Rabu, 23 Juni 2010

Surat Sewarna Darah yang Kuterima Tempo Dulu

Malam hampir sampai pada puncaknya, tapi bumi telah lama tertidur, mendengkur, getarannya tersampaikan padaku yang masih terjaga, merana mengingat relung-relung yang sering bertambah sakit akhir-akhir ini. Aku kembali teringat pada surat pertama yang kau alamatkan padaku bertahun-tahun lalu. Isinya begitu basah, oleh darah yang penuh dengan rayuan yang janggal. Masih kusimpan surat itu. Kau mungkin sudah lupa karena kau memang benar-benar lupa, bukan? Aku masih ingat dulu ketika aku menerimanya. Terlampau bahagia, seperti gadis muda yang menerima undangan makan malam bersama lilin-lilin aroma terapi. Itu dulu, kali ini ketika aku membuka surat itu, yang ada hanyalah perasaan pedih seperti pisau yang menyayat ujung jari, terlalu pedih, hingga aku tak sanggup merasakan sakitnya.

Tapi kali ini aku akan membiarkanmu untuk melakukan apapun sesuai yang kau inginkan karena kali ini aku akan mencoba untuk tak begitu peduli lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar