Sabtu, 20 Maret 2010

Mencoba Tak Mendengar

Aku tertunduk, mendengarmu berbincang dengan salah satu pegawai cupid itu. Ku dengar kau dan dia berbincang tentang kunjungannya ke rumahmu dulu. Aku diam, pura-pura tak mendengar. Ia bilang, saat itu kau tak sedang ada di rumah dan ia bertemu dengan ayahmu. Aku baru tahu bahwa ia telah tahu dimana rumahmu sedang aku tudak. Ia terus bercerita dan aku mendongak menatapmu dan kau juga tengah menatapku. Aku kembali memainkan tanah di ujung kakiku, pura-pura tak mendengar.

Lalu kau bilang bahwa ia telah membuat masalah besar sehinga ayahmu akhirnya menginterograsimu setelah kau pulang. Ayahmu kira, ia kekasihmu. Tentu saja bukan, tapi aku tahu kau suka kepadanya. Aku memilih diam, pura-pura rak mendengar. Aku mendongak menatapmu dan dia ketika kau menatapku, seolah ingin aku tahu ntentang cerita itu. Aku kembali tertunduk, memainkan tanah di ujung kakiku. Aku cukup tahu bahwa kau adalah faery dan ia adalah pegawai cupid. Dan aku pura-pura tak mendengar.

Seseorang Baru

Aku bisa gila jika terus seperti ini. Hari-hari akan terasa berat, tapi ku putuskan aku akan tetap bertahan melihat mereka tumbuh jadi faery-faery yang sungguh menakutkan.

Aku sealalu berlagak akan baik-baik saja, tapi ternyata tidak. Kemarin aku melihat salah satu diantara mereka, faery-faery itu. Ia terlihat bersinar, mempesona, dan terasa manis bagi mataku. Aku tak bisa melepaskan mataku darinya.

Ah, aku lupa menahan diri. Mereka faery-faery itu, aku tahu. Tapi takbisa begini bukan? Aku akan tetap diam saja, seolah aku tak bisa melihat mereka.

Tambahkan Waktuku

Malam terasa dingin, lebih dingin dari biasanya. Kali inipun demikian. Karena aku hanya sedniri saja di sini, tanpamu atau siapapun. Malam terasa semakin larut, terlalu larut untuk bercerita tentang terik hari yangterlewati atau gerimis yang mengikis bebatuan.

Kali ini pun kau datang kepadaku, berniat bercerita tentang hari-hari yang membosankanmu, atau tentang usahamu yang tak berdaya. Aku terlalu lelah untuk mendengarkan kesahmu itu, terlalu tak punya waktu kali ini, terburu menyelesaikan kata-kata, soalnya.

Sungguh aku ingin kita seperti dulu, saat-saat ketika kita berlomba mengejar layang-layang atau saat-saat ketika kita berlomba menyelam dan mengumpulkan kerang-kerang. Saat-saat yang kurindukan itu telah kelewat terlalu lama, kau tahu itu.

Kawan, aku sungguh ingin mendengarkan kisah kesahmu itu, hanya kini aku tak lagi bisa membagi waktuku untukmu. Mungkin aku bisa, asalkan kau tambahkan waktu dunia jadi 25 jam sehari. Lalu aku akan jadwalkan, satu jam untuk mendengarkan kisahu itu.

Sabtu, 13 Maret 2010

Di Saat Aku Teringat padamu

Perasaan ini terus meradang, seperti sebuah penyakit yang tak bisa tersembuhkan. Bisakah kau hentikan ia sekarang juga? Aku bisa gila, ingin tahu makna mimpi-mimpi yang menyelubungi malamku belakangan ini. Apakah mimpi itu tentangnya? Aku tak tahu, hanya saja sepertinya aku telah terpesona. Ya, aku hanya terpesona saja kepadanya. Hanya saja, mengingat tentangnya membuat jantungku bekerja lebih cepat, seolah memburu napasku.

Sepertinya, aku memang butuh insulin lebih banyak.

Tentang Apa yang Ku Lihat (I)

Aku tak mengerti, mengapa dunia ini terasa begitu panas jikalau kau ada di seberang sana. Seolah matahari hanya berjarah satu mil saja dari bumi, membuat tubuhku bergelora, panas, dan basah oleh keringat. Aku tak mengerti, tapi aku bisa mati dehidrasi karenanya, karena panas terik yang mengingatkanku kepada kemarau.

Tapi kau beda, tak seperti apa yang kau bawa. Aku tak mengerti, tapi entah mengapa kau terlihat begitu sejuk, mengingatkanku kepada pohon dedalu yang rindang dengan rerumputan hijau di bawahnya juga pada bisik angin yang meniup helai daun dan rantingnya, terasa menyejukkan, membuatku ingin merebahkan diri di bawahnya.

Kau terlalu menawan, kau tahu itu.
Aku ingin tahu, apakah kau salah satu diantara faery-faery itu?

Tentang Apa yang Ku Lihat (II)

Tidakkah kau menyadarinya, bahwa kau datang dan membuat duniaku benar-benar terasa begitu dingin, membekukan udara, mengubah dunia menjadi bergerak sangat lambat, seolah hanya aku dan kau yang bergerak terlalu cepat.

Kau membuatku gemetar di dalam sendi-sendi yang tak kuat menopangku berdiri, membuat tengkukku meremang dan tulang-tulangku kesakitan karena dingin yang meresap ke bawah kulit. Aku hanya tak mengerti, mengapa dirimu terlihat hangat, seperti gejolak api di perapian yang menghangatkan kabin, seperti sinar matahari di waktu musim panas. Tidakkah kau tahu?

Aku ingin berlari padamu, mendekat padamu, agar aku bisa terbebas dari kebekuan ini. Tidakkah kau tahu?

Aku jadi ingin tahu, apakah kau salah satu diantara faery-faery itu?

Tentang Apa yang Ku Lihat (III)

Mungkin kau tak pernah menyadarinya, Sora. Tapi kau telah membuat duniaku menjadi cukup nyata untuk dapat kuluhat warnanya.

Kau membuat duniaku menjadi berwarna hitam dan putih, seperti kilasan-kilasan film entah jaman kapan. Tapi aku bisa menemukanmu dengan mudah karena kau terlihat paling berwarna di antara kontras gelap terang itu. Aku tak mengerti, tapi langit kini tampak begitu biru untuk dijelajahi, rerumputan tampak begitu hijau hingga aku ingin berlari di atasnya, batang-batang dan rerantingan pohon terlihat tampak begitu coklat untuk dipanjat, dan bunga-bunga tampak beraneka warna untuk dipetik atau sekerdar dikagumi.

Kau harus tahu itu, kaulah yang mengenalkanku pada warna-warna itu. Aku jadi ingin tahu, apakah kau salah satu diantara faery-faery itu?

Sabtu, 06 Maret 2010

Rendezvous

Sudah lebih dari 6 bulan aku tak pernah bertemu dengannya. Dan kemarinpun ia telah menggenapi angka-angka itu dengan perjumpaan yang mengingakanku kepadamu, Sora.

Aku tak mengerti, tapi aku terpesona ketika untuk pertama kalinya dalam 6 bulan ini aku tak melihatnya. Aku tak tahu, bahwa dalam waktu 6 bulan saja bisa membuatnya terlihat berbeda, tumbuh menjadi laki-laki.
Kau tahu Sora, aroma tubuhnya menyebar di udara, membuat leherku meremang, membawa udara yang menusuk dan mengendap di dalam paru-paruku. Membuatku ingin berhnti bernapas agar aku tak dapat menghirup aroma tubuhnya itu.

Tiba-tiba semua jadi hening, aku tak bisa mendengar apapun, kecuali hembusan nafasnya yang teratur, seperti ritme udara yang menyejukkan. Membuatku berjengit.
Lalu tiba-tiba saja jantungku telah berpindah dari tempatnya, berpindah ke perut, membuat seisi perutku bergejolak, membuatku tak dapat membedakan mana perut dan jantungku.
Otot tanganku menegang, lalu pelan-pela menjadi tergetar entah karena apa. Aku ingin jantungku berhenti sesaat agar dadaku tak sakit menahan detak jantungku yang berdetak seperti irama samba.

Hei, Sora, kali ini aku pun ingin meminta maaf kepadamu. Tpi biarkan hal ini berjalan sebagaimana seharusnya, tanpa aku harus terbebani untuk terus memikirkanya atau mewujudkannya. Ya, biarkan.

Kamis, 04 Maret 2010

Sebuah Ramuan

Ia sering kali datang kepadamu, membawa warna-warna yang begitu nyata. Dan awalnya kau pun tak tertarik kepadanya, karena kau telah lebih dahulu berjumpa dengan warna-warna itu. Lalu ia kembali kepadamu membawa warna-warna yang lebih tegas dan kontras, warna-warna yang belum pernah kau kenal sebelumnya. Kau menerimanya dengan suka cita, membuat hatinya melambung.

Suatu ketika ia datang kepadamu, membawakan warna putih kanvas yang belum pernah kau sentuh. Kau tak menghiraunya, karena kau lebih menyukai nada-nada perkusi atau irama detak jantung. Lalu ia kembali kepadamu membawa warna kanvas yang telah ia lukis dengan warna-warnakontras yang belum pernah kau kenalitu. Kau menerimanya dengan suka cita, lagi-lagi membuat hatinya melambung.

Suatu ketika ia datang kepadamu, membawa tangkai-tangkai bunga mawar, bunga yang sama sekali tak kau sukai itu. Lalu ia kembali lagi, membawakanmu tangkai-tangkai casablanca dan kau menerimanya dengan suka cita, lagi-lagi membuat hatinya melambung.

Suatu ketika, ia menjamumu munim teh di bawah bulan purnama dan rasi bintang-bintang. Ia telah menyiapkan meja sepasang kursi dan sebuah meja dengan bunga casablanca di atasnya, membuatmu tersipu. Lalu ia mengajakmu duduk menikmati aroma teh dan sinar bulan saat itu. Ia berserita banyak, dan kau terlena,tak sadar ia telah menungkan ramuan di dalam tehmu. Dan kala itu pun, kau pun telah menerima hatinya.

Kiniketika kau tersadar, ceritaku tentang masa-masa itu membuatku tak ingin bertemu dengannya lagi.

Menunggu

Lagi-lagi kau membuatku berpikir tentangmu, tentang kita, juga tentang orang itu. Kali ini pun sama, kau sedang menunggu bersamaku. Bukan,tapiaku yang sedang menunggu dan kau menemaniku. Aku tak mengerti, kau hanya diam, dan aku tak berani bertanya kepadamu mengapa kau ada bersamaku saat itu. Aku tak mengerti, kau membuatku berpikir tentang orang itu dan kau sendiri. Ini aneh, kau tetap diam, dan aku pun demikian. Kali ini, jangan buat aku ingin bertanya mengapa kau ikut menunggu bersamaku.