Minggu, 01 November 2009

Kisah Bidadari dan Hatinya

Suatu ketika aku masih senang berkeliling negeri, aku pernah singgah ke sebuah toko kelontong ti di sebuah kota miskin bernama Ashpire. Di toko itu aku menemukan sebuah buku bersampul hijau mahkota. Buku itu bercerita tentang sebuah dongeng dari negeri Berawan Rendah.

Dahulu kala, hiduplah seorang bidarari jelita yang tinggal di balik awan, tugasnya adalah menghalau awan mendung agar hujan dapat mencium tanah. Suatu waktu ketika bidadari sedang bertugas menghalau awan ke sebuah negeri bernama Brea, ia terhenti di atas sebuah padang rumput di sebelah abrat kota. Di padang rumput itu duduklah seorang pemuda penggembala yang sedang menyanyikan sebuah lagu patah hati. Seketika itu sang bidadari jatuh cinta pada sang penggembala karena mendengar lagu itu sambil bercucuran air mata. Sang bidadari selalu menyempatkan dirinya untu melihat sang penggembala dari balik awan. Dan dari sana, bidadari melihat bahwa ada seseorang yang tengah dicintai oleh sang penggembala, seorang perempuan cantik anak kepala kota. Hanya saja, sang penggembala enggan utuk menyampaikan cintanya, karena kabarnya, anak kepala kota segera akan menikah dengan seorang ksatria dari seberang.

Melihat sang penggembala bersedih hati, sang bidadari lalu turun menemui penggembala pada suatu ketika penggembala sedang melaksanakan tugasnya, menggembala di padang rumput sebelah barat kota. Bidadari lalu menyerahkan hatinya yang sewarna samudra, berharap pemuda penggembala akan melupakan gadis yang dicintainya lalu beralih padanya. Sayangnya, pengawal awan menangkap bidadari karena bidadari telah menyalahi aturan. Penghuni atas awan tidak boleh jatuh cinta pada manusia, apalagi sampai menyerahkan hatinya pada manusia. Penghuni awan tidak sama dengan manusia. Manusia akan mati setelah menyerahkan hatinya. Karena manusia tak dapat hidup tanpa hatinya.

Sang bidadari dihukum dipenjarakan di sebuah menara bernama Gou yang terletak di pinggiran Negeri Nii. Sang bidadari tidak dapat kembali ke balik awan kecuali ia mendapatkan ganti hati yang telah ia berikan pada pemuda penggembala. Ia pun berteman pada angin saat ia menanti seseorang yang dapat menggantikan hatinya.

Suatu hari, datanglah seorang ksatria hitam yang mendengar berita yang disampaikan anin di negerinya. Ksatria hitam datang untuk menawarkan hatinya yang sewarna senja pada bidadari, walau ia tahu ia akan mati karenanya. Sayangnya, bidadari menolak hati ksatria hitam. Hati yang diinginkan oleh bidadari hanyalah hati yang sewarna dengan hati milik pemuda penggembala.

Suatu hari, datanglah seorang pemuda lusuh yang membawa kuas dan kanvas. Sepertinya, seorang pelukis yang mendengar bisik angin bahwa di negeri bernama Nii terdapat seorang bidadari jelita yang tertawan di menara Gou. Pelukis itu datang bukan untuk melukis bidadari, tetapi untu kmelukiskan hati yang diinginkan oleh sang bidadari. Pelukis itu lalu menawarkan lukisannya itu kepada bidadari. Bidadari menolak, walau ia ingin menghiasi hatinya yang kosong dengan lukisan itu. Pelukis itu pergi, dan kembali beberapa hari setelahnya, membawa lukisan yang sama 2 kali lipat jumlahnya mula-mula. Bidadari terus menolah dan pelukis itu pun terus kembali dan membawakan lukisan yang sama 2 kali lipat mula-mula. Terus, terus, demikian, hingga suatu ketika sang bidadari mau menerima lukisan itu.

Suatu ketika setelah musim berganti, pemuda penggembala datang ke menara Gou pada kunjungan sang pelukis, untuk menanyakan kabar pada bidadari. Lalu di hadapan sang pelukis, pemuda penggembala itu lalu menawarkan hatinya kepada bidadari, hati yang selama ini dinanti oleh bidadari. Sang pelukis menatap sang bidadari dan seolah berkata bahwa ia akan pergi, ia lalu berjalan menjauh sambil menyembunyikan hatinya yang sewarna awan mendung, hati yang ingin ia serahkan pada bidadari saat itu, agar bidadari bisa kembali ke balik awan, walau ia tahu ia akan mati karenanya.


Cerita itu terhenti karena halaman buku yang ku baca itu tak lengkap, tersobek, atau disobek? Aku tak tahu. Aku bertanya kepada kakek pemilik toko tapi ia menjawab kalau ia tak tahu dan hanya menemukan buku itu di antara puing-puing kota yang terbakar waktu dulu. Aku meminta buku itu dengan menukar kuarsa. Aku ingin tahu, bagaimana akhir kisah bidadari dan hatinya itu. Mungkin suatu waktu aku akan menemukannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar