Minggu, 22 November 2009

Kisah Tentang Hujan

Ini November akhir, hujan telah benar-benar bertemu mencium tanah. Suatu hari dimana hujan sedang turun dengan rintik-rintik, aku sedang membantu membereskan buku-buku dan dokumen tua di perpustakaan pinggir kota. Lalu tanpa sengaja aku menemukan sebuah surat lama yang tak tersegel ujungnya. Tak ada alamat di sana, hanya saja di sana tertulis sebuah klausa, 'untuk orang pertama yang menemukan kisah ini'. Dengan tak sabar aku segera membukanya dan membacanya di sudut perpustakaan.

Di suatu negeri yang jauh, negeri yang bernama Raqia, terdapat sebuah kerajaan dengan seorang raja yang bijaksana. Raja Raq mempunyai seorang putri yang cantik jelita, sayangnya, sang ratu telah lama meninggal dunia, hingga Putri Raq tak diperbolehkan untuk melihat dunia luar. Setiap hari, Putri Raq bermain bersama dayang-dayang istana di halaman kerajaan dan setiap malam, ia selalu pergi ke menara sebelah barat, untuk melihat kota yang bercahaya lampu malam, terlihat sangat indah. Ia ingin sekali pergi ke luar kerajaan, menyapa penduduk, pergi ke festival kota, pergi ke pasar, atau berperahu di bantaran sungai yang melintas ibukota.

Suatu ketika saat bulan bersinar penuh, Putri Raq pergi menyelinap ke luar istana melalui gerbang belakang yang tak pernah dijaga oleh penjaga istana. Namun sayangnya, seseorang memergokinya sebelum ia sempat berhasil membuka grendel gerbang. Seseorang itu ternyata tak melaporkannya kepada penjaga, malah membantunya untuk keluar istana. Dia bersedia mengantarkan Putri Raq berkeliling kota yang telah sepi di malam berbulan penuh kali itu.

Seseorang itu memperkenalkan dirinya sebagai seorang pemuda pengurus kuda di istana. Katanya, keluarganya berhutang banyak kepada raja, sehingga dia bersedia mengabdi kepada raja sejak ia masih kanak. Keduanya pun sering bertemu di malam hari sejak saat itu. Pemuda itu mengantarkan Putri Raq kemana pun putri itu hendak pergi. Tanpa sadar, diantara keduanya, tumbuh perasaan naluriah manusia, cinta.

Namun suatu ketika, seorang penjaga istana memergoki keduanya dan melaporkannya kepada Raja. Raja kemudian membawa penjaga istana untuk menangkap pemuda pengurus kuda itu. Tanpa sengaja, pengawal istana menembakkan panah dan mengenai pemuda itu. Pemuda pengurus kuda itu terjerembab dan Putri Raq lantas memeluk kepalanya. Pemuda penggembala itu pun mengaku kepada sang Putri bahwa ia telah lama mencintai sang Putri. Setelah pengakuannya itu, sang pemuda pengurus kuda itu pun mati. Putri Raq menangisi kematian orang yang juga ia cintai itu, dan ia mati sebelum sempat mendengar bahwa sang putri juga mencintainya.

Sejak saat itu, Putri Raq dihukum di menara utara kerajaan. Ia tak pernah diperbolehkan lagi untuk keluar dari istana. Suatu hari datang lah seorang ratu peri dari langit, menghiburnya karena sang Putri tak pernah mau tersenyum lagi. Ratu peri itu datang kepadanya untuk mengajaknya pergi ke dunia peri, dengan satu syarat, sang putri harus mau menjadi peri hujan. Sang Putri setuju dan berubah menjadi peri. Sejak saat itu, raja Raq sakit-sakitan hingga akhir hayatnya. Sementara sang putri menjadi peri hujan yang mengirimkan rintik ke bumi. Saat ia bertugas, ia sering menangis mengingat pemuda pengurus kuda. Dan tetes air matanya itu pun ikut jatuh ke bumi, menjadi tetes hujan pembukaan.

Menurut cerita yang disebarkan oleh angin,jika tetes air mata sang putri itu menetes di ujung hidung seseorang, maka sang putri akan mempertemukan seseorang itu kepada orang yang ditaksirkan untuknya.

Cerita itu berakhir demikian.
Ah, aku jadi teringat kepada sebuah parodi yang penah kulihat di sebuah kotak ajaib yang ku jumpai di sebuah toko kelontong tua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar