Minggu, 01 November 2009

Tergantikan

Saat aku menunggu langit di antara hamparan rumput, datang seorang pemuda lusuh yang membawa kuas dan kanvas. Lalu ia bertanya padaku dimana menara Gou berada. Aku menunjukkan pada pepohonan yang rindang, dan angis menghembus tiap rantingnya satu-satu, membantuku menunjukkan jalan. Dia paham, tapi hanya menatapku seolah memintaku mengantarnya. Sebenarnya aku tak mau hanya saja aku sedang ingin bertemu dengan bidadari yang tertawan di sana.

Di perjalanan aku dan pemuda lusuh itu berselisih jalan dengan Ksatria Hitam yang memacu kudanya dengan lambat. Pemuda lusuh itu tersenyum pada Ksatria Hitam. Sepertinya dia mengenalnya. Hanya saja, Ksatria Hitam tak membalasnya.

Sesampainya di kaki menara, pemuda lusuh itu memperkenalkan dirinya sebagai pelukis. Ia langsung melukis tanpa mendengar perkataan Bidadari. Bidadari hanya termenung menatap langit yang mendung. Aku heran kali ini, ku pikir ia datang untuk melukis bidadari, tapi dia malah melukiskan hati yang berwarna asap tembakau. Lalu pemuda pelukis itu menawarkan gamabran itu pada Bidadari. Bidadari tergoda untuk mengambilnya tapi tidak. Si pemuda lalu pergi dan aku mengikutinya samil menoleh pada BIdadari yang terlihat tak rela pemuda pelukis itu pergi.

Aku kembali ke padang rumput tempatku menunggu langit dan berpikir, mungkin akhirnya bidadari bisa kembali ke balik awan lagi. Karena cepat atau lambat, lukisan pemuda lusuh itu akan ia rindukan lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar