Senin, 28 September 2009

Sudah Tidak

Kawan, masih kah kau inagt pernyataanku tentang cahaya dan aku?
Jikalau kau masih mengingatnya, sebaiknya lupakan saja. Karena aku menyesal telah mengatakannya padamu.

Aku tahu kalau cahaya itu sangat cepat kawan, bahkan angin pun kalah. Ini bukan salahku, ini salahnya. Bukan aku yang memaksa diriku untuk mengucapkannya. Bukan aku yang memaksa diriku untuk mengingkarinya. Ini salahnya. Dia sendiri yang memulainya. Dia yang memaksaku untuk bersumpah atas langit dan bumi. Ini bukan salahku, jadi jangan salah kan aku.

Sudahlah, aku sedang tak ingin membicarakannya. Jika kita membicarakannya, sama saja aku telah melanggar sumpahku sendiri.

Bagian dari Sejarah

Jika tinta pena dan arang pensil kita telah habis, maka jangan biarkan dirimu terhenti walau aku tak tahu dapat terus atau tetap di sini. Gantilah tinta dan arang itu agar kau dapat menuntaskan ceritamu. Jikalau aku tak dapatkan gantinya, maka tengoklah padaku lalu lanjutlah. Biarkan aku berkisah dengan caraku sendiri, tanpa kau harus terbebani jarak siantara kisah kita.

Tapi tolong tuliskan pada akhir kisahmu selanjutnya, bahwa kita dulu pernah bersama, walau akhirnya aku akan jadi bagian dari sejarah yang akan kau lupakan.

Jamuan

Sepertihalnya matahari dan awan, kita telah lama bertukar hari. mengisi cangkir dengan kopi kata dan ampas rindu. Lalu sama-sama meneguk hingga tandas tanpa ada sisa. Bersulang demi hari dimana kau menjadi matahari dan aku yangtetap berpijak bumi. Tapi tenang saja kawan, aku tetap akan bersedang hati bila kau mau ku jamu minum kopi lagi, asal kau masih ingat bagaimana rasa kata dan rindu itu.

Sabtu, 12 September 2009

Saat Kita

Kawan, aku ingin kau tahu bahwa sekarang kita telah berbeda jalan, walau sama-sama beriringan berjalan ke depan.
Kapan ya, kita terakhir kali bersama menyusuri sungai yang menbentang pada rentang waktu yang telah berlalu bersama kira?
Kapan ya, kita terakhir kali menggelar tikar di bawah terik dan saling bertukar kata bersama?
Kapan ya, kita terakhir kali mengejar layang-layang lalu menjadikannya layar agar kita dapat mengarungi biru laut bersama?

Ah, kawan, ternyata aku mungkin telah lupa. Tapi yang kuingat hanya, saat kita sama-sama saling mengusap peluh ketika kita selesai mengecat dinding hati masing-masing.

Maka, maukah kau ingatkan aku tentang kisah yang kita gores pada dinding dan jendela tempat kita pertama bertemu hinggat saat dimana kita menghabiskan keremajaan kita? Atau, kau telah lupa cerita yang telah kita tulis, kawan?

Selasa, 08 September 2009

Hanya Jika

Sora, jika besok ku temukan seseorang yang bisa membuatku mengalihkan pandanganku darimu, maka aku pastikan separu hatiku kosong, kalau-kalau kau ingin mengisinya lagi.
Jika ia bertanya tentangmu padaku, maka aku akan menjawab kalau kau hanya masa laluku.
Jika ia bertanya seberapa besar cintaku untuknya, maka akan ku jawab, ia menempati urutan ke3 setelah Tuhan dan keluargaku.
Jika ia bertanya dimana posisimu, maka aku akan menjawab kalau kau tetap ada di tempatmu saat ini, di hatiku.

Senin, 07 September 2009

Jika Tiba Saat

Ternyata saat tak dapat diperhitungkan. Bahkan gerak jarum jam tak kan bisa berhitung bilangan.

Teman, jadi katakan saja padaku, telah berapa lama kita bersama, telah berapa lama kita sering berjumpa, telah berapa lama kita saling bercanda, telah berapa lama kita saling bertukar canda, telah berapa lama kita menulis cerita bersama, dan telah berapa lama kita saling mengusap tangis kita.

Aku duduk di bawah rasi bintang scorpio malam kemarin lusa. Dan kita bisa bersama, aku di tengah-tengahnya, menyanyi dan berteriak tergelak bersama. Terpikirkan olehku bahwa telah banyak waktu yang terlewatkan lalu sebagaimana kita tumbuh dalam kebersamaan dan cinta di antaranya.

Jika tiba saat di mana kita masing-masing harus menentukan sebuah bintang tujuan, akankah kita bisa sering berjumpa seperti kemarin dan hari ini, akankah kita bisa saling bercanda seperti kemarin dan hari ini, akankah kita bisa saling bertukar canda seperti kemarin dan hari ini, akankah kita bisa menulis cerita bersama seperti kemarin dan hari ini, dan akankah kita bisa saling mengusap tangis kita seperti kemarin dan hari ini?

Seberapa lama kita masih bisa bersama? Akankah kita akan terus mengingat saat ini?

Aku Beruntung (I)

Aku beruntung karena duduk berlama-lama di depan teras di bawah rasi bintang bulan September. Untung saja tak ada awan, jadi aku bisa melihat langit malam dan bulan yang bersinar kekuningan.

Aku beruntung karena kali ini aku bisa bertemu matahari walau sindrakala telah tergantikan hitam angkasa. Senyum matahari mengalahkan bulan.

Aku beruntung karena masih bisa menatap senyum matahari di saat hampir akhir.

Aku Beruntung (II)

Aku beruntung karena cahaya sudah mau berbicara padaku. Tapi entah mengapa ia jadi aneh. Mungkin karena ia harus menempuh jarak bermil-mil untuk bertemu denganku?!

Aku beruntung karena mendapatkannya di saat terakhir. Namun aku was-was, karena cahaya sangatlah kasar.

Kemarinnya Kemarin Lusa

Tanggal 4 itu kemarinnya kemarin lusa. Aku teringat sedikit kisah pada tanggal itu yang terjadi hampir setahun lalu. Masihkah kau ingat tentang awan yang kuceritakan padamu tempo hari? Aku ingin sedikit berbagi kisah padamu.

Kemarinnya kemarin lusa, genap 1 tahun saat dimana musim beralih ke penghujan. Awan dimana-mana, menutupi langit. Tapi hari tak kunjung hujan karena awan bukan mendung. Aku menyesalkan melewatkan 1 minggu lebih tak menatap langit. Aku khilaf.

Untungnya, kakakku datang menyadarkanku dan aku dapat kembali menatap langit.