan Tuan Muda Shadow. Dia bukan keturunan bangsawan, tetapi hanya seseorang yang sangat berbangsawan.

Tuan Muda Shadow punya senyuman yang dapat membuat semua wanita bertekuk lutut dihadapannya. Mungkin Tuan Muda Shadow punya senyuman sejenis dengan senyuman si Cowok Latin, Cowok Seputih Kapas dan matahari. Tapi bagiku, senyuman mataharilah yang paling bisa membuatku lumer.

Hari ini aku bertemu dengan Tuan Muda Shadow saat aku mengunjungi tempat kami pernah duduk di sekolah menengah beberapa taun lalu. Di sana sedang diadakan pesta sayonara dan biasanya kau selalu pergi melihatnya. Aku datang untuk bertemu dengannya. Karena tahun lalu aku melewatkan hari dimana Tuan Muda Shadow hadir dalam pesta itu.

Hari ini aku bertemu dengan Tuan Muda Shadow saat aku duduk di sebuah bangku kosong tak jauh dari perpustakaan Alexandria. Tuan Muda Shadow berjalan dihadapanku tapi tak menyapaku. Aku ingin menyapanya tapi kupikir mungkin ia sudah lupa padaku.

Hari ini aku bertemu dengan Tuan Muda Shadow saat aku menunggangi kudaku. Ia tersenyum padaku dan aku tersenyum padanya. Lama aku tak melihat senyumnya yang masih sama seperti dulu itu.

Aku tak menyesal, datang terlambat ke acara Pesta Hitam Putih di sekolah atas. Karena aku mendapatkan senyuman dari Tuan Muda Shadow.

Musim Flu

Beberapa hari ini aku tak bertemu degan cowok seputih kapas. Kata temannya, ia sakit. Mungkin ia sakit karena terlalu lama berdiri di antara tumpukan salju yang menghampar di pekarangan rumahku. Kasihan sekali.

Tapi, kemarin dan lusa aku bertemu dengannya, dan dia tersenyum manis seperti seorang anak kecil yang baru menemukan mainan yang baru. Aku ikut tersenyum dibuatnya.
Hari ini aku juga bertemu dengannya. Dia tersenyum dan melambai membodohiku. Aku kesal, tapi senang. Senang ada orang yang sengaja berusaha membuatku tersenyum.

Senin, 08 Juni 2009

Sebuah Sejarah

Sebuah sejarah dalam hidupmu mungkin, tapi mengejutkanku. Kemairn kau minta maaf padaku. Aku tak bisa berkata apa-apa.

- Aku saat ini sangat menyesal atas semua kesalahanku. Aku sudah tak mau lagi dibenci. Aku hanya ingin mengejar mimpiku saat ini. Aku ingin hidup tanpa rasa saling membenci, walau itu mungkin sulit untukmu. Aku ingin mencoba ingin hidup tanpa ada rasa dendam dan saling membenci di hidupku yang baru. Maaf atas semua salahku.

Aku terhenyak. Sejarah dalam hidupmu meminta maaf padaku. Tapi kau pikir hanya kau saja yang punya mimpi? Aku diam.

+ Terimakasih sudah mau meminta maaf. Tapi mungkin sejak awal, aku yang salah. Aku tahu kau membenciku, entah kenapa. Sejak awal aku tak membencimu. Hanya saja setelah tahu diammu untukku, aku marah. Marah padamu.

Tak ada balasan. Kuteruskan saja kata-kataku.

+ Sekali lagi, sejak awal aku yang salah. Aku tak akan memaksamu untuk tak membencimu, karena itu adalah keputusanmu dan aku menghormatinya. Aku berhutang padamu satu hal. Terimakasih atas keberanian yang dulu pernah kau beri. Tak apa kalau kau lupa.

Tak ada balasan. Sepertinya kau menganggap kalimatku belum selesai.

+ Aku akan mengembalikannya setelah benar-benar menata diri. Kau tahu, kau hampir mendiamkanku selama 6 bulan. Dulu juga pernah, tapi kau kembali jadi dirimu. Tapi, sekali lagi kau seperti dulu hingga kemarin. Sekali lagi, mungkin sejak awal aku yang salah. Kalau begitu, bolehkah aku bertanya satu hal?

+ Mengapa kau dulu mendiamkanku? Aku ingin tahu alasanmu.

Tak ada balasan. Rupanya kau memilih diam. Baiklah, tak apa. Setidaknya kau sudah tahu perasaanku karena kau sudah mendiamkanku sekain lama. Aku memilih tidur. Terserah padamu mau menjawab pertanyaanku atau memilih diam.

- Sebenarnya aku hanya ingin lari dari semuanya. Aku benar-benar sadar telah terlalu egois saat itu. Aku menyesal atas semua yang telah aku lakukan. Aku sekarang ingin meminta maaf kepada semua orang yang pernah ku sakiti. Terimakasih sudah mau memaafkanku. Semua ini membuatku lega.

Kamis, 04 Juni 2009

Tak sepantasnya

"Aku ingin menjadi setitik awan di langit." kata matahari.

Aku heran mengapa ia ingin sekali menjadi awan di langit. Katanya, ia ingin melindungi bunga pohon mahoni dari derai panas dan sinar yang telah lama ia pancarkan.

Bodoh, ku bilang. Aku benci awan. Dan kau menginginkan menjadi awan. Mungkin bagus juga, dengan begitu, hanya ada langit saja. Tak ada matahari juga awan.

Sudahah, tak sepantasnya aku menginginkan senyummu jadi milikku.

Di sebuah kedai

Aku tak percaya ini. Sepertinya aku sedang bermimpi.

Bulan sabit mengambang di langit barat ketika aku singgah sejenak di sebuah kedai kopi yang bernuansa eropa jaman dulu. Aku ingin sekedar mengistirahkan kuda putihku. Di sana aku bertemu dengan matahari. Dan dia tersenyum padaku dan berbasa-basi, menanyakan aku hendak pergi kemana. Katanya, ia akan pergi ke kota seberang, dan dia sedang mampir sambil mengistirahkan kuda-kuda yang menarik keretanya. Suatu kebetulan bertemu. Kupikir bulan telah tinggi dan matahari telah terbenam.

Malam itu, matahari bilang perbekalannya menipis. Dan dengan senang hati aku membagi sedikit bekalku untuknya. Aku rela, asal ia menukar bekalku dengan senyumnya.