Kamis, 17 Desember 2009

Kisah Seorang Pengamat

Dahulu kala, hidup seorang bernama Fir, yang tinggal di sebuah negeri bernama Saffron yang makmur dan tercukupi. Ia adalah seorang pemilik kedai minum yang memiliki pohon Periwinkle di depan kedainya sebagai penanda kedai miliknya. Di kedai itu, berbagai orang dari berbagai negeri berdatangan dan saling bertukar kabar. Dan ia dengan setia kadang menemani tamu-tamunya hingga malah larut.

Suatu ketika, ia merasa bosan mendengarkan kabar para pengelana yang datang kepadanya. Ia ingin pergi ke semua tempat, semua negeri yang pernah ia dengar keindahannya. Hingga suatu hari, datanglah seorang yang bernama Kronos yang mengaku berasal dari negeri yang bernama Chasovnik. Seseorang yang aneh itu menawarkan kebebasan kepadanya. Ia dapat bepergian ke semua negeri hingga antah berantah dengan bayaran jiwanya. Ia menyetujuinya, menukarkan jiwanya kepada Kronos, dan Kronos lalu memberikan sebuah emblem bernama Acorn, biji pohon oak, simbol keabadian dari negeri bernama Nordic.

Sejak saat itu, semua orang melupakan semua hal tentangnya. Bahkan sejarah tak pernah mengenal seseorang dengan nama Fir yang dulu mempunyai kedai dengan pohon Periwinkle di depannya sebagai penanda. Kedai minumannya berubah menjadi kedai minuman milik seseorang yang lain. Pohon Periwinkle di depan kedainya pun telah terganti dengan semak-semak Azalea. Ya, ia telah benar-benar menjadi seorang pengelana yang mengamati dan mengabarkan cerita dan dongeng kepada semua orang yang ia temui di berbagai negeri tanpa menjadi bagian dari cerita itu sendiri.

Hingga suatu ketika, bertahun-tahun lalu, ia datang kepadaku. Bercerita tentang berbagai negeri yang telah ia datangi. Ia merasa sangat renta untuk tetap berkelana. Ia telah lelah berjalan menapaki dan memunguti kata yang berserakan di jalanan di depannya untuk membangun sebuah kisah dongeng yang akan dikenang sepanjang masa. Lalu ia menawarkan padaku, emblem Acorn, biji pohon oak, simbol keabadian dari negeri bernama Nordic. Ah, terbesit keinginan untuk menolaknya tetapi tanganku akhirnya meraihnya. Mungkin aku tak tega melihatnya menua. Lagipula, ia sudah lama ingin pergi dan bercinta dengan waktu lagi. Sedangkan aku telah lama menantikan kisah pengelanaan untuk mencari langit dan kata-kata yang berserakan agar jadi kisah yang akan dikenang sepanjang masa.

Sejak pertemuanku dengannya itu, aku mulai berkelana, mengamati dan berkabar cerita kepada semua negeri yang kujumpai, juga mencari dimana langit berada, walau aku tahu, aku telah terhapus dari sejarah sejak saat aku menerima biji pohon oak itu.

3 komentar:

  1. terkagum denganmu aku nis...<> kamu adalah teman yang baik...

    BalasHapus
  2. teman yang baik yang akan dengan mudah terlupakan

    BalasHapus
  3. hahaha...

    tak tahu harus berkomentar pa..

    hahaha...

    selalu saja aku merasa ingin pergi bertualang..

    niz...
    kau selalu menulis apa-apa yang aku inginkan..

    BalasHapus