Sabtu, 17 Oktober 2009

Ksatria Hitam

Satu lagi orang bodoh yang kutemui.
Namanya Ksatria Hitam. Aku bertemu dengannya di sebuah desa Pemburu Gajah, saat dia sedang mencasri kereta fusan.

Kemarin dulu aku bertemu dengannya lagi di sebuah padang rumput tempatku menunggu langit. Dia mengira aku telah mati karena aku terbaring sambil memegang bunga Aster di dada, tenggelam dalam mimpi.
Ketika aku menyadari keberadaannya yang duduk tak jauh dariku sambil menunggu kudanya merumput, aku bertanya padanya, tentang keman ia akan pergi, karena ia berbaju zirah dan membawa kuda bersurai hitam. Katanya, ia hendak pergi ke menara Gou yang kata angin, menara itu setinggi awan. Di menara itu, ada seorang bidadari yang tertawan karena menyerahkan hatinya pada seorang gembala. Si Ksatria Hitam hendak menggantikan hati bidadari yang telah hilang itu dengan hatinya, walau ia tahu ia akan mati karenanya.

Ksatria Hitam bergegas berangkat karena membaca udara yang mulai lembab. Ia ingin segera tiba di menara itu sebelum penghujan. Aku mengikutinya di belakang tanpa banyak bicara. Sesampainya di sana, sang Ksatria Hitam tertegun menatap wajah bidadari yang seindah serbuk peri, rambut hitam keperakannya terjulur masai seperti rambut rapunzel, tak terawat. Mungkin karena terlalu tenggelam dalam penantiannya.

Ksatria Hitam memanggil Bidadari dan dengan muka pasi, Bidadari menatapnya. Ksatria menjulurkan hatinya yang berkilau sewarna senja. Tapi Bidadari tak bergeming dari tempatnya menanti karena hati yang ia inginkan harus berwarna asap tembakau. Ksatria Hitam lalu pergi, meninggalkanku di bawah menara Gou, sendiri. Membiarkan Bidadari menatap berkaca padaku. Aku mengerti tatapan itu. Dia sama sepertiku.


Sekarang sudah kelewat penghujan, tapi hujan tak kunjung datang. Kali ini aku kembali melihat Ksatria Hitam yang hendak memberikan hatinya lagi, yang kini berwarna abu.

Janji

Lagi-lagi aku teringat pada malam mereka membakar arang-arang di halaman. Bintang tak banyak karena bayangan rapat pepohonan. Tapi bulan bersinar hampir penuh.

Dia. Tak usah kau tanyakan mengapa. Tapi aku ingin melupakan sebuah kenangan di sana. Aku tetap ingat, tapi kenangan itu akan terpotong di beberapa bagian.
Maaf, aku hanya berusaha menepati janjiku, sebagaimana dia berusaha untuk menepati janjinya.

Sabtu, 10 Oktober 2009

Hujan Pembukaan

Musim penghujan telah lama datang, tapi sekarang ia sedang bersama pancaroba dan bergelayut manja di sudut-sudut kota dan bangunan. Hujan tak mau menyapa tanah yang telah lama ia rindukan.

Tapi kali ini bukan ilusi, hari ini hujan turun di padang rumput tempatku berdiri menatap langit. Dan hujan memaksaku untuk mencari tempat berteduh tapi tak juga kutemukan karena aku enggan beranjak dari tempatku berdiri.
Aku heran dan bertanya-tanya mengapa kali ini yang kulihat adalah awan, bukan mendung yang biasanya mencoba memisahkanku dari langit dan matahari. Kali ini awan, kawan lama yang kukenal saat aku berkembara mencari langit.
Apakah terjadi sesuatu pada awan?

Aku jadi ingat waktu dulu aku menunggu langit sambil ditemani semilir angin. Aku melihat seorang pemburu yang selalu bercerita dengan awan, seolah si pemburu telah menemukan bagian darinya yang hilang. Aku tak tak begitu tahu tapi awan selalu bercerita padaku. Membuat hari-hari ku yang membosankan dalam penantian menjadi sedikit lebih bermakna. Dan kali kemarin aku sama sekali tak pernah lagi melihat si pemburu berada di bawah awan.

Apakah aku bisa menympulkan kalau awan bersedih karena si pemburu? Apakah aku bisa menyimpulkan bahwa hujan kali ini ditujukan pada si pemburu? Apakah aku bisa menyimpulkan bahwa awan tak lagi merindukan pungguk lagi? Apakah aku bisa menyimpulkan kalau awan telah menemukan pengganti si pungguk?

Sabtu, 03 Oktober 2009

Andai Saja

Aku selalu ingin bercerita padanya, Hime. Pada si pungguk yang merindukan bulannya, bahwa kau dan dia adalah manusia yang paling bodoh yang pernah ku temui di dunia ini. Aku selalu saja ingin berkata padanya tentang bepata kau merindukannya, seperti halnya dia merindukan bulannya. Aku tak mengerti mengapa dia begitu mencintai bulannya, padahal rupa bulan tak seindah seperti yang dapat ku lihat dari bumi. Aku ingin bercerita bahwa perasaan bulan itu sehalus permukannya, tapi tak akan pernah bisa sama seperti perasaanmu yang sehalus awan.

Andai saja, aku bisa, maka aku akan mengatakan padanya,kalau tak selamanya sejarah peribahasa akan selalu berkata pungguk merindukan bulan. Andai saja aku bisa, aku akan berdoa agar malam datang tak berbulan. Biarkan bulan hilang termakan bayangan bumi. Ya, biarkan bulan hilang agar awan tak berhujan.

Biarkan sejarah berubah jadi si pungguk yang merindukan awan. Ya, biarkan! Andai saja aku bisa, aku akan berdoa agar sejarah bisa berubah. Agar awan bisa menggantikan bulan. Agar pungguk akan jadi merindukan awan, sebagaimana kau merindukan pungguk.