Jumat, 06 November 2009

Epilog

Aku kembali teringat pada sebuah lagu yang kudengar lewat bisik cahaya. lagu itu mengingatkanku padamu, pad akita, dan pada pertemuan kita di awal pancaroba. Aku sudah hampir lupa, hanya saja tiba-tiba perasaan itu kembali.

Mungkin nanti, walau aku tak sepenuhnya yakin, kau akan datang ke tempat yang tak pernah kau janjukan. Tapi aku tetap di tempat itu, tempat itu, padang rumput setinggi mata kaki, menunggumu walau mungkin kau tak akan hendak beranjak dari utara katulistiwa. Aku hanya tak ingin mendenkgarmu menyanyikan lagu itu. Biar lagu itu jadi pengingat ku dan mu tentang kita yang masih ku pertahankan.

Tak mungkin bila aku terus menunggumu seperti ini. Walau tangga langit terbentang dan aku masih kuat menapakinya, kau tak ada di sana. Tak pernah ada di sana. Tangga menuju langit perlahan memudar dan aku harus kembali pada bumi. Lebih baik aku menghapus tangga itu satu-satu sambil berjalan walau aku yakin akan tetap terasa berat. Tapi kau datang dan mengingatkaku akan lagu itu.

Aku mengerti, cukup mengerti. Biarkan aku pergi kembali ke haribaan pertiwi, walau dengan tertatih. Tapi sekali pun aku tak pernah berjanji padamu untuk berhenti menantimu di tempat itu, tempat ini, padang rumput setinggi mata kaki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar