Selasa, 20 Desember 2011

Distopia

Hari yang aneh.*

Hari itu sungguh cerah, langit biru tanpa awan setitik pun, dan entah mengapa aku sungguh tak memiliki suatu hal yang harus dikerjakan. Aku bosan berdiam diri dan memutukan untuk berkeliling kota. Sepanjang jalan, tak ada suatu hal pun yang terlintas dipikiranku, otakku sungguh kosong, udara pun tak ada. Tanpa sadar sepedaku melaju ke arah halaman depan rumahmu. Jalanan lengang, aku bisa merasakan terik matahari yang menyengat tengkukku. Aneh, tapi aku sama sekali tak berusaha berbalik atau apa, hanya terus mengayuh hingga aku benar-benar berada di jalan yang sering kau lewati dulu.

Sepanjang jalan aku berdoa kepada tuhan agar aku tak bertemu denganmu, karena sungguh, aku hanya berniat jalan-jalan mencari udara segar siang itu. Jalanan di depanku terasa lebih panjang dari biasanya. Waktu seolah berutar lebih lambat sepuluh kali. Tapi kali itu aku benar-benar bisa menikmati hal-hal yang sering kali kau lihat ketika pulang. Aku berpikir, ada bagusnya juga aku bersepeda siang itu.

Jalanan mulai menanjak, aku hampir-hampir kelelahan. Ketika mendongak dan menatap puncak jalan itu, aku melihatmu, berlari ke arah sebalikku. Aku mengumpat dalam hati, kenapa aku harus bertemud denganmu kali itu. Aku menunduk ketika sudah dekat denganmu, dan berdoa kepada tuhan semoga kau tak melihatku. Dan sepertinya doaku yang itu terkabul. Aku menoleh ke belakang ketika kau sudah berlalu, dan mendapati dirimu berlari sekuat tenaga entah melarikan diri dari apa. Aku mengayuh sepedaku sekuat tenaga, membuat jarak kita semakin jauh.

Tak lama, aku sampai di depan halaman rumahmu yang sepi. Rumah-rumah di samping rumahmu juga sepi, kosong malah. Aku mulai bertanya-tanya, kemana semua orang pergi. Pagar halaman rumahmu sedikit terbuka. Aku ingin masuk dan memastikan ada orang di rumahmu itu atau tidak, tetapi sepertinya malaikat di otakku berbisik agar aku tidak masuk. Dan aku menuruti saja perkataan malaikat itu. Aku kembali menaiki sepedaku, terdiam sejenak lalu kembali mengayuh sepedaku, pulang.

Hari itu, sungguh, aku sedikit menyesal karena pergi ke depan rumahmu.




* Hari kebalikan

Kamis, 03 November 2011

Pembuktian

Sebagai bukti bahwa aku memang kuat, dan kau tak perlu meragukannya lagi.


Apa yang kau khawatirkan dariku, dari sikapku, dari keputusanku, dari perkataanku kepadamu? Ragukah kau padaku, pada sikapku, pada keputusanku, pada perkataanku? Tak percayakah kau bahwa aku akan baik-baik saja di jalur lariku yang sekarang?

Kau tak perlu khawatir kepadaku, tak perlu meragukanku, tak perlu tak mempercayaiku. Kini aku ingin balik bertanya kepadamu. Bagaimana denganmu? Apakah kau baik-baik saja setelah keputusanku untuk membawa tongkat estafet itu sendirian menuju antah berantah? akankah kau bisa bertahan dan meneruskan larimu sendiri mulai dari sekarang? Aku agak ragu kepadamu, sedikit tak percaya kau akan baik-baik saja karena kau selalu mempertanyakan hal yang sama kepadaku padahal telah jelas-jelas sudah aku katakan aku baik-baik saja.

Lantas apa yang harus aku lakukan agar kau baik-baik saja?
Mungkin memang tak seharusnya aku mempermasalahkan jalur lari yang telah kita tentukan sejak awal.


Jumat, 21 Oktober 2011

Rahasia Hati

Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan, sebelum pada akhirnya kita menyerah.



Ada banyak hal yang tak perlu diucapkan untuk dapat dipahami. Ada banyak hal yang tetap tak bisa diucapkan meski sudah berusaha keras untuk menyampaikannya. Ada banyak hal yang tetap tak dapat dimengerti meski telah dengan jelas diucapkan.

Aku tak pernah tahu, cara yang paling tepat untuk menyampaikannya kepadamu. Ya, tak pernah ada kesempatan sedikit pun sekarang, padahal ketika dulu aku tak ingin menyampaikannya, ada begitu banyak kesempatan. Dan pada akhirnya, seperti yang sudah-sudah, aku menyerah untuk mengatakannya kepadamu.

Rabu, 05 Oktober 2011

Bersamamu ( atau Tanpamu )

Pernah terpikirkan olehku, aku ingin mencoba berbagai hal baru bersamamu. Sepertinya akan terasa menyenangkan karena ada kau.

Maaf, jikalau akhir-akhir ini kata-kataku terlalu menyebalkan untuk kau dengar. Aku hanya sedang marah dan kecewa terhadap diriku sendiri, juga kau. Sudah aku utarakan hal itu, meski dengan kalimat yang tak lengkap. Tapi kau tak juga mengerti, atau pura-pura tak mengerti? Sudahlah, toh semua itu telah berlalu jauh-jauh hari.

Kuputuskan saat itu untuk mencari kontemplasi ke penjuru negeri karena ku benar-benar tak tahu apa yang harus aku lakukan agar kau mengerti. Deburan ombak hanya mengacaukan hatiku, berbicara kepada bulan pun hanya akan memperburuk suasana, berbisik kepada angin hanya akan menyebarkan keputusasaanku ini kepadamu.

Aku terus berlari di belakang kereta api, menyusuri pematang sawah, merimba belantara, bertemu senja, lalu mendaki bersama purnama dan juga peta perbintangan. Sejenak terhenti di sebuah jurang dan terpikirkan, apakah aku harus terjun ke bawah sana agar kau mengerti? Kupikir kebodohan itu tak juga sampai di sana saja. Ketika puncak malam aku muncak di atas horizon, aku tertidur dalam ketak mengertian dan pencarian akan jawaban pertanyaan-pertanyaanmu. Mungkin malam itu, Jibril turun ke bumi dan memberiku pencerahan, tentang kau dan aku, tentang jawaban atas pertanyaanmu, tentang apa yang aku inginkan darimu. Hingga ketika matahari berada di garis batas langit, aku terjatuh berlutut dan tersadar oleh sengat dingin pagi buta. Kulihat ada kau diujung sana, ya, di batas horizon itu. Dan aku pun tersenyum, karena aku telah menemukan jawaban itu.

Hei, jikalau ternyata pada akhirnya aku memutuskan untuk tak berlari bersamamu, maka jadilah engkau dewasa. Toh terpikirkan olehku, ada banyak hal besar yang belum aku dan kau lakukan, jadi, mengapa aku dan kau harus merisaukan masalah kecil tentang perasaan kita yang aku dan kau juga tahu bagaimana? Ya, jadilah, dewasa kawan, seperti saat kau katakan kepadaku, kalau kau sudah dewasa daripada aku.

Selasa, 27 September 2011

Pesan yang Kau Sembunyikan Malam Ini

Aku marasa kau terlalu tega kepadaku karena tak mau memberitahukan dirimu kepadaku. Dan lagi-lagi, aku mendengarkan hal yang tak pernah ingin kau tunjukan kepadaku itu lewat orang lain.

Aku selalu bertanya-tanya tentang siapa dirimu yang sebenarnya, dirimu yang tak pernah aku lihat sebelumnya, dirimu yang lain. Entah karena kau memang tertutup atau karena kau yang pandai berakting di depanku, aku selalu tak bisa menemukan celah untuk menanyakan hal itu kepadamu, kawan. Tapi tak apa, aku akan menunggu hingga saat yang tepat untuk menanyakannya sendiri kepadamu.

Waktu berlalu, kawan. Tindak tandukmu yang mencurigakan itu kembali menggelitik rasa ingin tahu yang aku pendam dalam-dalam sejak lama, ini tentang dirimu yang lain. Tak pernah sekalipun kau mau menunjukan sisimu yang lain itu, dirimu yang lemah dan tak tahu hendak bersandar kepada siapa. Sedikit percakapanmu dengan seseorang itu bisa kuterjemahkan sebagai kepedihanmu yang terdalam, hal yang berharga aku kira. Aku diam dam memilih mengutukmu dalam hatiku. Aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri, apakah aku kurang pantas untuk mendapatkan kepercayaanmu dengan mendengar ceritamu itu? Apakah hal-hal yang lebih dari banyak kesenangan kita selama ini tak cukup meyakinkanmu untuk mempercayakan kepedihanmu itu kepadaku?

Tapi pada akhirnya waktu menjawab semua pertanyaan yang belum sempat aku pertanyakan kepadamu, lewat pesan berantai malam ini. Dan kau tahu apa yang aku lakukan ketika tahu sisi dirimu itu? Aku mengutukmu dalam hati karena telah mencabik perasaanku kepadamu lewat kabar angin malam itu. Aku merasa kau khianati meski selama ini aku telah begitu percaya kepadamu dan menunggumu dengan sabar.

Maafkan aku kawan, kepedihanmu itu tak serta merta aku mengerti, tapi ketika aku meresapinya, aku tiba-tiba sadar bahwa mataku basah oleh air mata. Rasa sedih itu, rasa tersakiti itu, perasaan kehilangan itu, hal-hal yang tak kau lampiaskan itu entah mengapa menyesakkan dadaku yang membayangkanmu berdiri memandangku tanpa emosi apapun. Malam ini juga, aku ingin berlari ke tempatmu berada sekarang. Dan ketika kau bangkit dari dudukmu sambil tersenyum kepadaku, rasa terkhianati dalam diriku membuncah. Sekonyong-konyong, aku menerjangmu lalu melayangkan tanganku ke mukamu. dan kau yang tanpa pertahanan apapun saat itu, merelakan kedua sisi wajahmu aku pukul, lantas rubuh di hadapanku. Aku memegang kerah kemeja hitam yang belum kau ganti sedari tadi pagi, hendak memukulmu lagi tetapi aku tak punya daya apapun. Serta merta aku malah duduk lemas di hadapanmu yang tertunduk, siap menerima pukulan dariku lagi. Kau gemetar menahan perasaanmu, rasa sedihmu, rasa kehilanganmu, rasa tersakiti di hatimu, aku bisa merasakannya, lama-lama memenuhi dadaku dan membuatku sesak. Lantas tanpa pertahanan apapun aku mulai menangis di hadapanmu. Dan kau hanya diam masih tertunduk dan gemetar, bibir bawah yang kau gigit mulai berdarah.

Sungguh aku merasakan perasaan yang tak ingin kau perlihatkan kepada orang lain, sisi terlemahmu, sisimu yang lain. Tapi biarkan kali ini aku mewakilimu untuk menangisi salah satu hal yang paling berharga dalam hidupmu. Ya, kali ini saja, biarkan aku yang terlihat lemah di hadapanmu, bukan kau.

Senin, 26 September 2011

Lari Estafet

Adalah berdiri di podium yang sama sambil mengangkat tropi dan menyemburkan bir bersamamu, hal yang selama ini kuinginkan meski aku tetap bingung bagaimana menyampaikannya kepadamu.

Sudah aku putuskan sejak awal, aku akan mengikuti lomba lari estafet ini, bersamamu tentunya. Aku sudah berlatih jauh-jauh hari, menyiapkan segala sesuatu termasuk sepatu dan juga seragamku. Semua orang telah meyakinkanku bahwa aku akan dapat berlari hingga bagianku selesai, hingga aku pun tak gentar lagi untuk berlari, karena aku yakin di ujung lintasan ini aku kan menyerahkan tongkat estafet ini kepadamu.

Aku pun bersiap di garis start sambil mengencangkan tali sepatuku. Ketika aba-aba dari wasit dicetuskan, aku mengambil posisi siap, start jongkok sambil memandang lurus ke depan, ujung lintasanku, dan samar-samar aku melihatmu ada di sana. Dan pada akhirnya pistol angin itu meletup, aku berlari serta merta mengerahkan seluruh usahaku untuk menyerahkan tongkat yang kugenggam ini kepadamu. Karena aku percaya, kau akan menuntaskan separoh terakhir dari lintasan lari ini.

Tapi, hei, ketika ujung separuh lintasanku ini mulai terlihat, aku tak melihatmu di sana, di ujung lintasan ini. Alih-alih ternyata kau malah berasa di ujung lintasan yang berbeda, sedang menunggu seseorang mengoperi tongkat kepadamu. Lalu aku melambatkan lariku, karena sadar tak ada siapa pun di lintasan ini untuk meneruskan separoh terakhir lariku. Aku tak mengerti mengapa kau berada di lintasan yang berbeda, kupikir kau telah menyetujui untuk memenangkan lomba lari estafet ini bersamaku. Tapi, haruskah aku menyelesaikan perlombaan ini sendirian? Lantas bukankah usahaku selama ini pun jadi tak penting lagi untukku juga kau?



Aku mungkin akhirnya sadar, kalau mungkin sejak awal kau memang tak ada di jalur yang sama denganku, benar begitu?

Minggu, 25 September 2011

Lomba Lari

Satu lagi orang bodoh yang kutemui.


Ia adalah salah seorang calon peserta lomba lari yang ingin kuikuti kemarin dulu. Aku berkenalan dengannya saat aku masih muda dan entah mengapa kuhabiskan waktu menanti kedewasaan bersama dia dan orang-orang dari negeri dongeng. Ia adalah seorang jenderal perang, sekaligus filsuf yang pemikirannya melebihi Shikamaru. Sudah banyak peperangan yang ia hadapi dan hasilnya ia tak pernah kalah, kalaupun tak menang, kedudukannya selalu berimbang. Ketika kutanyakan kepadanya apakah ia mau mengikuti lomba lari itu, ia malah berkilah kalau sepatunya hilang sehingga aku pun meminta dia memetakan jalur perlombaan kepadaku, agar aku bisa selamat sampai ke akhir lintasan lariku.

Ketika hari perlombaan, aku melihatnya berdiri di belakang garis start, lalu aku tersenyum kepada diriku sendiri. Aku menghampiri dan menyapanya lalu dia hanya tersenyum, katanya ia akan berlari tanpa sepatu itu. Lalu aku berdoa kepada tuhan semoga kami bisa berdiri di podium yang sama lalu tersenyum bersama sambil mengangkat tropi dan menyemburkan bir.

Tapi seperti yang ia katakan, semesta memiliki refleks kepada manusia, dan begitu pula manusia. Ketika aku dan dia telah bersiap menunggu aba-aba dan letupan senapan angin, rasionalitas dalam diriku menguasai perasaanku. Apa yang terbayangka digaris finis bisa saja sama, tapi rasion itu berbisik kepadaku, mungkin saja garis finis tak seperti apa yang aku pikirkan dulu. Dan aku pada akhirnya merasa gentar berlari.

Hei, jenderal, ketika letupan senapan itu terdengar dan kau serta merta semua orang itu berlari menyongsong garis finis kalian sendiri-sendiri, aku memutuskan untuk tak berlari. Dan rasionalitasku mulai menjalari tubuhku. Ketika kau berteriak kepadaku bahwa kau berlari terlalu kencang hingga tak sadar telah melewati garis finis, kau menoleh dan mendapatiku sedang melakukan harakiri.


Ya, jenderal, aku mungkin sekarang telah mati akibat hal yang belum aku mulai.

Sabtu, 17 September 2011

Pertemuan

Ada banya hal yang tak bisa aku jelaskan lewat kalimat kepadamu, kawan, begitu pula apa yang kau sembunyikan dariku selama ini.

Malam itu tanpa salah satu saudara perempuan kita itu, kita sekeluarga pergi ke sebuah tempat yang sama setahun lalu. Tanpa kau sadari, lagi-lagi pertemuan itu terjadi pada tanggal yang sering kita hindari, tapi anehnya selalu kita pakai sebagai waktu untuk berkumpul tanpa sengaja. Malam itu tidak mendung, bulan kelihatan jelas, tapi aku sama sekali tak bisa membaca wajahmu yang dipenuhi kegundahan. Entah apa yang membebani pikiranku malam itu, tapi aku jelas bisa menangkap kedalaman suaramu, penuh rasa sakit yang entah mengapa ikut membuatku sakit.

Lalu kau memilih ntuk tak mengajakku bicara meski kita sama-sama bermain melempar kata dan kelicikan kita masing-masing bertama saudara-saudari kita. Malam semakin larut saja dan aku gelisah memikirkan jalan pulang malam itu. Tidak masalah, hanya saja aku tak ingin terjebak dipekarangan orang lain malam itu. Saat itu aku menemukan dirimu bersama seseorang yang kau percaya sejak lama itu, bercerita mengenai kegundahanmu malam itu. Sedikit banyak aku bisa membaca gerak bibirmu yang terbata-bata bercerita tentang ganjalanmu selama berhari-hari ini. Entah mengapa aku sedikit iri kepada seseorang yang kau ceritai itu, hingga aku bertanya dalam hati, apakah kau tak cukup percaya kepadaku untuk menyimpan kegundahanmu itu?

Kawan, ketika kau sore itu pun pergi menuju tanah perantauan, aku mendoakan kebahagiaanmu di sana dan juga berharap agar ketika kau kembali ke tanah tempat kau dibesarkan, kau sudah bisa mempercayaiku, dan tentu saja, dengan senang hati aku akan mendengarkan segala pemikiranmu.

Kamis, 15 September 2011

What am I to say?

With this song in my ears, I remember the all thing that we shared and did together. What a best thing in my life!

I still don’t understand what you exactly feel to me, and also, my feeling. It’s hard for me to realize this truly called, and when I recognized it, I really still didn’t understand what its mean and how I should act in front of you. Always, I still couldn’t find any suitable words to tell you how I feel, until now and make it can’t be understood. I really didn’t know what I want from you, and also, I didn’t know what you want from me because you never tell me. Really, I don’t know what we exactly should be. Somehow I feel it’s enough for me to and tell you how about me, but in other side, I don’t want you to let it go in this way.

I thought you will find any right time to talk to me, so I could tell you about something which make me can’t sleep every night. I decided to wait because I want you to tell me if you really want to do it, not because you are under pressure. But maybe God never gives you any chance to talk to me, or you, who decide not to tell me? I don’t know; really don’t know what is in your mind. Yeah, I never can read your mind perfectly.

Argh, I don’t know what I said to you now. But really, if I could spin the time back, I would find a right time to tell you it.

Could I speak to you now? I want you to do one thing for me. I beg to you.

Selasa, 13 September 2011

Bicaralah ( karena aku tak paham diammu )

Untuk my encephalitis-sista,

Dalam pertemanan pasti selalu ada prasangka. Dan tak mungkin bila sebuah pertemanan dilalui tanpa ada permasalahan di dalamnya.

Aku selalu merasa tak berguna ketika kau memilih diam dan tak bercerita kepadaku tentang semua kegundahan yang kau perlihatkan kepadaku di sembarang tepat. Aku merasa seperti kau permainkan. Aku telah mengenalmu bertahun-tahun, baru mungkin beberapa tahun belakangan ini kita begitu dekat, kawan, aku menemukan ikatan persaudaraan tak resmi itu. Kau cukup polos untuk ukuran anak seumurmu, kawan, sedang ketika kau bertemu denganku, aku adalah sosok yang selalu tergagap saat bicara. Aku senang berkawan denganmu karena kau bisa memahami gagap kataku, senang dengan kepolosanmu itu hingga aku lupa tentang beban hidup yang aku bawa bertahun-tahun.

Aku turut bahagia ketika kau menemukan kebahagiaanmu sendiri, meski aku masih mencari-cari kebahagiaan itu tanpa petunjuk apapun. Kadang aku merasa iri dan takut karena kita akan jadi lebih jarang berbincang-bincang seperti dulu, akan lebih jarang menghabiskan waktu bersama sambil berkelana ke hutan atau menyusuri pantai, atau akan lebih jarang bertukar mimpi. Dan ketakutanku itu pun sepertinya benar, kau terlalu bahagia hingga aku takut mengusikmu, kawan. Aku ingin mengatakannya kepadamu, tetapi aku takbisa mengatakan hal-hal seperti ini dengan lancar, malah tergagap dan gentar ketika ingin mengucapkannya dan akhirnya tak pernah terucapkan karena nyaliku yang lama-lama menciut.

Aku selalu merasa ingin marah kepadamu sejak lama, tetapi selalu tak bisa, karena aku sadar kalau aku tak mungkin memaksakan keegoisanku itu untuk memaksamu bercerita kepadaku. Padahal aku selalu memastikan kau baik-baik saja agar tak ada yang melukaimu, karena aku akan merasa sedih kalau kau sedih. Kadang aku ingin menceritakan ceritaku kepadamu, meminta pendapatmu, tapi aku merasa kau tak bisa meluangkan waktu sedikit saja untuk memberiku saran, atau hanya aku saja yang merasa aku akan mengusikmu dengan masalahku dan membuatmu semakin menggalau? Ya, aku memilih diam, agar masih ada yang bisa berpikir dengan jernih ketika kau meminta pendapatku. Tapi tak pernah, dan aku pun memilih untuk diam, menunggumu bercerita, tapi tak kunjung terjadi. Aku tak ingin kau merasa aku mencampuri hal terdalam darimu, aku hanya ingin kau tetap baik-baik saja di tempatmu saat ini.

Dan kalau kini kau marah kepadaku karena aku yang membiarkanmu hanya tahu sepatah-patah cerita itu, aku minta maaf kepadamu. Tapi tolong katakan kepadaku apa yang harus aku lakukan agar kau berhenti mendiamkanku seperti ini? Kalau yang kau inginkan adalah ceritaku, aku bersedia bercerita kepadamu, tapi biarkan aku mengumpulkan tekad dan memilih waktu yang tepat untuk menceritakannya kepadamu karena bagiku ini tak mudah dan cerita itu akan begitu panjang dan mungkin akan membutamu bosan. Jadi katakan kepadaku kawan, aku tak terbiasa mendapatkan jawaban tanpa kata-kata yang kau lakukan sekarang, apa yang benar-benar harus kulakukan agar kau tak marah kepadaku lagi?


Karena aku tak bisa berbicara dengan lantang, dan hanya bisa menulis ini.

Sabtu, 27 Agustus 2011

Sandiwara

Maafkan aku kawan. Mungkin aku memang terlalu keterlaluan kali ini. Semua ini hanya sebuah keusilan yang tak disengaja olehku.

Mari kutunjukan kepadamu, kawan. Judul sandiwara yang kubuat ini adalah Malam Laknat. Ya, anggap saja malam itu memang malam yang pantas dilaknak karena membuatku ingin menunjukkan kepandaianku berakting di depanmu. Sandiwara ini kubuat dalam rangka untuk menyemarakan pertemuan kita kembali kemarin esok hari, yang kau tahu, entah mengapa hubungan diantara kita mulai kehilangan baranya. Maaf kawan, jika perbuatanku ini benar-benar mengusik tidurmu akhir-akhir ini, atau bahkan kau tak peduli pada sandiwaraku ini? Ah, aku pun tidak tahu, partnerku juga mungkin tidak tahu.

Tahukah kau, kawan, jikalau sesungguhnya setelah sandiwara itu dimulai aku mulai menemukan alasanku terus bersandiwara seperti ini? Aku hanya ingin memberitahumu, bahwa mungkin suatu hari, ya, mungkin suatu hari, sandiwara ini akan benar-benar terjadi, mengingat aku yang seperti ini dan partnerku yang seperti itu. Ya, kawan, aku hanya ingin kau tahu, aku lelah dengan permainan yang sepihak kau mainkan itu. Awalnya aku menikmatinya, tapi lama kelamaan aku bosan. Ya, bosan. Makanya, kali ini aku khusus menyiapkan sandiwara ini untuk menghentakkanmu.

Tapi, sayang, kawan, sepertinya kau tak tahu maksud dari sandiwara ini, atau bahkan sebenarnya kau tak peduli dengan usahaku ini?

Puncak Gundah

Aku lebih suka menyebutnya sebuah kegundahan, dari pada sebuah kegalauan, mungkin karena kosakata itu tak penah benar-benar kupahami maknanya.

Malam itu kawan, aku tak begitu paham karena aku datang hanpir diakhir penayangan, tapi angin berbisik bahwa kau sedang dilanda penyakit. Penyakit yang hanya akan dirasakan oleh seseorang yang telah sembuh dari penyakit cinta. Ya, kawan angin telah sedikit banyak menceritakanku garis besar alur ceritamu itu. Ini tentang perempuan itu, perempuan yang kaupilih sendiri dengan hatimu itu. Aku tak banyak tahu tentang itu kawan, tapi seseorang yang sedari tadi kau ajak bercerita mungkin tahu banyak tentangnya. Yang kulihat dari perempuanmu itu hanyalah hal-hal baik yang lumayan bisa aku tangkap, tapi selain itu, aku tak tahu. Aku bahkan tak sempat mengenalnya karena kau tak mengenalkannya, bukan begitu?

Kawan, gundahmu itu sudah terlalu berkepanjangan, aku kadang mengamati apa yang kau tulis di papan pesan depan stasiun itu. Aku tak mengenal sosokmu yang begitu lemah seperti ini, kawan. Bahkan aku sungguh tak menyangkan kalau puncak kegundahan ini akan menghempasmu hingga pecahan kaca itu deras menghujani matamu. Kau payah, kawan, tak tangguh seperti seseorang yang aku kenal bertahun-tahun lalu.

Hei, ada banyak mata dan telinga yang akan membantumu dengan berbagai cara. Jadi bangkilah kawan, bertarunglah untuk mendapatkan apa yang ingin kau raih itu, karena itulah cara laki-laki untuk mendapatkan sesuatu.

Jumat, 26 Agustus 2011

The Only One

You talk about that thing to much, my friend, about the only one, about the missing piece.

I always think that we are created uncompleted, yeah, uncompleted. So you have to find yours to reach your truly happiness. I always think that maybe everybody has their piece more than one; it is just about the time when you and your piece find each other. Or maybe, there is another people who has the same missing piece like yours. Yeah, maybe. And maybe, there are people who never find their piece. Yeah, it is just about who will find it first.

Saksi Tumbuh Kembang Kita

Bersamamu kawan, kemarin aku dan kau menapaki sebuah lorong menuju sebuah tangga yang akan menghantarkan kita ke tempat itu, tempat yang dulu kita sebut sebagai rumah, tempat yang lebih suka kusebut sebagai atap langit, atau juga ku sebut menara Gou, tempat semua dongeng berasal.

Waktu telah menorehkan kerentaan terhadap tempat itu, kawan, kau menyaksikannya sendiri. Rumah kita telah berpindah tangan dan ketika aku melongok menatap deretan bangku-bangku di dalam sana, urutannya tak seperti dulu, dan lukisan dinding itu telah dibajak. Ah, mungkin seharusnya kau dulu membawanya bersama kita. Banyak yang berubah kawan, tempat kita biasa menggelar tikar untuk piknik di bawah terik matahari telah menjadi tempat yang tak dapat dimasuki. Ya, kau saksikan itu sendiri, bukan?

Tapi ada sesuatu yang tak berubah dari tempat itu kawan. Lorong itu tidak berubah, tetap dengan ubin merahnya tempat kita dulu berbagi duduk ataupun tidur siang sambil dibelai angin. Langit-langitnya tak berubah, masih saja putih dan suka menguping pembicaraan kita. Kaca-kaca di jendela itu masih sama, selalu memantulkan langit di seberang timur laut, juga membagi ramalan cuaca hari itu. Satu hal yang benar-benar tak berubah dari tempat itu, kawan, aromanya. Ya, aromanya masih seperti dulu, selalu menenangkan, hingga kita bisa leluasa berbagi tentang apa yang kita rasakan satu sama lain. Dan kau tahu kawan, rasanya, hanya di tempat itu saja aku merasakan waktu berjalan begitu lambat sedang diluar sana entah jam dinding sudah menunjukkan pukul berapa.

Ya, kawan, mungkin aku benar-benar bisa menghabiskan hariku hanya untuk duduk di sana dan mendengarkan kisahmu.

Selasa, 23 Agustus 2011

Merindu

Aku rindu pada perasaan itu, Sora.

Lama aku mencari perasaan itu, sesuatu yang sangat familiar, tapi akhir-akhir ini tak pernah kurasakan lagi. Sora, sungguh aku merindukan saat-saat aku melewati lorong-lorong depan kelas untuk menuju belantara kertas itu, tempat dimana aku mungkin menemukanmu di sana. sungguh, aku menindukan saat-saat aku duduk di bangku itu, bersembunyi di balik ensiklopedi untuk bisa mengamatimu hari itu. Sora, sungguh aku rindu pada perasaan itu.

Bertahun-tahun setelahmu, seseorang itu hadir seperti halnya orang lain. Ia hadir dalam sebuah kewajaran dan aku mulai menemukan perasaan itu pada kehadirannya. Dan saat itu aku mulai bertanya-tanya, sungguhkah perasaan ini ada pada tempatnya atau mungkin hanya euphoria yang aku ciptakan untuk mengenang perasaan itu, Sora? Sayangnya akhirnya aku menyadarinya, Sora. Perasaan yang aku rasakan itu bukan perasaan yang sesungguhnya aku inginkan.

Lalu datanglah seseorang yang lain, terus menerus seolah berlomba untuk mencarikan perasaan yang lama aku rindukan itu, Sora. tapi selalu berakhir sama, karena aku mungkin aku yang membuatnya demikian. Kau tahu, sungguh kini aku sudah lelah, mencari perasaan itus, Sora. Sungguh benar-benar aku merindukan perasaan itu.

Hei, Sora, mungkin seseorang yang kucari untuk mengobati rindu itu benar-benar ada? Kau percaya aku akan menemukannya, kan, Sora?

Jumat, 12 Agustus 2011

Pendewasaan

Setiap anak-anak pelan-pelan akan jadi dewasa. Akan ada titik dimana rasa itu berubah jadi perasaan angkuh karena merasa telah dewasa, lalu berubah menjadi sesuatu yang membuatakan pemikiran tentang impian. Lama-lama anak-anak yang 'sok' dewasa itu akan kehilangan kemampuan bermimpi. Sesuatu pasti akan menyadarkannya,ya, pasti. Dan sebagian tersadar, kembali bersahaja, sebagian lagi semakin tersesat.

Ada masanya dimana anak-anak yang telah beranjak dewasa itu saling bertemu dan bertukar cerita. Perasaan-perasaan yang terjalin mungkin akan sederhana saja, tapi mungkin akan jadi sesuatu yang sangat rumit untuk terurai. Sebagian sadar dan menikmatinya, sebagian terlalu buta untuk merasa. Anak-anak yang 'buta' itu, memang belum cukup dewasa untuk mengerti, dan memilih untuk terus menebar benang-benang perasaan. Dan pasti, suatu ketika, anak-anak 'buta' itu akan mendapatkan transplantasi kornea, hingga jalinan benarng-benang itu akan terlihat. Sebagian akan tersadar lalu menikmatinya, sebagian lagi pura-pura buta.

Akan ada masanya ketika anak-anak itu sadar tentang makna pendewasaan. Sedikit demi sedikit anak-anak itu tumbuh dan berubah. Sebagian melanjutkan proses itu, sebagian takut dan melarikan diri. Anak-anak yang tumbuh, sebagian akan kehilangan kemampuan bermimpi, sebagian tumbuh menjadi pemimpi. Sedang anak-anak yang melarikan diri itu tetap tumbuh, tentu dengan kecepatan yang lambat. Mereka memupuk mimpi mereka menjadi pohon mimpi, lebih dari sekedar menjadi pemimpi.

Semua jalan yang anak-anak tempuh itu tak salah, tak ada yang menyalahkan lebih tepatnya. Semua itu adalah sebuah proses tumbuh dan berkembang.

Nah, yang mana yang mewujudkan dirimu?

Lelah

Aku sudah lelah melarangmu untuk terus menatihnya. Aku sudah lelah, menantinya untuk dapat berjalan dengan kedua kakinya.

Aku sudah terlalu lama mengulur-ulur waktu seperti ini. Tambang di tanganku ini sudah berulang kali kendur dan menegang. Lama aku sudah ingin melepaskan tambang itu, tapi aku terlampau kasihan kepadamu kawan, yang berusaha sekuat tenaga belajar berjalan. Kau terlalu piawai berkata-kata, terlalu piawai bersandiwara, tapi kau tak akan pernah bisa mengejarku. Ya, tak akan pernah.

Aku sudah putuskan, kawan, aku kan memutuskan tambang ini, agar kau bisa mandiri, dan tak pernah bergantung lagi.

Senin, 01 Agustus 2011

Mengelola Ingatan

Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengelola ingatan. Kau pun juga demikian kawan. Kadang aku berpikir bahwa apa yang aku dan kau ingat begitu berbeda, hingga ketika kita bertemu kita bisa saling mengingatkan tentang hal-hal yang masing-masing kita ingat.

Aku tak begitu mengerti, bagaimana hal tersebut bisa terjadi kawan. Hanya saja aku meyakinkan kepada diriku sendiri. Meski apa yang kita ingat berbeda, kita tetap akan saling bertukar ingatan. Karena kita memang kawan, bukan?

Kamis, 21 Juli 2011

Ini yang Dinamakan 'Mencari'

Hari berlalu dan peta di tanganku ini sudah jadi cukup lusuh. Sanggupkah ia menghantarkanku kepadamu?


Hari berlalu, dan bahkan aku hanya sesekali mengingatmu. Ah, payah sekali aku ini! Kau sudah terlalu bahagia di negeri itu, kawan. Haruskah aku mengusik kebahagiaanmu itu dengan datang bertandang dan minta diantarkan berkeliling mencari cerita? Mungkin salah, sejak awal memang tak seharusnya peta ini ada di tanganku.

Saat aku bertemu denganmu lalu pun aku sudah hampir tak mengenalimu. Katu tumbuh menjadi sosok yang sama sekali tak kukenal, sungguh berbeda dengan dirimu yang lampau. Dan mungkin saja, janji itu juga sudah tak perlu dipikirkan lebih lanjut. Seperti kata-kataku yang dulu.

Tapi aku sudah bertekad, akan aku pastikan. Ya, akan aku pastikan siapa kau sekarang. Karena aku ingin berhenti menulismu di sini.

Ternyata Memang Lagu itu

Secara tak sengaja aku membaca tulisan yang kau tulis di papan pesan depan stasiun. Tulisan yang meminta entah siapa untuk kembali kepadamu karena kau merindukannya, merindukan suaranya, merindukan kata-katanya, merindukan sosoknya.

Mungkin aku terlalu berharap karena kupikir pesan itu untukku, ya, kupikir pesan itu untukku. Tapi ada yang janggal dari pesan itu, kau merindukan ia yang menyanyikan lagu favoritmu? Aku tak pernah menyanyi, menyanyikan lagu apapun aku tak pernah, bahkan aku tak tahu apa itu lagu kesukaanmu. Lama sejak hari itu, kalimatmu itu masih terbayang dalam ingatanku meski sekarang papan pesan itu telah kau ganti dengan pesan moral. Aku masih memikirkannya.

Entah karena tuntutan pekerjaan atau apa, aku iseng pergi ke toko musik, menanyakan lagu yang mungkin kau suka kepada si pemilik toko. Aku disodori sebuah album bersampul gambar tangan anak kecil, 'pohon, bulan, dan bintang'. Setelah menukarkan beberapa digit receh, aku pulang dan bersemangat untuk mendengarkan lagu-lagu di dalam kaset itu. Hingga sampai aku menemukan sebuah lagu yang sering ia nyanyikan. Ya, tak salah lagi. Lagu yang sering ia nyanyikan di malam bulan purnama, saat aku duduk di depan kertas dan tinta-tinta, saat kau duduk manis di balik mesin ketik, mendengarkan ia bernyanyi.

Ya, lagu itu memang lagu favoritmu, yang akhirnya aku tahu juga lagu favoritnya. Ya, tentu saja, pesan itu pun ditujukan untuknya, bukan? Ya, tak salah lagi, memang lagu itu, dan pesan itu memang untuk dia.

Rabu, 29 Juni 2011

Semakin dewasa

Semakin dewasa, semakin bisa menahan perasaan.

Perasaan ini begitu ringan, tak seperti perasaan yang aku rasakan terhadapmu, Sora. Atau karena aku semakin dewasa dari aku ketika bertemu denganmu dulu?

Perasaan ini begitu ringan, seperti udara, lama-lama mengisi rongga dada ini dengan perasaan yang membuncah ketika bertemu dengannya. Perasaan ini begitu tenang, seperti aliran air sungai yang mengalir di antara celah-celah bebatuan, lama-lama menenggelamkanku di dalam perasaan sejuk ketika melihatnya. Perasaan ini begitu hangat, seperti sinar matahari di pagi hari yang menerobos dedaunan, lama-lama menghangatkan perasaanku ketika bercakap dengannya.
Mungkin karena terlalu ringan, terlalu tenang, terlalu hangat, sampai-sampai aku tak menyadarinya. Atau aku memang pura-pura tak menyadarinya? Atau menahan diri agar tak menyadarinya?


Yah, mungkin aku bisa dengan terus terang mengatakannya kepadamu, sungguh aku tidak memiliki perasaan itu kepadanya.

Senin, 09 Mei 2011

Penipu Kelas Kakap

Aku sungguh tak mengerti ucapanmu, semenjak kita bertukar pikiran hari itu. Ucapanmu sungguh sangat aku percaya, tapi sepertinya kau hanya main-main saja dengan kata-kata. Kadang kala kau berkata tentang hal ini dan kemudian kalimatmu berubah menjadi itu. Sungguh, aku tak menegrti. Yang aku pahami darimu adalah kau seorang penipu. Berulang kali kau menipuku dengan kata-katamu. Padahal kau tahu aku begitu mempercayaimu. Lantas, masih bisakah aku terus percaya kepadamu? Entah mengapa aku begitu bodoh sehingga terus mempercayaimu.

Hei, kau penipu kelas kakap, sungguh aku tak bisa membedakan mana kata-katamu yang jujur dan mana yang tipuan.

Pembiasaan (padaku)

Lagi-lagi, malam itu kau begitu mempesona, biru.

Aku tercengang menatapmu. Mungkin malam sudah larut, dan bau dupa atau kemenyan yang tersamarkan diudara menghipnotisku. Aku baru sadar bahwa selama ini aku kurang berusaha menampakkan diriku. Tapi aku cukup senang karena kini kau mulai terbiasa akan kehadiranku, tidak menampikku seperti dulu.

Malam itupun aku sangat senang, akrena melihatmu hanya sendirian di tengah keramaian lampu kota. Dan tak seperti orang-orang lain, kau tak membawa seseorang bersamau kali itu. Lantas, bolehkah aku berkesimpulan kalau kau tak mempunyai seseorang itu?

Kalau memang demikian, tunggu saja, aku pasti akan lebih berusaha untuk membuatmu terbiasa kepadaku.

Penat

Rasa-rasanya aku sudah menyerah hari itu, hari dimana kau mengatakan bahwa kau sudah memutuskan untuk maju. Aku sudah berusaha perlahan mundur. Tapi mengapa rasa-rasanya apa yang kau lakukan sekarang malah semakin menarikku kepadamu?

Aku limbung, perasaanku kacau, tinggal menunggu waktunya aku meledak dan semua hal yang aku pendam terhadapmu menjadi berserakan. Mungkin hal itu akan jadi baik, tapi bisa saja tidak. Semua orang akan tahu, kau juga akan tahu, dia juga akan tahu, dan aku tak bisa lagi menghindar dari pertanyaan yang akan memberondongiku seperti peluru yang keluar dari senapan otomatis.

Pikiranku penat, penuh denganmu, walau sedikit-demi sedikit pikira itu mulai meresap ke celah-celah yang sudah kututup beberapa saat lalu. Sedikit demi sedikit mengendapkan bayanganmu padaku. Bahkan tanpa sempat aku mengelak, celah itu melebar seukuran tangan. Dan kau dengan caramu itu membuatku semakin sulit menutupi celah itu.

Sungguh aku ingin berhenti memikirkanmu sejenak saja. Biarkan aku menjadi orang yang bebas seperti beberapa tahun lalu.

Selasa, 12 April 2011

Mungkin Sudah Terlanjur

Sepertinya aku memang tak bisa, terlanjur terbiasa denganmu.


Hari-hari terlewati, jarak semakin berkurang. Tapi aku merasa, kalau kau tak mau tahu dengan perasaanku padamu. Yah, toh aku sendiri belum mengatakannya kepadamu. Aku ingin kau menyadarinya tanpa harus kuberi tahu. Lantas setelahnya, kau akan sadar kalau ada aku yang selalu berperasaan lebih terhadapmu. Mungkin aku terlalu pegecut untuk mengatakannya kepadamu. Hanya saja, aku tak ingin perasaan ini hilang begitu saja setelah kuucapkan kepadamu, seperti cerita-cerita sebelumnya. Aku ingin perasaan ini mengendap, agar biasa aku kenang suatu hari nanti jikalau ternyata pada akhirnya dongeng kehidupan ini berkata lain kepadaku.

Mungkin memang sudah terlanjur untuk bisa menguranginya. Tapi aku sedang berusaha untuk menghentikan perasaan ini, karena sepertinya aku mulai sadar, kalau kau memang sudah tahu dan pura-pura tak tahu terhadapku.

Senin, 11 April 2011

Rinduku ( padamu, Kawan )

Tanggal telah tersobeki satu-satu teman, dan aku masih belum merasakan hal yang kurasakan bersama kalian.

Aku rindu, pada lorong-lorong yang sering kira gunakan untuk berlarian, duduk-duduk sambil bercerita bercengkerama tentang kehidupan kita yang hampir habis masanya, bermain kartu merah biru sambil tergelak tertawa, menangis tumpah ruah bersama sambil saling menghapus pipi.

Aku rindu, pada kursi-kursi tempat kita duduk berkonspirasi mengenai pembangkangan sore itu, bisik-bisik, kasak-kusuk rencana menghabiskan hari-hari yang tersisa, juga kejahilan tangan yang kita kembangkan dalam rangka menyemarakkan suasana serta mendekatkan diri pada pribadi masing-masing.

Aku rindu, pada tanah lapangyang sering kita gunakan untuk bermain mengejar bola, berebut memasukkan bola ke keranjang yang tergantung, tertawa 'ngrasani' orang-orang, menggaung kesana kemari sambil melemparkan guarauan yang bisa menjungkir balikkan perut.

Hei, aku rindu kawan, padamu, padanya, pada kita, pada semua tempat yang aku dan kau jadikan markas kebesaran.

Aku ingin bernostalgia bersamamu ketempat-tempat itu.

Sapamu (dan Caraku)

Aku senang, karena pada akhirnya kau mau menyapaku karena keinginanmu sendiri. Tapi mungkin adalah egoku yang menyahut sapaanmu itu sehingga aku terlihat begitu ketus. Padahal dalam hatiku aku melonjak kegirangan karena kau sapa.

Tak ada hujan atau badai, pagi itu cerah, matahari terik, tingkat uap air cukup tinggi, nanti sore akan hujan mungkin, dan kau kali itu menyapaku dengan suara yang telah memenuhi rongga telingaku selama berbulan-bulan ini. Mungkin kah pada akhirnya kau menyadari kehadiranku di dekatmu?

Hei, Biru, aku tak akan menyerah hanya karena kau seperti langit dulu. Aku akan memaksamu berbicara kepadaku, menatapku, tersenyum kepadaku, dengan caraku sendiri.

Apa Kabar, Matahari?

Lama tak bertemu denganmu, matahari.

Di negeri ini, yang ada hanya langit dan awan yang bergantungan rendah, keberatan akan air hujan mungkin. Dari tempatku kini, aku jarang bisa menatapmu, bahkan untuk mengintipmu pun begitu susah. Sudahkah jarak membuatku melupakan perasaan lamaku?

Sejak bincang-bincang kita dulu itu, aku tak pernah bisa melihatmu. Langin mendung, tak pernah cerah. Bahkan barang menengok pekarangan rumahmu yang gersang itupun aku jarang, bahkan tak sempat.

Hei, matahari, aku mendengar kabar dari angin, kalau prajurit wanita dari klan Belatrix itu sedang pergi jauh. Benarkah itu? Aku dengar pula dari angin, kau sekarang begitu sedih hingga jarang muncul di lapangan langit. Benarkah itu? Aku dengar pula, cahayamu kini meredup, sampai-sampai aku kini tak pernah lagi bisa merasakan kehangatan sinarmu. Sedihkah kau? Terpurukkah kau kini? Lantas, kemana kiranya kau akan mencurahkan kegundahanmu itu? Kepadaku kah? Atau kepada para bidadari dan malaikat yang selalu ada di sekelilingmu itu?

Hei, matahari, sejak perbincangan kita itu, aku telah memutuskan untuk menggenggam mantra yang telah aku ucapkan sejak pertama kali kita bertemu dulu. Oleh karenanya, jangan ragu jikalau kau ingin menceritakan cerita sedihmu itu kepadaku.

Kita teman, bukan?