Senin, 11 April 2011

Apa Kabar, Matahari?

Lama tak bertemu denganmu, matahari.

Di negeri ini, yang ada hanya langit dan awan yang bergantungan rendah, keberatan akan air hujan mungkin. Dari tempatku kini, aku jarang bisa menatapmu, bahkan untuk mengintipmu pun begitu susah. Sudahkah jarak membuatku melupakan perasaan lamaku?

Sejak bincang-bincang kita dulu itu, aku tak pernah bisa melihatmu. Langin mendung, tak pernah cerah. Bahkan barang menengok pekarangan rumahmu yang gersang itupun aku jarang, bahkan tak sempat.

Hei, matahari, aku mendengar kabar dari angin, kalau prajurit wanita dari klan Belatrix itu sedang pergi jauh. Benarkah itu? Aku dengar pula dari angin, kau sekarang begitu sedih hingga jarang muncul di lapangan langit. Benarkah itu? Aku dengar pula, cahayamu kini meredup, sampai-sampai aku kini tak pernah lagi bisa merasakan kehangatan sinarmu. Sedihkah kau? Terpurukkah kau kini? Lantas, kemana kiranya kau akan mencurahkan kegundahanmu itu? Kepadaku kah? Atau kepada para bidadari dan malaikat yang selalu ada di sekelilingmu itu?

Hei, matahari, sejak perbincangan kita itu, aku telah memutuskan untuk menggenggam mantra yang telah aku ucapkan sejak pertama kali kita bertemu dulu. Oleh karenanya, jangan ragu jikalau kau ingin menceritakan cerita sedihmu itu kepadaku.

Kita teman, bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar