Selasa, 12 April 2011

Mungkin Sudah Terlanjur

Sepertinya aku memang tak bisa, terlanjur terbiasa denganmu.


Hari-hari terlewati, jarak semakin berkurang. Tapi aku merasa, kalau kau tak mau tahu dengan perasaanku padamu. Yah, toh aku sendiri belum mengatakannya kepadamu. Aku ingin kau menyadarinya tanpa harus kuberi tahu. Lantas setelahnya, kau akan sadar kalau ada aku yang selalu berperasaan lebih terhadapmu. Mungkin aku terlalu pegecut untuk mengatakannya kepadamu. Hanya saja, aku tak ingin perasaan ini hilang begitu saja setelah kuucapkan kepadamu, seperti cerita-cerita sebelumnya. Aku ingin perasaan ini mengendap, agar biasa aku kenang suatu hari nanti jikalau ternyata pada akhirnya dongeng kehidupan ini berkata lain kepadaku.

Mungkin memang sudah terlanjur untuk bisa menguranginya. Tapi aku sedang berusaha untuk menghentikan perasaan ini, karena sepertinya aku mulai sadar, kalau kau memang sudah tahu dan pura-pura tak tahu terhadapku.

Senin, 11 April 2011

Rinduku ( padamu, Kawan )

Tanggal telah tersobeki satu-satu teman, dan aku masih belum merasakan hal yang kurasakan bersama kalian.

Aku rindu, pada lorong-lorong yang sering kira gunakan untuk berlarian, duduk-duduk sambil bercerita bercengkerama tentang kehidupan kita yang hampir habis masanya, bermain kartu merah biru sambil tergelak tertawa, menangis tumpah ruah bersama sambil saling menghapus pipi.

Aku rindu, pada kursi-kursi tempat kita duduk berkonspirasi mengenai pembangkangan sore itu, bisik-bisik, kasak-kusuk rencana menghabiskan hari-hari yang tersisa, juga kejahilan tangan yang kita kembangkan dalam rangka menyemarakkan suasana serta mendekatkan diri pada pribadi masing-masing.

Aku rindu, pada tanah lapangyang sering kita gunakan untuk bermain mengejar bola, berebut memasukkan bola ke keranjang yang tergantung, tertawa 'ngrasani' orang-orang, menggaung kesana kemari sambil melemparkan guarauan yang bisa menjungkir balikkan perut.

Hei, aku rindu kawan, padamu, padanya, pada kita, pada semua tempat yang aku dan kau jadikan markas kebesaran.

Aku ingin bernostalgia bersamamu ketempat-tempat itu.

Sapamu (dan Caraku)

Aku senang, karena pada akhirnya kau mau menyapaku karena keinginanmu sendiri. Tapi mungkin adalah egoku yang menyahut sapaanmu itu sehingga aku terlihat begitu ketus. Padahal dalam hatiku aku melonjak kegirangan karena kau sapa.

Tak ada hujan atau badai, pagi itu cerah, matahari terik, tingkat uap air cukup tinggi, nanti sore akan hujan mungkin, dan kau kali itu menyapaku dengan suara yang telah memenuhi rongga telingaku selama berbulan-bulan ini. Mungkin kah pada akhirnya kau menyadari kehadiranku di dekatmu?

Hei, Biru, aku tak akan menyerah hanya karena kau seperti langit dulu. Aku akan memaksamu berbicara kepadaku, menatapku, tersenyum kepadaku, dengan caraku sendiri.

Apa Kabar, Matahari?

Lama tak bertemu denganmu, matahari.

Di negeri ini, yang ada hanya langit dan awan yang bergantungan rendah, keberatan akan air hujan mungkin. Dari tempatku kini, aku jarang bisa menatapmu, bahkan untuk mengintipmu pun begitu susah. Sudahkah jarak membuatku melupakan perasaan lamaku?

Sejak bincang-bincang kita dulu itu, aku tak pernah bisa melihatmu. Langin mendung, tak pernah cerah. Bahkan barang menengok pekarangan rumahmu yang gersang itupun aku jarang, bahkan tak sempat.

Hei, matahari, aku mendengar kabar dari angin, kalau prajurit wanita dari klan Belatrix itu sedang pergi jauh. Benarkah itu? Aku dengar pula dari angin, kau sekarang begitu sedih hingga jarang muncul di lapangan langit. Benarkah itu? Aku dengar pula, cahayamu kini meredup, sampai-sampai aku kini tak pernah lagi bisa merasakan kehangatan sinarmu. Sedihkah kau? Terpurukkah kau kini? Lantas, kemana kiranya kau akan mencurahkan kegundahanmu itu? Kepadaku kah? Atau kepada para bidadari dan malaikat yang selalu ada di sekelilingmu itu?

Hei, matahari, sejak perbincangan kita itu, aku telah memutuskan untuk menggenggam mantra yang telah aku ucapkan sejak pertama kali kita bertemu dulu. Oleh karenanya, jangan ragu jikalau kau ingin menceritakan cerita sedihmu itu kepadaku.

Kita teman, bukan?

Jumat, 01 April 2011

Kau Akhir-akhir Ini

Aku selalu ingin tahu apa yang ada dalam pikiranmu. Mengapa kau menekuk mukamu seperti itu? Mengapa kau terdiam seperti itu? Mengapa kau tertawa seperti itu? Mengapa kau melakukan hal itu?

Sadarkah kau akan apa yang telah aku usahakan selama ini? Aku selalu berusaha menyembunyikan perasaan ini, tak ingin keganjilanku ini terlihat olehmu. Tapi entah mengapa aku merasa kau telah menyadarinya sejak awal, hingga akhir-akhir ini merasa kalau kau mulai menjauh dariku.

Kehilangan dirimukah?
Mungkin. Tapi baru kusadari akhir-akhir ini.


Hei, aku berusaha, menghentikan perasaan ini sebelum menjadi tidak semestinya. Jadi, berikan aku kesempatan untuk menghentikan perasaan ini.

Jika (Baju Kita Sama)

Mungkinkah kebetulan belaka jika hampir setiap hari warna baju yang kita kenakan sama?

Ah, aku jadi agak sensitif akhir-akhir ini saat memilih baju yang ingin aku kenakan. Aku selalu berdiam diri di depan almari, sambil meramalkan hari ini kau akan pakai baju apa. Dan aku selalu merasa senang sendiri meski hari itu hanya salah satu dari pakaianku yang sama.

Ah, andai saja aku selalu tahu hari ini kau mau pakai baju apa.

Jarak

Lama sekali aku tak menulis tentangmu. Lama pula aku tak bercakap denganmu, sejak kata-kataku yang kusampaikan lewat kabel kasat mata itu.

Hari berlalu sejak hari itu, dan aku merasa beban yang kurasakan tentangmu entah mengapa berkurang, banyak malah, mungkin sekarang telah hilang sepenuhnya. Waktu berjalan, lama kita tak bercengkerama seperti biasanya. Aku memulainya dengan sebuah kata sapaan yang kutulis dengan mesin ketik modern. Lama kutinggal pergi jalan-jalan keliling dunia, tapi balasan itu tak kunjung datang darimu. Malah, aku merasakan bahwa hawa keberadaanmu menghilang sepenuhnya.

Aku jadi berpikir, mungkinkah kau menjauh dariku? Ah, tak mengapa, aku memang ingin kau menjaga jarak denganku. Tapi tidakkah kau merindukan obrolan kita yang dipenuhi dengan tawa dan gurauan? Jarak kita pun sudah jauh, tak perlu menambah jarak dengan kau berpura-pura menghilang dari dunia ini.

Bukankah kita sudah berjanji untuk jadi aku dan kau yang selama ini?