Rabu, 30 Juni 2010

Mengirim Pesan kepada Langit

Hari ini mungkin aku sedang gila atau apa. Tapi kau tak akan pernah menyangkanya, bahwa aku akan berani mengirimkan pesan kepadanya, kepada langit. Bulan sudah hampir tua, dan mungkin hal itu yang membuatku bertindak gila. Ya, hari ini kuputuskan untuk mengirimkan surat kepada langit. Surat merah jambu, yang sama sekali tak berbau wangi parfum perancis. Apakah langit akan terkejut? Apakah ia akan mengingatku lagi? Ya, mungkin saja. Tapi untuk membalas apa yang tertuliskan di dalam surat itu? Kurasa aku tak yakin. Aku hanya ingin langit tahu saja, bahwa selama ini aku masih terpasung pada masa laluku, padanya, pada langit. Aku ingin ia tahu, perasaan ini begitu menyakitkan, hingga sulit untuk dituliskan di atas kertas. Tapi, tak apa lah. Aku sudah mengirimkan surat itu kepadanya. Dan tinggal menunggu saja balasan darinya.

Berhentilah (ketika kau memilih diam)

Berhentilah untuk mengobrak-abrik pikiranku. Berhentilah untuk mengacaukan diriku. Kau tak akan pernah bisa memusnahkan segel dalam hatiku.
Berhentilah bersikap penuh masalah dan tanda tanya. Berhentilah bersikap acuh pada kekawatiranku. Kau tak akan pernah bisa membuatku berhenti bertanya.

Kali ini meski kau tak bisa menghancurkan segel itu, aku tak akan membiarkanmu masuk lebih dari ini. Sudah cukup, kalau kau memang benar-benar memilih diam.

Rabu, 23 Juni 2010

Yang Tersisa Kini (tentang milikku dan milikmu)

Kupikir, satu-satunya hal yang aku dan kau miliki adalah sebuah cerita. Cerita yang kupercaya hanya aku dan kau saja yang tahu, tak seorangpun tahu dan tak seorangpun akan tahu.
Kupikir, satu satu-satunya hal yang aku dan kau jaga adalah sebuah janji. Janji yang kupercaya akan aku dan kau pegang tegus, tak ada keraguan hanya untuk melepasnya dan tak akan ada keraguan hanya untuk melepasnya.
Tapi aku baru sadar. Kali ini cerita itu telah jadi dongeng yang akan selalu diveritakan turun temurun dan janji itu pun telah jadi udara yang menguap, sulit untuk kembali tergenggam.

Lantas, kali ini apa yang masih tersisa untuk aku dan kau miliki kembali?

Surat Sewarna Darah yang Kuterima Tempo Dulu

Malam hampir sampai pada puncaknya, tapi bumi telah lama tertidur, mendengkur, getarannya tersampaikan padaku yang masih terjaga, merana mengingat relung-relung yang sering bertambah sakit akhir-akhir ini. Aku kembali teringat pada surat pertama yang kau alamatkan padaku bertahun-tahun lalu. Isinya begitu basah, oleh darah yang penuh dengan rayuan yang janggal. Masih kusimpan surat itu. Kau mungkin sudah lupa karena kau memang benar-benar lupa, bukan? Aku masih ingat dulu ketika aku menerimanya. Terlampau bahagia, seperti gadis muda yang menerima undangan makan malam bersama lilin-lilin aroma terapi. Itu dulu, kali ini ketika aku membuka surat itu, yang ada hanyalah perasaan pedih seperti pisau yang menyayat ujung jari, terlalu pedih, hingga aku tak sanggup merasakan sakitnya.

Tapi kali ini aku akan membiarkanmu untuk melakukan apapun sesuai yang kau inginkan karena kali ini aku akan mencoba untuk tak begitu peduli lagi.

Selasa, 08 Juni 2010

Ketika Aku Ingin Bertanya

Aku selalu ingin kita menyusun waktu agar kau mau jujur kepadaku tentang apa yang kau rasakan kepadaku, kepada orang-orang, agar aku dapat mengenalimu suatu saat nanti ketika kita telah lama berpisah. Aku selalu terpikir ketika melihatmu aku telah bertekad untuk menanyakan kepadamu, tapi selalu saja tekad itu menciut ketika aku melihat senyummu itu.

Semua orang sering mendatangiku dan bertanya kepadaku tentang dirimu dan aku. Tapi aku tak bisa menjawabnya, terpatah-patah, karena aku memang sama sekali tak tahu apa-apa tentang kita. Mungkinkah aku temanmu? Tentu saja demikian, dan merekapun juga temanmu. Kau tahu, suatu hari Hime menanyakan hal sama kepadaku. Dan seperti sebelum-sebelumnya, aku sama sekali tak mengerti tentang bagaimana kita menamai ikatan diantara kita.

Aku selalu berpikir kau pasti menganggapku berbeda, tapi bahkan kau mau bercerita kepadaku tentang wanita-wanita yang kau cintai itu. Kau hanya tak mengerti saja bahwa aku begitu ingin menanyakan hal ini kepadamu. Aku tahu, Hime berbeda, ia yang mengatakannya kepadaku. Kau mempertaruhkan kejujuran kepadanya dan ia menjaganya. Tapi bagaimana denganku? Bahkan kau tak suka membicarakan kejujuranmu itu kepadaku. Hanya menebar kata-kata yang sebenarnya tak kumengerti tapi terpaksa ku jawab sebisaku.

Aku selalu takut menanyakannya kepadaku, bukan takut akan jawabanmu, tapi aku takut tak bisa berkata-kata setelah kau mengatakan jawabannya kepadaku. Tapi aku akan berkeras hati dan suatu saat kita akan datang ke tempat yang kelah kita janjikan untuk mengurai benang itu satu-satu. Lalu kita bisa tertawa seperti hari-hari yang telah kita lewati berwama, tapi akan terasa lebih melegakan bagimu dan aku sendiri.

Senin, 07 Juni 2010

Menunggu

Hari ini aku ingat tentangmu. Orang yang selama satu sore membuatku menunggu di sebuah persimpangan, di tempat dimana aku bisa menunggu senja tenggelam, tempat dimana aku bisa menyaksikan lampu-lampu jalanan mulai menyala.

Ya, aku menunggumu bersama senja dan lalu lalang lalu lintas, mempertaruhkan kepulanganku. Aku menatap jam, detik-detik yang terlewati, juga menulisnya jadi kata-kata. Bunga sakura di seberang sana telah mekar, tinggal menunggu gugurnya saja. Waktu berlalu, dan temanmu itu telah berjanji akan membawakan buah tangan bila mana kau dan temanmu itu datang. Lama sekali aku menunggu tapi aku tak segera ingin pulang, seolah percaya kau akan datang entah kapan.

Seolah ingin terlihat memesona, akhirnya kau datang, bersama dua orang temanmu itu. Seperti janji temanmu itu, kau membawakanku buah tangan, sebuah apel merah. Aku sudah lapar, tapi tak memakannnya. Aku diam, sedikit marah karena kau tak segera datang. Tadi kau menggodaku, membuatku tertawa dan melupakan marahku padamu. Dan seperti janji temanmu, kau menemaniku menyusuri jalan pulang.

Jumat, 04 Juni 2010

The Girl in the Gossip

Just closed your ears, baby
Don't listen to the people said
It's only about nothing
Don't be worried
It's only a gossip, a gossip, a gossip

Just closed your eyes, baby
Don't see what the people see
It's only about nothing
Don't be worried
It's only a gossip, a gossip, a gossip

People are talking about you
Like you are the star one
But don't be afraid
I'm here to hold you tight

Just made it easy, baby
Don't mind whatever people said
It's only about nothing
Don't be worried
It's only a gossip, a gossip, a gossip

Si Penambang Emas

Sudahlah, kali ini ikutilah kakakmu itu pergi ke pertambangan. Meninggalkan kerajaan faery. Aku tak peduli kalau kau pergi begitu saja. Toh, semua Leraar telah tahu dan mereka diam saja. Maka mengapa aku harus mempermasalahkannya.

Sudahlah, aku tak mengeri, mengapa kau memilih pergi ke pertambangan. Mencari emas kah? Atau bijih tembaga? Kau terlalu membuang waktumu berada di tempat ini. Kanapa kau tak pergi sejak dulu. Ah, aku baru ingat, tahun ini kau baru lulus dari akademi. Lantas, bagaimana dengan Leraar. Tak kan ada orang sepertimu setelah kakakmu yang dulu pergi.

Rabu, 02 Juni 2010

Menjadi Bijak

Ketika aku berkembara melewati savana lalu sampai di sebuah lembah dengan padang rumput, aku bertemu dengan seorang laki-laki tua yang duduk si bawah sebuah kanopi. Ia mengundangku untuk beristirah sejenak. Ia bertanya mengapa aku sampai ke tempat seperti ini. Aku lalu bercerita kepadanya, tentang langit, matahari, dan orang-orang yang kutemui dipengembaraanku mencari langit.

Ia tersenyum, laki-laki tua itu. Ia berkata kepadaku agar aku menjadi lebih bijak. Kadang pencarian selalu berujung kepada kekecewaan. Akan lebih bijak bila aku terus berkelana bukan untuk mencari, tetapi untuk menemukan. Aku terdiam dan laki-laki itu tertawa rendah sambil menawarkan tempatnya berada agar ia bisa menggantikanku berkelana. Tapi aku menolak, aku tak mau menunggu, aku akan berkelana untuk menemukan. Laki-laki tua itu tersenyum, dan membiarkanku pergi.

Meminta Welas Asih

Berhentilah memohon padaku agar aku mau membantumu, kawan. Kau tak pernah mengerti. Aku tak akan pernah bisa membantumu dengan permohonanmu itu. Kau bilang, beri dia welas asih, agar ia bisa bahagia kali ini. Tapi aku bukan BUdha atau Dewi Kwan Im yang akan memberimu welas asih. Aku ingin melihatnya bahagia. Tapi aku tak mungkin memberinya welas asih karena pada akhirnya ia akan berhutang padaku.

Cara untuk Terbang

Aku ingin mengatakan kepadamu agar kau membiarkannya untuk menemukan bagaimana cara untuk terbang. Kau tak bisa terus membantunya berjalan. Kau tak bisa terus membantunya mencoba untuk berlari. Kau tak bisa terus membantunya mencoba terbang. Biarkanlah ia menemukan caranya sendiri. Ini bukan tentang bagaimana ia bisa. Tapi ini mengenai caranya sendiri. Kau tahu itu. Maka berhentilah menatihnya berlari.

Biarkanlah ia menemukan caranya terbang hingga ia bisa sampai di tempatku saat ini.