Sabtu, 13 November 2010

Terlupakan kah?

sudahkah aku mulai melupakanmu, sora? sudahkah aku terlepas dari ikatan yang menjeratku sejak bertahun-tahun lalu, sora? sudahkah aku mulai melepaskan pikirku tentangmu, sora?

sepertinya memang demikian. aku mungkin sudah benar-bena rmelupakanmu, benar-benae melupakanmu seutuhnya. ketika aku menulis ini pun aku sudah mulai lupa tentang apa yang pernah aku tulis dulu. padahal dulu aku begitu fasih tentangmu. ketika tak seorangpun bertanya tentangmu, aku sama sekali tak mengingatmu. tapi tenang saja, setidaknya kau pernah menulis di buku tamu hatiku.

Terbiasa

aku selalu heran, mengapa mataku kini sudah mulai terbiasa mencari sosokmu di kegelapan, atau di kerumunan teman-temanmu. kadang merasa sudut bibirku miring beberapa senti, tersenyum tanpa ekspresi , atau sesak saat melihat bayanganmu. hei, aku mulai benci dengan diriku yang seperti ini.

seperti malam itu, aku tak pernah bermaksud mencarimu. tapi sudut mataku selalu menangkap kelebat bayanganmu. sudut bibirku miring 5 senti, menahan senyum yang tak sempat terekspresikan. kau dengan gayamu yang seperti langit, terdiam, entau kau melihatku atau tidak. ya, kau memang selalu diam, seperti langit. ya, mungkin karena kau yang mirip langit, aku mulai terbiasa kepadamu, terbiasa mencarimu, terbiasa tersenyum tanpa ekspresi.

hei, bolehkan aku mulai terbiasa padamu?

mimpi tentangmu (lagi)

lagi, sudah kukatakan kepadamu jangan pernah kau masuk dalam mimpiku lagi. apalagi kau membawa orang itu masuk dalam mimpiku. akus udah tahu, dan sudah lama memahami siapa aku dan kau. tapi mengapa kau tak mendengarkan kata-kataku?

sudah cukup, teman, selama ini aku cukup senang karena kau mau mampir. tapi lama-lama aku jadi muak denganmu dan orang itu. kupikir itu kemauanmu, tapi mungkin juga kemauanku mengundangmu. tapi bersama orang itu? kupikir aku sudah tahu dengan jelas, bahwa kini kau bersamanya. tak perlu diperjelas lagi. sudah cukup jelas bagiku.

Kau kini

bukannya aku ingin mengerecokimu, kawan. tapi aku ikut senang kini kau segera menemukan seseorang. tapi mengapa tak kau katakan kepadaku, bahwa kau sekarang ini siapa. aku tak begitu mengerti, hanya mencoba mengerti, menduga atau berprasangka. tak perlu kau pikirkan apakah benar adanya, tapi jalani saja apa yang telah kau mulai dan yang telah aku akhiri dengan paksa. tidak kah dirimu tau, kawan, aku mulai bosan. semua orang berpikir seperti apa yang aku pikirkan. maka beri kan aku kepastian.

bukannya aku ingin menuduhmu, atau memberondongimu dengan tuntutan penjelasan. hei, tapi bukan kah kita adalah teman semenjak kita saat itu. bagilah sedikit ceritamu kepadaku, agar aku bisa terus menulis sesuatu tentangmu. agh, lupakan saja, mungkin tulisan ini hanyalah luapan kekesalanku kepadamu selama ini.