Selasa, 15 Maret 2011

Berpikir (sesuatu yang tak penting)

Akhir-akhir ini aku mulai berpikir, haruskah aku mulai menunjukkan usahaku agar kau mau melihatku?

Banyak hal yang terlalu kubesar-besarkan akhir-akhir ini. Hingga membebani otakku yang kapasitasnya mulai penuh oleh hal-hal yang sebetulnya tak perlu dipikirkan terlalu dalam. Para laki-laki di keluargaku mulai menanyakan tentangku, tentangmu. Bagaimana hal itu tidak membebani pikirku jika mereka terus menanyakan hal yang sama? Sedang saudara-saudara perempuanku pun sudah memperkenalkan pasangan mereka kepada keluargaku. aku mulai berpikir, sudah haruskah aku bersungguh-sungguh untuk menampakkan diri di hadapanmu? Sudah haruskah aku bersungguh-sungguh menunjukkan usahaku di hadapanmu? Tapi mengapa aku masih berpikir bahwa untuk saat ini aku belum menganggap kehadiranmu begitu penting?


Ah, sepertinya aku memang terlalu banyak memikirkan hal-hal yang kurang penting seperti ini.

Pertemuan (konspirasi besar-besaran)

Malam ini, malam pertemuan besar, selasa agung untuk para anggota keluarga kertas. Hari-hari lalu telah dipersiapkan, sajak-sajak ditulis, nada-nada dirangkai untuk dinyanyikan.

Hari-hari kita lewati jauh dari rumah. Beratus-ratus mil jarak yang kita tempuh, jauh dari rumah. Aku rindu kepada canda dan tawa kita. Aku rindu bersenandung bersama. Suara mu, tawamu, tangismu, wajahmu, ekspresimu, aku rindu kau, semua yang ada pada dirimu, juga kita.

Tapi malam ini, semua rinduku akan kucurahkan padamu, kawan. Semoga malam ini akan menjadi canduku untuk hari-hari setelah ini, jika kita sudah berpisah lagi.

Peduli

Aku tak pernah mengerti, mengapa aku begitu peduli padamu akhir-akhir ini. Seolah aku siapamu.

Aku tak pernah berniat untuk menghalangimu melakukan apapun yang kau inginkan. Tapi tindakanmu itu benar-benar membuatku muak padamu juga pada diriku sendiri. Mengapa aku mulai begitu peduli padamu? Mungkinkah aku mulai terbiasa kepadamu?

Hei, hentikan pertanyaan-pertanyaan itu. Pertanyaan-pertanyaan itu semakin menyudutkanku, membuaku terjebak banyak masalah karena perbuatanku sendiri. Dan, kau, jangan semakin mempersulitku dengan membuatku menjadi peduli kepadamu. Cukup sampai di sini saja, aku tak akan peduli kepadamu.


Ah, mungkin aku memang tak bisa tak mempedulikanmu.

Virus Otak

Lagi-lagi, padahal aku sudah berusaha sekuat hati untuk membatasi pergerakanmu di celah yang baru-baru ini ingin ku tutup kembali, tapi mengapa kau dengan sangat sukses mulai berhasil memperbesar lubang itu?

Hari-hari berlalu, dan aku masih saja menatapmu penuh damba seperti saat-saat ini. Bodoh, kah aku? Mungkin. Tapi mengapa aku tak bisa menghilangkan penyakit kebodohanku ini?
Dengan leluasa musik itu merasuki otakku, bergema bersama suaramu yang makin hari makin jelas saja di telingaku. Salahkah aku kalau aku tak sengaja mendengarkan suaramu hingga terhipnotis? Mengapa tak kau persalahkan saja telingaku ini? Jangan, jangan persalahkan telingaku, persalahkan saja otakku yang mulai tergerogoti virus akan dirimu.

Dari balik kegelapan ini aku berusaha menyembunyikan diri, berpura-pura tak menatapmu meski setiap aku ada kesempatan pasti aku akan mencari-cari kesempatan untuk menatapmu. Salahkan aku bila ingin terus menatapmu dari tempatku saat ini? Salahkan mataku jika terus mengekor pada sosokmu? Jangan, jangan persalahkan mataku, persalahkan saja otakku yang mulai rusak karena sering memikirkanmu.

Tapi boleh, kan, bila aku sering-sering menatapmu?

Jumat, 11 Maret 2011

Menjenguk

Sora, beberapa hari lalu aku mengunjungi pekarangan rumahmu. Kau tak ada di rumah saat itu. Aku hanya berdiri mematung di depan pintu pagar rumahmu. Tak berani masuk lebih jauh lagi, takut pada anjing penjaga yang sedang mendengkur di kandangnya.

Aku tak bermaksud apa-apa dengan mendatangimu sore itu. Hanya saja, rasanya sudah lama sekali sejak saat-saat aku gila akan dirimu. Kali itu aku bertanya kepada diriku sendiri. Sudahkah aku melupakanmu? Sudahkan perasaan itu menguap bersama langit yang kini mengabu? Ya, mungkin saja demikian. Aku sudah kehilangan perasaan itu, tapi lupa tentangmu? Kurasa tidak demikian. Kau tahu Sora, perasaan itu sudah benar-benar hilang, kurasa. Tapi mengapa aku jadi sangat merindukan perasaan itu?

Dari balik pagar, aku bisa melihat seseorang ada di dalam rumah itu. Bukan kamu, aku hafal sosokmu. Seseorang itu perempuan, sibuk menyiapkan makan malam untukmu. Aku mulai mereka-reka, siapa gerangan perempuan itu, Sora? Akhirnya aku paham, dia adalah istrimu. Kalaupun bukan istrimu, pasti dia adalah orang yang mengurusmu sekarang. Ada sedikit rasa kecewa di hatiku, tapi aku bahagia akan hidupmu yang sekarang.

Pelan-pelan aku pergi dari depan pekaranganmu, berjalan gontai menyusuri pedestrian. Aku menoleh, dan saat itua ku melihatmu, dan perempuan itu yang sedang membukakan pintu rumah untukmu. Kau terlihat sangat bahagia, perempuan itu juga. Lalu sosokmu menghilang di balik pintu itu. Aku tertegun sesaat, lalu berbalik , gontai menyusuri pedestrian. Dan malam pun mulai datang.


Mungkin aku memang harus melupakanmu.

Badai Otak

Entah mengapa, aku mulai merasa bahwa aku mulai menutup diriku lagi dari dunia. Buktinya saja aku sudah jarang bercerita tentang orang-orang yang aku temui di tempat ini. Mungkinkah tak ada yang menarik lagi? Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya mulai merasa kekurangan waktu untuk menulis banyak-banyak di sini. Yah, aku tentu saja rindu, pada segala sesuatu yang aku ceritakan di sini. Mungkinkah aku kurang berusaha? Mungkin.

Aku akan mulai lebih berusaha kali ini.

Obat Hati

Sudah lama sejak pertama kali aku kembali melihatmu setelah sekian lama. Rasanya dahagaku tentang dirimu begitu saja terobati. Lama tak melihatmu membuatku gelisah. Apakah usahaku selama ini akan terhapus oleh jarak waktu tak bertemu denganmu ini? Ku harap tidak. Semoga saja.

Hei, entah mengapa, rasa-rasanya jarak kita mulai berkurang.