Minggu, 22 November 2009

Kisah Tentang Hujan

Ini November akhir, hujan telah benar-benar bertemu mencium tanah. Suatu hari dimana hujan sedang turun dengan rintik-rintik, aku sedang membantu membereskan buku-buku dan dokumen tua di perpustakaan pinggir kota. Lalu tanpa sengaja aku menemukan sebuah surat lama yang tak tersegel ujungnya. Tak ada alamat di sana, hanya saja di sana tertulis sebuah klausa, 'untuk orang pertama yang menemukan kisah ini'. Dengan tak sabar aku segera membukanya dan membacanya di sudut perpustakaan.

Di suatu negeri yang jauh, negeri yang bernama Raqia, terdapat sebuah kerajaan dengan seorang raja yang bijaksana. Raja Raq mempunyai seorang putri yang cantik jelita, sayangnya, sang ratu telah lama meninggal dunia, hingga Putri Raq tak diperbolehkan untuk melihat dunia luar. Setiap hari, Putri Raq bermain bersama dayang-dayang istana di halaman kerajaan dan setiap malam, ia selalu pergi ke menara sebelah barat, untuk melihat kota yang bercahaya lampu malam, terlihat sangat indah. Ia ingin sekali pergi ke luar kerajaan, menyapa penduduk, pergi ke festival kota, pergi ke pasar, atau berperahu di bantaran sungai yang melintas ibukota.

Suatu ketika saat bulan bersinar penuh, Putri Raq pergi menyelinap ke luar istana melalui gerbang belakang yang tak pernah dijaga oleh penjaga istana. Namun sayangnya, seseorang memergokinya sebelum ia sempat berhasil membuka grendel gerbang. Seseorang itu ternyata tak melaporkannya kepada penjaga, malah membantunya untuk keluar istana. Dia bersedia mengantarkan Putri Raq berkeliling kota yang telah sepi di malam berbulan penuh kali itu.

Seseorang itu memperkenalkan dirinya sebagai seorang pemuda pengurus kuda di istana. Katanya, keluarganya berhutang banyak kepada raja, sehingga dia bersedia mengabdi kepada raja sejak ia masih kanak. Keduanya pun sering bertemu di malam hari sejak saat itu. Pemuda itu mengantarkan Putri Raq kemana pun putri itu hendak pergi. Tanpa sadar, diantara keduanya, tumbuh perasaan naluriah manusia, cinta.

Namun suatu ketika, seorang penjaga istana memergoki keduanya dan melaporkannya kepada Raja. Raja kemudian membawa penjaga istana untuk menangkap pemuda pengurus kuda itu. Tanpa sengaja, pengawal istana menembakkan panah dan mengenai pemuda itu. Pemuda pengurus kuda itu terjerembab dan Putri Raq lantas memeluk kepalanya. Pemuda penggembala itu pun mengaku kepada sang Putri bahwa ia telah lama mencintai sang Putri. Setelah pengakuannya itu, sang pemuda pengurus kuda itu pun mati. Putri Raq menangisi kematian orang yang juga ia cintai itu, dan ia mati sebelum sempat mendengar bahwa sang putri juga mencintainya.

Sejak saat itu, Putri Raq dihukum di menara utara kerajaan. Ia tak pernah diperbolehkan lagi untuk keluar dari istana. Suatu hari datang lah seorang ratu peri dari langit, menghiburnya karena sang Putri tak pernah mau tersenyum lagi. Ratu peri itu datang kepadanya untuk mengajaknya pergi ke dunia peri, dengan satu syarat, sang putri harus mau menjadi peri hujan. Sang Putri setuju dan berubah menjadi peri. Sejak saat itu, raja Raq sakit-sakitan hingga akhir hayatnya. Sementara sang putri menjadi peri hujan yang mengirimkan rintik ke bumi. Saat ia bertugas, ia sering menangis mengingat pemuda pengurus kuda. Dan tetes air matanya itu pun ikut jatuh ke bumi, menjadi tetes hujan pembukaan.

Menurut cerita yang disebarkan oleh angin,jika tetes air mata sang putri itu menetes di ujung hidung seseorang, maka sang putri akan mempertemukan seseorang itu kepada orang yang ditaksirkan untuknya.

Cerita itu berakhir demikian.
Ah, aku jadi teringat kepada sebuah parodi yang penah kulihat di sebuah kotak ajaib yang ku jumpai di sebuah toko kelontong tua.

Kamis, 19 November 2009

Meminta Penjelasan

Lagi-lagi datang orang yag belum aku kenal sebelumnya. Aku sebenarnya tau siapa dia, hanya saja aku yakin bahwa orang itu tidak pernah mengenalku sebelumnya, karena selama ini aku adalah seorang pengamat yang mengamatinya dari jauh. Aku adalah seorang penulis, dan tak pernah sekalipun aku pernah berkomunikasi dengan tokoh-tokoh dalam ceritaku itu. Tak mungkin pula aku masuk ke dalam alur cerita. Kalaupun aku masuk, lantas, siapa yang memegang kendali cerita?

Lagi-lagi datang seseorang yang meminta cerita utuh dariku. Memangnya aku ini siapa sehingga mereka semua datang kepadaku untuk menanyakan cerita kepadaku? Aku bukan seorang peramal atau pembaca kartu tarot, aku hanyalah seorang penulis yang kebetulan tahu saja. Dan etika bagi seorang penulis adalah untuk tidak memberitahukan semua yang mereka ketahui kepada penanya.

Jadi maafkan aku kawan, kali ini aku sedang tak bisa membantumu. Mungkin lain waktu saja ketika aku sudah pensiun jadi penulis.

Selasa, 17 November 2009

Mendengarnya berbicara

Mungkin aku berkhayal, mungkin aku sedang berharap,mungkin harapan ini tak pernah akan terkabul, tapi mendengarnya berkata bahwa ia akan kembali, membuat sel-sel dalam otakku hampir berhenti, memohon agar kali ini waktu benar-benar berhenti, berdoa agar hal itu benar-benar akan terjadi.

Sora, benarkah kau akan kembali?

Membuat Matahari Meredup

Ini salahku, atau salahnya? Sungguh, benar aku tak tahu apa yang membuat matahari meredup kali itu.

- Ah, cuma perasaanmu saja kalau kau berpikir begitu?!

Bukan, aku benar-benar tak tahu, tak mengerti kalau matahari tak mengatakannya padaku.
Kalau memang apa yang ku pikirkan mengenai penyebab matahari meredup, bolehkan aku mengambil kesimpulan bahwa aku masih mempunyai kesempatan untuk memiliki senyumannya itu?

Mencoba Menggodaku

Adakah hari-hari terakhir ini kau mencoba untuk menggodaku?

Aku baru saja sampai ke menara Gou dan tak menemukan bidadari di sana. Hanya saja mungkin kau sedang mencoba untuk menggodaku saat ini. Ku lihat di sana, di udara utara menara, tangga menuju langit terjuntai dengan indahnya begitu menggodaku untuk menaikinya, barang untuk satu atau dua anak tangga saja.
Mungkin kah kau sedang menggodaku?

Kemarin lusa, saat aku bangkit dari tidur dan berniat menjengut bidadari, lagi-lagi kau mencoba untuk menggodaku. Dengan begitu perlahan dan lembut, lagi-lagi tangga menuju langit terjulur membuatku merasa ingin berlari menaikinya untuk menemuimu di ujung sana.

Ah, kau tahu Sora, aku sedang tak ingin bercanda. Apakah kau tak membaca pesanku yang kutulis tempo hari? Aku sedang tak ingin menunggu dan mencarimu sekarang.
Lagipula, aku tak ingin menjadi Cinderela yang kehilangan sepatu di antara anak tangga itu.

Kisahku dan hatiku

Aku tinggal di sebuah kota bernama Kaleo, sebuah tempat yang terkenal kaena banyak melahirkan seniman kerajaan. Orang-orang biasa datang ke rumahku untuk sekedar melihat gambar yang ku buat, atau untuk memintaku membuatkan gambar mereka. Tentu saja dengan imbalan keping emas. Tapi, entah sejak kapan, aku merasa bahwa aku telah kehilangan inspirasi, seseuatu yang indah yang belum pernah ku lihat.

Lalu suatu ketika di awal Juli, datanglah angin di depan rumahku. Kami sempat minum teh bersama kali itu. Dia datang untuk berkabar padaku. Katanya, di suatu negeri barat jauh sana ada sesuatu yang akan membuatku terinspirasi, sesuatu yang indah, keindahan yang melebihi apa yang pernah ku lihat. Aku terlalu penasaran dan memintanya bercerita lebih banyak padaku. Dia bersedia bercerita asalkan besok saat Fajar telah sampai ke gerbang kota, aku datang untuk bersedia berkelana bersamanya.

Malamnya aku berkemas, lalu paginya angin telah menungguku di gerbang kota. Di perjalanan ia mulai bercerita padaku mengenai sesuatu yang indah itu. Dalam benakku selama ia bercerita padaku, sesuatu yang indah itu bagaikan sapuan warna-warna di udara. Mula-mula muncul sapuan biru membentuk langit dan awan stratus. Lalu muncul warna lain, warna yang sehangat matahari dan seindah bintang, bersinar dalam benakku, lama-lama jatuh ke dasar hatiku seperti tetas hujan yang memang seharusnya menyentuh tanah. Begitu halus dan sangat perlahan, hingga aku tak menyadarinya.

Angin lalu membawaku ke sebuah negeri bernama Nii dan memintaku untuk memesan sebuah kamar untukku. Lalu aku menepati janjiku dengan membawa kuas dan kanvas, mengikutinya terus melewati padang rumput setinggi mata kaki dan menembus rapat hutan hingga ia terhenti di ujungnya. Bisa kulihat di sana, ya, warna-warna sehangat matahari dan bersinar seperti bintang. Ku tanyakan kepadanya siapa wanita yang termangu di ujung jendela itu. Dan ia hanya memjawab dengan senyuman dan mulai menceritakan semuanya. Mulai dari bagaimana pengawal awan membawa wanita itu dan mengurungnya di sana.

Aku terpesona untuk yang ke dua kalinya. Aku ingin melukisnya, bukan, api melukis apa yang ada dalam bola mata yang lebih indah dari pada sapir itu. Ku benarikan diri untuk beranjak dari balik hutan dan menuju kaki menara. Dia tak menoleh sedikitpun walau aku menyapanya dengan sangat sopan. Aku mulai menggambarnya, warna yang terlukis dari kedua matanya itu, warna yang kelam, seperti kisahnya. Ku beranikan diri untuk menawarkan gamabr itu keadanya, tapi di tolaknya dengan sangat halus. Aku pun pergi, pulang ke penginapan.

Sesampainya di penginapan, benakku masih terisi oleh wanita itu. Tanpa sadar, tanganku sudah bergerak dengan sendirinya dan melukisnya yang sedang termangu di jendela menara. Saat tidurpun, lukisan itu tetap terpancang di benaku, seolah aku sedang mengamati wanita itu.

Hari berikutnya, aku datang membawa dua lukisan yang sama ke menara itu. Tapi ia menolaknya dengan senyuman yang sama. Tak mengapa, aku masih bisa kembali esok hari. Aku kembali lagi ke tempat itu, dan ia menolakku. Entah ke berapa kunjunganku ke sana, ia bersedia mengambil lukisan hati sewarna tembakau itu.

Suatu hari, angin datang padaku dan menyadarkanku bahwa aku telah jatuh cinta kepada wanita itu. Angin lalu menceritakan mengenai alasan wanita itu berada di sana. Ternyata wanita itu adalah penghuni balik awan dan hanya bisa kembali jika ia mau menerima hati dari manusia. Sayangnya, manusia yag kehilangan hatinya, akan mati. Ya, aku tahu konsekuensinya itu. Tapi aku tetap ingin datang kepadanya, membebaskannya, meski aku tahu aku akan mati karenanya.

Aku datang ke menara dengan pakaian terbaikku, bercerita bersamanya seperti biasanya. Tiba-tiba seorang laki-laki muncul dari balik hutan dengan napas terengah, menanyakan kabarnya. Dan wanita itu terlihat sangat bahagia, terlihat dari pancaran matanya. Laki-laki itu lalu menawarkan hatinya yang sewarna tembakau kepadanya. Aku lalu pergi, aku telah tahu ceritanya dari angin, aku telah tahu. Dan aku cukup tahu diri untuk menarik diriku dari persaingan ini.

Aku berkemas, lalu pulang ke negeriku, Kaleo. Galeri kota telah menungguku 2 bulan lagi.

Festival dimulai dan pagelaran telah terselenggara. Lukisanku didaftarkan orang kota untuk mengikutinya. Lukisan itu adalah lukisan terbaik yang pernah aku buat, ya, lukisan wanita itu, yang ku beri nama Re Incarnies of Venu.

Saat penggunjung sepi dan aku sedang sibuk dengan lukisanku yang baru, datang lah seseorang yang memuji lukisanku itu. Saat aku berbalik, aku sedikit terkejut mengetahuinya. Ternyata orang itu adalah wanita itu, yang datang dengan membawa warna matahari dan senyuman di bibirnya.

Senin, 09 November 2009

Membuatku Berpikir

Kemarin aku kembali lagi ke negeri milik Ramses. Kali ini aku harus menerjemahkan papirus-papirus tua, agar dapat dibaca anak seluruh negeri. Saat aku baru tiba di tempatku menerjamah, datang lah seseorang yang membawakanku sebuah gulungan perkamen. Katanya itu surat untukku. Ku buka surat itu dan ternyata itu adalah surat dari seorang laki-laki yang telah meninggalkan jejak hari. Surat itu tertanggal tadi malam dan isinya hanya dua kata saja.

Aku jadi berpikir hal sepenting apa yang membuatnya mengirimkan surat itu padaku, padahal kepentinganku tidaklah begitu penting. Aku heran, dari mana dia tahu aku ada di negeri milik Ramses. Ah, aku jadi berpikir, jangan-jangan hal itu benar.

Tappi, aku tak mau terlalu berpikir semikian. Aku takut dia akan jadi seperti matahari.

Minggu, 08 November 2009

Kisah Pemuda Penggembala dan Hatinya

Kali ini mungkin aku bisa gila karenanya. Lagi-lagi seseorang menawarkan sebuah alkitab dari negeri yang belum pernah aku datangi. Seseorang yang memberiku kitab itu berjubah sapire, dengan corak rajah kulit yang belum pernah ku lihat sebelumnya. Seseorang itu memintaku pergi ke negerinya, untuk mengisahkan sebuah cerita dalam alkitab itu pada penguasa negerinya, Negeri Mystikos.

Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda yang sangat miskin. Keluarganya adalah keluarga seniman kuno yang telah lama bangkrut dan berpindah-pindah. Pemuda itu lalu bekerja sebagai penggembala di negeri bernama Brea. Suatu ketika, ia bertemu dengan anak perempuan kepala kota dan mulai jatuh cinta kepadanya. Anak perempuan itu bernama Artems. Kata tikur-tikus dan Kucing, Artems akan menikan dengan seorang Ksatria dari seberang jauh.

Mendengarnya, Penggembala bermuram hati dan memillih untuk menyanyikan sebuah lagu patah hati. Entah bagaimana, suatu ketika datanglah seorang bidadari jelita dari balik awan dan menyapanya. Mengatakan bahwa dirinya telah lama jatuh cinta pada nyanyian dan suara Penggembala. Bidadari itu datang menawarkan hatinya kepada penggembala. Dan penggembala itu menerimanya tanpa berkata apa-apa. Tiba-tiba saja datanglah 2 orang pengawal awan dan menangkap bidadari. Penggembala tak bisa berkata apa-apa melihat kepergian bidadari.

Siang dan malam, penggembala terus memikirkan tentang bidadari dan selalu mengamati hati bidadari yang diberikan padanya. Tanpa disadarinya, ia telah jatuh hati pada bidadari. Lalu, ia pun berusaha mencari sang bidadari. Ia bertanya pada matahari, bintang, dan langit. Tapi tak satupun yang tahu dimana bidadari. Penggembala berpikir, pastinya Bidadari sedang tak ada di balik awan. Ia pun bertanya pada rumput dan pepohonan, tak satupun yang tahu. Waktu berlalu, musim berganti, hingga suatu ketika angin bercerita padanya tentang seorang bidadari yang tertawan di menara Gou, di negeri Nii, bermil-mil jauhnya dari Brea.

Dimulailah perjalanan penggembala untuk menukarkan hatinya kepada bidadari, agar bidadari bisa bebas dan hidup bersamanya selamanya. Suatu ketika, di sebuah senja yang indah, akhirnya ia sampailah ke menara Gou. Di sana, bidadari sedang tidak sendiri. Ada seorang pemuda sebayanya yang menemani bidadari. Dengan menguatkan hati dan perasaan, Penggembala menemui Bidadari. Pemuda yang berada di kaki menara itu tertegun dan seolah telah lama mengenalnya. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Penggembala lalu menawarkan hatinya, hati yang sewarna asap tembakau itu kepada bidadari. Pemuda di kaki menara itu pun pergi. Bidadari terdiam menatap hati penggembala.

Penggembala kecewa dan berjanji akan kembali lagi beberapa waktu kemudian untuk menanyakan keputusan bidadari. Dalam perjalanan pulang, ia bertanya pada setiap rumput, dedaunan, dan ranting yang ia temukan, siapakah pemuda itu, pemuda yang selalu menemani bidadari. Tapi tak ada yang mau mengatakannya kepadanya. Lalu ia bertanya pada angin, dan angin menceritakan semua hal yang ia ketahui, karena angin tak pernah mau berbohong. Jelaslah sudah semuanya, penggembala pulang ke ibukota negara Nii dengan hati yang berkarat.

Tak lama setelahnya, Penggembala datang kembali ke menara itu. Tapi ia tak menemukan bidadari di sana. Tapi dia menemukan sebuah pesan yang tertulis di perkamen. Isinya adalah pesan dari bidadari.

Aku menerima hatimu agar aku bisa mengembalikan hati seseorang
Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku pernah mencintaimu.
Dan hatiku yang kau bawa, dan hatimu yang kubawa, akan menjadi pengingat.


Sejak saat itu, ketika hujan turun dan awan mendung bergelayut di langit, pemuda penggembala itu selalu teringat kepada bidadari. Walaupun sekarang seseorang tengah mencintainya.

Aku sungguh tak mengerti mengapa akhir kisah dalam alkitab itu berkata demikian. Aku tak mengerti. Mengapa kisah ini tak berakhir bahagia? Bukankah keduanya saling mencintai? Bukankah keduanya telah bertukar hati? Aku tak mengerti. Kisah yang aneh. Tapi aku bisa apa? Aku hanyalah seorang pencerita yuang kebetulan tahu saja.

Jumat, 06 November 2009

Memang Demikian

Seseorang yang mengaku berasal dari bintang bercerita padaku tentang cahaya sore tadi. Masihkah kau ingat pada cahaya? Dia adalah seseorang yang telah membisikkan lagu yang mengingatkanku pada orang itu.

Seseorang dari bintang itu singgah di depan rumahku dan mengajakku minum teh di sebuah kedai bergaya eropa lama. Seseorang itu berkata bahwa beberapa saat lalu ia bertemu dengan cahaya. Cukup lama, dan cahaya bercerita padanya tentangku, juga kisah-kisah lain yang ia dapatkan sewaktu pergi ke bumi.

Lalu seseorang itu berniat menemuiku setelah mendengarkan cerita cahaya. Ia pun mulai bercerita padaku tentang sebuah kisah yang belum pernah ku dengar sebelumnya. Bebedapa saat lalum di sebuah bintang, cahaya bertemu dengan seseorang yang bernama Couer. Cahaya berhutang budi pada orang itu karena telah memberikan sebuah tumpangan saat cahaya singgah ke bintang itu. Kemudia Couer memberikannya sebuah Sand Glass yang bisa mengukur banyaknya jarak dan waktu yang telah di tempuh cahaya untuk berpindah menuju bintang yang lain.

Aku terhenyak. Aku pernah bertemu dengan Couer, seseorang yang telah diceritakan seseorang yang berasal dari bintang itu. Dulu, dulu sxekali di sebuah festifal Tanabata. Ya, seperti dugaanku, hal itu memang terjadi. Aku mengerti, kenapa dulu ia menatapku seperti itu. Mungkin karena Couer tahu, aku bisa tahu segala sesuatu lewata mataku.

Surat yang Tak Pernah Bisa Tersampaikan Padanya

Sebelum kau membaca tulisanku ini, kau harus memahami dulu arti kata aku, kau, dan kita.


Perkataan orang-orang membuat telingaku panas.
Aku telah mencoba untuk mmbalas pesanmu yang kau kirimkan padaku kemarin dulu. Duapuluh empat jam setelah aku yakin kau adalah orang yeng mengirim pesan itu. Tapi bukannya tak pernah tersampaikan padamu? Kertas-kertas itu telah mengatakan semuanya kepadaku, kau ingin mengakhirinya dengan sebuah tindakan. Ya, katamu, sebuah tindakan kecil lebih baik daripada seribu kata-kata yang telah kurangkai. Orang-orang itu juga telah bercerita padaku. Seseorang yang mengantarkan pesanku padamu, tapi kau tak pernah membalas, tak menerimanya? Atau sengaja tak mau membalasnya? Haruskah orang-orang itu yang menyampaikan pesan-pesan kita? Kenapa tak kau kirim sendiri pesan itu padaku agar kita kembali seperti dulu? Tidak, katamu kau tak butuh, bukan begitu?

Baik, biar aku luruskan agar tak jadi tambah membengkok. Aku ingin semua ini berakhir. Berakhir karena aku dan kau memang hendak ingin mengakhirinya. Bukan karena mereka, atau orang lain. Ini masalah antara aku dan kau, tak ada tokoh mereka dalam masalah ini. Aku hanya ingin kau memberiku sebuah kesempatan untuk bercerita padamu, tentang semuanya, tentang sebuah awal dan akibat. Aku hanya ingin kau mendengarnya, lalu dengan begitu aku akan dengan lantang dapat mengatakan hal itu kepadamu. Maaf.

Tapi bagiku, maaf bukanlah sebuah akhir dari semuanya. Maaf tak akan bisa menyelesaikan hal diantara kita. Bagiku akhir adalah sebuah penentuan, apakah kau akan berjalan terus tanpa melihat masa lalu, atau kau akan membiarkannya saja. Kau tahu, aku ingin sekali kau membuat sebuah akhir dari semua ini. Akhir bukan sebuah maaf, tapi sebuah keputusanmu, karena aku telah mengambil keputusan untuk terus memegang janjiku.

Epilog

Aku kembali teringat pada sebuah lagu yang kudengar lewat bisik cahaya. lagu itu mengingatkanku padamu, pad akita, dan pada pertemuan kita di awal pancaroba. Aku sudah hampir lupa, hanya saja tiba-tiba perasaan itu kembali.

Mungkin nanti, walau aku tak sepenuhnya yakin, kau akan datang ke tempat yang tak pernah kau janjukan. Tapi aku tetap di tempat itu, tempat itu, padang rumput setinggi mata kaki, menunggumu walau mungkin kau tak akan hendak beranjak dari utara katulistiwa. Aku hanya tak ingin mendenkgarmu menyanyikan lagu itu. Biar lagu itu jadi pengingat ku dan mu tentang kita yang masih ku pertahankan.

Tak mungkin bila aku terus menunggumu seperti ini. Walau tangga langit terbentang dan aku masih kuat menapakinya, kau tak ada di sana. Tak pernah ada di sana. Tangga menuju langit perlahan memudar dan aku harus kembali pada bumi. Lebih baik aku menghapus tangga itu satu-satu sambil berjalan walau aku yakin akan tetap terasa berat. Tapi kau datang dan mengingatkaku akan lagu itu.

Aku mengerti, cukup mengerti. Biarkan aku pergi kembali ke haribaan pertiwi, walau dengan tertatih. Tapi sekali pun aku tak pernah berjanji padamu untuk berhenti menantimu di tempat itu, tempat ini, padang rumput setinggi mata kaki.

Melangit

Kali ini mungkin aku sedang bermimpi. Terlalu lama berada di padang ruput setinggi mata kaki ini sepertinya telah membuatku berkhayal.

Tiba-tiba aku bertemu denganmu di tempat itu, padang rumput setinggi mata kaki. Aku tak yakin, pasti aku bermimpi. Tapi kau tetap di tempat itu dan tersenyum padaku. Aku jadi teringat pada aroma tubuhmu yang seperti bau bunga mahoni yang baru saja terkena hujan pembukaan. Aku rindu pada aromamu itu, juga pada rambut sewarna sindrakala. Lalu kau menunjukkan langit padaku, seakan mengundangku ke sana.

Saat tersadar, aku baru saja tertidur di tempat itu, padang rumput setinggi mata kaki. Dan aku masih di sini, menantimu kembali.

Kamis, 05 November 2009

Kisah Ksatria Hitam dan Hatinya

Kemarin aku pergi ke sebuah negeri dimana dulu Ramses pernah berkuasa. Tak seperti dulu, kegemilangan kota itu telah pudar, seperti halnya batu yang terkikis debu. Di sebuah pasar, aku bertemu dengan seseorang yang menawarkan sesobek transkripsi bersampul hitam. Katanya, lembaran itu berisi tentang sebuah dongeng dari negeri yang jauh. Aku menukarkannya dengan dedak peri yang baru saja hendak ku jual. Lembaran itu berisi cerita tentang seseorang bernama Ksatria Hitam. Ah, aku jadi teringat dongeng dari negeri Berawan Rendah yang dulu ku temukan.


Dahulu kala, hiduplah seorang Ksatia Hitam. Ia terkenal sebagai seorang prajurit yang gagah berani dan telah membantu kerajaan memenangkan Perang Hujan. Suatu ketika, angin berbisik padanya, menceritakan tentang sebuah kisah seorang bidadari yang tertawan di sebuah menara. Ksatria Hitam jatuh cinta pada bidadari yang angin ceritakan.

Suatu ketika, Ksatria Hitam pun mendatangi bidadari yang tertawan di menara Gou. Ksatria Hitam pun jatuh cinta untuk yang kedua kalinya ketika ia menatap sang bidadari untuk yang pertama kalinya. Ia menawarkan hatinya pada sang bidadari agar sang bidadari dapat kembali ke balik awan, meski ia tahu, ia kan mati karenanya. Akan tetapi, sang bidadari menolak hati Ksatria Hitam. Bidadari hanya menginginkan hati yang sewarna asap tembakau.

Ksatria Hitam pun pergi dengan hati yang terlukai. Suatu ketika, seorang penduduk kota bercerita padanya tentang sebuah hati yang bisa berubah warna tertawan di Gua Kardia dan dijaga oleh seorang Kerdil. Berangkatlah Ksatria Hitam untuk mendapatkan hati itu. Sesampainya di sana, ia bisa membawa pergi hati itu dengan syarat ia harus menukarnya dengan hatinya. Sang Ksatria pun setuju dan menukarkannya.

Ksatria hitampun pergi menemui bidadari lagi. Tapi dalam perjalanan menuju menara, ia bertemu dengan seorang pelukis yang bermuka masam. Tak lama setelahnya, ia berselisih jalan dengan seorang penggembala bermuka ceria. Ksatria Hitam pun bergegas dan menemukan sebuah hati yang tertinggal di tepi jendela menara. Bidadari terlihat sangat senang akan hati itu, tapi matanya sedih. Dengan memberanikan diri, Ksatria Hitam pun memberikan hatinya yang baru kepada Bidadari. Tapi bidadari kembali menolak, mungkin karena telah mendapatkan hati dari penggembala.

Ksatria Hitam pun tak hendak mengambil hatinya kembali, ia lantas pergi meninggalkan hatinya di samping hati yang telah ada sebelumnya di samping jendela. Bidadari ingin mengembalikan hati Ksatria, tapi ia tak bisa keluar dari menara. Dan sang Ksatria Hitam pun mati di sebuah padang rumput.

Bidadari pun menerima hati dari sang penggembala. Kutukannya pun terlepas begitu saja, dan ia pun pergi mencari sang Ksatria Hitam. Dikembalikannya hati sang Ksatria Hitam kepada jasat tak bernyawa. Ksatria Hitam pun hidup kembali, dan terkejut mendapati sang bidadari telah menyelamatkannya. Bidadari ingin Ksatria Hitam dapat hidup bahagia dengan seseorang yang lain, seseorang yang bisa menerima hati sang Ksatria Hitam. Bidadari pun pergi, meninggalkan Ksatria Hitam bersama angin di tengah padang rumput.

Menurut angin, Bidadari pun kembali ke balik awan. Dan suatu hari ketika pemuda penggembala kembali ke Menara Gou, ia tak menemukan bidadari di sana, hanya sebuah pesan, yang mengatakan kalau dulu bidadari pernah mencintai pemuda penggembala. Dan setiap penghujan, kedua orang itu, Ksatria Hitam dan Pemuda Penggembala, selalu terkenang akan Bidadari.


Kisah itu berakhir demikian. Aku tak tahu bagaimana akhir dari Bidadari. Aku tak tahu kepada siapa akhirnya ia bersama. Tak ada akhir untuk pelukis, mungkinkah Bidadari kembali mencari pelukis? Entah, aku tak tahu. Karena kisah itu berakhir demikian.

Fantom

Aku lelah menunggu dan mencarimu. Ini sudah kelewat pancaroba. Kau tahu, festival belum usai, ini baru saja dimulai. Tapi rintik-rintik telah selesai menarikan tarian hujan. KIni giliran angin yang mengabarkan cerita.

Aku tiba di tempat ini, padang rumput setinggi mata kaki, sebuah tempat yang pernah diceritakan oleh angin. Aku berharap akan menemukanmu diantara keramaian ini. Dan memang aku menemukannya. Aku menihat bayangmu di antara awan, di langit.

Aku akhirnya memutuskan, sampai tiba hari dimana tangga menuju langit muncul, aku akan tetap di sini, di padang rumput setinggi mata kaki. Menatapmu, menganggapmu selalu di samping kananku.

Minggu, 01 November 2009

Kisah Bidadari dan Hatinya

Suatu ketika aku masih senang berkeliling negeri, aku pernah singgah ke sebuah toko kelontong ti di sebuah kota miskin bernama Ashpire. Di toko itu aku menemukan sebuah buku bersampul hijau mahkota. Buku itu bercerita tentang sebuah dongeng dari negeri Berawan Rendah.

Dahulu kala, hiduplah seorang bidarari jelita yang tinggal di balik awan, tugasnya adalah menghalau awan mendung agar hujan dapat mencium tanah. Suatu waktu ketika bidadari sedang bertugas menghalau awan ke sebuah negeri bernama Brea, ia terhenti di atas sebuah padang rumput di sebelah abrat kota. Di padang rumput itu duduklah seorang pemuda penggembala yang sedang menyanyikan sebuah lagu patah hati. Seketika itu sang bidadari jatuh cinta pada sang penggembala karena mendengar lagu itu sambil bercucuran air mata. Sang bidadari selalu menyempatkan dirinya untu melihat sang penggembala dari balik awan. Dan dari sana, bidadari melihat bahwa ada seseorang yang tengah dicintai oleh sang penggembala, seorang perempuan cantik anak kepala kota. Hanya saja, sang penggembala enggan utuk menyampaikan cintanya, karena kabarnya, anak kepala kota segera akan menikah dengan seorang ksatria dari seberang.

Melihat sang penggembala bersedih hati, sang bidadari lalu turun menemui penggembala pada suatu ketika penggembala sedang melaksanakan tugasnya, menggembala di padang rumput sebelah barat kota. Bidadari lalu menyerahkan hatinya yang sewarna samudra, berharap pemuda penggembala akan melupakan gadis yang dicintainya lalu beralih padanya. Sayangnya, pengawal awan menangkap bidadari karena bidadari telah menyalahi aturan. Penghuni atas awan tidak boleh jatuh cinta pada manusia, apalagi sampai menyerahkan hatinya pada manusia. Penghuni awan tidak sama dengan manusia. Manusia akan mati setelah menyerahkan hatinya. Karena manusia tak dapat hidup tanpa hatinya.

Sang bidadari dihukum dipenjarakan di sebuah menara bernama Gou yang terletak di pinggiran Negeri Nii. Sang bidadari tidak dapat kembali ke balik awan kecuali ia mendapatkan ganti hati yang telah ia berikan pada pemuda penggembala. Ia pun berteman pada angin saat ia menanti seseorang yang dapat menggantikan hatinya.

Suatu hari, datanglah seorang ksatria hitam yang mendengar berita yang disampaikan anin di negerinya. Ksatria hitam datang untuk menawarkan hatinya yang sewarna senja pada bidadari, walau ia tahu ia akan mati karenanya. Sayangnya, bidadari menolak hati ksatria hitam. Hati yang diinginkan oleh bidadari hanyalah hati yang sewarna dengan hati milik pemuda penggembala.

Suatu hari, datanglah seorang pemuda lusuh yang membawa kuas dan kanvas. Sepertinya, seorang pelukis yang mendengar bisik angin bahwa di negeri bernama Nii terdapat seorang bidadari jelita yang tertawan di menara Gou. Pelukis itu datang bukan untuk melukis bidadari, tetapi untu kmelukiskan hati yang diinginkan oleh sang bidadari. Pelukis itu lalu menawarkan lukisannya itu kepada bidadari. Bidadari menolak, walau ia ingin menghiasi hatinya yang kosong dengan lukisan itu. Pelukis itu pergi, dan kembali beberapa hari setelahnya, membawa lukisan yang sama 2 kali lipat jumlahnya mula-mula. Bidadari terus menolah dan pelukis itu pun terus kembali dan membawakan lukisan yang sama 2 kali lipat mula-mula. Terus, terus, demikian, hingga suatu ketika sang bidadari mau menerima lukisan itu.

Suatu ketika setelah musim berganti, pemuda penggembala datang ke menara Gou pada kunjungan sang pelukis, untuk menanyakan kabar pada bidadari. Lalu di hadapan sang pelukis, pemuda penggembala itu lalu menawarkan hatinya kepada bidadari, hati yang selama ini dinanti oleh bidadari. Sang pelukis menatap sang bidadari dan seolah berkata bahwa ia akan pergi, ia lalu berjalan menjauh sambil menyembunyikan hatinya yang sewarna awan mendung, hati yang ingin ia serahkan pada bidadari saat itu, agar bidadari bisa kembali ke balik awan, walau ia tahu ia akan mati karenanya.


Cerita itu terhenti karena halaman buku yang ku baca itu tak lengkap, tersobek, atau disobek? Aku tak tahu. Aku bertanya kepada kakek pemilik toko tapi ia menjawab kalau ia tak tahu dan hanya menemukan buku itu di antara puing-puing kota yang terbakar waktu dulu. Aku meminta buku itu dengan menukar kuarsa. Aku ingin tahu, bagaimana akhir kisah bidadari dan hatinya itu. Mungkin suatu waktu aku akan menemukannya.

Prolog

Musim telah kelewat penghujan. Aku kembali teringan hari itu, hari dimana aku untuk pertama kali salah mengucapkan namamu dan kau hanya tersenyum pada bahasa yang tak kau mengerti itu. Aku rindu pada temapt itu, pada batang-batang mahoni, pada akar-akar yang bangkit dari istirahnya, juga pada aroma bunga mahoni yang mengingatkanku padamu. Aku rindu pada waktu yang ku habiskan untuk menunggu sindrakala dan rasi bintang salib selatan di sampingmu yang berdiri bersandar pada batang mahoni.

Aku selalu ingin pergi ke tempat itu, barang untuk mengingat atau menghitung seberapa banyak waktu yang telah berlalu di tempat ini, walau aku yakin aku pasti tak akan mampu. Karena aku yakin aku tak akan pernah menemukanmu di sana, di tempat itu. Akan ku pastikan padamu, aku akan pergi ke tempat itu, bersamamu atau tanpamu sekalipun.

Seorang Peri

Aku baru saja mendengarnya dari alang-alang, juga rumput liar yang tumbuh di sepanjang jalan, juga dari angin, bahwa ia, cowok seputih kapas, telah bertemu dengan seorang peri. Kata mereka, cowok seputih kapas telah lama mencarinya, mencari peri itu, lewat jejak dedak peri yang tertabur di depan rumahnya.

Kemarin aku bertemu dengan cowok seputih kapas itu yang masih saja sepolos dulu dan tersenyum padaku. Andai saja ia tak pernah menemukan dedak peri di depan rumahnya, apakah ia akan terus berkunjung padaku sambil membawakan senyumnya itu?

Tergantikan

Saat aku menunggu langit di antara hamparan rumput, datang seorang pemuda lusuh yang membawa kuas dan kanvas. Lalu ia bertanya padaku dimana menara Gou berada. Aku menunjukkan pada pepohonan yang rindang, dan angis menghembus tiap rantingnya satu-satu, membantuku menunjukkan jalan. Dia paham, tapi hanya menatapku seolah memintaku mengantarnya. Sebenarnya aku tak mau hanya saja aku sedang ingin bertemu dengan bidadari yang tertawan di sana.

Di perjalanan aku dan pemuda lusuh itu berselisih jalan dengan Ksatria Hitam yang memacu kudanya dengan lambat. Pemuda lusuh itu tersenyum pada Ksatria Hitam. Sepertinya dia mengenalnya. Hanya saja, Ksatria Hitam tak membalasnya.

Sesampainya di kaki menara, pemuda lusuh itu memperkenalkan dirinya sebagai pelukis. Ia langsung melukis tanpa mendengar perkataan Bidadari. Bidadari hanya termenung menatap langit yang mendung. Aku heran kali ini, ku pikir ia datang untuk melukis bidadari, tapi dia malah melukiskan hati yang berwarna asap tembakau. Lalu pemuda pelukis itu menawarkan gamabran itu pada Bidadari. Bidadari tergoda untuk mengambilnya tapi tidak. Si pemuda lalu pergi dan aku mengikutinya samil menoleh pada BIdadari yang terlihat tak rela pemuda pelukis itu pergi.

Aku kembali ke padang rumput tempatku menunggu langit dan berpikir, mungkin akhirnya bidadari bisa kembali ke balik awan lagi. Karena cepat atau lambat, lukisan pemuda lusuh itu akan ia rindukan lagi.