Kamis, 04 Maret 2010

Sebuah Ramuan

Ia sering kali datang kepadamu, membawa warna-warna yang begitu nyata. Dan awalnya kau pun tak tertarik kepadanya, karena kau telah lebih dahulu berjumpa dengan warna-warna itu. Lalu ia kembali kepadamu membawa warna-warna yang lebih tegas dan kontras, warna-warna yang belum pernah kau kenal sebelumnya. Kau menerimanya dengan suka cita, membuat hatinya melambung.

Suatu ketika ia datang kepadamu, membawakan warna putih kanvas yang belum pernah kau sentuh. Kau tak menghiraunya, karena kau lebih menyukai nada-nada perkusi atau irama detak jantung. Lalu ia kembali kepadamu membawa warna kanvas yang telah ia lukis dengan warna-warnakontras yang belum pernah kau kenalitu. Kau menerimanya dengan suka cita, lagi-lagi membuat hatinya melambung.

Suatu ketika ia datang kepadamu, membawa tangkai-tangkai bunga mawar, bunga yang sama sekali tak kau sukai itu. Lalu ia kembali lagi, membawakanmu tangkai-tangkai casablanca dan kau menerimanya dengan suka cita, lagi-lagi membuat hatinya melambung.

Suatu ketika, ia menjamumu munim teh di bawah bulan purnama dan rasi bintang-bintang. Ia telah menyiapkan meja sepasang kursi dan sebuah meja dengan bunga casablanca di atasnya, membuatmu tersipu. Lalu ia mengajakmu duduk menikmati aroma teh dan sinar bulan saat itu. Ia berserita banyak, dan kau terlena,tak sadar ia telah menungkan ramuan di dalam tehmu. Dan kala itu pun, kau pun telah menerima hatinya.

Kiniketika kau tersadar, ceritaku tentang masa-masa itu membuatku tak ingin bertemu dengannya lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar