Kamis, 24 Februari 2011

Iri

Hei, aku sudah berusaha menekan perasaan ini dalam-dalam, ingin membuangnya jauh-jauh malah. Tapi semakin hari mengapa semakin berakar?

Rasanya lama, begitu lama aku tak melihatmu akhir-akhir ini. Tapi mengapa selalu saja ada kebetulan aku bisa bertemu denganmu? Sebuah kebetulan ataukah memang sebuah takdir? Mungkin aku terlalu banyak berharap kepadamu, seperti sebelum-sebelumnya. Tapi melihatmu saja kini tak cukup bagiku. Rasanya jantung ini mulai berdetak lebih cepat dari biasanya saat melihatmu. Padahal dulu jantungku selalu melambat ketika aku bertemu denganmu. Kau sungguh pandai mempermainkan detak jantungku!

Entah mengapa aku begitu iri, pada semua orang yang ada di sekelilingmu, apalagi wanita-wanita yang selalu ada di sekitarmu. Mengapa kau bisa berbicara seperti itu kepada mereka? Mengapa kau bisa tersenyum seperti itu kepada mereka? Mengapa kau bisa memperlakukan mereka begitu baik? Sungguh-sungguh aku iri kepada mereka.

Aku ingin memonopolimu, senyummu, kata-katamu, caramu menatap, gestur tubuhmu. Ya, aku begitu ingin memonopolimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar