Minggu, 21 Februari 2010

Menjadi Dewasa

untuk seseorang yang ingin tetap jadi kanak-kanak

Waktu telah beranjak dari tempatnya sejak pertama kali aku bertemu denganmu dan dia. Tak saling mengenal tapi naluri mengajak berpetak umpet tentang siapa dirimu dan dia.

Waktu bergeser, dan kita masih tetap jadi kanak-kanak. Sibuk merangkai banyak cita utnuk menghias ruang kelas dengan 1000 bangau kertas. Buku-buku catatan penuh dengan ide petualangan pergi ke langit mengunduh bintang, berlayar bersama angin, melewati lebat belantara hingga samapi ke puncak ghunung atau lepas pantai.

Waktu bergeser, dan kita masih tetap jadi kanak-kanak. Sibuk bertukar bekal di bawah pohon sambil berbicara tentang mipi-mimpi tanpa berpikir bagaimana kelak aku, kau, dan dia akan menggapainya sekalipun. Kaki telanjang berlari dikecipak lumpur dan hujan, bermusik bersama awan, menghentak dan berdansa bersama angin.

Waktu bergeser terlalu jauh kini kusadari. Ketika aku menoleh, kudapati kau dan dia telah memilih untuk beranjak jadi dewasa, bertumbuh tanpaku, meninggalkanku tetap jadi kanak-kanak. Meninggalkanku dengan 1000 mimpi dan cita-cita yang telah tergantung di depan jendela.

Sungguh aku tak ingin jadi dewasa. Tak ingin terlalu kusut mengurus perasaan dari ahti itu. Aku ingin tetap jadi kanak-kanak, yang selalu dapat bermimpi tanpa harus terbebani untuk mengapainya. Aku ingin tetap jadi kanak-kanak, agar aku dapat menunggumu dan dia, kalau-kalau kau dan dia ingin kembali jadi kanak-kanak.

Aku akan menanti di sini, bersama bangau-bangau kertas dan kecipak lumpur dan hujan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar