Senin, 11 April 2011

Sapamu (dan Caraku)

Aku senang, karena pada akhirnya kau mau menyapaku karena keinginanmu sendiri. Tapi mungkin adalah egoku yang menyahut sapaanmu itu sehingga aku terlihat begitu ketus. Padahal dalam hatiku aku melonjak kegirangan karena kau sapa.

Tak ada hujan atau badai, pagi itu cerah, matahari terik, tingkat uap air cukup tinggi, nanti sore akan hujan mungkin, dan kau kali itu menyapaku dengan suara yang telah memenuhi rongga telingaku selama berbulan-bulan ini. Mungkin kah pada akhirnya kau menyadari kehadiranku di dekatmu?

Hei, Biru, aku tak akan menyerah hanya karena kau seperti langit dulu. Aku akan memaksamu berbicara kepadaku, menatapku, tersenyum kepadaku, dengan caraku sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar