Selasa, 08 Juni 2010

Ketika Aku Ingin Bertanya

Aku selalu ingin kita menyusun waktu agar kau mau jujur kepadaku tentang apa yang kau rasakan kepadaku, kepada orang-orang, agar aku dapat mengenalimu suatu saat nanti ketika kita telah lama berpisah. Aku selalu terpikir ketika melihatmu aku telah bertekad untuk menanyakan kepadamu, tapi selalu saja tekad itu menciut ketika aku melihat senyummu itu.

Semua orang sering mendatangiku dan bertanya kepadaku tentang dirimu dan aku. Tapi aku tak bisa menjawabnya, terpatah-patah, karena aku memang sama sekali tak tahu apa-apa tentang kita. Mungkinkah aku temanmu? Tentu saja demikian, dan merekapun juga temanmu. Kau tahu, suatu hari Hime menanyakan hal sama kepadaku. Dan seperti sebelum-sebelumnya, aku sama sekali tak mengerti tentang bagaimana kita menamai ikatan diantara kita.

Aku selalu berpikir kau pasti menganggapku berbeda, tapi bahkan kau mau bercerita kepadaku tentang wanita-wanita yang kau cintai itu. Kau hanya tak mengerti saja bahwa aku begitu ingin menanyakan hal ini kepadamu. Aku tahu, Hime berbeda, ia yang mengatakannya kepadaku. Kau mempertaruhkan kejujuran kepadanya dan ia menjaganya. Tapi bagaimana denganku? Bahkan kau tak suka membicarakan kejujuranmu itu kepadaku. Hanya menebar kata-kata yang sebenarnya tak kumengerti tapi terpaksa ku jawab sebisaku.

Aku selalu takut menanyakannya kepadaku, bukan takut akan jawabanmu, tapi aku takut tak bisa berkata-kata setelah kau mengatakan jawabannya kepadaku. Tapi aku akan berkeras hati dan suatu saat kita akan datang ke tempat yang kelah kita janjikan untuk mengurai benang itu satu-satu. Lalu kita bisa tertawa seperti hari-hari yang telah kita lewati berwama, tapi akan terasa lebih melegakan bagimu dan aku sendiri.

2 komentar:

  1. kalau kau terlalu takut mengatakannya, akan kubantu kau dengan sebuah harta yang mampu membntumu mengatakannya,
    Sebuah permen kiss, biar garing yang penting hepi,

    BalasHapus