Sabtu, 31 Juli 2010

Hanya Ingin Menyendiri

Akhirnya kau mau menjawab pertanyaanku. Betapa leganya pikirku mengetahui jawabmu. Kau tak marah padaku. Aku terlalu lega hingga tak tau aku harus bagaimana. Kau membuat segalanya tercerahkan.

Akhirnya aku tau alasanmu berdiam diri seperti itu. Katamu kau hanya sedang ingin menyendiri, bukan? Aku tak tau mengapa kau menginginkan demikian. Aku terlalu takut untuk menanyakanny kepadamu. Tapi aku siap jika kau ingin mengajakku berdiskusi tentang segala kegundahanmu.

Jumat, 30 Juli 2010

Katakan Saja Semuanya padaku

Mungkinkah, lagi-lagi kau marah padaku, mendiamkanku, membenciku, tak mengacuhkanku seperti dulu kau pernah melakukannya kepadaku?

Membayangkannya saja aku tak mau, apalagi jikalau kau benar-benar melakukannya. Aku ingin bertanya kepadamu. Tapi aku takut kau akan mengjawabnya dengan diammu, seolah kau mogok untuk bicara padaku. Katakanlah, bila kau memang marah padaku atas yang kau lakukan tempo hari. Katakanlah secara jantan padaku. Dengan begitu aku mengerti apa salahku. Aku telah memberikan pembelaanku padamu. Masihkah kau akan marah padaku,kawan?

Kamis, 29 Juli 2010

Jawaban atas Mimpiku

Aku baru tahu beberapa detik lalu tentang jawaban mengapa kau sering sekali mampir di dalam mimpi-mimpiku. Bukankah sebenarnya kau ingin mengucapkan salam perpisahan kepadaku? Lantas, mengapa tak kau katakan langsung saja kepadaku? Carilah waktu, agar kau bisa membicarakannya kepadaku. Aku kan berbahagia atas pencapainmu.

Aku telah belajar untuk mengenangmu sebagai teman sejak hari itu. Meski kadang aku merasa harapan-harapan yang melambung atas apa yang ia katakan. Tapi tenang saja, ketika kau mengajakku untuk membincangkan pencapaian dan salam perpisahan, saat itu aku akan siap hadir dalam jamuan yang kau buat. Tantu saja sebagai seseorang yang bisa kau banggakan sebagai teman.

Jumat, 23 Juli 2010

Konverensi

Kapan ya terakhir kali aku membicarakanmu dengan orang lain? Jawabanny tak pernah. Ya, aku memang tak pernah membicarakan tentangmu kepada orang lain hingga hari ini. Bukannya aku tak mau membicarakanmu, takut atau pun trauma kepadamu. Tidak, aku tidak takut juga trauma. Bukannya aku tak ingin mengingatmu atau apa, tapi sungguh aku sudah lupa pada detail-detail terkecil tentangmu. Aku tak ingat lagi bagaimana gambaran wajahmu. Aku tak ingat lagi pada suaramu. Aku tak ingat lagi pada nomor teleponmu, sudah ku hapus mungkin. Aku tak ingat lagi pada apa yang telah kita lalui bersama diantara sambungan telepon tak berkabel. Kejam kah aku? Mungkin saja. Tapi aku masih ingat namamu. Sepatah namamu.

Selasa, 20 Juli 2010

Pembiasaan (pada Perjumpaan dan Perpisahan)

Menghitung hari-hari yang tersisa. Menghitung jam,menit-menit,dan detik-detik yang terurai tanpa jadi makna. Menghitung waktu yang tak lagi bisa terlewati bersama.

Aku sudah kenyang pada perjumpaan,juga pada perpisahan. Aku tlah terbiasa,orang-orang lalu lalang mengajakku menuliskan cerita lantas pergi begitu saja,tanpa mengucap salam. Ya,aku tlah terbiasa. Bahkan ketika kini kau pergi tanpa berkata kepadaku pun aku akan segera terbiasa. Terbiasa tanpamu.

Minggu, 18 Juli 2010

Pembalasan

Maaf teman,kalau pada akhirnya aku memilih bercerita kepada awan,juga kepada petugas kebun binatang.

Aku ingin menitipkan kenangan antara aku dan kau itu kepada mereka. Agar aku bisa melupakannya. Melupakanmu kalau kau telah mengkhianati apa yang telah kita ucapkan di menara gou.

Siapa aku?

Bukankah kau tak tahu sepenuhny tentangku? Ya,kau tak cukup lama untuk mengenalku. Aku adalah seorang aktor,jebolan sekolah seni tak berlisensi. Aku adalah seorang penulis,jebolan institut negeri tak terkenal. Aku adalah aktor yang mampu menulis cerita,memerankannya,membuatmu ikut menangis,tertawa,marah,terdiam,heran,terpekur,terhenyak,kaget. Tak ada aktor sehebat aku,yang mampu memerankan protagonis dan antagonis dalam satu panggung pementasan yang sama. Dan kau adalah penontonnya. Penonton yang terbuai oleh alur cerita yang kureka.

Karena kau tak tahu tentangku,tak perlu mencari tahu,maka nikmatilah pementasan ini sampai akhir.

Jumat, 16 Juli 2010

Memonopolimu

Apa yang kau ketahui tentang apa yang kurasakan?
Tak ada. Bahkan kau tak tahu aku begitu bahagia bisa menatapmu,meski kau tak mengajakku berbicara. Kau bahkan tak tahu, aku begitu tersanjung,ketika kau melemparkan candaan tak bermutu. Tapi tolong,jangan bawa dia,ketika kau sedang bersamaku. Jangan bicarakan dia,ketika kau duduk berhadap-hadapan denganku. Tatap aku, bicaralah padaku, bicaralah tentangmu, bukan tentang dia, tersenyumlah padaku, pikirkan aku saja.

Ah,kenapa sekarang aku begitu egois?

Rabu, 14 Juli 2010

Kejahatanku Kali Ini

Apakah aku jahat? Apakah aku kejam?
Kupikir apa yang kulakukan ini keterlaluan,terlalu berlebihan. Ku akui,mungkin aku jahat,mungkin aku kejam. Karena membiarkan diriku tak henti-hentiny menggodamu. Aku mungkin saja bisa menghentikan permainan ini,tapi entah mengapa,kali ini aku ingin berbuat jahat. Aku ingin melihatmu terdiam memikirkan kata-kata balasan untukku. Aku inin melihatmu tersenyum tertahan dengan wajah memerah yang kau palingkan dariku. Aku ingin melihatmu tergagap kehabisan kata-kata untuk membalasku.

Apakah aku jahat? Apakah aku kejam? Maaf saja kalau aku memang jahat.

Rabu, 07 Juli 2010

Surat dari Langit

Malam yang aneh. KUpikir aku baru saja bermimpi ketika aku melihat suratmu itu. Aku tak menyangka, kau mau membalasnya juga, Sora. Tapi aku tak begitu yakin akan suratmu, jadi maaf saja kalau aku tidur dulu.

Tapi paginya, aku membaca suratmu itu lagi. Sora, benarkah kau sungguh-sungguh tak ingat kepadaku, juga kepada tempat kita pertama bertemu? Sungguhkah? Kau bilang kau sungguh tak ingat. Ya, aku mengerti. Enam tahun ini pasti telah membuatmu melupakan aku dan semua hal yang aku jaga hingga sekarang. Aku mengerti, kau telah memilih orang lain. Ya, aku mengerti.

Terimakasih, karena kau telah membalas suratku. Kali ini, mungkin aku bisa pastikan kepadamu, bahwa aku telah benar-benar mati di tempat dulu kita bertemu bertahun-tahun lali. Kali ini, biarkan kloningku saja yang meneruskan hidupku.

Sang Pemimpi

Ini bukan kisah dramatis yang ditulis oleh Andrea Hirata, juga bukan tentang kisah heroik layaknya perfilman dunia. Ini hanyalah sebuah kisah tentang seorang pemimpi yang telah lama bermimpi.

Dahulu, ia dan teman-teman pemimpinya sama-sama menggantungkan mimpi-mimpi mereka di langit, kadang hingga ke bintang. Mereka berandai-andai tentang hal-hal yang akan mereka temui saat mendaki menuju mimpi mereka dan apa yang akan mereka lakukan jika telah menggenggamnya. Dunia mulai bergeser, meninggalkan mereka dan mimpi-mimpi mereka. Satu-satu para pemimpi itu berhenti, melepas mimpi, meski kadang terbayang akannya. Meski demikian, ia tetap membukin rencana pergi menejar mimpi yang ia gantung di langit.

Ia mulai belajar memanjat pohon, membuat tangga dari bilah-bilah bambu, membuat layang-layang, membuat roket, tapi tak satupun yang berhasil. Lalu ia mendengar tentang sebuah gunung yang tingginya melebihi langit. Ia lalu pergi berkelana menuju negeri tempat gunung itu berada. Ia bertemu banyak orang. Orang-orang yang menganggapnya bodoh. Orang-orang yang mengganggapnya terus bermimpi. Orang-orang yang menganggapnya gila. Tapi ia tidak mengeluh, dan tetap berkelana.

Suatu hari, makhluk langit yang mendengar tentang kisahnya mulai merasa kasihan kepadanya. Makhluk-makhluk langit itu menurunkan tangga langit. Ia ingin sekali menaiki tangga itu, dengan begitu ia akan semakin dekat dengan mimpinya. Tapi ketika ia hendak meraihnya, ia teringat akan kutukan-kutukan seumur hidup yang akan ia terima dari tempat ia berasal. Maka dengan berat hati, ia melepaskan tangga itu. Ia pun meneruskan perjalanan, meski dengan hati yang tercabik-cabik. Ia terus berjalan, berkelana, kadang kelaparan, kadang kehausan, kadang terasa hampir membuatnya mati. Tapi ia tak mengeluh, tak menangir, karena ia menyimpan tangisnya untuk saat-saat ia menggenggam mimpinya. Ia bertekad, saat ia melepas tangga langit itu, saat itulah ia semakin ingin segera menggenggam mimpinya.

Semakin hari, ia semakin dekat dengan gunung yang harus ia daki. Ia bertemu banyak orang. Orang-orang yang mendukungnya tapi tak pernah memahami. Orang-orang yang mencibir, ia tak akan berhasil. Orang-orang yang hanya menatapnya, setengah kasihan, setengah mencemooh. Tapi ia tak peduli, tak mendengarkan, tak memikirkan, hanya satu hal, ia ingin segera mengenggam mimpinya itu.

Entah saat itu tahun berapa, tapi akhirnya ia sampai di sana. Ia telah merampungkan pendakiannya, perjalanannya. Dan sekarang ia tak menangis, tak mengeluh, tak berkata-kata. Hanya saja ia tersenyum kepada seorang teman lama yang sama-sama bermimpi dulu. Kali ini mereka telah menggenggam mimpi mereka erat.

Ini bukan kisah tentang bagaimana bermimpi yang baik dan benar. Hanya saja, ini adalah kisah tentang para pemimpi yang gigih berusaha menggenggam mimpinya. Tak perlu takut bermimpi, tak perlu takut tak akan tercapai. Teruslah bermimpi dan teruslah berjalan untuk mengenggamnya kembali, meski harus tertatih.