Rabu, 29 September 2010

Hidup yang Biru

Rasanya sangat aneh, ini telah larut, langit di atasku berwarna merah muda, seperti permen kapas. Aku merasa lelah, aku jadi teringat tentang orang itu.

Aku bertemu dengannya beberapa minggu lalu, tak ada percakapan antara aku dan dia. Tapi aku merasakan sebuah ikatan yang terasa sangat menyesakkan. Mungkinkah hal ini akan jadi seperti kisah-kisahku sebelumnya?
aku tak tahu, dan tak ingin terlalu berharap. Tapi, bukankah kau akan merasakan perasaan bahagia ketika orang yang menarik perhatianmu saat itu tersenyum padamu padahal kau belum pernak berkenalan dengannya?

Pikiranku menjelajah, banyak kata0kata yang ingin ku tuliskan hingga menjadi kata-kata yang tak terhitung jumlahnya. Hari berganti dan hal yang begitu ku nanti ternyata hanya ilusi saja. Tapi kadang aku merasakan kebahagiaan kecil hanya dengan menatap sosoknya dari kejauhan, tersenyum kepada diri sendiri, senang karena hal-hal kecil yang menjadi kesamaan kami. Rasanya kali ini saja, biar aku merasakan sedikit hiburan diantara kebosananku ini.

Kamis, 23 September 2010

Ingin Menjawab

Beberapa malam lalu aku bermimpi tentangmu. Padahal akhir ini aku tak pernah bertemu denganmu, bahkan ingat padamu pun tidak. Lantas mengapa kali ini aku memimpikanmu?

Masih ingatkah kau pada pertanyaanku dulu, tentang arti kehadiranku untukmu? Malam itu aku bermimpi tentang kau yang ingin bicara, ingin menjawab pertanyaanku itu sepertinya. Aku penasaran tentang apa yang ingin kau ceriterakan. Tapi mimpiku itu tak pernah terselesaikan, dan kau juga tak pernah memberikan jawaban yang ku inginkan.

Kamis, 09 September 2010

Saat yang Telah Tiba

Bukankah sebuah kebetulan pula ketika kita mengadakan perjamuan kemarin lusa ditanggal yang hampir sama pula? Setahun yang lalu, kita sama-sama duduk di tempat kemarin, menatap rasi bintang scorpio di langit bulan September, sibuk menata pikiran tentang jalan yang akan kita tempuh saat ini. Langit penuh bintang, seolah mempermudah kita untuk menjelajahkan benak pada semesta yang luas. Saat itu , masing-masing dari kita tak menyangka cerita akan bergulir begitu cepat. Saat itu pula, hati, pikiran, dan cita-cita sedikit saja terurai menjadi kata-kata. Saat itu, apakah kau akan menyangkanya kawan, bahwa dua orang diantara kita atau bahkan lebih akan saling bergandengan tangan menautkan hati masing-masing hari ini? Apakah kau akan menyangkanya kawan, bahwa si pemimpi akhirnya mendapatkan jalan untuk menggapai mimpinya hari ini? Apakah kau akan menyangkanya akwan, bahwa saat ini kau tengah bercengkerama dengan sahabatmu yang belum kau dapatkan setahun lalu?

Hari-hari berlalu, hingga kita terdampar pada hari ini, hari dimana kita mengadakan perjamuan. Hari hujan, seolah langit terharu kepada pertemuan kita, juga sedih, karena tahu bahwa kita akan berpisah lagi. Sadarkah kalian? Begitu banyak hal yang kita lalui setahun ini. Dua orang diantara kita saling berjanji, menggenggam hati satu sama lain, atau bahkan ada yang telah mengembalikan hatinya pada tempatnya masing-masing. Si pemimpi mendapatkan jalan untuk meraih mimpinya, meski jalan yang dilaluinya berliku dan harus memutar satu kali. Para sahabat berkumpul, bercerita tentang hari-hari yag terlewati tanpa kehadiran masing-masing. Cerita-cerita dan bisik-bisik hati telah tersampaikan kepada si penginspirasi.

Kawan, ingatlah hari ini, hari dimana keluarga kertas kita berkumpul, meski kita telah memilih jalan masing-masing untuk dapat menggenggam bintang tujuan.


(part 2 of Jika Tiba Saat)

Percayalah (walau hanya setiik saja)

Tidakkah aku adalah orang yang dapat kau percaya?

Lantas, mengapa kau tak mau sedikit saja membagi ceritamu itu kepadaku? Kawan, bukankah kau telah mengatakan padaku dengan lantang bahwa aku dan kau adalah teman sampai akhir? Kau tahu, kawan, aku selalu saja iri kepada orang itu, seseorang yang selalu kau bagikan ceritamu padanya. Aku selalu ingin dapat mendengarkan ceritamu tentang dia. Tapi kau tak mau. Aku selalu berusaha agar kau dapat mempercayaiku barang hanya setitik saja. Tapi kau selalu menjawabnya dengan senyuman dan tatapan tersakiti. Adakah kau takut ceritamu itu akan menyakitiku? Tidak, tentu saja tidak, sedikitpun ceritamu itu tak akan membuatku merasa sakit. Nah, kawan, sedikit saja, cobalan untuk dapat memercayaiku mulai saat ini, dan bagikanlah ceritamu itu kepadaku.

Selasa, 07 September 2010

Bertemu denganmu

Mungkinkah, ketika kali ini aku bertemu denganmu,akankah aku masih mengharapkanmu? Mungkinkah, ketika aku bertemu denganmu, akankah aku telah bisa berhenti mengharapkanmu? Akankah aku dapat menatapmu tanpa perlu menahan perasaan yang tak sepantasny?

Mungkinkah, ketika kau bertemu denganku, akankah kau telah berhenti menggodaku? Mungkinkah, ketika kau bertemu denganku, akankah kau berhenti menatap mengharap? Akankah kau berhenti menebar senyum tak sepantasnya? Akankah kau berhenti berbicara seolah hanya ada aku dan kau saja?

Mungkin, kali ini aku yakin aku telah berhenti mengkhususkanmu, karena aku telah bertekad untuk berhenti. Tapi kau? Aku tak tahu. Mungkin kau malah tlah menemukan pengganti.

Minggu, 05 September 2010

Keluarga Kertas

Kemarin aku bertemu dengan teman-teman di sebuah kebun binatang. Teman berbagi kehidupan beberapa hari lalu. Rasanya sudah lama, terasa bertahun-tahun lamanya aku tak bertemu mereka. Kurasa tak cukup rasanya bercengkerama hanya dua jam saja. Rindu ini belum seluruhnya tersampaikan pada mereka. Waktu tak cukup, karena masing-masing punya acara. Tapi tenang saja, sebentar lagi ada pertemuan besar. Pertemuan para anggota keluarga kertas.