Minggu, 27 Februari 2011

Tumbuh

Akhirnya untuk yang kesekian lamanya, aku bertemu denganmu, hei laki-laki berdarah cina campuran. Padahal baru beberapa bulan saja aku pergi meninggalkan kerajaan tetapi banyak hal telah berubah, termasuk kau. Dulu saat aku meninggalkan kerajaan, kau masih bocah, anak laki-laki yang baru saja akan tumbuh. Tetapi hari ini aku bertemu denganmu yang telah berubah menjadi seorang laki-laki dewasa.

Dan entah mengapa, aku kini melihatmu sebagai laki-laki dewasa.

Jumat, 25 Februari 2011

Menjadi Dewasa

Hujan selalu membuatku merasa tak nyaman, selalu mengingatkanku pada hal-hal yang membebani pikiranku selama ini. Kata seorang teman, hujan itu sebuah konser musik. Suaranya 'kemlothak' tetapi enak didengar. Tapi menurutku, hujan selalu meninggalkan aroma tanah yang menyegarkan, seperti aroma semangka yang dibelah ketika musim panas.

Entah hal itu sebuah kesalahan karena pikiranku yang menggalau atau apa, tapi kurasa tindakanku untuk memberitahumu tentang apa yang telah kutuliskan tentangmu selama ini perlu kau tahu. Aku sudah lama menekan perasaan ini begitu lama, hingga sering membebani pikiranku selama ini. Aku sebenarnya sudah lama berharap bahwa kau seperti pengakuanmu dulu, hingga saat itu aku begitu senang akan kenyataan itu. Tapi kawan, kau harus tahu, bahwa aku telah terikat oleh mantra yang kukutukkan pada diriku sendiri. Kawan selamanya tetap kawan. Dan kau tahu itu.

Oleh karenanya, aku hanya ingin kau tahu saja, tentang perasaan yang membebaniku, yang mungkin juga selama ini telah membebanimu. Aku ingin kita bersikap dewasa, kawan. Aku tak peduli bagaimana ekspektasimu tentangku setelah kau membaca semua tulisan tentangmu. Yang kuinginkan hanya agar kau tahu. Itu saja. Tak lebih, tak kurang. Kalaupun kau salah pengertian, maka maafkan aku, yang selama ini telah membiarkanmu terlibat perasaan kita masing-masing. Tolong lah kau mengerti barang sedikit saja.

Satu hal saja yang sekarang ingin aku tanyakan kepadamu.

Kita masih berteman, kan?

Tiga Kata yang Kau Ucapkan

Malam itu tiba-tiba saja penyakit jantungku kambuh. Detaknya tak beraturan, kadang semakin cepat, kadang melambat, hingga aku sesak napas dibuatnya. Dadaku sakit, perutku bergejolak oleh perasaan yang sudah lama tak kurasakan. Malam semakin larut dan jangkrik terdiam oleh suaramu. Suara yang memenuhi kepalaku setiap waktu. Entah mengapa aku jadi semakin gila karenamu, atau karena suaramu? Aku tak tahu.

Lebih-lebih ketika kau berbicara kepadaku, rasa-rasanya aku akan mati, meski hanya tiga patah kata yang tak lengkap.

Cewek Lemah

Aku tidak tahu apa maksud dari tindakanmu selama ini. Aku hanya berpikir bahwa kau lebih suka cewek yang lemah, cewek yang sekiranya bisa kau lindungi hingga kau merasa sangat berguna. Aku sudah lama berpikir tentang hal ini. Aku memang tak suka bergantung kepada orang lain, karena hanya akan membuatku terlihat lemah. Tapi entah mengapa terhadapmu, aku ingin sekali saja mencoba bergantung kepadamu. Dan aku jadi muak pada diriku yang seperti itu.

Rasa-rasanya hari itu aku mungkin sedang lupa diri, terlalu percaya diri mungkin, hingga berani-beraninya aku meminta pertolonganmu. Tapi kau menolak diri, kau tak mau membantuku. kata-katamu itu membuatku tersadar satu hal, tak sepantasnya aku bergantung kepadamu, barang mencobapun sebenarnya aku tak pantas. Aku marah pada diriku yang seperti itu.

Hanya saja, kata-katamu itu seperti wujud penolakanmu akan kehadiranku.

Kamis, 24 Februari 2011

Iri

Hei, aku sudah berusaha menekan perasaan ini dalam-dalam, ingin membuangnya jauh-jauh malah. Tapi semakin hari mengapa semakin berakar?

Rasanya lama, begitu lama aku tak melihatmu akhir-akhir ini. Tapi mengapa selalu saja ada kebetulan aku bisa bertemu denganmu? Sebuah kebetulan ataukah memang sebuah takdir? Mungkin aku terlalu banyak berharap kepadamu, seperti sebelum-sebelumnya. Tapi melihatmu saja kini tak cukup bagiku. Rasanya jantung ini mulai berdetak lebih cepat dari biasanya saat melihatmu. Padahal dulu jantungku selalu melambat ketika aku bertemu denganmu. Kau sungguh pandai mempermainkan detak jantungku!

Entah mengapa aku begitu iri, pada semua orang yang ada di sekelilingmu, apalagi wanita-wanita yang selalu ada di sekitarmu. Mengapa kau bisa berbicara seperti itu kepada mereka? Mengapa kau bisa tersenyum seperti itu kepada mereka? Mengapa kau bisa memperlakukan mereka begitu baik? Sungguh-sungguh aku iri kepada mereka.

Aku ingin memonopolimu, senyummu, kata-katamu, caramu menatap, gestur tubuhmu. Ya, aku begitu ingin memonopolimu.

Bertanya tentang Arti (kepadaku)

Aku tak paham, dari mana kau mendapatkan gagasan seperti yang kau tanyakan kepadaku waktu itu? Padahal jelas-jelas saja aku telah mengatakan kepadamu bahwa aku tidak seperti itu, meski waktu itu aku memang membohongimu. Kawan, karena pertanyaanmu pada malam itu, kau membuatku jadi kembali berpikir tentang pertanyaanku dulu.

apakah arti kehadiranku untukmu?

Hei, masihkah kau seperti yang selama ini aku pikirkan? Bukankah kau telah menarik diri dariku? Kawan, kita selamanya akan tetap jadi kawan. Aku terlalu sungkan pada diriku sendiri untuk mengakui gara-gara kata-kata yang telah aku pegang sejak lama. Dan tentang siapa orang yang kau tanyakan itu, aku yakin kau mengenalnya. Hanya saja aku tak mau memberitahukannya kepadamu.

Hei, kawan, hidup ini terus berputar untukmu, sedang untukku, mungkin waktu sudah lama mati.

Kau Memang Sudah Berubah

Hei, matahari, sudah lama aku ingin berbicara denganmu, berdua saja. Hanya saja para ksatria penjagamu melarangku berbuat demikian.

Hei, sejak kapan kau begitu mengacuhkanku seperti saat ini? Aku jadi merasa bahwa kau begitu jauh, hingga sepertinya aku jadi tak kenal lagi kepadamu. Padahal sudah bertahun-tahun kita berkawan seperti ini, tapi kau begitu mudah melupakan ikatan kita selama ini. Sudahkah kau benar-benar lupa pada pertemanan kita?

Ah, entah mengapa aku jadi begitu merindukan senyummu yang dulu itu

Rabu, 09 Februari 2011

Rival dan Kawan

Suatu hari aku ingin bertanya kepadamu. Bertanya tentang kita, tentang kau, tentang aku, tentang apa yang ada diantara kita. Sudah lama pertanyaan itu mengendap dipikiranku. Tapi tak bisa terucapkan. Tak ada waktu yang pas, tak ada waktu yang cocok. Hingga beberapa saat lalu aku kembali teringat kepada pertanyaan itu.

Hari ini, kupertaruhkan kita yang sekarang, memberanikan diri untuk bertanya kepadamu,kawan. Yah, walau pada awalnya banyak yang kita bicarakan, bukan tetang kita, tapi tentang banyak orang. Hingga detik-detik terakhir aku bertanya kepadamu.

Apakah arti kehadiranku untukmu?

Lalu kau lama terdiam. Lama, hingga aku berpikir aku telah salah ucap. Dan kau menjawab dengan cara yang tak meyakinkanku. Ku bilang bahwa apa yang ada di antara kita terlalu rumit untuk diuraikan saat itu juga. Aku pun mulai bertanya-tanya, mengapa begitu rumit? Lalu kau mulai menjawabnya lagi. Apa yang ada diantara kita adalah sesuatu hal yang tak biasa ada. Hanya sesuatu yang sering dijumpai di komik-komik cowok, jenis persahabatanan yang aneh, begitu dekat, tapi kadang ingin menjauh, saling membagi cerita, tapi kadang membohongi. Jenis pertemanan yang tak mungkin kujumpai pula terhadap orang lain. Aku senang mendengarmu menjawab demikian.

Yah, mungkin hubungan diantara kita begitu rumit untuk diuraikan. Tapi begitu spesial untuk terceritakan.

Malam yang Kalian Penuhi dengan Pertanyaan-Pertanyaan

Suatu ketika, aku dan teman-temanku mengadakan sebuah pesta untuk para wanita di keluarga kami. Yang datang lumayan lah, untuk sekedar ngopi dan menikmati malam. Malam itu malam yang sangat panas, karena permainan botol yang menggila. Pertanyaan-pertanyan mengalir lancar, jawabannya tersendat-sendat. Setiap orang tergagu menjawab pertanyaan. Termasuk aku, yang setiap giliranku diberikan pertanyaan-pertanyaan yang begitu sulit. Hingga aku ragu-ragu untuk menjawabnya, tapi semuanya tertuturkan, meski harus menutupi perasaan kuat-kuat, agar tak ada airmata yang terburai. Agar cukup tawa saja yang akan menyaingi suara hujan malam itu.


Tapi, saat setiap pertanyaan bergulir dari mulit ke mulut, ada pertanyaan-pertanyaan yang kembali termunculkan di kepalaku. Pertanyaan-pertanyaan lama, yang tak berani kupertanyakan lebih jauh lagi. Hanya saja, jikalau aku bertanya sekarang pun juga tak masalah kan? Toh sesungguhnya pertanyaan-pertanyaan itu hadir bertahun-tahun lalu.

Senin, 07 Februari 2011

Tempat Kenangan

Hei, Sora, beberapa saat lalu aku pergi melewati tempat itu. Tempat dimana kita menghabiskan malam bersama teman-temanmu, teman-temanku juga pada akhirnya.

Sejak awal aku sudah menduga aku akan melewati tempat itu. Sesaat aku kalut dalam kemelut otakku, termenung memikirkan tempat itu. Sepanjang jalan menuju tempat itu aku sedikit terkenang tentang kita. Tentang bagaimana kita berusahan tetap berdiri diantara tas-tas, alat masak, kardus-kardus, juga bilah-bilah bambu di dalam truk. Aku masih ingat benar, bagaimana angin meniupkan rambutku, seperti saat aku hendak lewat tempat itu.

Sesaat aku terhenyak ketika aku melewati tempat itu. Sedikit menahan nafas, mengingat tempat itu. Tempa titu sudah lama berubah, Sora. Tanah gersang itu sudah ditumbuhi alang-alang setinggi lutut. Pohon-pohon mahoni itu sudah tidak segersang dulu. Monumen di belakang pohon-pohon mahoni itu sudah menjadi reruntuhan.

Hei, tapi tetap saja tempat itu menjadi tempat kenangan kita.