Jumat, 08 Januari 2010

Kisah Pemuda Pemburu Langit dan Gadis Perangkai Bunga dari Negeri Azura

Ada sebuah negeri, bernama Azura, terkenal karena biru langit di atasnya. Negeri dengan biru langit yang tak pernah ditemuka di negeri manapun. Negeri yang padat perumahan dan pertokoan disetiap jalan utama. Di luar perbatasan terdapat padang bunga dan kalau terus, akan mengantarkan kau pada pantai lalu samudra.

Di negeri itu, tinggallah seorang gadis perangkai bunga yang yatim piatu bernama Atria, yang ceria dan dicintai penduduk negeri. Setiap pagi, ia akan memetik bunga liar di balik perbatasan, yang lalu akan ia jual saat hari siang.

Suatu hari saat ia harus mengambil bunga liar, ia terhenti di sebuah rumah yang tak jauh dari perbatasan karena mencium aroma yang menyegarkan. Aroma yang meresapi paru-parunya dan teralir di setiap tetes darahnya. Aroma yang familiar, tapi tak ia ketahui apa. Saat pulang dari memetik bunga, pemilik rumah itu sedang mencangkul kebun semangka di pekarangannya, lalu terhenti sambil berdiri bertopang pada cangkulnya. Ia menatap langit dengan tatapan merindukan.

Beberapa hari kemudian, pemuda pemilik kebung semangka itu datang ke kedainya, memesan rangkaian bungaLilac dan Gloxinian. Gadis perangkai bunga itu merasa bahwa orang yang mendapatkan bunga itu tentulah sangat beruntung, karena kedua bunga itu dalam bahasa bunga berarti perasaan cinta yang pertama.

Ia tak mengenal pemuda itu. Tapi angin berhembus cepat lewat telinga. Pemuda itu baru saja datang ke negeri itu tak begitu lama. Pemuda pendiam dan seorang petani semangka yang lalu menjualnya ke pasar kota. Akhirnya ia mengerti mengapa nalurinya membuatnya terhenti di depan rumah pemuda itu. Hal itu mungkin karena aroma semangka yang tercium dari pemuda dan rumah itu.

Berhari-hari berlalu, pemuda itu membeli rangkaian bunga Cedar dan Salvia, bunga yang dalam bahasa bunga berarti memikirkan dirimu. Sungguh beruntung perempuan yang menerima bunga itu. Bunga yang seolah menggambarkan hati gadis perangkai bunga itu. Mungkin tanpa sadar ia telah jatuh cinta kepada pemuda petani semangka itu.

Hampir satu musim berlalu, dan pemuda petani semangka itu tak pernah datang lagi. Ia gelisah dan memutuskan untuk pergi kepada pemuda itu. Saat itu petang hari ketika ia bergegeas pergi dan mendapati pemuda petani semangka itu beranjak keluar dari gerbang kota menuju padang rumput. Pemuda itu terhenti karena menyadari dirinya diikuti.

Pemuda itu diam, gadis itu bertanya hendap pergi ke mana ia. Pemuda itu tersenyum, lalu memperkenalkan dirinya. Konon ia bernama Sargas, klan terakhir keluarga penyihir Vernal yang tinggal di sebuah negeri di balik awan Stratus. Ia datang ke negeri Azura untuk memburu langit. Ia menunjukkan bola kristal berwarna seperti langit negeri Azura. Lalu ia berkata bahwa ia harus pulang ke negerinya dengan sapu terbang.

Gadis itu terdiam dan memetik sebuah bunga Sweet William yang tumbuh liar. Gadis itu memberikannya sambil meminta sebuah senyuman dari pemuda itu. Pemuda itu tersenyum sambil menyerahkan rangkaian bunga Carnation berwarna merah muda, Primrose, dan Sweet pea. Setelah menyerahkan bunga itu, pemuda itu terbang di atas sapunya, meninggalkan kata-kata yang hanya bisa ia katakan lewat bunga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar