Rabu, 07 Juli 2010

Sang Pemimpi

Ini bukan kisah dramatis yang ditulis oleh Andrea Hirata, juga bukan tentang kisah heroik layaknya perfilman dunia. Ini hanyalah sebuah kisah tentang seorang pemimpi yang telah lama bermimpi.

Dahulu, ia dan teman-teman pemimpinya sama-sama menggantungkan mimpi-mimpi mereka di langit, kadang hingga ke bintang. Mereka berandai-andai tentang hal-hal yang akan mereka temui saat mendaki menuju mimpi mereka dan apa yang akan mereka lakukan jika telah menggenggamnya. Dunia mulai bergeser, meninggalkan mereka dan mimpi-mimpi mereka. Satu-satu para pemimpi itu berhenti, melepas mimpi, meski kadang terbayang akannya. Meski demikian, ia tetap membukin rencana pergi menejar mimpi yang ia gantung di langit.

Ia mulai belajar memanjat pohon, membuat tangga dari bilah-bilah bambu, membuat layang-layang, membuat roket, tapi tak satupun yang berhasil. Lalu ia mendengar tentang sebuah gunung yang tingginya melebihi langit. Ia lalu pergi berkelana menuju negeri tempat gunung itu berada. Ia bertemu banyak orang. Orang-orang yang menganggapnya bodoh. Orang-orang yang mengganggapnya terus bermimpi. Orang-orang yang menganggapnya gila. Tapi ia tidak mengeluh, dan tetap berkelana.

Suatu hari, makhluk langit yang mendengar tentang kisahnya mulai merasa kasihan kepadanya. Makhluk-makhluk langit itu menurunkan tangga langit. Ia ingin sekali menaiki tangga itu, dengan begitu ia akan semakin dekat dengan mimpinya. Tapi ketika ia hendak meraihnya, ia teringat akan kutukan-kutukan seumur hidup yang akan ia terima dari tempat ia berasal. Maka dengan berat hati, ia melepaskan tangga itu. Ia pun meneruskan perjalanan, meski dengan hati yang tercabik-cabik. Ia terus berjalan, berkelana, kadang kelaparan, kadang kehausan, kadang terasa hampir membuatnya mati. Tapi ia tak mengeluh, tak menangir, karena ia menyimpan tangisnya untuk saat-saat ia menggenggam mimpinya. Ia bertekad, saat ia melepas tangga langit itu, saat itulah ia semakin ingin segera menggenggam mimpinya.

Semakin hari, ia semakin dekat dengan gunung yang harus ia daki. Ia bertemu banyak orang. Orang-orang yang mendukungnya tapi tak pernah memahami. Orang-orang yang mencibir, ia tak akan berhasil. Orang-orang yang hanya menatapnya, setengah kasihan, setengah mencemooh. Tapi ia tak peduli, tak mendengarkan, tak memikirkan, hanya satu hal, ia ingin segera mengenggam mimpinya itu.

Entah saat itu tahun berapa, tapi akhirnya ia sampai di sana. Ia telah merampungkan pendakiannya, perjalanannya. Dan sekarang ia tak menangis, tak mengeluh, tak berkata-kata. Hanya saja ia tersenyum kepada seorang teman lama yang sama-sama bermimpi dulu. Kali ini mereka telah menggenggam mimpi mereka erat.

Ini bukan kisah tentang bagaimana bermimpi yang baik dan benar. Hanya saja, ini adalah kisah tentang para pemimpi yang gigih berusaha menggenggam mimpinya. Tak perlu takut bermimpi, tak perlu takut tak akan tercapai. Teruslah bermimpi dan teruslah berjalan untuk mengenggamnya kembali, meski harus tertatih.

2 komentar:

  1. keep dreaming..
    karna dg bermimpi kita punya tujuan hidup..
    tapi susah juga untuk mewujudkan mimpi dan tidak lagi jadi pemimpi..

    BalasHapus