Minggu, 31 Januari 2010

Demi Malam

Demi suara jangkrik yang menemani bulan, malam adalah pembawa keasingan. Sejauh lampu akan terus bercahaya redup, sejauh keasingan tak akan merasuk dalam degup hidup. Aku datang untuk meresapi, hanya mengamati bahwa malam telah terlalu tua untuk memperkenalkanku pada hasrat yang tak akan terpenuhi. Tak ada kata yang harus terurai, tak ada sajak yang harus termaknai.

Keasingan akan segala sesuatu telah mengantarkan pada segala pencapaian yang tak seharusnya terhapai, meski dengan sebelah tangan terikat di belakang. Aku mengerti demikian. Hanya aku tak sanggup berjanji pada malam bahwa aku akan kembali berkenalan pada keasingan yang ia persembahkan.

Kau Lima Tahun Lalu

Beberapa saat lalu, aku naru sadar akan sesuatu, Sora. MUngkin tak akan ada artinya bagimu, hanya saja semua ini berat untuk kuakui. Entah mengapa, tapi akhirnya aku tersadar akan sesuatu, bahwa seseorangyang kutunggu itu bukan kau, tetapi dirimu lima tahun lalu. Kau telah tahu, sejak saat itu semuanya tetap sama. Jalan itu masih sama, rumah itu masih sama, hujan itu masih sama, batang-batang mahoni itu masih sama, dan aku menunggu tepat diantaranya, tetap sana, aku limatahun lalu. Seolah tak mau bertumbuh, semua hal tentang aku dan kau masih sama, di tempat itu, tempat dimana pertama kali aku mengucapkan namamu.

Kali ini mungkin aku tak bisa kembali pada bagian dari diriku yang telah bertumbuh tanpaku. Melihatmu berubahputus asa untuk dapat kembali. Kalaupun berharap, aku sadar bahwa kau yang lima thaun lalu itu tak akan pernah kembali karena kau telah bertumbuh tanpa aku, tanpa menjelaskan padaku bahwa mungkin apa yang masih kupertahankan saat ini hanya bagian dari sejarah yang telah lama terlupakan olehmu.

Menggantikan Langit

Mungkin aku memang salah mengira tentang dirimu. Ya, aku memang yang bersalah duga. Kupikir dulu kau berniat untuk mencoba menggantikan langit. Tapi hanya pikirku saja yang terlalu berharap akan ada seseorang yang benar-benar bisa menggantikan langit.
Ketika suatu waktu aku bertanya padamu tentang kata-katamu yang belum kau sampaikan padaku itu, kau bercerita hingga harap yang tak sempat tumbuh itu mati begitu saja.

Kalaupun kau hendak menggantikan langit, kau tetap tak akan bisa, karena kau adalah teman berbagi tawa. Kalaupun kau tetap berkeras, posisimu masih jauh dari langit, mencapai mataharipun kau tak sampai.

Tapi, bukankah hal itu hanya perasaanku saja,kawan?

Senin, 25 Januari 2010

Tentang Hari Ini

Ingatkah kau tentang hari ini?

Maafkan aku, jikalau aku melupakan hari terpenting dalam hidupmu. Entah mengapa aku jadi terlupa akan hari ini padahal telah ku tandai tanggal itu agar aku jadi orang pertama yang mengirimimu surat pagi ini. Tapi bukankah kau sesungguhnya tak memerlukan suratku itu, karena telah datang beribu surat untukmu dari sahabatmu sebelum aku mengirimimu surat petang tadi.

Kalau kau mengira aku akan memberikan kata-kata agar kau jadi mengingatku lagi, maka kau telah salah kira. Karena telah tertekad dalam hatiku bahwa aku tak akan memaksamu untuk kembali mengingatkanmu tentang masa lalu kita. Biarkan saja semuanya menjadi bagian dari sejarah yang akan kaulupkan tapi tak akan pernah kulupakan.

Aku selalu ingin berbagi senyuman denganmu. Tapi kau tak pernah mau membagi senyumanmu itu kepadaku. Sedang aku tak pernahbisa tersenyum dengan tulus sejak kepergianmu. Entah kapan, tapi hari ini adalah hari yang untukmu. Maafkan aku karena tak dapat mengunjungi pesta minum teh yang kau selenggarakan di bawah katulistiwa. Maafkan aku.

Selamat hari lahir, Sora!

Sabtu, 23 Januari 2010

Melewati Langit

Tak pernah terpikirkan olehku bahwa kali ini pun aku akan berpisah denganmu. Entah hari kapan, kau bercerita tentang kata-kata padaku, bahwa kau ingin pergi melintasi langit, berkelana di antara bintang-bintang. Kau bilang kau akan mampir pada langit dan berjanji padaku bahwa kau akan menyampaikan pesanku kepadanya, membuatku iri. Seolah aku ingin ikut bersamamu hingga sampai pada langit. Tapi aku telah berjanji kepadanya, aku tak akan pergi ke sana.

Maka, bolehkah aku titipkan padamu pesan rinduku pada langit ketika kau mampir pada langit kelak jika kau hendak pergi dari bumi.

Akhirnya Kau Menemukannya

Akhirnya kau menemukannya, seseorang yang kau temui di persimpangan jalan susu, tempat kau bertemu denganku bertahun-tahun lalu.
Akhirnya kau menemukannya, seseorang yang bisa kau ajak bertukar cahaya, karena memang sejak dulu aku tak pernah mampu untuk memberimu cahaya itu.
aku tahu, waktu dimana kau akan menemukannya akan segera tiba. Tapi aku tak tahu apa yang harus aku lakukan setelahnya. Karena entah sejak kapan, kau telah jadi matahari bagi duniaku tempatku menunggu. Kalaupun kini kau ingin berkata bahwa kau akan bersamanya, maka biarkanlah aku tetap dalam imajiku. Bahwa selamanya senyummu itu milukku.

Jumat, 08 Januari 2010

Kisah Pemuda Pemburu Langit dan Gadis Perangkai Bunga dari Negeri Azura

Ada sebuah negeri, bernama Azura, terkenal karena biru langit di atasnya. Negeri dengan biru langit yang tak pernah ditemuka di negeri manapun. Negeri yang padat perumahan dan pertokoan disetiap jalan utama. Di luar perbatasan terdapat padang bunga dan kalau terus, akan mengantarkan kau pada pantai lalu samudra.

Di negeri itu, tinggallah seorang gadis perangkai bunga yang yatim piatu bernama Atria, yang ceria dan dicintai penduduk negeri. Setiap pagi, ia akan memetik bunga liar di balik perbatasan, yang lalu akan ia jual saat hari siang.

Suatu hari saat ia harus mengambil bunga liar, ia terhenti di sebuah rumah yang tak jauh dari perbatasan karena mencium aroma yang menyegarkan. Aroma yang meresapi paru-parunya dan teralir di setiap tetes darahnya. Aroma yang familiar, tapi tak ia ketahui apa. Saat pulang dari memetik bunga, pemilik rumah itu sedang mencangkul kebun semangka di pekarangannya, lalu terhenti sambil berdiri bertopang pada cangkulnya. Ia menatap langit dengan tatapan merindukan.

Beberapa hari kemudian, pemuda pemilik kebung semangka itu datang ke kedainya, memesan rangkaian bungaLilac dan Gloxinian. Gadis perangkai bunga itu merasa bahwa orang yang mendapatkan bunga itu tentulah sangat beruntung, karena kedua bunga itu dalam bahasa bunga berarti perasaan cinta yang pertama.

Ia tak mengenal pemuda itu. Tapi angin berhembus cepat lewat telinga. Pemuda itu baru saja datang ke negeri itu tak begitu lama. Pemuda pendiam dan seorang petani semangka yang lalu menjualnya ke pasar kota. Akhirnya ia mengerti mengapa nalurinya membuatnya terhenti di depan rumah pemuda itu. Hal itu mungkin karena aroma semangka yang tercium dari pemuda dan rumah itu.

Berhari-hari berlalu, pemuda itu membeli rangkaian bunga Cedar dan Salvia, bunga yang dalam bahasa bunga berarti memikirkan dirimu. Sungguh beruntung perempuan yang menerima bunga itu. Bunga yang seolah menggambarkan hati gadis perangkai bunga itu. Mungkin tanpa sadar ia telah jatuh cinta kepada pemuda petani semangka itu.

Hampir satu musim berlalu, dan pemuda petani semangka itu tak pernah datang lagi. Ia gelisah dan memutuskan untuk pergi kepada pemuda itu. Saat itu petang hari ketika ia bergegeas pergi dan mendapati pemuda petani semangka itu beranjak keluar dari gerbang kota menuju padang rumput. Pemuda itu terhenti karena menyadari dirinya diikuti.

Pemuda itu diam, gadis itu bertanya hendap pergi ke mana ia. Pemuda itu tersenyum, lalu memperkenalkan dirinya. Konon ia bernama Sargas, klan terakhir keluarga penyihir Vernal yang tinggal di sebuah negeri di balik awan Stratus. Ia datang ke negeri Azura untuk memburu langit. Ia menunjukkan bola kristal berwarna seperti langit negeri Azura. Lalu ia berkata bahwa ia harus pulang ke negerinya dengan sapu terbang.

Gadis itu terdiam dan memetik sebuah bunga Sweet William yang tumbuh liar. Gadis itu memberikannya sambil meminta sebuah senyuman dari pemuda itu. Pemuda itu tersenyum sambil menyerahkan rangkaian bunga Carnation berwarna merah muda, Primrose, dan Sweet pea. Setelah menyerahkan bunga itu, pemuda itu terbang di atas sapunya, meninggalkan kata-kata yang hanya bisa ia katakan lewat bunga.