Selasa, 17 November 2009

Kisahku dan hatiku

Aku tinggal di sebuah kota bernama Kaleo, sebuah tempat yang terkenal kaena banyak melahirkan seniman kerajaan. Orang-orang biasa datang ke rumahku untuk sekedar melihat gambar yang ku buat, atau untuk memintaku membuatkan gambar mereka. Tentu saja dengan imbalan keping emas. Tapi, entah sejak kapan, aku merasa bahwa aku telah kehilangan inspirasi, seseuatu yang indah yang belum pernah ku lihat.

Lalu suatu ketika di awal Juli, datanglah angin di depan rumahku. Kami sempat minum teh bersama kali itu. Dia datang untuk berkabar padaku. Katanya, di suatu negeri barat jauh sana ada sesuatu yang akan membuatku terinspirasi, sesuatu yang indah, keindahan yang melebihi apa yang pernah ku lihat. Aku terlalu penasaran dan memintanya bercerita lebih banyak padaku. Dia bersedia bercerita asalkan besok saat Fajar telah sampai ke gerbang kota, aku datang untuk bersedia berkelana bersamanya.

Malamnya aku berkemas, lalu paginya angin telah menungguku di gerbang kota. Di perjalanan ia mulai bercerita padaku mengenai sesuatu yang indah itu. Dalam benakku selama ia bercerita padaku, sesuatu yang indah itu bagaikan sapuan warna-warna di udara. Mula-mula muncul sapuan biru membentuk langit dan awan stratus. Lalu muncul warna lain, warna yang sehangat matahari dan seindah bintang, bersinar dalam benakku, lama-lama jatuh ke dasar hatiku seperti tetas hujan yang memang seharusnya menyentuh tanah. Begitu halus dan sangat perlahan, hingga aku tak menyadarinya.

Angin lalu membawaku ke sebuah negeri bernama Nii dan memintaku untuk memesan sebuah kamar untukku. Lalu aku menepati janjiku dengan membawa kuas dan kanvas, mengikutinya terus melewati padang rumput setinggi mata kaki dan menembus rapat hutan hingga ia terhenti di ujungnya. Bisa kulihat di sana, ya, warna-warna sehangat matahari dan bersinar seperti bintang. Ku tanyakan kepadanya siapa wanita yang termangu di ujung jendela itu. Dan ia hanya memjawab dengan senyuman dan mulai menceritakan semuanya. Mulai dari bagaimana pengawal awan membawa wanita itu dan mengurungnya di sana.

Aku terpesona untuk yang ke dua kalinya. Aku ingin melukisnya, bukan, api melukis apa yang ada dalam bola mata yang lebih indah dari pada sapir itu. Ku benarikan diri untuk beranjak dari balik hutan dan menuju kaki menara. Dia tak menoleh sedikitpun walau aku menyapanya dengan sangat sopan. Aku mulai menggambarnya, warna yang terlukis dari kedua matanya itu, warna yang kelam, seperti kisahnya. Ku beranikan diri untuk menawarkan gamabr itu keadanya, tapi di tolaknya dengan sangat halus. Aku pun pergi, pulang ke penginapan.

Sesampainya di penginapan, benakku masih terisi oleh wanita itu. Tanpa sadar, tanganku sudah bergerak dengan sendirinya dan melukisnya yang sedang termangu di jendela menara. Saat tidurpun, lukisan itu tetap terpancang di benaku, seolah aku sedang mengamati wanita itu.

Hari berikutnya, aku datang membawa dua lukisan yang sama ke menara itu. Tapi ia menolaknya dengan senyuman yang sama. Tak mengapa, aku masih bisa kembali esok hari. Aku kembali lagi ke tempat itu, dan ia menolakku. Entah ke berapa kunjunganku ke sana, ia bersedia mengambil lukisan hati sewarna tembakau itu.

Suatu hari, angin datang padaku dan menyadarkanku bahwa aku telah jatuh cinta kepada wanita itu. Angin lalu menceritakan mengenai alasan wanita itu berada di sana. Ternyata wanita itu adalah penghuni balik awan dan hanya bisa kembali jika ia mau menerima hati dari manusia. Sayangnya, manusia yag kehilangan hatinya, akan mati. Ya, aku tahu konsekuensinya itu. Tapi aku tetap ingin datang kepadanya, membebaskannya, meski aku tahu aku akan mati karenanya.

Aku datang ke menara dengan pakaian terbaikku, bercerita bersamanya seperti biasanya. Tiba-tiba seorang laki-laki muncul dari balik hutan dengan napas terengah, menanyakan kabarnya. Dan wanita itu terlihat sangat bahagia, terlihat dari pancaran matanya. Laki-laki itu lalu menawarkan hatinya yang sewarna tembakau kepadanya. Aku lalu pergi, aku telah tahu ceritanya dari angin, aku telah tahu. Dan aku cukup tahu diri untuk menarik diriku dari persaingan ini.

Aku berkemas, lalu pulang ke negeriku, Kaleo. Galeri kota telah menungguku 2 bulan lagi.

Festival dimulai dan pagelaran telah terselenggara. Lukisanku didaftarkan orang kota untuk mengikutinya. Lukisan itu adalah lukisan terbaik yang pernah aku buat, ya, lukisan wanita itu, yang ku beri nama Re Incarnies of Venu.

Saat penggunjung sepi dan aku sedang sibuk dengan lukisanku yang baru, datang lah seseorang yang memuji lukisanku itu. Saat aku berbalik, aku sedikit terkejut mengetahuinya. Ternyata orang itu adalah wanita itu, yang datang dengan membawa warna matahari dan senyuman di bibirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar