Kamis, 31 Desember 2009

Aromamu dan Rumah itu

Masih kah kau ingat padaku?
Hari-hari penuh dengan tetesan hujan yang bergelayut pada awan. Angin telah mengantarkan waktu pada lalu. Hanya aku yang tak berubah di sini, kau mengerti itu?

Sakura milik tetangga rumahmu yang dulu telah gugur habis terkikis dan terbawa hembusan angin barat daya. Hujan meresapi tanah dan tulang belulangku yang terhenti pertumbuhannya. Seatan ingin memprotes waktu agar berhenti sejenak menantinya sekali saja.

Tapi sebelum aku pergi, ku buka kembali kaleng harta karun, tempatku menyimpan surat-suratnya. Masih kah kau ingat kepadanya, tetanggamu yang sering bertukar kertas bersamaku? Katanya, perasaan itu datang dengan begitu cepat, tanpa ada alasan yang bisa menjelaskan, tanpa teorema yang bisa memecahkan kode arti rasa itu, tapi kepergiannya begitu cepat dengan meninggalkan bekas, luka atau seulas senyum.
Lima tahun berlalu begitu cepat tanpa kurasa, tapi aku yakin kau telah melupakannya. Hujan masih sama, jalanan masih sama, embun masih sama, angin amsih sama, langit masih sama, matahari masih sama, aku masih sama, tapi kau telah berubah sebelum sempat aku tersadar bahwa kau telah lama berubah.

Hari-hari aku lewat depan rumahmu dulu, hujan masih sama, mendung masih sama, udara masih sama, dan aromamu yang tertinggal di rumah itu masih sama. Aroma yang menguap ketika satu-satu hujan membawahi tanah dan aku yang masih menantimu. Ya, aromamu itu masih tertinggal di sana, yang selalu ku nikmati dengan perlahan menghidup udara, seolah aku ingin menghentikan waktu agar aku bisa menghidupnya lebih banyak lagi. Aroma yang seperti aroma buah semangka yang menuntaskan dahaga di bawah terik matahari. Ya, itulah aromamu, surga bagi imajiku yang terus hidup dengan menghentikan waktu meski aku telah menua.

Sora, andai saja kau tahu, aku ingin sekali melupakanmu. Andai saja aku bisa melupakanmu, tapi aku tak bisa, tak akan pernah bisa.

Sabtu, 26 Desember 2009

Kata-katamu

Andai saja kau tahu, aku masih menantikanmu di tempatku ini. Barang sekedar kirimi aku kata-katamu saja kau pun tak bisa. Hari-hari langit berganti, tapi aku masih menunggu kata-kata yang kau janjikan. Kau bilang, kau telah lupa padaku, pada semua kalimat yang masih tetap aku pegang walau angin tak mau lagi membisikkannya padaku. Aku tau kau telah lupa dan telah menanggalkan semua sejarah yang masih tetap aku jaga, tapi aku meminta padamu tolong jangan kau hapus namaku dari tempatmu menyimpat gambar orang lain itu. Aku tak punya tempat lagi, tak dimanapun, tak ada di hati siapa pun. Ya, aku tak peduli keberadaanku di hati orang lain, aku hanya ingin namaku masih tetap kau ingat di dalam benakmu jika hatimu telah penuh.

Sora, jika kau memang benar-benar berniat untuk melupakanku, maka biarkanlah hatiku yang telah kau bawa pergi kembali padaku. Ya, kembalikan hatiku yang telah kau bawa pergi kepadaku. Tapi asal kau tahu saja, aku tak akan pernah menggantikanmu dengan orang lain. Tak akan pernah.

Rabu, 23 Desember 2009

Anak Laki-laki Keluarga Bittersweet dan Roket Kayunya

Beberapa hari lalu seorang gadis datang padaku untuk bercerita tentang kakak laki-lakinya. Ia mengaku berasal dari keluarga yang bernama Bittersweet, dan ia memiliki seorang kakak laki-laki bernama Basil. Mereka tinggal berdua sejak kematian ayah dan ibu mereka. Basil, sang kakak bekerja sebagai tukang kayu. Dan mereka tinggal di pinggir negeri yang bernama Burnet, dekat hutan Elder.

Katanya, kakaknya sedikit aneh, jarang bicara, tapi ketika ia ingin berbicara maka ia akan berbicara sangat lama. Satu hal yang membuatnya semakin aneh adalah karena ia 'menyukai' awan, sangat 'menyukai'. I amembenci musim panas karena ia akan jarang melihat awan. Jika hari di musim panas dengan langit yang berawan, ia pasti akan segera pergi ke hutan untuk menebang kayu, lalu pulang siang dan bersantai sambil mengagumi awan. Aneh sekali bukan?

Hal yang membuatnya semakin aneh adalah ketika ia ingin pergi ke negeri di atas awan. Ia pernah mendenagr cerita dari Jack, anak laki-laki yang pernah pergi ke negeri di balik awan dengan kacang ajaibnya. Ya, sejak saat itu, anak laki-laki keluarga Bittersweet itu bertambah aneh.

Suatu hari, ia menjual banyak sekali kayu untuk di jual ke kota. Saat tengah hari, ia berkeliling kota mencari penjual kacang ajaib. Tapi tentu saja ia tak menemukannya. Lalu ia pergi ke tukang loak dan menemukan buku aneh yang membuatnya ingin membuat roket kayu. Gadis itu heran, bagaimana bisa roket kayu bisa mengantarkan kakaknya ke balik awan?

Suatu ketika, anak laki-laki keluarga Bittersweet membawa pulang sebuah kantong yang berisi serbuk terbang lalu menaburkan separuhnya pada roket kayunya. Lalu ia pergi tanpa berpamitan kepada adiknya dan pergi ke negeri di balik awan stratus, negeri bangsa bertopi kerucut. Sesampainya di sana, ia bahagia, berhari-hari ia di sana. Tapi ia tak bisa melihat awan lagi, ia malah ingin pergi ke bintang.

Ia lalu pergi ke negeri di balik awan Cumulus, negeri raksasa, untuk mencari sebuk terbang. Ia tak mendapatkannya, hanya mendapatkan serbuk roket. Hingga ia bisa sampai ke bintang. Di sana, ada sebuah negeri bernama Arbor Vi. Dari sana ia bisa melihat awan, tapi tak secantik dari rumahnya. Lalu ia meminta seseorang dari Arbor Vi mengantarkannya pulang. Ia pun akhirnya bisa pulang dengan tunggangan bintang jatuh.

Sejak saat itu, anak laki-laki keluarga Bittersweet jadi semakin aneh. Kini ia 'menyukai' bintang dan juga awan. Kurasa ia sudah gila.

Anak perempuan itu bertanya padaku, haruskah ia membawanya ke rumah penyembuh jiwa?

Kamis, 17 Desember 2009

Kisah Seorang Pengamat

Dahulu kala, hidup seorang bernama Fir, yang tinggal di sebuah negeri bernama Saffron yang makmur dan tercukupi. Ia adalah seorang pemilik kedai minum yang memiliki pohon Periwinkle di depan kedainya sebagai penanda kedai miliknya. Di kedai itu, berbagai orang dari berbagai negeri berdatangan dan saling bertukar kabar. Dan ia dengan setia kadang menemani tamu-tamunya hingga malah larut.

Suatu ketika, ia merasa bosan mendengarkan kabar para pengelana yang datang kepadanya. Ia ingin pergi ke semua tempat, semua negeri yang pernah ia dengar keindahannya. Hingga suatu hari, datanglah seorang yang bernama Kronos yang mengaku berasal dari negeri yang bernama Chasovnik. Seseorang yang aneh itu menawarkan kebebasan kepadanya. Ia dapat bepergian ke semua negeri hingga antah berantah dengan bayaran jiwanya. Ia menyetujuinya, menukarkan jiwanya kepada Kronos, dan Kronos lalu memberikan sebuah emblem bernama Acorn, biji pohon oak, simbol keabadian dari negeri bernama Nordic.

Sejak saat itu, semua orang melupakan semua hal tentangnya. Bahkan sejarah tak pernah mengenal seseorang dengan nama Fir yang dulu mempunyai kedai dengan pohon Periwinkle di depannya sebagai penanda. Kedai minumannya berubah menjadi kedai minuman milik seseorang yang lain. Pohon Periwinkle di depan kedainya pun telah terganti dengan semak-semak Azalea. Ya, ia telah benar-benar menjadi seorang pengelana yang mengamati dan mengabarkan cerita dan dongeng kepada semua orang yang ia temui di berbagai negeri tanpa menjadi bagian dari cerita itu sendiri.

Hingga suatu ketika, bertahun-tahun lalu, ia datang kepadaku. Bercerita tentang berbagai negeri yang telah ia datangi. Ia merasa sangat renta untuk tetap berkelana. Ia telah lelah berjalan menapaki dan memunguti kata yang berserakan di jalanan di depannya untuk membangun sebuah kisah dongeng yang akan dikenang sepanjang masa. Lalu ia menawarkan padaku, emblem Acorn, biji pohon oak, simbol keabadian dari negeri bernama Nordic. Ah, terbesit keinginan untuk menolaknya tetapi tanganku akhirnya meraihnya. Mungkin aku tak tega melihatnya menua. Lagipula, ia sudah lama ingin pergi dan bercinta dengan waktu lagi. Sedangkan aku telah lama menantikan kisah pengelanaan untuk mencari langit dan kata-kata yang berserakan agar jadi kisah yang akan dikenang sepanjang masa.

Sejak pertemuanku dengannya itu, aku mulai berkelana, mengamati dan berkabar cerita kepada semua negeri yang kujumpai, juga mencari dimana langit berada, walau aku tahu, aku telah terhapus dari sejarah sejak saat aku menerima biji pohon oak itu.

Berita yang Belum Terkabar

Baru saja aku mengambil cuti dari pengamatan, angin tergesa datang padaku. Sepertinya ada hal yang harus kuketahui dan kususun jadi cerita. Katanya ada kabar gembira, dari pemilik rumah penghuni bintang utara 2 mil dari bumi. Katanya, ia baru saja bertemu dengan Cheren Kon.

Ah, teman lamaku ternyata sedang menyiapkan pesta. Tapi, mengapa tak ada surat yang teralamatkan padaku barang untuk mengundangku ke sana? Apakah ia telah lupa padaku? ah, ya, mungkin saja ia telah lupa padaku, pada jiwa yang telah dipertukarkan waktu.

Haruskah aku datang dan mengucapkan salam gembira kepadanya?

Rabu, 16 Desember 2009

Cycle

Kemarin aku datang ke sebuah tempat pengujian bagi semua pencerita di dunia. Nama tempat itu adalah Ecole, tempat dimana semua pencerita di dunia akan menyajikan ceritanya. Aku tak ikut ujian itu, karena aku telah lulus dari Level 3. Hanya saja, hari itu aku ingin melihat para pencerita di dunia ini, siapa tahu, aku akan bertemu dengan seseorang dan saling bertukar cerita.

Hanya saja hari itu terik. Matahari ti Ecole selalu saja terik, menyengat tengkuk yang tak terlindungi oleh Sapka, topi dari negeri Macedonia. Kedai lengang dan aku memutuskan untuk duduk di bar minuman dingin. Tapi kali itu aku malah bertemu dengan cahaya. Katanya ia mencari-cariku sejak waktu lalu. Ia ingin mengatakan sesuatu kepadaku.

Aku mengikutinya duduk di sudut ruangan sedang pikiranku terus bergerak mencari tahu kemungkinan topik yang akan ia bicarakan. Akhirnya ia mulai berbicara, mengakui semuanya selama bertahun-tahun negerinya, tentang mengapa ia marah padaku, tentang masalah ku dan dia yang tak terselesaikan dengan baik, tentang alasan mengapa ia kembali ke negerinya walau harus melintasi angkasa. Dan sekarang ia kembali hanya karena ingin mengatakan hal itu kepadaku.

Katanya, ia terus mengejarku, ingin melampauiku, yang dipikirnya tak pernah bisa ia lampaui. Hari itu ia ikut ujian pencerita dan hendak memasrahlan semua kepada ujian itu. Jika ia berhasil lulus Level 1, maka kami akan jadi teman lagi, seperti sebelumnya.

Mari berkirim Surat

Kemarin aku berkirim surat kepada langit lewat angin dan arakan awan. Aku tak sabar hanya menatapnya di atas sana tanpa menanyakan kabarnya. Suratku sangat sederhana, hanya beberapa kata saja, menanyakan kabarnya. Ku harap langit baik-baik saja walau aku tahu ini telah pertengahan penghujan tapi bila hujan tak datang aku sangat senang. Suratku telah sampai lewat tengah malam tadi, dan langit mengirim balasannya cepat-cepat dititipkan pada bintang jatuh malam tadi. Aku senang tahu ia baik-baik saja.

Hanya saja, langit sedang sakit ingatan, bahkah ia tak tahu siapa aku.

Kamis, 03 Desember 2009

Tempat Dimana Kalian Menyebutnya Sebagai Rumah

Ini adalah tempat dimana kalian menyebutnya rumah, dimana pertemuan secepat perpisahan.
Teman adalah kawan, tapi kawan bukanlah teman. Langit begitu luas untuk diarungi tapi ayo sama-sama buat bahtera agar bintang satu-satu jadi oleh-oleh.

Ini adalah tempat dimana kalian menyebutnya rumah, tempat dimana perjamuan tak pernah berakhir.
Ayo kita makan nasi lauk rindu sayur tawa biar kenyang berteman. Lalu ayo membaca koran canda pagi menonton tangis tekenovela sore bersama.

Ini adalah tempat dimana kalian menyebutnya rumah, tempat dimana matahari seperti jam pasir mengalir.
Sudah pagi ayo pergi mengambil ilmu pada buku dan bangku. Tas-tas tergeletak di pinggir kali kaki terkecipak ayo brenang panas hari haus duka minum canda. Sidah sore, ayo pulang menonton berita lari ke angkasa bulan terbang bawa kabar ayo tidyr mimpi sama-sama.

Ini adalah tempat dimana kalian menyebutnya rumah, tempat dimana kita bertemu berpisah pada hari-hari makan nasi lauk rindu sayur tawa haus duka minum canda susu sari ilmu hingga kenyang sama-sama.

Penyakit Langka

Aku baru saja kembali dari sebuah negeri berwajah ayam. Lalu aku pergi ke dokter, katanya aku sedang mengidap penyakit langka yang sangat susah disembuhkan. Gejala penyakit yang kurasakan sangat aneh. Aku tak demam, tapi badanku memanas. Aku tak batuk, tapi tenggorokanku serak. Aku tak sakut gigi, tapi lidahku kelu. Aku berpikir, tapi pandangan mataku kosong. Aku lapar, tapi tak nafsu makan. Orang lain suka padaku, tapi ia tak bisa masuk hatiku. Yang lebih parah, dimataku, semuanya sebiru langit.

Ah, mungkin dokter itu benar. Aku sedang sakit masuk kangit. Satu-satunya obat adalah bertemu dengannya, denganmu Sora.

Jika Memang Harus Dua Kali


Sebelum kau membaca tulisanku ini, pahamilah dulu arti kata maaf.


Seperti yang telah aku katakan dulu kawan, maaf tak akan menyelesaikan masalah. Nah, sekarang kau menyadarinya sendiri, bukan? Kalaupun memang kau mengaku kalau aku dan kau telah berada di jalan yang sama, kau pasti sudah buta. Lihat jalan di depanmu dan teman seperjalananmu. Sayangnya dia bukan aku.
Maaf saja, aku tak akan mengulang kata-kataku dua kali.