Sabtu, 22 Agustus 2009

Euporia

Masih di festival yang sama saat aku bertemu dengan cowok seputih kapas.

Aku berkhayal, kali ini benar-benar sebuah euporia yang tak akan pernah terkabul karena ternyata festival telah lama lewat. Aku mungkin berhalusinasi sepertihalnya seorang pengembara yang haus melihat sebuah fatamorgana sebuah lembah yang sangat subur di tengah gurun seluaa samudra.

Kali ini, aku membiarkan diriku tenggelam dalam euporia masa lalu. Kali ini aku berkhayal Sora datang melihat festival kota. Ia kini tinggal di sini, bersama kerentaan keluarganya yang tersisa. Aku bisa melihatnya di seberang sana, begitu nyata, walau aku yakin betul ini hanya sebuah euporia. Aku bisa melihat Sora berjalan mendekat menuju tempatku dan kudaku menunggu barisan prajurit dari bangsal ke empat. Aku bisa merasa, aorma tubuhya yang telah berdiri di samping tubuhku. Aku benar-benar berkhayal. Ia bertanya padaku mengenai barisan yang lewat di hadapan. Aku menoleh dan ia tersenyum padaku seolah pertemuan kali ini adalah sebuah ketak sengajaan yang ia sengaja buat.

Saat seorang prajurit Nazisme lewat dengan mengumandangkan lagu, aku tersadar kalau aku hanya berkhayal. Dan bayangan Sora lenyap begtu saja seperti kepergiannya yang tiba-tiba.

Sora, kapan kamu pulang?

Lady Penunggang Kuda


Kemarin aku melihat festival kota di lembah. Lagi-lagi aku harus menuruni bukit untuk melihat pawai akbar itu.Aku kaget ketika bertemu dengan cowok seputih kapas. Tak ku sangka ia mau berpanas-panas untuk melihat festival, padahal ia selalu saja berada di antara salju.
Aku melihat matahari tepat berada di belakang mendung yang tersenyum pada semua orang. Sebuah kekontrasan, mendung yang berlari di depan matahari.
Cowok sepuih kapas mengjakku bicara mengenai kemahiranku berkuda yang tak dimiliki lady-lady lain. Ia pikir aku seperti seorang lady yang menentang kodrat sebagai seorang bangsawan wanita.

Ah, tau apa ia soal aku. Tapi aku senang atas perhatiannya padaku.

After Ceremony


Kemarin aku sengaja turun dari perbukitan menuju kota yang letaknya ada di lembah untuk merayakan Hari Pembebasan. Di kota itu aku mengikuti seremony yang berjalan sangat kolot seperti biasanya.
Saat pulang, aku melihat Tuan Muda Shadow di dalam keretanya, berjalan lambat di depanku. Aku melambatkan kudaku dan mengikutinya di belakang. Tuan Muda Shadow tak menoleh ke belakang. Tapi aku tahu bahwa kusirnya telah memberitahunya kalau ada aku di belakangnya.
Aku melaju kudaku menuju arah yang tegak lurus dengan Tuan Muda Shadow. Sekilas sebelum aku merubah arah, aku melihat seberkas senyum di bibirnya.

Aku beruntung mampir ke tempat minum teh bersama temanku setelah seremoni berakhir. Karena dengan begitu aku dapat melihat senyum Tuan Muda Shadow. Kurasa, nyawaku bertambah separuh.

1000 surat


Aku ingin menginkari apa yang telah diperdengarkan oleh matahari padaku saat aku sedang magang jadi ilmuwan di laboratorium kebangkitan frenkenstein.
Cuaca bagus, tapi mendung bergelayut di pojok ruangan ketika matahari bercerita mengenai surat-surat yang ia kirimkan. Matahari berkata bahwa ia telah mengirim surat sebanyak 1000 bulan ini. Aku sangat penasaran sekali, kepada siapa surat itu telah dikirim. Karena tak satu pun surat itu teralamatkan padaku.