Kamis, 05 November 2009

Kisah Ksatria Hitam dan Hatinya

Kemarin aku pergi ke sebuah negeri dimana dulu Ramses pernah berkuasa. Tak seperti dulu, kegemilangan kota itu telah pudar, seperti halnya batu yang terkikis debu. Di sebuah pasar, aku bertemu dengan seseorang yang menawarkan sesobek transkripsi bersampul hitam. Katanya, lembaran itu berisi tentang sebuah dongeng dari negeri yang jauh. Aku menukarkannya dengan dedak peri yang baru saja hendak ku jual. Lembaran itu berisi cerita tentang seseorang bernama Ksatria Hitam. Ah, aku jadi teringat dongeng dari negeri Berawan Rendah yang dulu ku temukan.


Dahulu kala, hiduplah seorang Ksatia Hitam. Ia terkenal sebagai seorang prajurit yang gagah berani dan telah membantu kerajaan memenangkan Perang Hujan. Suatu ketika, angin berbisik padanya, menceritakan tentang sebuah kisah seorang bidadari yang tertawan di sebuah menara. Ksatria Hitam jatuh cinta pada bidadari yang angin ceritakan.

Suatu ketika, Ksatria Hitam pun mendatangi bidadari yang tertawan di menara Gou. Ksatria Hitam pun jatuh cinta untuk yang kedua kalinya ketika ia menatap sang bidadari untuk yang pertama kalinya. Ia menawarkan hatinya pada sang bidadari agar sang bidadari dapat kembali ke balik awan, meski ia tahu, ia kan mati karenanya. Akan tetapi, sang bidadari menolak hati Ksatria Hitam. Bidadari hanya menginginkan hati yang sewarna asap tembakau.

Ksatria Hitam pun pergi dengan hati yang terlukai. Suatu ketika, seorang penduduk kota bercerita padanya tentang sebuah hati yang bisa berubah warna tertawan di Gua Kardia dan dijaga oleh seorang Kerdil. Berangkatlah Ksatria Hitam untuk mendapatkan hati itu. Sesampainya di sana, ia bisa membawa pergi hati itu dengan syarat ia harus menukarnya dengan hatinya. Sang Ksatria pun setuju dan menukarkannya.

Ksatria hitampun pergi menemui bidadari lagi. Tapi dalam perjalanan menuju menara, ia bertemu dengan seorang pelukis yang bermuka masam. Tak lama setelahnya, ia berselisih jalan dengan seorang penggembala bermuka ceria. Ksatria Hitam pun bergegas dan menemukan sebuah hati yang tertinggal di tepi jendela menara. Bidadari terlihat sangat senang akan hati itu, tapi matanya sedih. Dengan memberanikan diri, Ksatria Hitam pun memberikan hatinya yang baru kepada Bidadari. Tapi bidadari kembali menolak, mungkin karena telah mendapatkan hati dari penggembala.

Ksatria Hitam pun tak hendak mengambil hatinya kembali, ia lantas pergi meninggalkan hatinya di samping hati yang telah ada sebelumnya di samping jendela. Bidadari ingin mengembalikan hati Ksatria, tapi ia tak bisa keluar dari menara. Dan sang Ksatria Hitam pun mati di sebuah padang rumput.

Bidadari pun menerima hati dari sang penggembala. Kutukannya pun terlepas begitu saja, dan ia pun pergi mencari sang Ksatria Hitam. Dikembalikannya hati sang Ksatria Hitam kepada jasat tak bernyawa. Ksatria Hitam pun hidup kembali, dan terkejut mendapati sang bidadari telah menyelamatkannya. Bidadari ingin Ksatria Hitam dapat hidup bahagia dengan seseorang yang lain, seseorang yang bisa menerima hati sang Ksatria Hitam. Bidadari pun pergi, meninggalkan Ksatria Hitam bersama angin di tengah padang rumput.

Menurut angin, Bidadari pun kembali ke balik awan. Dan suatu hari ketika pemuda penggembala kembali ke Menara Gou, ia tak menemukan bidadari di sana, hanya sebuah pesan, yang mengatakan kalau dulu bidadari pernah mencintai pemuda penggembala. Dan setiap penghujan, kedua orang itu, Ksatria Hitam dan Pemuda Penggembala, selalu terkenang akan Bidadari.


Kisah itu berakhir demikian. Aku tak tahu bagaimana akhir dari Bidadari. Aku tak tahu kepada siapa akhirnya ia bersama. Tak ada akhir untuk pelukis, mungkinkah Bidadari kembali mencari pelukis? Entah, aku tak tahu. Karena kisah itu berakhir demikian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar