Sabtu, 10 Oktober 2009

Hujan Pembukaan

Musim penghujan telah lama datang, tapi sekarang ia sedang bersama pancaroba dan bergelayut manja di sudut-sudut kota dan bangunan. Hujan tak mau menyapa tanah yang telah lama ia rindukan.

Tapi kali ini bukan ilusi, hari ini hujan turun di padang rumput tempatku berdiri menatap langit. Dan hujan memaksaku untuk mencari tempat berteduh tapi tak juga kutemukan karena aku enggan beranjak dari tempatku berdiri.
Aku heran dan bertanya-tanya mengapa kali ini yang kulihat adalah awan, bukan mendung yang biasanya mencoba memisahkanku dari langit dan matahari. Kali ini awan, kawan lama yang kukenal saat aku berkembara mencari langit.
Apakah terjadi sesuatu pada awan?

Aku jadi ingat waktu dulu aku menunggu langit sambil ditemani semilir angin. Aku melihat seorang pemburu yang selalu bercerita dengan awan, seolah si pemburu telah menemukan bagian darinya yang hilang. Aku tak tak begitu tahu tapi awan selalu bercerita padaku. Membuat hari-hari ku yang membosankan dalam penantian menjadi sedikit lebih bermakna. Dan kali kemarin aku sama sekali tak pernah lagi melihat si pemburu berada di bawah awan.

Apakah aku bisa menympulkan kalau awan bersedih karena si pemburu? Apakah aku bisa menyimpulkan bahwa hujan kali ini ditujukan pada si pemburu? Apakah aku bisa menyimpulkan bahwa awan tak lagi merindukan pungguk lagi? Apakah aku bisa menyimpulkan kalau awan telah menemukan pengganti si pungguk?

1 komentar: