Sabtu, 25 Juli 2009

Si Kembang Api

Aku baru ingat, ini Juli. Musim panas masih panjang. Tapi aku lalai karena matahari tak pernah bercerita tentang pucuk bunga pohon mahoni.
Aku baru ingat, ini akhir Juli. Tapi musim panas masih panjang. Festival-festival bertebaran seperti halnya kembang api. KU lihat matahari senang sekali becerita pada kembang api. Aku tak mengerti tapi aku tak suka matahari bercerita pada kembang api. Aku ingin matahari bercerita padaku saja.

Aku jadi ingin tahu, ada apa diantara kembang api dan matahari.

Awan Malang

Bulan masih di akhir Juli tapi awan bergantung rendah di sudut langit barat daya. Hujan turun bergerimis, sangat rapi hingga aku tak sadar kalau embun-embun telah menempel di rambutku.

Sepertinya awan mempermainkanku. Awan mencoba menjauhkanku dari langit dengan menghapus tangga terakhir menuju langit. Kali ini awan lagi-lagi mencoba menjauhkanku dari maahari. Tapi sayangnya, usaha awan sia-sia. Sepanjang hari ini, aku berada di sekitar matahari.

Minggu, 19 Juli 2009

Si Pendaki dari Ngarai Kematian

Aku bertemu dengannya di rumah laut milik Mermaid. Namanya Pendaki. Katanya, dia telah menjelajahi semua gunung di ngarai kematian.

Sudah lama aku tak melihatnya. Aku senang sekali bisa bertemu dengannya di sana. aku suka dengan senyumnya. Senyumnya memang tak seperti milik matahari atau cowok seputih kapas, tapi aku merasa sebuah misteri di balik senyum itu. Si pendaki bukanlah orang yang banyak bicara. Tapi dia sangat akrab dengan temannya, dan dia hanya berbicara padaku ala kadarnya. Aku jadi ingin tahu mengapa dia berbuat demikian.

Saat aku pamit pada Mermaid, dia mendekatiku dan menghadang kudaku. Katanya, dia meminta alamat kotak suratku. Katanya, dia telah menghilangkan alamatnya yang dulu. Aku senang dan memberikannya tanpa bertanya. Lalu aku meninggalkannya tanpa sempat membuatnya berkat-kata lagi.

Di Perpustakaan Lama Bangsa Maya

Kemarin aku bertemu dengan cowok seputih kapas di Perpustakaan lama bangsa Maya. Katanya, dia ingin meminjam codex-codex lama. Ingin mengartikannya, katanya. Aku senang bertemu dengannya, karena sudah laa aku tak bertemu dengannya. Dia tak ikut perjalanan di Pulau Dio.

Aku segera pulang setelah mengembalikan codex yang aku pinjam. Tapi dia berseru meminta ditraktir di restoran. Aku tersenyum dan berkata kalau aku tak punya cukup uang. Seharusnya dia yang mentraktirku. Dia malah tersenyum dan berkata kalau aku pelit.