Jumat, 24 Desember 2010

Yang kusuka darimu

aku suka, caramu berdiri sambil menatap sesuatu, lalu berjalan lewat di depan mukaku. aku suka, caramu menatap sesuatu, lalu mengamatinya hingga semua detail tak terlewati. aku suka, caramu mengucapkan kata-kata hingga membentuk rangkaian cerita. aku suka, caramu memainkan pena, hingga goresannya terpatri dalam mataku. aku suka, caramu menghela napas, menghirup tembakau dari sela-sela jarimu.

aku suka, caramu memandangku, meski kau tak pernah berkata apapun kepadaku.

Rabu, 22 Desember 2010

Salahkah aku?

salahkah aku, jika aku tak memberi tahunya, bahwa aku telah lama mengamatimu? salahkah aku, jika aku tak bercerita kepadanya, bahwa aku telah lama menemukanmu? salahkah aku? perasaan ini begitu menyiksa. tapi, bukankah aku sudah berusaha untuk melupakanmu? tetapi tetap saja aku selalu teringat tentangmu. lagi-lagi, salahkah aku?

seperti malam ini, dan malam-malam sebelumnya, sudahkah aku memperlihatkan usahaku kepadamu? aku ingin membunuh bibit yang belum menjadi benih ini agar aku tak merasa kesusahan sendiri dengan perasaan ini. tapi tetap saja, aku merasa bahwa aku yang telah menemukanmu dulu. hanya saja, tak ada kesempatan untuk memberi tahumu akan hal ini. ya sudah lah, memang ini semua salahku.

Malam Tadi

Tadi malam, aku memimpikanmu, hei bayangan yang tak dapat terjangkau olehku. aku tak mengerti mengapa aku bisa memimpikanmu. sudah beberapa kali kau mampir dalam mimpiku. Ceritanya sungguh runtut sehingga aku heran mengapa bisa demikian. Ah, sebaiknya aku jangan sering-sering memimpikanmu.

Jumat, 17 Desember 2010

hitam putih

terpikirkan olehku ketika aku sampai pada titik balik pecapaianku saat ini. perasaan sesak menyeruak, masalah-masalah berserakan, bingung, mana dulu yang akan mulai dipikirkan untuk diselesaikan. aku membutuhkan orang-orang sepertinya, orang-orang yang hidup di dunia antara, jauh dari kemanusiawian tetapi tetap manusiawi. seandainya sejak awal aku menemukan banyak orang-orang sepertinya, mungkin aku akan merasa lebih ringan. mereka adalah orang-orang bijak kawan, aku ingin kau seperti mereka kawan. aku pun juga demikian. ingin menjadi orang-orang yang jauh dari kemanusiaan tetapi tetap manusiawi.

Senin, 13 Desember 2010

Malam yang Tidur

kawan, maafkan malam jika ia tak lagi mendengarkan ceritamu hari-hari terakhir ini. ia terlalu lelah karena ia telah menemaniku berhari-hari ini, melembur kerja rodi di bengkel kerjaku. kawan, maklum lah kepada malam jika ia tak lagi berkelana. ia telalu bosan melihat orang-orang yang berbeda akhir-akhir ini. kawan, mengertilah jika malam tak lagi memerhatikan huruf-huruf yang kau eja. ia terlalu bosan melihat tulisan akhir-akhir ini.

biaskanlah ia beristirah sejenak, barang melelapkan matanya agar terpejam, barang menutup telinganya agar tak mendengar. Mengertilah, ia hanya sedang lelah saja. bersabarlah, sebentar lagi ia akan tergugah dan menghampirimu, suatu saat.

Sabtu, 13 November 2010

Terlupakan kah?

sudahkah aku mulai melupakanmu, sora? sudahkah aku terlepas dari ikatan yang menjeratku sejak bertahun-tahun lalu, sora? sudahkah aku mulai melepaskan pikirku tentangmu, sora?

sepertinya memang demikian. aku mungkin sudah benar-bena rmelupakanmu, benar-benae melupakanmu seutuhnya. ketika aku menulis ini pun aku sudah mulai lupa tentang apa yang pernah aku tulis dulu. padahal dulu aku begitu fasih tentangmu. ketika tak seorangpun bertanya tentangmu, aku sama sekali tak mengingatmu. tapi tenang saja, setidaknya kau pernah menulis di buku tamu hatiku.

Terbiasa

aku selalu heran, mengapa mataku kini sudah mulai terbiasa mencari sosokmu di kegelapan, atau di kerumunan teman-temanmu. kadang merasa sudut bibirku miring beberapa senti, tersenyum tanpa ekspresi , atau sesak saat melihat bayanganmu. hei, aku mulai benci dengan diriku yang seperti ini.

seperti malam itu, aku tak pernah bermaksud mencarimu. tapi sudut mataku selalu menangkap kelebat bayanganmu. sudut bibirku miring 5 senti, menahan senyum yang tak sempat terekspresikan. kau dengan gayamu yang seperti langit, terdiam, entau kau melihatku atau tidak. ya, kau memang selalu diam, seperti langit. ya, mungkin karena kau yang mirip langit, aku mulai terbiasa kepadamu, terbiasa mencarimu, terbiasa tersenyum tanpa ekspresi.

hei, bolehkan aku mulai terbiasa padamu?

mimpi tentangmu (lagi)

lagi, sudah kukatakan kepadamu jangan pernah kau masuk dalam mimpiku lagi. apalagi kau membawa orang itu masuk dalam mimpiku. akus udah tahu, dan sudah lama memahami siapa aku dan kau. tapi mengapa kau tak mendengarkan kata-kataku?

sudah cukup, teman, selama ini aku cukup senang karena kau mau mampir. tapi lama-lama aku jadi muak denganmu dan orang itu. kupikir itu kemauanmu, tapi mungkin juga kemauanku mengundangmu. tapi bersama orang itu? kupikir aku sudah tahu dengan jelas, bahwa kini kau bersamanya. tak perlu diperjelas lagi. sudah cukup jelas bagiku.

Kau kini

bukannya aku ingin mengerecokimu, kawan. tapi aku ikut senang kini kau segera menemukan seseorang. tapi mengapa tak kau katakan kepadaku, bahwa kau sekarang ini siapa. aku tak begitu mengerti, hanya mencoba mengerti, menduga atau berprasangka. tak perlu kau pikirkan apakah benar adanya, tapi jalani saja apa yang telah kau mulai dan yang telah aku akhiri dengan paksa. tidak kah dirimu tau, kawan, aku mulai bosan. semua orang berpikir seperti apa yang aku pikirkan. maka beri kan aku kepastian.

bukannya aku ingin menuduhmu, atau memberondongimu dengan tuntutan penjelasan. hei, tapi bukan kah kita adalah teman semenjak kita saat itu. bagilah sedikit ceritamu kepadaku, agar aku bisa terus menulis sesuatu tentangmu. agh, lupakan saja, mungkin tulisan ini hanyalah luapan kekesalanku kepadamu selama ini.

Selasa, 19 Oktober 2010

Pelepasan 50%

Teman, kurasa sudah lama kita tak saling bertukar kata. Salahku sendiri sepertinya.

Lama tak kuceritakan kisahku, hingga suatu ketika kau menagih janjiku padamu. Janji yang tak bisa terpenuhi. Kau datang dalam kegalauan, menyapuku dengan ombak emosimu, menuduhku, menyudutkan pembelaanku. Baru setengahnya kau sampaikan, tapi telah membuatmu lega, bukan? Dan aku, aku siap jadi karang kapanpun kau datang bersama banjir yang membandang

Selasa, 05 Oktober 2010

Kebiasaan (deja vu)

Mungkin memang akan terulang seperti sebelum sebelumny, perasaan yang menyesakkan ini ingin kubuang jauh jauh. Tak ada cara lain selain melarikan diri seperti biasa. Teman selamanya akan tetap jadi teman. Tak bisa bersaing seperti ini. Aku akan mundur teratur. Aku cukup tau diri, teman.

Rabu, 29 September 2010

Hidup yang Biru

Rasanya sangat aneh, ini telah larut, langit di atasku berwarna merah muda, seperti permen kapas. Aku merasa lelah, aku jadi teringat tentang orang itu.

Aku bertemu dengannya beberapa minggu lalu, tak ada percakapan antara aku dan dia. Tapi aku merasakan sebuah ikatan yang terasa sangat menyesakkan. Mungkinkah hal ini akan jadi seperti kisah-kisahku sebelumnya?
aku tak tahu, dan tak ingin terlalu berharap. Tapi, bukankah kau akan merasakan perasaan bahagia ketika orang yang menarik perhatianmu saat itu tersenyum padamu padahal kau belum pernak berkenalan dengannya?

Pikiranku menjelajah, banyak kata0kata yang ingin ku tuliskan hingga menjadi kata-kata yang tak terhitung jumlahnya. Hari berganti dan hal yang begitu ku nanti ternyata hanya ilusi saja. Tapi kadang aku merasakan kebahagiaan kecil hanya dengan menatap sosoknya dari kejauhan, tersenyum kepada diri sendiri, senang karena hal-hal kecil yang menjadi kesamaan kami. Rasanya kali ini saja, biar aku merasakan sedikit hiburan diantara kebosananku ini.

Kamis, 23 September 2010

Ingin Menjawab

Beberapa malam lalu aku bermimpi tentangmu. Padahal akhir ini aku tak pernah bertemu denganmu, bahkan ingat padamu pun tidak. Lantas mengapa kali ini aku memimpikanmu?

Masih ingatkah kau pada pertanyaanku dulu, tentang arti kehadiranku untukmu? Malam itu aku bermimpi tentang kau yang ingin bicara, ingin menjawab pertanyaanku itu sepertinya. Aku penasaran tentang apa yang ingin kau ceriterakan. Tapi mimpiku itu tak pernah terselesaikan, dan kau juga tak pernah memberikan jawaban yang ku inginkan.

Kamis, 09 September 2010

Saat yang Telah Tiba

Bukankah sebuah kebetulan pula ketika kita mengadakan perjamuan kemarin lusa ditanggal yang hampir sama pula? Setahun yang lalu, kita sama-sama duduk di tempat kemarin, menatap rasi bintang scorpio di langit bulan September, sibuk menata pikiran tentang jalan yang akan kita tempuh saat ini. Langit penuh bintang, seolah mempermudah kita untuk menjelajahkan benak pada semesta yang luas. Saat itu , masing-masing dari kita tak menyangka cerita akan bergulir begitu cepat. Saat itu pula, hati, pikiran, dan cita-cita sedikit saja terurai menjadi kata-kata. Saat itu, apakah kau akan menyangkanya kawan, bahwa dua orang diantara kita atau bahkan lebih akan saling bergandengan tangan menautkan hati masing-masing hari ini? Apakah kau akan menyangkanya kawan, bahwa si pemimpi akhirnya mendapatkan jalan untuk menggapai mimpinya hari ini? Apakah kau akan menyangkanya akwan, bahwa saat ini kau tengah bercengkerama dengan sahabatmu yang belum kau dapatkan setahun lalu?

Hari-hari berlalu, hingga kita terdampar pada hari ini, hari dimana kita mengadakan perjamuan. Hari hujan, seolah langit terharu kepada pertemuan kita, juga sedih, karena tahu bahwa kita akan berpisah lagi. Sadarkah kalian? Begitu banyak hal yang kita lalui setahun ini. Dua orang diantara kita saling berjanji, menggenggam hati satu sama lain, atau bahkan ada yang telah mengembalikan hatinya pada tempatnya masing-masing. Si pemimpi mendapatkan jalan untuk meraih mimpinya, meski jalan yang dilaluinya berliku dan harus memutar satu kali. Para sahabat berkumpul, bercerita tentang hari-hari yag terlewati tanpa kehadiran masing-masing. Cerita-cerita dan bisik-bisik hati telah tersampaikan kepada si penginspirasi.

Kawan, ingatlah hari ini, hari dimana keluarga kertas kita berkumpul, meski kita telah memilih jalan masing-masing untuk dapat menggenggam bintang tujuan.


(part 2 of Jika Tiba Saat)

Percayalah (walau hanya setiik saja)

Tidakkah aku adalah orang yang dapat kau percaya?

Lantas, mengapa kau tak mau sedikit saja membagi ceritamu itu kepadaku? Kawan, bukankah kau telah mengatakan padaku dengan lantang bahwa aku dan kau adalah teman sampai akhir? Kau tahu, kawan, aku selalu saja iri kepada orang itu, seseorang yang selalu kau bagikan ceritamu padanya. Aku selalu ingin dapat mendengarkan ceritamu tentang dia. Tapi kau tak mau. Aku selalu berusaha agar kau dapat mempercayaiku barang hanya setitik saja. Tapi kau selalu menjawabnya dengan senyuman dan tatapan tersakiti. Adakah kau takut ceritamu itu akan menyakitiku? Tidak, tentu saja tidak, sedikitpun ceritamu itu tak akan membuatku merasa sakit. Nah, kawan, sedikit saja, cobalan untuk dapat memercayaiku mulai saat ini, dan bagikanlah ceritamu itu kepadaku.

Selasa, 07 September 2010

Bertemu denganmu

Mungkinkah, ketika kali ini aku bertemu denganmu,akankah aku masih mengharapkanmu? Mungkinkah, ketika aku bertemu denganmu, akankah aku telah bisa berhenti mengharapkanmu? Akankah aku dapat menatapmu tanpa perlu menahan perasaan yang tak sepantasny?

Mungkinkah, ketika kau bertemu denganku, akankah kau telah berhenti menggodaku? Mungkinkah, ketika kau bertemu denganku, akankah kau berhenti menatap mengharap? Akankah kau berhenti menebar senyum tak sepantasnya? Akankah kau berhenti berbicara seolah hanya ada aku dan kau saja?

Mungkin, kali ini aku yakin aku telah berhenti mengkhususkanmu, karena aku telah bertekad untuk berhenti. Tapi kau? Aku tak tahu. Mungkin kau malah tlah menemukan pengganti.

Minggu, 05 September 2010

Keluarga Kertas

Kemarin aku bertemu dengan teman-teman di sebuah kebun binatang. Teman berbagi kehidupan beberapa hari lalu. Rasanya sudah lama, terasa bertahun-tahun lamanya aku tak bertemu mereka. Kurasa tak cukup rasanya bercengkerama hanya dua jam saja. Rindu ini belum seluruhnya tersampaikan pada mereka. Waktu tak cukup, karena masing-masing punya acara. Tapi tenang saja, sebentar lagi ada pertemuan besar. Pertemuan para anggota keluarga kertas.

Jumat, 27 Agustus 2010

Duniaku yang Baru

Inilah duniaku yang baru, sesaat setelah aku berpindah dimensi. Dunia yang dipenuhi sosok-sosok yang mudah terbaca, juga sosok yang sulit pula untuk dibaca.
Inilah duniaku yang baru, dunia yang dipimpin oleh gejolak menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Dimana teriak-teriak lantang tak cukup hanya untuk didengarkan.
Inilah duniaku yang baru, dunia yang penuh akan cinta dan ketertarikan di atmosfer. Dimana tak cukup hanya cinta segitiga atau segiempat, tapi sampai sisi-sisiny tak terlihat. Dimana cinta melingkari setiap awak laskar.
Inilah duniaku yang baru, dunia yang tak bisa kudikte, tak bisa kuatur alurny. Dunia yang merdeka berdaulat atas masing-masing cerita.
Inilah duniaku yang baru, penuh persaingan pertempuran sesama teman. Dunia yang selalu bergejolak oleh cemburu yang mencemari bagai bara yang terhujani.

Ya, inilah duniaku. Dan aku masih tetap jadi orang yang sama. Seorang pengamat dan aku hanyalah si pencerita.

Senin, 09 Agustus 2010

Saat Membereskan Semuanya

Suatu pagi yang aneh.
Kuputuskan untuk membereskan hatiku. Kukumpulkan surat-surat tentangmu, juga gambarmu yg berserakan di lantai hatiku. Ku bungkus kertas-kertas bertuliskan tentangmu di dalam plastik duka. Aku mungkin sedang terhipnotis atau apa, tapi aku benar- benar melakukannya.

Ku bawa semua hal tentangmu juga masa lalu milik aku dan kau keluar, keluar jauh-jauh dari hatiku. Demi awan dan pepohonan yang menjadi saksiku, kubakar habis semua tentangmu, sora. Biarlah semuanya mendebu. Maaf, maaf, tapi aku telah bertekad untuk segera membereskan hatiku, sebelum semua hal tentangmu membusuk dan meninggalkan baumu. Aku mungkin mati rasa atau apa, tapi sungguh, aku tak lagi merasakan perasaan yg menyesakkan.

Kau mungkin tak peduli dan tak mau peduli, jika aku benar-benar telah membereskan hatiku.

Jumat, 06 Agustus 2010

Ingin Menghilang

Malam yang asing. Bintang mulai meredup di atas kabut malam yang mengambang di angkasa. Bulan belum juga muncul, kesiangan rupanya.

Aku kini meraba goresanmu di hatiku, menyesapi perlahan rasa sakit yang terceriterakan. Aku kini tergagap mencari cahaya dari lubang yang kau pergunakan untuk merangsek masuk, ingin kututupi dengan anyaman kertas bertuliskan tentangmu.

Bahkan mengingatmu tak bisa kurang dari 1 detik, sedang melupakanmu tak bisa segera tertuntaskan.

Rabu, 04 Agustus 2010

Terbawa Mimpi

Sora, lagi-lagi kau membuatku kembali merindukanmu, padahal aku tlah bertekad untuk berhenti mengharapkanmu.

Lagi-lagi kau menemuiku dalam mimpi yg aneh. Kau mempermainkanku seperti biasanya, membuatku tertawa hingga menangis. Kau hanya tak mengerti, sudah lama aku tak memimpikanmu. Aku heran, mengapa aku memimpikanmu? Adakah rinduku padamu tlah meluap hingga membanjiri mimpiku? Atau adakah kau sedikit ingat padaku di malam yang aneh? Aku tak yakin yang mana alasannya. Hanya saja, aku senang bisa memimpikanmu padahal aku bukan pengatur mimpi

Sabtu, 31 Juli 2010

Hanya Ingin Menyendiri

Akhirnya kau mau menjawab pertanyaanku. Betapa leganya pikirku mengetahui jawabmu. Kau tak marah padaku. Aku terlalu lega hingga tak tau aku harus bagaimana. Kau membuat segalanya tercerahkan.

Akhirnya aku tau alasanmu berdiam diri seperti itu. Katamu kau hanya sedang ingin menyendiri, bukan? Aku tak tau mengapa kau menginginkan demikian. Aku terlalu takut untuk menanyakanny kepadamu. Tapi aku siap jika kau ingin mengajakku berdiskusi tentang segala kegundahanmu.

Jumat, 30 Juli 2010

Katakan Saja Semuanya padaku

Mungkinkah, lagi-lagi kau marah padaku, mendiamkanku, membenciku, tak mengacuhkanku seperti dulu kau pernah melakukannya kepadaku?

Membayangkannya saja aku tak mau, apalagi jikalau kau benar-benar melakukannya. Aku ingin bertanya kepadamu. Tapi aku takut kau akan mengjawabnya dengan diammu, seolah kau mogok untuk bicara padaku. Katakanlah, bila kau memang marah padaku atas yang kau lakukan tempo hari. Katakanlah secara jantan padaku. Dengan begitu aku mengerti apa salahku. Aku telah memberikan pembelaanku padamu. Masihkah kau akan marah padaku,kawan?

Kamis, 29 Juli 2010

Jawaban atas Mimpiku

Aku baru tahu beberapa detik lalu tentang jawaban mengapa kau sering sekali mampir di dalam mimpi-mimpiku. Bukankah sebenarnya kau ingin mengucapkan salam perpisahan kepadaku? Lantas, mengapa tak kau katakan langsung saja kepadaku? Carilah waktu, agar kau bisa membicarakannya kepadaku. Aku kan berbahagia atas pencapainmu.

Aku telah belajar untuk mengenangmu sebagai teman sejak hari itu. Meski kadang aku merasa harapan-harapan yang melambung atas apa yang ia katakan. Tapi tenang saja, ketika kau mengajakku untuk membincangkan pencapaian dan salam perpisahan, saat itu aku akan siap hadir dalam jamuan yang kau buat. Tantu saja sebagai seseorang yang bisa kau banggakan sebagai teman.

Jumat, 23 Juli 2010

Konverensi

Kapan ya terakhir kali aku membicarakanmu dengan orang lain? Jawabanny tak pernah. Ya, aku memang tak pernah membicarakan tentangmu kepada orang lain hingga hari ini. Bukannya aku tak mau membicarakanmu, takut atau pun trauma kepadamu. Tidak, aku tidak takut juga trauma. Bukannya aku tak ingin mengingatmu atau apa, tapi sungguh aku sudah lupa pada detail-detail terkecil tentangmu. Aku tak ingat lagi bagaimana gambaran wajahmu. Aku tak ingat lagi pada suaramu. Aku tak ingat lagi pada nomor teleponmu, sudah ku hapus mungkin. Aku tak ingat lagi pada apa yang telah kita lalui bersama diantara sambungan telepon tak berkabel. Kejam kah aku? Mungkin saja. Tapi aku masih ingat namamu. Sepatah namamu.

Selasa, 20 Juli 2010

Pembiasaan (pada Perjumpaan dan Perpisahan)

Menghitung hari-hari yang tersisa. Menghitung jam,menit-menit,dan detik-detik yang terurai tanpa jadi makna. Menghitung waktu yang tak lagi bisa terlewati bersama.

Aku sudah kenyang pada perjumpaan,juga pada perpisahan. Aku tlah terbiasa,orang-orang lalu lalang mengajakku menuliskan cerita lantas pergi begitu saja,tanpa mengucap salam. Ya,aku tlah terbiasa. Bahkan ketika kini kau pergi tanpa berkata kepadaku pun aku akan segera terbiasa. Terbiasa tanpamu.

Minggu, 18 Juli 2010

Pembalasan

Maaf teman,kalau pada akhirnya aku memilih bercerita kepada awan,juga kepada petugas kebun binatang.

Aku ingin menitipkan kenangan antara aku dan kau itu kepada mereka. Agar aku bisa melupakannya. Melupakanmu kalau kau telah mengkhianati apa yang telah kita ucapkan di menara gou.

Siapa aku?

Bukankah kau tak tahu sepenuhny tentangku? Ya,kau tak cukup lama untuk mengenalku. Aku adalah seorang aktor,jebolan sekolah seni tak berlisensi. Aku adalah seorang penulis,jebolan institut negeri tak terkenal. Aku adalah aktor yang mampu menulis cerita,memerankannya,membuatmu ikut menangis,tertawa,marah,terdiam,heran,terpekur,terhenyak,kaget. Tak ada aktor sehebat aku,yang mampu memerankan protagonis dan antagonis dalam satu panggung pementasan yang sama. Dan kau adalah penontonnya. Penonton yang terbuai oleh alur cerita yang kureka.

Karena kau tak tahu tentangku,tak perlu mencari tahu,maka nikmatilah pementasan ini sampai akhir.

Jumat, 16 Juli 2010

Memonopolimu

Apa yang kau ketahui tentang apa yang kurasakan?
Tak ada. Bahkan kau tak tahu aku begitu bahagia bisa menatapmu,meski kau tak mengajakku berbicara. Kau bahkan tak tahu, aku begitu tersanjung,ketika kau melemparkan candaan tak bermutu. Tapi tolong,jangan bawa dia,ketika kau sedang bersamaku. Jangan bicarakan dia,ketika kau duduk berhadap-hadapan denganku. Tatap aku, bicaralah padaku, bicaralah tentangmu, bukan tentang dia, tersenyumlah padaku, pikirkan aku saja.

Ah,kenapa sekarang aku begitu egois?

Rabu, 14 Juli 2010

Kejahatanku Kali Ini

Apakah aku jahat? Apakah aku kejam?
Kupikir apa yang kulakukan ini keterlaluan,terlalu berlebihan. Ku akui,mungkin aku jahat,mungkin aku kejam. Karena membiarkan diriku tak henti-hentiny menggodamu. Aku mungkin saja bisa menghentikan permainan ini,tapi entah mengapa,kali ini aku ingin berbuat jahat. Aku ingin melihatmu terdiam memikirkan kata-kata balasan untukku. Aku inin melihatmu tersenyum tertahan dengan wajah memerah yang kau palingkan dariku. Aku ingin melihatmu tergagap kehabisan kata-kata untuk membalasku.

Apakah aku jahat? Apakah aku kejam? Maaf saja kalau aku memang jahat.

Rabu, 07 Juli 2010

Surat dari Langit

Malam yang aneh. KUpikir aku baru saja bermimpi ketika aku melihat suratmu itu. Aku tak menyangka, kau mau membalasnya juga, Sora. Tapi aku tak begitu yakin akan suratmu, jadi maaf saja kalau aku tidur dulu.

Tapi paginya, aku membaca suratmu itu lagi. Sora, benarkah kau sungguh-sungguh tak ingat kepadaku, juga kepada tempat kita pertama bertemu? Sungguhkah? Kau bilang kau sungguh tak ingat. Ya, aku mengerti. Enam tahun ini pasti telah membuatmu melupakan aku dan semua hal yang aku jaga hingga sekarang. Aku mengerti, kau telah memilih orang lain. Ya, aku mengerti.

Terimakasih, karena kau telah membalas suratku. Kali ini, mungkin aku bisa pastikan kepadamu, bahwa aku telah benar-benar mati di tempat dulu kita bertemu bertahun-tahun lali. Kali ini, biarkan kloningku saja yang meneruskan hidupku.

Sang Pemimpi

Ini bukan kisah dramatis yang ditulis oleh Andrea Hirata, juga bukan tentang kisah heroik layaknya perfilman dunia. Ini hanyalah sebuah kisah tentang seorang pemimpi yang telah lama bermimpi.

Dahulu, ia dan teman-teman pemimpinya sama-sama menggantungkan mimpi-mimpi mereka di langit, kadang hingga ke bintang. Mereka berandai-andai tentang hal-hal yang akan mereka temui saat mendaki menuju mimpi mereka dan apa yang akan mereka lakukan jika telah menggenggamnya. Dunia mulai bergeser, meninggalkan mereka dan mimpi-mimpi mereka. Satu-satu para pemimpi itu berhenti, melepas mimpi, meski kadang terbayang akannya. Meski demikian, ia tetap membukin rencana pergi menejar mimpi yang ia gantung di langit.

Ia mulai belajar memanjat pohon, membuat tangga dari bilah-bilah bambu, membuat layang-layang, membuat roket, tapi tak satupun yang berhasil. Lalu ia mendengar tentang sebuah gunung yang tingginya melebihi langit. Ia lalu pergi berkelana menuju negeri tempat gunung itu berada. Ia bertemu banyak orang. Orang-orang yang menganggapnya bodoh. Orang-orang yang mengganggapnya terus bermimpi. Orang-orang yang menganggapnya gila. Tapi ia tidak mengeluh, dan tetap berkelana.

Suatu hari, makhluk langit yang mendengar tentang kisahnya mulai merasa kasihan kepadanya. Makhluk-makhluk langit itu menurunkan tangga langit. Ia ingin sekali menaiki tangga itu, dengan begitu ia akan semakin dekat dengan mimpinya. Tapi ketika ia hendak meraihnya, ia teringat akan kutukan-kutukan seumur hidup yang akan ia terima dari tempat ia berasal. Maka dengan berat hati, ia melepaskan tangga itu. Ia pun meneruskan perjalanan, meski dengan hati yang tercabik-cabik. Ia terus berjalan, berkelana, kadang kelaparan, kadang kehausan, kadang terasa hampir membuatnya mati. Tapi ia tak mengeluh, tak menangir, karena ia menyimpan tangisnya untuk saat-saat ia menggenggam mimpinya. Ia bertekad, saat ia melepas tangga langit itu, saat itulah ia semakin ingin segera menggenggam mimpinya.

Semakin hari, ia semakin dekat dengan gunung yang harus ia daki. Ia bertemu banyak orang. Orang-orang yang mendukungnya tapi tak pernah memahami. Orang-orang yang mencibir, ia tak akan berhasil. Orang-orang yang hanya menatapnya, setengah kasihan, setengah mencemooh. Tapi ia tak peduli, tak mendengarkan, tak memikirkan, hanya satu hal, ia ingin segera mengenggam mimpinya itu.

Entah saat itu tahun berapa, tapi akhirnya ia sampai di sana. Ia telah merampungkan pendakiannya, perjalanannya. Dan sekarang ia tak menangis, tak mengeluh, tak berkata-kata. Hanya saja ia tersenyum kepada seorang teman lama yang sama-sama bermimpi dulu. Kali ini mereka telah menggenggam mimpi mereka erat.

Ini bukan kisah tentang bagaimana bermimpi yang baik dan benar. Hanya saja, ini adalah kisah tentang para pemimpi yang gigih berusaha menggenggam mimpinya. Tak perlu takut bermimpi, tak perlu takut tak akan tercapai. Teruslah bermimpi dan teruslah berjalan untuk mengenggamnya kembali, meski harus tertatih.

Rabu, 30 Juni 2010

Mengirim Pesan kepada Langit

Hari ini mungkin aku sedang gila atau apa. Tapi kau tak akan pernah menyangkanya, bahwa aku akan berani mengirimkan pesan kepadanya, kepada langit. Bulan sudah hampir tua, dan mungkin hal itu yang membuatku bertindak gila. Ya, hari ini kuputuskan untuk mengirimkan surat kepada langit. Surat merah jambu, yang sama sekali tak berbau wangi parfum perancis. Apakah langit akan terkejut? Apakah ia akan mengingatku lagi? Ya, mungkin saja. Tapi untuk membalas apa yang tertuliskan di dalam surat itu? Kurasa aku tak yakin. Aku hanya ingin langit tahu saja, bahwa selama ini aku masih terpasung pada masa laluku, padanya, pada langit. Aku ingin ia tahu, perasaan ini begitu menyakitkan, hingga sulit untuk dituliskan di atas kertas. Tapi, tak apa lah. Aku sudah mengirimkan surat itu kepadanya. Dan tinggal menunggu saja balasan darinya.

Berhentilah (ketika kau memilih diam)

Berhentilah untuk mengobrak-abrik pikiranku. Berhentilah untuk mengacaukan diriku. Kau tak akan pernah bisa memusnahkan segel dalam hatiku.
Berhentilah bersikap penuh masalah dan tanda tanya. Berhentilah bersikap acuh pada kekawatiranku. Kau tak akan pernah bisa membuatku berhenti bertanya.

Kali ini meski kau tak bisa menghancurkan segel itu, aku tak akan membiarkanmu masuk lebih dari ini. Sudah cukup, kalau kau memang benar-benar memilih diam.

Rabu, 23 Juni 2010

Yang Tersisa Kini (tentang milikku dan milikmu)

Kupikir, satu-satunya hal yang aku dan kau miliki adalah sebuah cerita. Cerita yang kupercaya hanya aku dan kau saja yang tahu, tak seorangpun tahu dan tak seorangpun akan tahu.
Kupikir, satu satu-satunya hal yang aku dan kau jaga adalah sebuah janji. Janji yang kupercaya akan aku dan kau pegang tegus, tak ada keraguan hanya untuk melepasnya dan tak akan ada keraguan hanya untuk melepasnya.
Tapi aku baru sadar. Kali ini cerita itu telah jadi dongeng yang akan selalu diveritakan turun temurun dan janji itu pun telah jadi udara yang menguap, sulit untuk kembali tergenggam.

Lantas, kali ini apa yang masih tersisa untuk aku dan kau miliki kembali?

Surat Sewarna Darah yang Kuterima Tempo Dulu

Malam hampir sampai pada puncaknya, tapi bumi telah lama tertidur, mendengkur, getarannya tersampaikan padaku yang masih terjaga, merana mengingat relung-relung yang sering bertambah sakit akhir-akhir ini. Aku kembali teringat pada surat pertama yang kau alamatkan padaku bertahun-tahun lalu. Isinya begitu basah, oleh darah yang penuh dengan rayuan yang janggal. Masih kusimpan surat itu. Kau mungkin sudah lupa karena kau memang benar-benar lupa, bukan? Aku masih ingat dulu ketika aku menerimanya. Terlampau bahagia, seperti gadis muda yang menerima undangan makan malam bersama lilin-lilin aroma terapi. Itu dulu, kali ini ketika aku membuka surat itu, yang ada hanyalah perasaan pedih seperti pisau yang menyayat ujung jari, terlalu pedih, hingga aku tak sanggup merasakan sakitnya.

Tapi kali ini aku akan membiarkanmu untuk melakukan apapun sesuai yang kau inginkan karena kali ini aku akan mencoba untuk tak begitu peduli lagi.

Selasa, 08 Juni 2010

Ketika Aku Ingin Bertanya

Aku selalu ingin kita menyusun waktu agar kau mau jujur kepadaku tentang apa yang kau rasakan kepadaku, kepada orang-orang, agar aku dapat mengenalimu suatu saat nanti ketika kita telah lama berpisah. Aku selalu terpikir ketika melihatmu aku telah bertekad untuk menanyakan kepadamu, tapi selalu saja tekad itu menciut ketika aku melihat senyummu itu.

Semua orang sering mendatangiku dan bertanya kepadaku tentang dirimu dan aku. Tapi aku tak bisa menjawabnya, terpatah-patah, karena aku memang sama sekali tak tahu apa-apa tentang kita. Mungkinkah aku temanmu? Tentu saja demikian, dan merekapun juga temanmu. Kau tahu, suatu hari Hime menanyakan hal sama kepadaku. Dan seperti sebelum-sebelumnya, aku sama sekali tak mengerti tentang bagaimana kita menamai ikatan diantara kita.

Aku selalu berpikir kau pasti menganggapku berbeda, tapi bahkan kau mau bercerita kepadaku tentang wanita-wanita yang kau cintai itu. Kau hanya tak mengerti saja bahwa aku begitu ingin menanyakan hal ini kepadamu. Aku tahu, Hime berbeda, ia yang mengatakannya kepadaku. Kau mempertaruhkan kejujuran kepadanya dan ia menjaganya. Tapi bagaimana denganku? Bahkan kau tak suka membicarakan kejujuranmu itu kepadaku. Hanya menebar kata-kata yang sebenarnya tak kumengerti tapi terpaksa ku jawab sebisaku.

Aku selalu takut menanyakannya kepadaku, bukan takut akan jawabanmu, tapi aku takut tak bisa berkata-kata setelah kau mengatakan jawabannya kepadaku. Tapi aku akan berkeras hati dan suatu saat kita akan datang ke tempat yang kelah kita janjikan untuk mengurai benang itu satu-satu. Lalu kita bisa tertawa seperti hari-hari yang telah kita lewati berwama, tapi akan terasa lebih melegakan bagimu dan aku sendiri.

Senin, 07 Juni 2010

Menunggu

Hari ini aku ingat tentangmu. Orang yang selama satu sore membuatku menunggu di sebuah persimpangan, di tempat dimana aku bisa menunggu senja tenggelam, tempat dimana aku bisa menyaksikan lampu-lampu jalanan mulai menyala.

Ya, aku menunggumu bersama senja dan lalu lalang lalu lintas, mempertaruhkan kepulanganku. Aku menatap jam, detik-detik yang terlewati, juga menulisnya jadi kata-kata. Bunga sakura di seberang sana telah mekar, tinggal menunggu gugurnya saja. Waktu berlalu, dan temanmu itu telah berjanji akan membawakan buah tangan bila mana kau dan temanmu itu datang. Lama sekali aku menunggu tapi aku tak segera ingin pulang, seolah percaya kau akan datang entah kapan.

Seolah ingin terlihat memesona, akhirnya kau datang, bersama dua orang temanmu itu. Seperti janji temanmu itu, kau membawakanku buah tangan, sebuah apel merah. Aku sudah lapar, tapi tak memakannnya. Aku diam, sedikit marah karena kau tak segera datang. Tadi kau menggodaku, membuatku tertawa dan melupakan marahku padamu. Dan seperti janji temanmu, kau menemaniku menyusuri jalan pulang.

Jumat, 04 Juni 2010

The Girl in the Gossip

Just closed your ears, baby
Don't listen to the people said
It's only about nothing
Don't be worried
It's only a gossip, a gossip, a gossip

Just closed your eyes, baby
Don't see what the people see
It's only about nothing
Don't be worried
It's only a gossip, a gossip, a gossip

People are talking about you
Like you are the star one
But don't be afraid
I'm here to hold you tight

Just made it easy, baby
Don't mind whatever people said
It's only about nothing
Don't be worried
It's only a gossip, a gossip, a gossip

Si Penambang Emas

Sudahlah, kali ini ikutilah kakakmu itu pergi ke pertambangan. Meninggalkan kerajaan faery. Aku tak peduli kalau kau pergi begitu saja. Toh, semua Leraar telah tahu dan mereka diam saja. Maka mengapa aku harus mempermasalahkannya.

Sudahlah, aku tak mengeri, mengapa kau memilih pergi ke pertambangan. Mencari emas kah? Atau bijih tembaga? Kau terlalu membuang waktumu berada di tempat ini. Kanapa kau tak pergi sejak dulu. Ah, aku baru ingat, tahun ini kau baru lulus dari akademi. Lantas, bagaimana dengan Leraar. Tak kan ada orang sepertimu setelah kakakmu yang dulu pergi.

Rabu, 02 Juni 2010

Menjadi Bijak

Ketika aku berkembara melewati savana lalu sampai di sebuah lembah dengan padang rumput, aku bertemu dengan seorang laki-laki tua yang duduk si bawah sebuah kanopi. Ia mengundangku untuk beristirah sejenak. Ia bertanya mengapa aku sampai ke tempat seperti ini. Aku lalu bercerita kepadanya, tentang langit, matahari, dan orang-orang yang kutemui dipengembaraanku mencari langit.

Ia tersenyum, laki-laki tua itu. Ia berkata kepadaku agar aku menjadi lebih bijak. Kadang pencarian selalu berujung kepada kekecewaan. Akan lebih bijak bila aku terus berkelana bukan untuk mencari, tetapi untuk menemukan. Aku terdiam dan laki-laki itu tertawa rendah sambil menawarkan tempatnya berada agar ia bisa menggantikanku berkelana. Tapi aku menolak, aku tak mau menunggu, aku akan berkelana untuk menemukan. Laki-laki tua itu tersenyum, dan membiarkanku pergi.

Meminta Welas Asih

Berhentilah memohon padaku agar aku mau membantumu, kawan. Kau tak pernah mengerti. Aku tak akan pernah bisa membantumu dengan permohonanmu itu. Kau bilang, beri dia welas asih, agar ia bisa bahagia kali ini. Tapi aku bukan BUdha atau Dewi Kwan Im yang akan memberimu welas asih. Aku ingin melihatnya bahagia. Tapi aku tak mungkin memberinya welas asih karena pada akhirnya ia akan berhutang padaku.

Cara untuk Terbang

Aku ingin mengatakan kepadamu agar kau membiarkannya untuk menemukan bagaimana cara untuk terbang. Kau tak bisa terus membantunya berjalan. Kau tak bisa terus membantunya mencoba untuk berlari. Kau tak bisa terus membantunya mencoba terbang. Biarkanlah ia menemukan caranya sendiri. Ini bukan tentang bagaimana ia bisa. Tapi ini mengenai caranya sendiri. Kau tahu itu. Maka berhentilah menatihnya berlari.

Biarkanlah ia menemukan caranya terbang hingga ia bisa sampai di tempatku saat ini.

Sabtu, 29 Mei 2010

Your Time

It is the time for you to let me know
What's the meaning of your smile
Let me stay here to pretend us

It is the time for you to let me know
What's the meaning of your word
Let me understand to let it go

It is the time for you to let them know
What's the meaning of our relation
Let them think to me it known

I'm here, She's in your side now
I smile, but I'm cryin' inside
I know, this kind of feeling make a big pain

It is the time for me to let you know
I'm the best friend that you have
Let me stay here, to see your happiness

Jumat, 28 Mei 2010

Fairy Tale

When I was a child, my grandma tell me a story
One upon a time, the prince looked for a girl
A girl who left her shoe in the stairs
The prince met the girl who left her shoe
Cinderella found her prince

When I was a child, my grandma tell me a story
One upon a time, the prince looked for a girl
A girl who ate an apple from the witch
The prince kissed the girl who fall asleep
Snow white found her prince

But It's not a story, It's not a fairy tale
It is real, You are the prince, and she is the girl that you look for
And I just no one, the girl that always dream she will meet her prince

When I was a child, my grandma tell me a story
One upon a time, the cursed prince arrested a girl
A girl whos father stole the red rose
The prince and the girl broke the fairy curse
Bella found her prince

But It's not a story, It's not a fairy tale
It is real, You are the prince, and she is the girl that you look for
And I just no one, the girl that always dream she will meet her prince

Kisah Penyihir Bintang Jatuh

Ada banyak kerajaan dan negeri di jagad raya ini. Kebanyakan terlampau jauh bagi manusia untuk mengunjunginya. Hanya saja, hal ini mudah saja bagi bangsa-bangsa tertentu. Di sebuah bintang bernama Castur dari rasi bintang Gemini, hiduplah para pengelana bintang yang menaiki sapu terbang untuk mengelana di angkasa.

Suatu ketika mereka berkunjung ke Bumi, mereka yang terbang dengan sapu terbang akan terlihat seperti bintang jatuh bagi manusia. Dan mereka adalah penyihir yang keji. Penyihir laki-laki yang sangat licik dan satu-satunya bangsa yang bisa mengubah hati manusia menjadi hati blanc. Tentu saja mereka mempunyai hati, hati hitam pekat, hati noir. Mereka, entah bagaimana, menciptakan alchemi dan ramuan agar mereka tetap bisa bertahan hidup, meski hati mereka satu-satunya tercuri atau hancur. Dan mereka, senang akan hati manusia yang berwarna-warni.

Suatu ketika, musim panas dengan langit malam yang menakjubkan, sekelompk bintang jatuh melesat melintasi malam yang sunyi. Salah satunya jatuh di dekat pondok di pinggir negeri Bassam. Sesosok penyihir laki-laki muncul di tengah kerlip serbuk bintang yang berkilauan disertai bunyi kacling, bunyi bintang jatuh. Penyihir laki-laki inu bisa merasakan kekuatan hati yang behat, datang dari pondok yang menyala di depannya.

Suatu pagi, penyihir laki-laki itu datang ke pondok itu lagi. Ia masuk dan menemukan seorang wanita yangterduduk di sebuah kursi goyang di depan jendela besar yang menghadap ke padang rumput dengan latar belakang langit musim panas. Penyihir laki-laki itu busa melihat hati sewarna langit milik wanita itu, yang entang mengapa terkunci diantara rantai emas. Entah mengapa apa yang membuatnya tergetar, tapi ia merasakannya, gemuruh dan perasaan asing yang mengaburkan akalnya, perasaan yang terlarang bagi bangsanya.

Sejak saat itu, penyihir laki-laki itu datang menemui wanita itu. Berusaha membuat wanita itu tergerak untuk hendak menatapnya. Tapi usahanya memang sia-sia, wanita itu tak pernah bergeran dari tempatnya, seperti boneka yang bernapas dan hidup. Ia tak pernah berkata apa-apa, hanya menatap padang rumput berlatar langit musim panas, seolah menunggu sesuatu, seseorang.

Suatu hari penyihir laki-laki itu kembali ke pondok itu ketika senja hampir menyingsing. Ia menggenggam hati noirnya, hati hitam yang dimiliki semua penyihir laki-laki dari bangsanya. Ia telah tahu kisah wanita itu dari seorang temanya. Hari itu hari terakhir ia berada di bumi. Dan ketika rasi bintang salib selatan muncul, ia harus pergi, berkelana lagi. I atelah menetapkan hati untuk memberikan hati blanc kepada wanita itu. Meski tahu, setelah wanita itu mendapatkan blanc, ia akan kembali ke negerinya, dan itu berarti, penyihir laki-laki itu tak dapat terus mencintainya, karena adalah sebuah dosa apabila ia yang seorang berhati noir mencintai seseorang berhati blanc.

Penyihir laki-laki itu menawarkan diri untuk mengubah hati langit wanita itu dengan syarat wanita itu mau berhenti dalam penantiannya, agar wanita itu mau menatapnya untuk terakhir kalinya. Tapi wanita itu tetap tak bergeming, tetap diam, menatap semburat oranye di batas cakrawala. Penyihir laki-laki itu menyerah, lalu pergi untuk selamanya.

Bertahun-tahun setelahnya, penyihir laki-laki itu kembali ke pondok itu dan menemukan sebuah kristal berwarna langit dengan sebuah surat.

Aku tahu, aku berdosa telah mencintaimu, wahai pemilik hati noir. Maka biarkan aku menjadi debu langit dan melihatmu kembali bersama putri Andromeda.

Penyihir laki-laki itu tak menangis, meski hatinya terasa sakit. Ia keluar dari pondok itu, mengajak putri Andromeda yang menunggunya, untuk kembali mengarungi angkasa bersamanya

Rabu, 26 Mei 2010

The Night Party

Let's meet under the moon light
The stars are waiting us
Listen to the night rhythm
And we can start to dance together

Let's meet under the stars light
The moon are waiting us
Listen to the night beat
And we can start to dance together

The Moon sing and the stars dance,
The song resound and the rhythm beat,
Let's keep jump and step,
'till the sun rise, my friend

Let's meet under the sky high
The sky are waiting us
Listen to the night jingle
And we can start to dance together

The Moon sing and the stars dance,
The song resound and the rhythm beat,
Let's keep jump and step,
'till the sun rise, my friend

Bertanya tentang Arti

Aku selalu ingin bertanya kepadamu tentang keresahan yang selalu membuatku tak nyaman. Aku selalu ingin mengajakmu menyendiri, menjauh dari mereka, orang-orang yang tak mau mengerti, agar kita berdua bisa membicarakannya dengan leluasa. Aku selalu ingin kata-kataku ini tersampaikan dengan benar agar kau tak salah mengerti. Aku selalu ingin mendengarmu berkata jujur, tanpa harus berbohong padaku kali ini.

Apakah arti kehadiranku bagimu?

Senin, 24 Mei 2010

Insomnia

It is almost midnight
But I can't fall asleep
It is raining outside
Make me remember you

It is almost midnight
But I can't close my eyes
It is cold ourside
Make me think about you


It's so hard
Trying forget you
Like a beat
So paining inside
Make me mad
Move my memory


It is almost midnight
I stop to try it done
It is raining outside
I'll meet you in my dream

Hujan

Aku tak pernah mengerti tapi hujan selalu membuatku ingin menulis. Terlalu banyak hal yang membuatku ingin menulis.

HUjan selalu mengingatkanku kepada Sora. Saat nertemu dengannya pun malamnya hujan seperti kali ini. Saat aku bisa melihatnya dari balik teralis jendela pun hujan seperti kali ini. Saat tahu ia akan pergi pun hujan seperti kali ini. Saat pertama kali aku menemukannya di jaring-jaring yang telah berkarat pun hujan seperti kali ini.

HUjan selalu bisa mengingatkakku kepada Sora, kepada aroma rumah yang talan ia tinggalkan, aromanya.

Sabtu, 22 Mei 2010

Happily Never After

Please sing a song for me tonight
And let me fall asleep in you lullaby
I'll meet you in my dream world
Hope I'll never wake up and feel it will be happily ever after

Please sing a song for me tonight
And let me dance with the King of the Night
I'll invite you in stars party
Hope I'll never come back and feel it will be happily ever after


Let me stay here for a while, beside you place now
I'll make it clear, make it seen
I'm you friend
It's not a fairy tale and it won't be happily ever after for us

Selasa, 18 Mei 2010

Kisah Ksatria Langit yang Jatuh ke Bumi

Dahulu kala, di langit terdapat sebuah kerajaan, tempat para makhluk tingkat atas mengatur harmoni di bumi. Tempat bagi bangsa bertopi kerucut, bangsa raksasa, bangsa perti bertelinga runcing, bangsa bidadari. Manusia diciptakan dengan sebuah hati berwarna, sesuai dengan berkat sejak lahit, dan manusia akan mati jika mereka kehilangan hatinya. Tapi, makhluk tingkat atas berbeda, mereka punya hati blanc, hati sebening kristal, yang tak boleh berubah warna. Pemilik hati blanc yang berubah warna harus memberikan hatinya kepada orang yang telah membuat hati blanc berubah warna atau dihancurkan dengan hukuman ia akan diturunkan ke bumi. menjadi manusia sampai ia mendapatkan blanc kembali

Cerita dimulai ketika, seorang ksatria langit diturunkan ke bumi karena telah jatuh cinta kepada sesama makhluk tingkat atas. Hatinya dihancurkan, diganti dengan hati sewarna langit. Ia mengembara, mencari blanc. Tentu saja hal itu tak mudah, hati blanc hanya dimiliki oleh makhluk tingkat atas. Sedang manusia tak akan pernah bisa melakukan kontak dengan makhluk tingkat atas, kecuali makhluk tingkat atas itu sendiri yang melakukan kontak dengan manusia.

Ia terlalu lelah berkelana, lalu berhenti di sebuah negeri bernama Bassam, negeri yang dipenuhi kebahagiaan. Ketika ia berdiri di antara kerumunan orang yang berjalan di tengah pertokoan, ia bisa merasakan seorang makhluk tigkat atas menyaru di antara orang-orang itu. Ia bisa mendengarnya, langkah kali yang terdengar seperti gemerisik daun mapel yang berjatuhan. Ksatria langit mulai bergerak, mencari makhluk tingkat atas.

Lalu ia bisa mencium aroma bunga iris, aroma yang hanya dimiliki oleh penyihir wanita dari bangsa bertopi kerucut. Ia membuka matanya dan menatap sosok itu. Sosok yang dikenalnya, sosok yang telah membuatnya dijatuhkan ke bumi. Ia tetap berdiri mematung, bahkan dari tempatnay ia bisa merasakan perasaan terlarang itu. Ia bisa melihat hati blanc penyihir wanita itu.

Suatu hari, ia menghampiri rumah penyihir wanita yang membuatnya dijatuhkan ke bumi. Ia bahkan dijamu minum teh. Ksatria langit lalu mengutarakan perasaannya dengan sangat hati-hati, lalu meminta ijin untuk pergi. Ia ingin menghilang. Tapi penyihir wanita itu menahannya, lalu menukarkan hati blancnya dengan hati Ksatria Langit yang berwarna langit.

Seketika muncul prajurit langit, membawanya pergi meninggalkan penyihir wanita itu dengan kutukan ibu peri yang membekas di kulirnya. Untuk selamanya, penyihit wanita itu akan terkurung di pondoknya, hingga ada seseorang yang rela mempersembahkan blanc kepadanya.

Menatapmu

Kau ingat, kapan untuk pertama kali dalam hidupmu kau menatapku seperti saat ini? Tak pernah sekalipun hingga saat ini. Bukankah sejak dulu kau tak mau menatap mataku? Tidak, tentu saja tidak, hingga hari ini.

Dan, mengapa kau menatapku seperti saat ini> Seolah hendak berkata kepadaku agar aku tak berhenti menatapmu seperti saat ini,s eperti saat-saat sebelumnya, saat-saat kau bahkan tak mau menatapku.

Tidakkah kau merasakannya, merasakan perasaan yang terkunci di dalam mataku? Begitu pedih, perasaan yang begitu pedih, seperti tanganku yang tengah menggenggam erat pecahaan kaca, begitu pedih hingga bahkan aku tak bisa merasakannya.

Bahkan, kau tak tahu, menatapku seperti saat ini cukup membuatku merasa bahwa perasaan ini tak cukup pedih untuk kau ketahui.

The Ending

Bohong, bahkan smua orang juga tahu tentang ksatria wanita dari klas Bellatrix itu. Bukankah dia seorang putri kerajaan yang kau cari itu, raja Matahari? Bahkan dari sini[un aku bisa merasakan bahwa ia adalah putri Cahaya. Dan Sang pangeran bertemu denan putri yang ditakdirkan dengannya, seperti kisah Cinderella yang bertemu Pangeran, seperti kisah-kisah yang lain. Kisah inipun berakhir bahagia.

Bahkan, bukankah tak sepantasnya bagi jelata seeprtiku ini untuk iri kepada putri Cahaya.

Sabtu, 08 Mei 2010

Bertukar Dengannya

Kapan ya, terakhir kali aku merasakan perasaan ini?

Entah, aku sudah hampir lupa pada perasaan ini. Tapi entah mengapa perasaan ini muncul setelah ingat wajahmu yang tak berdosa memamerkan tawa keji menjijikan.

Perasaan itu muncul, diam-diam, seperti tangan dingin yang terjulur dari kegelapan yang hampa, mengagetkanku seperti tetes air yang menggema di kedalaman goa.

Perasaan itu muncul, lalu tanpa sadar menularkan kegembiraan yang mengerikan, seperti ekstasi yang menuntunku berlari di dalam labirin menuju sisi yang tak pernah terjangkau oleh paket-paket foton, sisi tergelapku.

Kau harus berkenalan dengannya. Dia tahu, bagaimana cara menyusun kata-kata yang berserakan. Atau kau juga ingin ia membantumu memulihkan ingatanmu?

Sabtu, 17 April 2010

Standing Here Like a Foolish

Standing here like a foolish
I'm trying to call your name, wish you'll be here for me
Tonight the sky bring our stars, the stars that we had gotten when we were a child

Standing here like a foolish
I'm stopping think that you'll be here, 'couse you had found the only thing that you're waiting for

Standing here like a foolish
I'm trying to stop hoping it will be the same as when we were a child
You had grown up, left me far behind

Standing here like a foolish
I still keep your word like a foolish

Daydream

Take a look to your word
I still don't know what you mean
Take a deep breathing in
I still hard keep my smile

Thinking about you make me fell confuse
I still can't find the meaning of your hazy word
Is it a daydreaming of you? Or just one of my nightmare?

Take a look to your promise
The promise that we were holding in together
Take a rest thinking of you
I still can't stop my tears dropping

Thinking about us make me fell lonely
I don't want it will be ended
Is it a daydreaming of you? Or just one of my nightmare?

Please tell me that it is not one of my nightmare
And you'll be here for me tonight






dedicate to cloudz

Minggu, 11 April 2010

Ingatan Itu

Aku kembali teringat tentang orang itu. Meski aku bersumpah kepada diriku sendiri agar tak akan kembali mengingat orang itu, aku tetap saja teringat tentangnya ketika kemarin aku melintasi tempat itu. Tempat yang untuk pertama dan terakhir kali ku kunjungi untuk menatapnya di antara jeruji jendela.

Entah apa yang membuatnya datang kepadaku petang itu. Lama tak berjumpa padanya telah membuatku hampir lupa untuk mengeja namanya. Ia bilang ia rindu kepadaku dan menyampaikannya lewat tetes hujan, seperti halnya hujan yang merindukan tanah. Aku tak mengerti tentangnya. Kali ini, bernostalgia saja membuatku ingin meninggalkan ingatan tentangnya di suatu tempat yang tak akan pernah aku temukan lagi.

Mencemaskanku

Kali ini aku ingin melayang saja.
Ketika kau mencemaskanku kemarinpun kau seolah membuatku menjadi gila karena tak bisa membuatku berhenti tersenyum. Kau tak tahu itu bukan?

Kata-katamu memang hanya biasa, bahkan jarang kau keluarkan. Tapi kai ini kau terlalu bodoh karena membuatku tak bisa berhenti tersenyum. Kau pasti tak sadar bahwa kau mengingatkanku pada pengakuanku pada langit di padang rumput setinggi mata kaki bertahun-tahun lalu.

Kamis, 08 April 2010

Suara Orang Itu

Aku tak mengerti tentangmu, semakin tak mengerti saja. Kali ini kau duduk termenung menatap awan yang terlihat di sela-sela jendela. Kau termenung, melamun mungkin, tak menyadari aku di sini memerhatikanmu. Lama hening, dan yang dapat ku dengar hanya gemerisik dedaunan dan desir angin di antara jendela. Sayup, aku dapat mendengar sebuah lagu sendu dari balik pintu di seberang sana. Kau akhirnya bereaksi, menatap di balik pintu itu sambil menerawang. Dapat ku lihat bayangan orang itu di matamu yang meredup.

Masihkah kau berharap bahwa kisah pungguk yang merindukan bulan itu tak pernah ada?

Peperangan yang Kau Hadapi

untuk para Ksatria




Kadang, diam pun tak akan menyelesaikan masalah. Seperti halnya peperangan yang telah banyak kau lewati, masalah bukan hal yang mudah untuk terselesaikan tanpa kau sentuh. Kadang, diam dan menunggu agar orang-orang mau mengerti pun tak akan mudah ketika kau masih tetap berpikir tembokmu terlalu rapuh untuk ditembus. Kadang, menyusun strategi saja tak akan cukup untuk membuat mereka bungkam jika kau tak segera berinisiatif akan menyerang.

Kau tahu, kini semua menatapmu menghadapi peperangan tak aksat mata ini. Semua dipertaruhkan, hidupmu, jiwamu, ragamu, hartamu, bahkan gadismu. Kau tahu itu.

Kau hanya tak tahu, orang-orang suruhan mereka telah lama menyusup di bawah atap bentengmu.

Selasa, 06 April 2010

Pertanyaan Tentangmu

Kali ini aku merasa seperti kau intai.

Duduk-duduk di tempat inu membuatku merasa udara semakin berkurang saja. Entah berapa meter jarak aku dan kau, tapi aku yakin kita menghirup udara yang sama. Takkah kau merasakan bahwa udara ini terasa begitu menyesakkan?

Peri salju di sampingmu itu tertunduk entah sedang menekuni apa tapi jelas aku yakin, kau sedang mengintaiku kali itu yang sedang menatapmu iri. Takkah kau rasakan bahwa udara ini menajdi berkurang dan membuatku sulit bernapas?

Kau berdiri, entah mengapa, seolah tak ingin berlama-lama di tempat itu. Kau meninggalkan peri salju itu sendiri. Meski lalu peri salju itu menyusulmu. Takkah kau tahu aku sungguh ingin taku mengapa kau harus beralih dari tempat itu?

Mungkin karena aku bersama orang itu?

Hal-hal Kecil yang Kau Tunjukkan

Aku ingin tahu, apakah kau tahu atau hanya berpura-pura tak tahu bahwa tawaranmu itu begitu menggiurkan.

Aku tak mengerti, kau tak pernah memberiku bunga, walau aku tak yakin bahwa kau tahu aku tak menyukai bunga manapun kecuali casablanca. Kau tak pernah menghadiahkan lukisan berbingkai emas, walau aku tak yakin bahwa kau tahu aku tak menyukai kemewahan. Kau tak pernah mengajakku melihat opera sabun, walau aku tak yakin bahwa kau tahu aku tak menyukai sandiwara bergelimang romansa. Hanya saja kau selalu bisa membuatku tersenyum.

Seperti halnya malam ini dan malam-malam sebelumnya. Waktu telah kelewat malam, tapi kau tetap terjaga, malah mengajakku menikmati cahaya bulan atau menghitung bintang. Aku tahu, malam telah dingin dan dengan senang hati aku datang ke jamuanmu kali itu. Meski lain kali aku berjanji kepada diriku bahwa aku tak akan lagi datang.

Aku hanya tak mengerti, mengapa hal-hal kecil yang kau tunjukkan selalu bisa membuatku tersenyum.

Kamis, 01 April 2010

Sebuah pesan Singkat

Entah apa yang membawanya, tapi kali itu ia mengirimiku sepucuk surat bertuliskan kalimat-kalimat pendek. Terlampau aneh, sungguh aku tak berdusta. Terakhir kali ia mengirimiku surat bahkan ia hanya bertanya tentang pegawai Cupid itu. Kali ini apa yang membawanya hingga ia mengirimiku sepucuk surat tak berarti itu? Merayuku kah? Atau ia hanya ingin menjebakku saja?

Maaf saja, meski kau menawan, tapi kau tetap bagian dari mereka, faery-faery, yang tak mungkin aku jangkau keberadaannya meski mereka mencoba meraihku.

Ingatlah Hari Itu

Ketika suatu hari nanti kita bertemu, mungkin kali itu kita telah akan sungkan satu sama lain, melupakan hari-hari terlewati bersama senyumanmu itu dan ujung alisku yang hampir bertautan karena kau.
Ketika suatu hari nanti kita bertemu, mungkin kali itu kau telah akan menggandeng seseorang lain, entah siapa aku tak tahu, atau saat itu kau masih bersama Ksatria Wanita itu? Entah, tapi pasti aku tak akan lagi iri pada seseorang itu.
Ketika suatu hari nanti kita bertemu, mungkin kali itu aku telah akan bisa menatapmu tanpa berharap lagi senyummu itu untukku.

Tapi mari kita ingat, hari dimana dunia hanya ada aku dan kau dihadapanku, saling menatap warna mata tanpa perlu sungkan, tanpa harus menutupi pancaran matamu yang mengelorakan setiap tetes darahku.

Nah, jika saat itu kau datang seorang diri dan kau menatapku seperti saat kau menatapku dulu sebelum kau mengenak Ksatria Wanita itu, bolehkah akuberharap kau akan mengajakku menemui orang-orang itu?

Senyummu Itu Patut Dipertanyakan

Aku tak pernah lagi menulis tentangmu karena kini aku telah bersama peri salju itu bukan?

Aku tak pernah mengerti tentangmu juga tentang senyummu. Aku selalu berharap aku tak akan bertemu denganmu bila kau sedang bersamanya, terlalu sungkan dan membuat alisku berkerut. Aku pun mengenal peri salju itu, bukan? Kau tahu itu. Sudah sering aku bersamanya, hanya aku tak mengerti mengapa kau kini bersamanya. Apalagi kau selalu melemparkan senyumm itu kepadaku meski kau bersamanya saat itu.

Mengapa kau tawarkan senyummu itu? Kau harus menjawabnya, agar semuanya tak menjadi semakin rumit saja.

Tawaranmu dan Rasa Itu

Kau harus tahu, apa yang kau tawarkan kepadaku itu terlampau manis untukku yang hanya bisa merasakan pahit. Aku tak mengerti tapi tawaranmu terlampau menggiurkan untukku yang tak pernah bisa menawar dengan baik.

Tapi kau hanya terdiam sejak terakhir kali kita berbicara panjang lebar tentang keinginan kita berkeliling angkasa. Kalau kau menjaga jarak kini biar aku yang bertanya kepadamu mengapa, atau aku yang telah meninggalkanmu? Tentu tudak, tapi kau tak pernah tau bukan, bahwa aku pernah berharap kau benar akan berkeliling angkasa.

Kini aku pun mulai sungkan pedamu. Apa karena kita telah beranjak dari kanak-kanak?

Sabtu, 20 Maret 2010

Mencoba Tak Mendengar

Aku tertunduk, mendengarmu berbincang dengan salah satu pegawai cupid itu. Ku dengar kau dan dia berbincang tentang kunjungannya ke rumahmu dulu. Aku diam, pura-pura tak mendengar. Ia bilang, saat itu kau tak sedang ada di rumah dan ia bertemu dengan ayahmu. Aku baru tahu bahwa ia telah tahu dimana rumahmu sedang aku tudak. Ia terus bercerita dan aku mendongak menatapmu dan kau juga tengah menatapku. Aku kembali memainkan tanah di ujung kakiku, pura-pura tak mendengar.

Lalu kau bilang bahwa ia telah membuat masalah besar sehinga ayahmu akhirnya menginterograsimu setelah kau pulang. Ayahmu kira, ia kekasihmu. Tentu saja bukan, tapi aku tahu kau suka kepadanya. Aku memilih diam, pura-pura rak mendengar. Aku mendongak menatapmu dan dia ketika kau menatapku, seolah ingin aku tahu ntentang cerita itu. Aku kembali tertunduk, memainkan tanah di ujung kakiku. Aku cukup tahu bahwa kau adalah faery dan ia adalah pegawai cupid. Dan aku pura-pura tak mendengar.

Seseorang Baru

Aku bisa gila jika terus seperti ini. Hari-hari akan terasa berat, tapi ku putuskan aku akan tetap bertahan melihat mereka tumbuh jadi faery-faery yang sungguh menakutkan.

Aku sealalu berlagak akan baik-baik saja, tapi ternyata tidak. Kemarin aku melihat salah satu diantara mereka, faery-faery itu. Ia terlihat bersinar, mempesona, dan terasa manis bagi mataku. Aku tak bisa melepaskan mataku darinya.

Ah, aku lupa menahan diri. Mereka faery-faery itu, aku tahu. Tapi takbisa begini bukan? Aku akan tetap diam saja, seolah aku tak bisa melihat mereka.

Tambahkan Waktuku

Malam terasa dingin, lebih dingin dari biasanya. Kali inipun demikian. Karena aku hanya sedniri saja di sini, tanpamu atau siapapun. Malam terasa semakin larut, terlalu larut untuk bercerita tentang terik hari yangterlewati atau gerimis yang mengikis bebatuan.

Kali ini pun kau datang kepadaku, berniat bercerita tentang hari-hari yang membosankanmu, atau tentang usahamu yang tak berdaya. Aku terlalu lelah untuk mendengarkan kesahmu itu, terlalu tak punya waktu kali ini, terburu menyelesaikan kata-kata, soalnya.

Sungguh aku ingin kita seperti dulu, saat-saat ketika kita berlomba mengejar layang-layang atau saat-saat ketika kita berlomba menyelam dan mengumpulkan kerang-kerang. Saat-saat yang kurindukan itu telah kelewat terlalu lama, kau tahu itu.

Kawan, aku sungguh ingin mendengarkan kisah kesahmu itu, hanya kini aku tak lagi bisa membagi waktuku untukmu. Mungkin aku bisa, asalkan kau tambahkan waktu dunia jadi 25 jam sehari. Lalu aku akan jadwalkan, satu jam untuk mendengarkan kisahu itu.

Sabtu, 13 Maret 2010

Di Saat Aku Teringat padamu

Perasaan ini terus meradang, seperti sebuah penyakit yang tak bisa tersembuhkan. Bisakah kau hentikan ia sekarang juga? Aku bisa gila, ingin tahu makna mimpi-mimpi yang menyelubungi malamku belakangan ini. Apakah mimpi itu tentangnya? Aku tak tahu, hanya saja sepertinya aku telah terpesona. Ya, aku hanya terpesona saja kepadanya. Hanya saja, mengingat tentangnya membuat jantungku bekerja lebih cepat, seolah memburu napasku.

Sepertinya, aku memang butuh insulin lebih banyak.

Tentang Apa yang Ku Lihat (I)

Aku tak mengerti, mengapa dunia ini terasa begitu panas jikalau kau ada di seberang sana. Seolah matahari hanya berjarah satu mil saja dari bumi, membuat tubuhku bergelora, panas, dan basah oleh keringat. Aku tak mengerti, tapi aku bisa mati dehidrasi karenanya, karena panas terik yang mengingatkanku kepada kemarau.

Tapi kau beda, tak seperti apa yang kau bawa. Aku tak mengerti, tapi entah mengapa kau terlihat begitu sejuk, mengingatkanku kepada pohon dedalu yang rindang dengan rerumputan hijau di bawahnya juga pada bisik angin yang meniup helai daun dan rantingnya, terasa menyejukkan, membuatku ingin merebahkan diri di bawahnya.

Kau terlalu menawan, kau tahu itu.
Aku ingin tahu, apakah kau salah satu diantara faery-faery itu?

Tentang Apa yang Ku Lihat (II)

Tidakkah kau menyadarinya, bahwa kau datang dan membuat duniaku benar-benar terasa begitu dingin, membekukan udara, mengubah dunia menjadi bergerak sangat lambat, seolah hanya aku dan kau yang bergerak terlalu cepat.

Kau membuatku gemetar di dalam sendi-sendi yang tak kuat menopangku berdiri, membuat tengkukku meremang dan tulang-tulangku kesakitan karena dingin yang meresap ke bawah kulit. Aku hanya tak mengerti, mengapa dirimu terlihat hangat, seperti gejolak api di perapian yang menghangatkan kabin, seperti sinar matahari di waktu musim panas. Tidakkah kau tahu?

Aku ingin berlari padamu, mendekat padamu, agar aku bisa terbebas dari kebekuan ini. Tidakkah kau tahu?

Aku jadi ingin tahu, apakah kau salah satu diantara faery-faery itu?

Tentang Apa yang Ku Lihat (III)

Mungkin kau tak pernah menyadarinya, Sora. Tapi kau telah membuat duniaku menjadi cukup nyata untuk dapat kuluhat warnanya.

Kau membuat duniaku menjadi berwarna hitam dan putih, seperti kilasan-kilasan film entah jaman kapan. Tapi aku bisa menemukanmu dengan mudah karena kau terlihat paling berwarna di antara kontras gelap terang itu. Aku tak mengerti, tapi langit kini tampak begitu biru untuk dijelajahi, rerumputan tampak begitu hijau hingga aku ingin berlari di atasnya, batang-batang dan rerantingan pohon terlihat tampak begitu coklat untuk dipanjat, dan bunga-bunga tampak beraneka warna untuk dipetik atau sekerdar dikagumi.

Kau harus tahu itu, kaulah yang mengenalkanku pada warna-warna itu. Aku jadi ingin tahu, apakah kau salah satu diantara faery-faery itu?

Sabtu, 06 Maret 2010

Rendezvous

Sudah lebih dari 6 bulan aku tak pernah bertemu dengannya. Dan kemarinpun ia telah menggenapi angka-angka itu dengan perjumpaan yang mengingakanku kepadamu, Sora.

Aku tak mengerti, tapi aku terpesona ketika untuk pertama kalinya dalam 6 bulan ini aku tak melihatnya. Aku tak tahu, bahwa dalam waktu 6 bulan saja bisa membuatnya terlihat berbeda, tumbuh menjadi laki-laki.
Kau tahu Sora, aroma tubuhnya menyebar di udara, membuat leherku meremang, membawa udara yang menusuk dan mengendap di dalam paru-paruku. Membuatku ingin berhnti bernapas agar aku tak dapat menghirup aroma tubuhnya itu.

Tiba-tiba semua jadi hening, aku tak bisa mendengar apapun, kecuali hembusan nafasnya yang teratur, seperti ritme udara yang menyejukkan. Membuatku berjengit.
Lalu tiba-tiba saja jantungku telah berpindah dari tempatnya, berpindah ke perut, membuat seisi perutku bergejolak, membuatku tak dapat membedakan mana perut dan jantungku.
Otot tanganku menegang, lalu pelan-pela menjadi tergetar entah karena apa. Aku ingin jantungku berhenti sesaat agar dadaku tak sakit menahan detak jantungku yang berdetak seperti irama samba.

Hei, Sora, kali ini aku pun ingin meminta maaf kepadamu. Tpi biarkan hal ini berjalan sebagaimana seharusnya, tanpa aku harus terbebani untuk terus memikirkanya atau mewujudkannya. Ya, biarkan.

Kamis, 04 Maret 2010

Sebuah Ramuan

Ia sering kali datang kepadamu, membawa warna-warna yang begitu nyata. Dan awalnya kau pun tak tertarik kepadanya, karena kau telah lebih dahulu berjumpa dengan warna-warna itu. Lalu ia kembali kepadamu membawa warna-warna yang lebih tegas dan kontras, warna-warna yang belum pernah kau kenal sebelumnya. Kau menerimanya dengan suka cita, membuat hatinya melambung.

Suatu ketika ia datang kepadamu, membawakan warna putih kanvas yang belum pernah kau sentuh. Kau tak menghiraunya, karena kau lebih menyukai nada-nada perkusi atau irama detak jantung. Lalu ia kembali kepadamu membawa warna kanvas yang telah ia lukis dengan warna-warnakontras yang belum pernah kau kenalitu. Kau menerimanya dengan suka cita, lagi-lagi membuat hatinya melambung.

Suatu ketika ia datang kepadamu, membawa tangkai-tangkai bunga mawar, bunga yang sama sekali tak kau sukai itu. Lalu ia kembali lagi, membawakanmu tangkai-tangkai casablanca dan kau menerimanya dengan suka cita, lagi-lagi membuat hatinya melambung.

Suatu ketika, ia menjamumu munim teh di bawah bulan purnama dan rasi bintang-bintang. Ia telah menyiapkan meja sepasang kursi dan sebuah meja dengan bunga casablanca di atasnya, membuatmu tersipu. Lalu ia mengajakmu duduk menikmati aroma teh dan sinar bulan saat itu. Ia berserita banyak, dan kau terlena,tak sadar ia telah menungkan ramuan di dalam tehmu. Dan kala itu pun, kau pun telah menerima hatinya.

Kiniketika kau tersadar, ceritaku tentang masa-masa itu membuatku tak ingin bertemu dengannya lagi.

Menunggu

Lagi-lagi kau membuatku berpikir tentangmu, tentang kita, juga tentang orang itu. Kali ini pun sama, kau sedang menunggu bersamaku. Bukan,tapiaku yang sedang menunggu dan kau menemaniku. Aku tak mengerti, kau hanya diam, dan aku tak berani bertanya kepadamu mengapa kau ada bersamaku saat itu. Aku tak mengerti, kau membuatku berpikir tentang orang itu dan kau sendiri. Ini aneh, kau tetap diam, dan aku pun demikian. Kali ini, jangan buat aku ingin bertanya mengapa kau ikut menunggu bersamaku.

Minggu, 21 Februari 2010

Terhenyak untuk Saat Ini

Terlalu banyak orang yang tahu, membuatku terkejut ia menanyakan kepadaku. Aku sungguh tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi kali ini aku akan membagi kepadanya. Ia mulai bercerita banyak, membuatku semakin yakin bahwa itu adalah dia. Ya, dia memang orang itu, orang yang ku temukan sejarahnya kemarin petang. Ia bertanya tentang orang-orang lain, seperti petugas inspeksi kebenaran. Tapi aku tetap bercerita, karena ia mau menukarkannya dengan informasi berharga yang lainnya. Hanya saja aku tak seutuhnya bercerita tentang apa yang ingin ia ketahui, sebagian lagi kututupi, agar tak ada yang merugi. Terimakasih atas cerita yang kau katakan kepadaku tempo ahri, akhirnya kini aku pun bisa mengerti.

Menjadi Dewasa

untuk seseorang yang ingin tetap jadi kanak-kanak

Waktu telah beranjak dari tempatnya sejak pertama kali aku bertemu denganmu dan dia. Tak saling mengenal tapi naluri mengajak berpetak umpet tentang siapa dirimu dan dia.

Waktu bergeser, dan kita masih tetap jadi kanak-kanak. Sibuk merangkai banyak cita utnuk menghias ruang kelas dengan 1000 bangau kertas. Buku-buku catatan penuh dengan ide petualangan pergi ke langit mengunduh bintang, berlayar bersama angin, melewati lebat belantara hingga samapi ke puncak ghunung atau lepas pantai.

Waktu bergeser, dan kita masih tetap jadi kanak-kanak. Sibuk bertukar bekal di bawah pohon sambil berbicara tentang mipi-mimpi tanpa berpikir bagaimana kelak aku, kau, dan dia akan menggapainya sekalipun. Kaki telanjang berlari dikecipak lumpur dan hujan, bermusik bersama awan, menghentak dan berdansa bersama angin.

Waktu bergeser terlalu jauh kini kusadari. Ketika aku menoleh, kudapati kau dan dia telah memilih untuk beranjak jadi dewasa, bertumbuh tanpaku, meninggalkanku tetap jadi kanak-kanak. Meninggalkanku dengan 1000 mimpi dan cita-cita yang telah tergantung di depan jendela.

Sungguh aku tak ingin jadi dewasa. Tak ingin terlalu kusut mengurus perasaan dari ahti itu. Aku ingin tetap jadi kanak-kanak, yang selalu dapat bermimpi tanpa harus terbebani untuk mengapainya. Aku ingin tetap jadi kanak-kanak, agar aku dapat menunggumu dan dia, kalau-kalau kau dan dia ingin kembali jadi kanak-kanak.

Aku akan menanti di sini, bersama bangau-bangau kertas dan kecipak lumpur dan hujan.

Sabtu, 20 Februari 2010

Menangis untukmu

Kali ini aku tahu dengan sendirinya tentang orang itu. Mungkin aku salah kira, hanya saja tak perlu kutanyakan kepadanya, semua telah jelas.

Benarkah selama ini ia yang telah memenui benakmu, hingga kau bertanya kepada orang-orang tentang kabarnya? Benarkah selama ini ia yang telah membuatmu tampak begitu berseri seperti bunga yang bermekaran saat matahari baru satu inci beranjak dari malam?

Kali ini biarkan aku menangis untukmu, untuk dirimu saat ini. Tanganku bergetar seperti senar dawai yang kendor dari ikatnya ketika aku menemukan apa yang tempo hari tak dapat aku jawab kepadamu. Kurasa kabut mulai turun, membuatku menggigil bersama tetes air mataku untukmu. Kali ini aku tak akan bercerita padaku tentang orang itu. Biarkan saja, ya, biarkan saja. Aku terlalu sedih untuk bercerita, takut membuatmu ikut menangis.

Aku ingin minta maaf kepadamu, kali ini sungguh aku tak ingin membagi cerita ini bersamamu.

Apakah Kau Menyesal?

Apakah kau sadar akan apa yang kaulakukan?

Ia telah lama khawatir tentangmu, memikirkanmu hingga mencari alasan tentangmu. Kau bodoh, terlampau tak mengerti. Kau bilang ia mau mengerti dan memang ia mengerti, tapi kali ini kau sendiri yang tak mau mengerti tentangnya.

Ia telah lama memikirkan tentangmu, mencari alamat suratmu yang baru, agar ia sesekali dapat berkabar tentangnya. Tapi kali ini kau sendiri yang tak mau berkabar tentang dirimu kepadanya, padahal dulu kau sendiri yang bertanya tentang kabarnya. Kau bodoh, salah kira ia tahu segalanya. Tapi tidak, ia sama sekali tidak tahu.

Kali ini apakah kau menyesalinya?

Penyampai Pesan

Aku berhutang maaf kepadamu, juga orang itu. Suratmu belum juga aku sampaikan kepadanya, belum ada waktu yang tepat untuk mengirimkannya. Maaf, sungguh aku sangat ingin mengirimkannya kepadanya. Kau hanya tak mengenalnya saja, sekalipun aku juga tak mengenalnya. Sungguh kini aku tak lagi dapat mengenalinya. Aku pun telah berjanji kepadanya akan menyampaikan suratmu itu. Dan aku akan menyampaikan pesanmu karena aku adalah seorang penyampai pesanmu.

Sabtu, 13 Februari 2010

Aku Akan Tetap di Sini

Suatu hari kau datang kepadaku, mengajakkku minum teh Assam di bawah langit malam. Kau mulai berkisah tentang bintang, tapi tak pernah kau selesaikan, malah terdiam sambil menatap bulan. Aku bertanya, dan kau mulai diam, seolah membiarkanku mengunakan imaji liarku untuk mengetahui apa yang tersimpan dalam benakmu.

Aku mengerti, cukup mengerti. Aku tak akan bertanya lagi. Karena aku tahu suatu ketika kau akan mengajakku bulan bersamamu. Lalu kita bertiga akan minum teh Assam sama-sama, dibawah langit yang tak berbintang tentunya.

Kamis, 04 Februari 2010

Kau adalah Matahariku

Aku sama sekali tak mengerti tentang dirimu. Kupikir aku mengenalmu, tetapi tidak. Kau bilang, kau telah menemukan sumber cahayamu, tetapi entah mengapa kau masih tetap bertahan bersamaku dalam penantian ini. Mungkin bagimu hal ini biasa, tapi lama-lama aku akan berpikir bahwa kau akan selalu menemaniku dalam penantian ini. Aku jadi takut, suatu saat kau akan tumbuh meninggalkanku tanpa senyummu itu.

Sumber Cahayamu

Suatu senja, aku bertemu dengannya. Aku tak mengenalnya, hanya saja sejak pertama aku telah terpesona kepadanya. Ia hanya lewat saja, tak menyapa. Belakangan aku baru tahu, bahwa ia adalah seorang Ksatria Wanita klan Bellatrix yang datang jauh dari rasi bintang Orion. Ia datang mencari matahari karena telah lama ia terpesona pada senyumnya.

Akhirnya aku tahu bahwa cahayamu saat ini adalah seseorang yang kutemui dulu. Hanya saja kau terlalu tak adil kepadaku, karena kau telah membuatku berpikir bahwa kau tak akan kembali lagi kepadaku. Ya, kau terlalu tak adil karena kau telah tau aku tak akan pernah bisa menjadi cahayamu.

Minggu, 31 Januari 2010

Demi Malam

Demi suara jangkrik yang menemani bulan, malam adalah pembawa keasingan. Sejauh lampu akan terus bercahaya redup, sejauh keasingan tak akan merasuk dalam degup hidup. Aku datang untuk meresapi, hanya mengamati bahwa malam telah terlalu tua untuk memperkenalkanku pada hasrat yang tak akan terpenuhi. Tak ada kata yang harus terurai, tak ada sajak yang harus termaknai.

Keasingan akan segala sesuatu telah mengantarkan pada segala pencapaian yang tak seharusnya terhapai, meski dengan sebelah tangan terikat di belakang. Aku mengerti demikian. Hanya aku tak sanggup berjanji pada malam bahwa aku akan kembali berkenalan pada keasingan yang ia persembahkan.

Kau Lima Tahun Lalu

Beberapa saat lalu, aku naru sadar akan sesuatu, Sora. MUngkin tak akan ada artinya bagimu, hanya saja semua ini berat untuk kuakui. Entah mengapa, tapi akhirnya aku tersadar akan sesuatu, bahwa seseorangyang kutunggu itu bukan kau, tetapi dirimu lima tahun lalu. Kau telah tahu, sejak saat itu semuanya tetap sama. Jalan itu masih sama, rumah itu masih sama, hujan itu masih sama, batang-batang mahoni itu masih sama, dan aku menunggu tepat diantaranya, tetap sana, aku limatahun lalu. Seolah tak mau bertumbuh, semua hal tentang aku dan kau masih sama, di tempat itu, tempat dimana pertama kali aku mengucapkan namamu.

Kali ini mungkin aku tak bisa kembali pada bagian dari diriku yang telah bertumbuh tanpaku. Melihatmu berubahputus asa untuk dapat kembali. Kalaupun berharap, aku sadar bahwa kau yang lima thaun lalu itu tak akan pernah kembali karena kau telah bertumbuh tanpa aku, tanpa menjelaskan padaku bahwa mungkin apa yang masih kupertahankan saat ini hanya bagian dari sejarah yang telah lama terlupakan olehmu.

Menggantikan Langit

Mungkin aku memang salah mengira tentang dirimu. Ya, aku memang yang bersalah duga. Kupikir dulu kau berniat untuk mencoba menggantikan langit. Tapi hanya pikirku saja yang terlalu berharap akan ada seseorang yang benar-benar bisa menggantikan langit.
Ketika suatu waktu aku bertanya padamu tentang kata-katamu yang belum kau sampaikan padaku itu, kau bercerita hingga harap yang tak sempat tumbuh itu mati begitu saja.

Kalaupun kau hendak menggantikan langit, kau tetap tak akan bisa, karena kau adalah teman berbagi tawa. Kalaupun kau tetap berkeras, posisimu masih jauh dari langit, mencapai mataharipun kau tak sampai.

Tapi, bukankah hal itu hanya perasaanku saja,kawan?

Senin, 25 Januari 2010

Tentang Hari Ini

Ingatkah kau tentang hari ini?

Maafkan aku, jikalau aku melupakan hari terpenting dalam hidupmu. Entah mengapa aku jadi terlupa akan hari ini padahal telah ku tandai tanggal itu agar aku jadi orang pertama yang mengirimimu surat pagi ini. Tapi bukankah kau sesungguhnya tak memerlukan suratku itu, karena telah datang beribu surat untukmu dari sahabatmu sebelum aku mengirimimu surat petang tadi.

Kalau kau mengira aku akan memberikan kata-kata agar kau jadi mengingatku lagi, maka kau telah salah kira. Karena telah tertekad dalam hatiku bahwa aku tak akan memaksamu untuk kembali mengingatkanmu tentang masa lalu kita. Biarkan saja semuanya menjadi bagian dari sejarah yang akan kaulupkan tapi tak akan pernah kulupakan.

Aku selalu ingin berbagi senyuman denganmu. Tapi kau tak pernah mau membagi senyumanmu itu kepadaku. Sedang aku tak pernahbisa tersenyum dengan tulus sejak kepergianmu. Entah kapan, tapi hari ini adalah hari yang untukmu. Maafkan aku karena tak dapat mengunjungi pesta minum teh yang kau selenggarakan di bawah katulistiwa. Maafkan aku.

Selamat hari lahir, Sora!

Sabtu, 23 Januari 2010

Melewati Langit

Tak pernah terpikirkan olehku bahwa kali ini pun aku akan berpisah denganmu. Entah hari kapan, kau bercerita tentang kata-kata padaku, bahwa kau ingin pergi melintasi langit, berkelana di antara bintang-bintang. Kau bilang kau akan mampir pada langit dan berjanji padaku bahwa kau akan menyampaikan pesanku kepadanya, membuatku iri. Seolah aku ingin ikut bersamamu hingga sampai pada langit. Tapi aku telah berjanji kepadanya, aku tak akan pergi ke sana.

Maka, bolehkah aku titipkan padamu pesan rinduku pada langit ketika kau mampir pada langit kelak jika kau hendak pergi dari bumi.

Akhirnya Kau Menemukannya

Akhirnya kau menemukannya, seseorang yang kau temui di persimpangan jalan susu, tempat kau bertemu denganku bertahun-tahun lalu.
Akhirnya kau menemukannya, seseorang yang bisa kau ajak bertukar cahaya, karena memang sejak dulu aku tak pernah mampu untuk memberimu cahaya itu.
aku tahu, waktu dimana kau akan menemukannya akan segera tiba. Tapi aku tak tahu apa yang harus aku lakukan setelahnya. Karena entah sejak kapan, kau telah jadi matahari bagi duniaku tempatku menunggu. Kalaupun kini kau ingin berkata bahwa kau akan bersamanya, maka biarkanlah aku tetap dalam imajiku. Bahwa selamanya senyummu itu milukku.

Jumat, 08 Januari 2010

Kisah Pemuda Pemburu Langit dan Gadis Perangkai Bunga dari Negeri Azura

Ada sebuah negeri, bernama Azura, terkenal karena biru langit di atasnya. Negeri dengan biru langit yang tak pernah ditemuka di negeri manapun. Negeri yang padat perumahan dan pertokoan disetiap jalan utama. Di luar perbatasan terdapat padang bunga dan kalau terus, akan mengantarkan kau pada pantai lalu samudra.

Di negeri itu, tinggallah seorang gadis perangkai bunga yang yatim piatu bernama Atria, yang ceria dan dicintai penduduk negeri. Setiap pagi, ia akan memetik bunga liar di balik perbatasan, yang lalu akan ia jual saat hari siang.

Suatu hari saat ia harus mengambil bunga liar, ia terhenti di sebuah rumah yang tak jauh dari perbatasan karena mencium aroma yang menyegarkan. Aroma yang meresapi paru-parunya dan teralir di setiap tetes darahnya. Aroma yang familiar, tapi tak ia ketahui apa. Saat pulang dari memetik bunga, pemilik rumah itu sedang mencangkul kebun semangka di pekarangannya, lalu terhenti sambil berdiri bertopang pada cangkulnya. Ia menatap langit dengan tatapan merindukan.

Beberapa hari kemudian, pemuda pemilik kebung semangka itu datang ke kedainya, memesan rangkaian bungaLilac dan Gloxinian. Gadis perangkai bunga itu merasa bahwa orang yang mendapatkan bunga itu tentulah sangat beruntung, karena kedua bunga itu dalam bahasa bunga berarti perasaan cinta yang pertama.

Ia tak mengenal pemuda itu. Tapi angin berhembus cepat lewat telinga. Pemuda itu baru saja datang ke negeri itu tak begitu lama. Pemuda pendiam dan seorang petani semangka yang lalu menjualnya ke pasar kota. Akhirnya ia mengerti mengapa nalurinya membuatnya terhenti di depan rumah pemuda itu. Hal itu mungkin karena aroma semangka yang tercium dari pemuda dan rumah itu.

Berhari-hari berlalu, pemuda itu membeli rangkaian bunga Cedar dan Salvia, bunga yang dalam bahasa bunga berarti memikirkan dirimu. Sungguh beruntung perempuan yang menerima bunga itu. Bunga yang seolah menggambarkan hati gadis perangkai bunga itu. Mungkin tanpa sadar ia telah jatuh cinta kepada pemuda petani semangka itu.

Hampir satu musim berlalu, dan pemuda petani semangka itu tak pernah datang lagi. Ia gelisah dan memutuskan untuk pergi kepada pemuda itu. Saat itu petang hari ketika ia bergegeas pergi dan mendapati pemuda petani semangka itu beranjak keluar dari gerbang kota menuju padang rumput. Pemuda itu terhenti karena menyadari dirinya diikuti.

Pemuda itu diam, gadis itu bertanya hendap pergi ke mana ia. Pemuda itu tersenyum, lalu memperkenalkan dirinya. Konon ia bernama Sargas, klan terakhir keluarga penyihir Vernal yang tinggal di sebuah negeri di balik awan Stratus. Ia datang ke negeri Azura untuk memburu langit. Ia menunjukkan bola kristal berwarna seperti langit negeri Azura. Lalu ia berkata bahwa ia harus pulang ke negerinya dengan sapu terbang.

Gadis itu terdiam dan memetik sebuah bunga Sweet William yang tumbuh liar. Gadis itu memberikannya sambil meminta sebuah senyuman dari pemuda itu. Pemuda itu tersenyum sambil menyerahkan rangkaian bunga Carnation berwarna merah muda, Primrose, dan Sweet pea. Setelah menyerahkan bunga itu, pemuda itu terbang di atas sapunya, meninggalkan kata-kata yang hanya bisa ia katakan lewat bunga.