Minggu, 21 Februari 2010

Terhenyak untuk Saat Ini

Terlalu banyak orang yang tahu, membuatku terkejut ia menanyakan kepadaku. Aku sungguh tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi kali ini aku akan membagi kepadanya. Ia mulai bercerita banyak, membuatku semakin yakin bahwa itu adalah dia. Ya, dia memang orang itu, orang yang ku temukan sejarahnya kemarin petang. Ia bertanya tentang orang-orang lain, seperti petugas inspeksi kebenaran. Tapi aku tetap bercerita, karena ia mau menukarkannya dengan informasi berharga yang lainnya. Hanya saja aku tak seutuhnya bercerita tentang apa yang ingin ia ketahui, sebagian lagi kututupi, agar tak ada yang merugi. Terimakasih atas cerita yang kau katakan kepadaku tempo ahri, akhirnya kini aku pun bisa mengerti.

Menjadi Dewasa

untuk seseorang yang ingin tetap jadi kanak-kanak

Waktu telah beranjak dari tempatnya sejak pertama kali aku bertemu denganmu dan dia. Tak saling mengenal tapi naluri mengajak berpetak umpet tentang siapa dirimu dan dia.

Waktu bergeser, dan kita masih tetap jadi kanak-kanak. Sibuk merangkai banyak cita utnuk menghias ruang kelas dengan 1000 bangau kertas. Buku-buku catatan penuh dengan ide petualangan pergi ke langit mengunduh bintang, berlayar bersama angin, melewati lebat belantara hingga samapi ke puncak ghunung atau lepas pantai.

Waktu bergeser, dan kita masih tetap jadi kanak-kanak. Sibuk bertukar bekal di bawah pohon sambil berbicara tentang mipi-mimpi tanpa berpikir bagaimana kelak aku, kau, dan dia akan menggapainya sekalipun. Kaki telanjang berlari dikecipak lumpur dan hujan, bermusik bersama awan, menghentak dan berdansa bersama angin.

Waktu bergeser terlalu jauh kini kusadari. Ketika aku menoleh, kudapati kau dan dia telah memilih untuk beranjak jadi dewasa, bertumbuh tanpaku, meninggalkanku tetap jadi kanak-kanak. Meninggalkanku dengan 1000 mimpi dan cita-cita yang telah tergantung di depan jendela.

Sungguh aku tak ingin jadi dewasa. Tak ingin terlalu kusut mengurus perasaan dari ahti itu. Aku ingin tetap jadi kanak-kanak, yang selalu dapat bermimpi tanpa harus terbebani untuk mengapainya. Aku ingin tetap jadi kanak-kanak, agar aku dapat menunggumu dan dia, kalau-kalau kau dan dia ingin kembali jadi kanak-kanak.

Aku akan menanti di sini, bersama bangau-bangau kertas dan kecipak lumpur dan hujan.

Sabtu, 20 Februari 2010

Menangis untukmu

Kali ini aku tahu dengan sendirinya tentang orang itu. Mungkin aku salah kira, hanya saja tak perlu kutanyakan kepadanya, semua telah jelas.

Benarkah selama ini ia yang telah memenui benakmu, hingga kau bertanya kepada orang-orang tentang kabarnya? Benarkah selama ini ia yang telah membuatmu tampak begitu berseri seperti bunga yang bermekaran saat matahari baru satu inci beranjak dari malam?

Kali ini biarkan aku menangis untukmu, untuk dirimu saat ini. Tanganku bergetar seperti senar dawai yang kendor dari ikatnya ketika aku menemukan apa yang tempo hari tak dapat aku jawab kepadamu. Kurasa kabut mulai turun, membuatku menggigil bersama tetes air mataku untukmu. Kali ini aku tak akan bercerita padaku tentang orang itu. Biarkan saja, ya, biarkan saja. Aku terlalu sedih untuk bercerita, takut membuatmu ikut menangis.

Aku ingin minta maaf kepadamu, kali ini sungguh aku tak ingin membagi cerita ini bersamamu.

Apakah Kau Menyesal?

Apakah kau sadar akan apa yang kaulakukan?

Ia telah lama khawatir tentangmu, memikirkanmu hingga mencari alasan tentangmu. Kau bodoh, terlampau tak mengerti. Kau bilang ia mau mengerti dan memang ia mengerti, tapi kali ini kau sendiri yang tak mau mengerti tentangnya.

Ia telah lama memikirkan tentangmu, mencari alamat suratmu yang baru, agar ia sesekali dapat berkabar tentangnya. Tapi kali ini kau sendiri yang tak mau berkabar tentang dirimu kepadanya, padahal dulu kau sendiri yang bertanya tentang kabarnya. Kau bodoh, salah kira ia tahu segalanya. Tapi tidak, ia sama sekali tidak tahu.

Kali ini apakah kau menyesalinya?

Penyampai Pesan

Aku berhutang maaf kepadamu, juga orang itu. Suratmu belum juga aku sampaikan kepadanya, belum ada waktu yang tepat untuk mengirimkannya. Maaf, sungguh aku sangat ingin mengirimkannya kepadanya. Kau hanya tak mengenalnya saja, sekalipun aku juga tak mengenalnya. Sungguh kini aku tak lagi dapat mengenalinya. Aku pun telah berjanji kepadanya akan menyampaikan suratmu itu. Dan aku akan menyampaikan pesanmu karena aku adalah seorang penyampai pesanmu.

Sabtu, 13 Februari 2010

Aku Akan Tetap di Sini

Suatu hari kau datang kepadaku, mengajakkku minum teh Assam di bawah langit malam. Kau mulai berkisah tentang bintang, tapi tak pernah kau selesaikan, malah terdiam sambil menatap bulan. Aku bertanya, dan kau mulai diam, seolah membiarkanku mengunakan imaji liarku untuk mengetahui apa yang tersimpan dalam benakmu.

Aku mengerti, cukup mengerti. Aku tak akan bertanya lagi. Karena aku tahu suatu ketika kau akan mengajakku bulan bersamamu. Lalu kita bertiga akan minum teh Assam sama-sama, dibawah langit yang tak berbintang tentunya.

Kamis, 04 Februari 2010

Kau adalah Matahariku

Aku sama sekali tak mengerti tentang dirimu. Kupikir aku mengenalmu, tetapi tidak. Kau bilang, kau telah menemukan sumber cahayamu, tetapi entah mengapa kau masih tetap bertahan bersamaku dalam penantian ini. Mungkin bagimu hal ini biasa, tapi lama-lama aku akan berpikir bahwa kau akan selalu menemaniku dalam penantian ini. Aku jadi takut, suatu saat kau akan tumbuh meninggalkanku tanpa senyummu itu.

Sumber Cahayamu

Suatu senja, aku bertemu dengannya. Aku tak mengenalnya, hanya saja sejak pertama aku telah terpesona kepadanya. Ia hanya lewat saja, tak menyapa. Belakangan aku baru tahu, bahwa ia adalah seorang Ksatria Wanita klan Bellatrix yang datang jauh dari rasi bintang Orion. Ia datang mencari matahari karena telah lama ia terpesona pada senyumnya.

Akhirnya aku tahu bahwa cahayamu saat ini adalah seseorang yang kutemui dulu. Hanya saja kau terlalu tak adil kepadaku, karena kau telah membuatku berpikir bahwa kau tak akan kembali lagi kepadaku. Ya, kau terlalu tak adil karena kau telah tau aku tak akan pernah bisa menjadi cahayamu.