Minggu, 08 November 2009

Kisah Pemuda Penggembala dan Hatinya

Kali ini mungkin aku bisa gila karenanya. Lagi-lagi seseorang menawarkan sebuah alkitab dari negeri yang belum pernah aku datangi. Seseorang yang memberiku kitab itu berjubah sapire, dengan corak rajah kulit yang belum pernah ku lihat sebelumnya. Seseorang itu memintaku pergi ke negerinya, untuk mengisahkan sebuah cerita dalam alkitab itu pada penguasa negerinya, Negeri Mystikos.

Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda yang sangat miskin. Keluarganya adalah keluarga seniman kuno yang telah lama bangkrut dan berpindah-pindah. Pemuda itu lalu bekerja sebagai penggembala di negeri bernama Brea. Suatu ketika, ia bertemu dengan anak perempuan kepala kota dan mulai jatuh cinta kepadanya. Anak perempuan itu bernama Artems. Kata tikur-tikus dan Kucing, Artems akan menikan dengan seorang Ksatria dari seberang jauh.

Mendengarnya, Penggembala bermuram hati dan memillih untuk menyanyikan sebuah lagu patah hati. Entah bagaimana, suatu ketika datanglah seorang bidadari jelita dari balik awan dan menyapanya. Mengatakan bahwa dirinya telah lama jatuh cinta pada nyanyian dan suara Penggembala. Bidadari itu datang menawarkan hatinya kepada penggembala. Dan penggembala itu menerimanya tanpa berkata apa-apa. Tiba-tiba saja datanglah 2 orang pengawal awan dan menangkap bidadari. Penggembala tak bisa berkata apa-apa melihat kepergian bidadari.

Siang dan malam, penggembala terus memikirkan tentang bidadari dan selalu mengamati hati bidadari yang diberikan padanya. Tanpa disadarinya, ia telah jatuh hati pada bidadari. Lalu, ia pun berusaha mencari sang bidadari. Ia bertanya pada matahari, bintang, dan langit. Tapi tak satupun yang tahu dimana bidadari. Penggembala berpikir, pastinya Bidadari sedang tak ada di balik awan. Ia pun bertanya pada rumput dan pepohonan, tak satupun yang tahu. Waktu berlalu, musim berganti, hingga suatu ketika angin bercerita padanya tentang seorang bidadari yang tertawan di menara Gou, di negeri Nii, bermil-mil jauhnya dari Brea.

Dimulailah perjalanan penggembala untuk menukarkan hatinya kepada bidadari, agar bidadari bisa bebas dan hidup bersamanya selamanya. Suatu ketika, di sebuah senja yang indah, akhirnya ia sampailah ke menara Gou. Di sana, bidadari sedang tidak sendiri. Ada seorang pemuda sebayanya yang menemani bidadari. Dengan menguatkan hati dan perasaan, Penggembala menemui Bidadari. Pemuda yang berada di kaki menara itu tertegun dan seolah telah lama mengenalnya. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Penggembala lalu menawarkan hatinya, hati yang sewarna asap tembakau itu kepada bidadari. Pemuda di kaki menara itu pun pergi. Bidadari terdiam menatap hati penggembala.

Penggembala kecewa dan berjanji akan kembali lagi beberapa waktu kemudian untuk menanyakan keputusan bidadari. Dalam perjalanan pulang, ia bertanya pada setiap rumput, dedaunan, dan ranting yang ia temukan, siapakah pemuda itu, pemuda yang selalu menemani bidadari. Tapi tak ada yang mau mengatakannya kepadanya. Lalu ia bertanya pada angin, dan angin menceritakan semua hal yang ia ketahui, karena angin tak pernah mau berbohong. Jelaslah sudah semuanya, penggembala pulang ke ibukota negara Nii dengan hati yang berkarat.

Tak lama setelahnya, Penggembala datang kembali ke menara itu. Tapi ia tak menemukan bidadari di sana. Tapi dia menemukan sebuah pesan yang tertulis di perkamen. Isinya adalah pesan dari bidadari.

Aku menerima hatimu agar aku bisa mengembalikan hati seseorang
Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku pernah mencintaimu.
Dan hatiku yang kau bawa, dan hatimu yang kubawa, akan menjadi pengingat.


Sejak saat itu, ketika hujan turun dan awan mendung bergelayut di langit, pemuda penggembala itu selalu teringat kepada bidadari. Walaupun sekarang seseorang tengah mencintainya.

Aku sungguh tak mengerti mengapa akhir kisah dalam alkitab itu berkata demikian. Aku tak mengerti. Mengapa kisah ini tak berakhir bahagia? Bukankah keduanya saling mencintai? Bukankah keduanya telah bertukar hati? Aku tak mengerti. Kisah yang aneh. Tapi aku bisa apa? Aku hanyalah seorang pencerita yuang kebetulan tahu saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar