Jumat, 11 Maret 2011

Menjenguk

Sora, beberapa hari lalu aku mengunjungi pekarangan rumahmu. Kau tak ada di rumah saat itu. Aku hanya berdiri mematung di depan pintu pagar rumahmu. Tak berani masuk lebih jauh lagi, takut pada anjing penjaga yang sedang mendengkur di kandangnya.

Aku tak bermaksud apa-apa dengan mendatangimu sore itu. Hanya saja, rasanya sudah lama sekali sejak saat-saat aku gila akan dirimu. Kali itu aku bertanya kepada diriku sendiri. Sudahkah aku melupakanmu? Sudahkan perasaan itu menguap bersama langit yang kini mengabu? Ya, mungkin saja demikian. Aku sudah kehilangan perasaan itu, tapi lupa tentangmu? Kurasa tidak demikian. Kau tahu Sora, perasaan itu sudah benar-benar hilang, kurasa. Tapi mengapa aku jadi sangat merindukan perasaan itu?

Dari balik pagar, aku bisa melihat seseorang ada di dalam rumah itu. Bukan kamu, aku hafal sosokmu. Seseorang itu perempuan, sibuk menyiapkan makan malam untukmu. Aku mulai mereka-reka, siapa gerangan perempuan itu, Sora? Akhirnya aku paham, dia adalah istrimu. Kalaupun bukan istrimu, pasti dia adalah orang yang mengurusmu sekarang. Ada sedikit rasa kecewa di hatiku, tapi aku bahagia akan hidupmu yang sekarang.

Pelan-pelan aku pergi dari depan pekaranganmu, berjalan gontai menyusuri pedestrian. Aku menoleh, dan saat itua ku melihatmu, dan perempuan itu yang sedang membukakan pintu rumah untukmu. Kau terlihat sangat bahagia, perempuan itu juga. Lalu sosokmu menghilang di balik pintu itu. Aku tertegun sesaat, lalu berbalik , gontai menyusuri pedestrian. Dan malam pun mulai datang.


Mungkin aku memang harus melupakanmu.

1 komentar: