Sabtu, 17 April 2010

Standing Here Like a Foolish

Standing here like a foolish
I'm trying to call your name, wish you'll be here for me
Tonight the sky bring our stars, the stars that we had gotten when we were a child

Standing here like a foolish
I'm stopping think that you'll be here, 'couse you had found the only thing that you're waiting for

Standing here like a foolish
I'm trying to stop hoping it will be the same as when we were a child
You had grown up, left me far behind

Standing here like a foolish
I still keep your word like a foolish

Daydream

Take a look to your word
I still don't know what you mean
Take a deep breathing in
I still hard keep my smile

Thinking about you make me fell confuse
I still can't find the meaning of your hazy word
Is it a daydreaming of you? Or just one of my nightmare?

Take a look to your promise
The promise that we were holding in together
Take a rest thinking of you
I still can't stop my tears dropping

Thinking about us make me fell lonely
I don't want it will be ended
Is it a daydreaming of you? Or just one of my nightmare?

Please tell me that it is not one of my nightmare
And you'll be here for me tonight






dedicate to cloudz

Minggu, 11 April 2010

Ingatan Itu

Aku kembali teringat tentang orang itu. Meski aku bersumpah kepada diriku sendiri agar tak akan kembali mengingat orang itu, aku tetap saja teringat tentangnya ketika kemarin aku melintasi tempat itu. Tempat yang untuk pertama dan terakhir kali ku kunjungi untuk menatapnya di antara jeruji jendela.

Entah apa yang membuatnya datang kepadaku petang itu. Lama tak berjumpa padanya telah membuatku hampir lupa untuk mengeja namanya. Ia bilang ia rindu kepadaku dan menyampaikannya lewat tetes hujan, seperti halnya hujan yang merindukan tanah. Aku tak mengerti tentangnya. Kali ini, bernostalgia saja membuatku ingin meninggalkan ingatan tentangnya di suatu tempat yang tak akan pernah aku temukan lagi.

Mencemaskanku

Kali ini aku ingin melayang saja.
Ketika kau mencemaskanku kemarinpun kau seolah membuatku menjadi gila karena tak bisa membuatku berhenti tersenyum. Kau tak tahu itu bukan?

Kata-katamu memang hanya biasa, bahkan jarang kau keluarkan. Tapi kai ini kau terlalu bodoh karena membuatku tak bisa berhenti tersenyum. Kau pasti tak sadar bahwa kau mengingatkanku pada pengakuanku pada langit di padang rumput setinggi mata kaki bertahun-tahun lalu.

Kamis, 08 April 2010

Suara Orang Itu

Aku tak mengerti tentangmu, semakin tak mengerti saja. Kali ini kau duduk termenung menatap awan yang terlihat di sela-sela jendela. Kau termenung, melamun mungkin, tak menyadari aku di sini memerhatikanmu. Lama hening, dan yang dapat ku dengar hanya gemerisik dedaunan dan desir angin di antara jendela. Sayup, aku dapat mendengar sebuah lagu sendu dari balik pintu di seberang sana. Kau akhirnya bereaksi, menatap di balik pintu itu sambil menerawang. Dapat ku lihat bayangan orang itu di matamu yang meredup.

Masihkah kau berharap bahwa kisah pungguk yang merindukan bulan itu tak pernah ada?

Peperangan yang Kau Hadapi

untuk para Ksatria




Kadang, diam pun tak akan menyelesaikan masalah. Seperti halnya peperangan yang telah banyak kau lewati, masalah bukan hal yang mudah untuk terselesaikan tanpa kau sentuh. Kadang, diam dan menunggu agar orang-orang mau mengerti pun tak akan mudah ketika kau masih tetap berpikir tembokmu terlalu rapuh untuk ditembus. Kadang, menyusun strategi saja tak akan cukup untuk membuat mereka bungkam jika kau tak segera berinisiatif akan menyerang.

Kau tahu, kini semua menatapmu menghadapi peperangan tak aksat mata ini. Semua dipertaruhkan, hidupmu, jiwamu, ragamu, hartamu, bahkan gadismu. Kau tahu itu.

Kau hanya tak tahu, orang-orang suruhan mereka telah lama menyusup di bawah atap bentengmu.

Selasa, 06 April 2010

Pertanyaan Tentangmu

Kali ini aku merasa seperti kau intai.

Duduk-duduk di tempat inu membuatku merasa udara semakin berkurang saja. Entah berapa meter jarak aku dan kau, tapi aku yakin kita menghirup udara yang sama. Takkah kau merasakan bahwa udara ini terasa begitu menyesakkan?

Peri salju di sampingmu itu tertunduk entah sedang menekuni apa tapi jelas aku yakin, kau sedang mengintaiku kali itu yang sedang menatapmu iri. Takkah kau rasakan bahwa udara ini menajdi berkurang dan membuatku sulit bernapas?

Kau berdiri, entah mengapa, seolah tak ingin berlama-lama di tempat itu. Kau meninggalkan peri salju itu sendiri. Meski lalu peri salju itu menyusulmu. Takkah kau tahu aku sungguh ingin taku mengapa kau harus beralih dari tempat itu?

Mungkin karena aku bersama orang itu?

Hal-hal Kecil yang Kau Tunjukkan

Aku ingin tahu, apakah kau tahu atau hanya berpura-pura tak tahu bahwa tawaranmu itu begitu menggiurkan.

Aku tak mengerti, kau tak pernah memberiku bunga, walau aku tak yakin bahwa kau tahu aku tak menyukai bunga manapun kecuali casablanca. Kau tak pernah menghadiahkan lukisan berbingkai emas, walau aku tak yakin bahwa kau tahu aku tak menyukai kemewahan. Kau tak pernah mengajakku melihat opera sabun, walau aku tak yakin bahwa kau tahu aku tak menyukai sandiwara bergelimang romansa. Hanya saja kau selalu bisa membuatku tersenyum.

Seperti halnya malam ini dan malam-malam sebelumnya. Waktu telah kelewat malam, tapi kau tetap terjaga, malah mengajakku menikmati cahaya bulan atau menghitung bintang. Aku tahu, malam telah dingin dan dengan senang hati aku datang ke jamuanmu kali itu. Meski lain kali aku berjanji kepada diriku bahwa aku tak akan lagi datang.

Aku hanya tak mengerti, mengapa hal-hal kecil yang kau tunjukkan selalu bisa membuatku tersenyum.

Kamis, 01 April 2010

Sebuah pesan Singkat

Entah apa yang membawanya, tapi kali itu ia mengirimiku sepucuk surat bertuliskan kalimat-kalimat pendek. Terlampau aneh, sungguh aku tak berdusta. Terakhir kali ia mengirimiku surat bahkan ia hanya bertanya tentang pegawai Cupid itu. Kali ini apa yang membawanya hingga ia mengirimiku sepucuk surat tak berarti itu? Merayuku kah? Atau ia hanya ingin menjebakku saja?

Maaf saja, meski kau menawan, tapi kau tetap bagian dari mereka, faery-faery, yang tak mungkin aku jangkau keberadaannya meski mereka mencoba meraihku.

Ingatlah Hari Itu

Ketika suatu hari nanti kita bertemu, mungkin kali itu kita telah akan sungkan satu sama lain, melupakan hari-hari terlewati bersama senyumanmu itu dan ujung alisku yang hampir bertautan karena kau.
Ketika suatu hari nanti kita bertemu, mungkin kali itu kau telah akan menggandeng seseorang lain, entah siapa aku tak tahu, atau saat itu kau masih bersama Ksatria Wanita itu? Entah, tapi pasti aku tak akan lagi iri pada seseorang itu.
Ketika suatu hari nanti kita bertemu, mungkin kali itu aku telah akan bisa menatapmu tanpa berharap lagi senyummu itu untukku.

Tapi mari kita ingat, hari dimana dunia hanya ada aku dan kau dihadapanku, saling menatap warna mata tanpa perlu sungkan, tanpa harus menutupi pancaran matamu yang mengelorakan setiap tetes darahku.

Nah, jika saat itu kau datang seorang diri dan kau menatapku seperti saat kau menatapku dulu sebelum kau mengenak Ksatria Wanita itu, bolehkah akuberharap kau akan mengajakku menemui orang-orang itu?

Senyummu Itu Patut Dipertanyakan

Aku tak pernah lagi menulis tentangmu karena kini aku telah bersama peri salju itu bukan?

Aku tak pernah mengerti tentangmu juga tentang senyummu. Aku selalu berharap aku tak akan bertemu denganmu bila kau sedang bersamanya, terlalu sungkan dan membuat alisku berkerut. Aku pun mengenal peri salju itu, bukan? Kau tahu itu. Sudah sering aku bersamanya, hanya aku tak mengerti mengapa kau kini bersamanya. Apalagi kau selalu melemparkan senyumm itu kepadaku meski kau bersamanya saat itu.

Mengapa kau tawarkan senyummu itu? Kau harus menjawabnya, agar semuanya tak menjadi semakin rumit saja.

Tawaranmu dan Rasa Itu

Kau harus tahu, apa yang kau tawarkan kepadaku itu terlampau manis untukku yang hanya bisa merasakan pahit. Aku tak mengerti tapi tawaranmu terlampau menggiurkan untukku yang tak pernah bisa menawar dengan baik.

Tapi kau hanya terdiam sejak terakhir kali kita berbicara panjang lebar tentang keinginan kita berkeliling angkasa. Kalau kau menjaga jarak kini biar aku yang bertanya kepadamu mengapa, atau aku yang telah meninggalkanmu? Tentu tudak, tapi kau tak pernah tau bukan, bahwa aku pernah berharap kau benar akan berkeliling angkasa.

Kini aku pun mulai sungkan pedamu. Apa karena kita telah beranjak dari kanak-kanak?