Senin, 09 Mei 2011

Penipu Kelas Kakap

Aku sungguh tak mengerti ucapanmu, semenjak kita bertukar pikiran hari itu. Ucapanmu sungguh sangat aku percaya, tapi sepertinya kau hanya main-main saja dengan kata-kata. Kadang kala kau berkata tentang hal ini dan kemudian kalimatmu berubah menjadi itu. Sungguh, aku tak menegrti. Yang aku pahami darimu adalah kau seorang penipu. Berulang kali kau menipuku dengan kata-katamu. Padahal kau tahu aku begitu mempercayaimu. Lantas, masih bisakah aku terus percaya kepadamu? Entah mengapa aku begitu bodoh sehingga terus mempercayaimu.

Hei, kau penipu kelas kakap, sungguh aku tak bisa membedakan mana kata-katamu yang jujur dan mana yang tipuan.

Pembiasaan (padaku)

Lagi-lagi, malam itu kau begitu mempesona, biru.

Aku tercengang menatapmu. Mungkin malam sudah larut, dan bau dupa atau kemenyan yang tersamarkan diudara menghipnotisku. Aku baru sadar bahwa selama ini aku kurang berusaha menampakkan diriku. Tapi aku cukup senang karena kini kau mulai terbiasa akan kehadiranku, tidak menampikku seperti dulu.

Malam itupun aku sangat senang, akrena melihatmu hanya sendirian di tengah keramaian lampu kota. Dan tak seperti orang-orang lain, kau tak membawa seseorang bersamau kali itu. Lantas, bolehkah aku berkesimpulan kalau kau tak mempunyai seseorang itu?

Kalau memang demikian, tunggu saja, aku pasti akan lebih berusaha untuk membuatmu terbiasa kepadaku.

Penat

Rasa-rasanya aku sudah menyerah hari itu, hari dimana kau mengatakan bahwa kau sudah memutuskan untuk maju. Aku sudah berusaha perlahan mundur. Tapi mengapa rasa-rasanya apa yang kau lakukan sekarang malah semakin menarikku kepadamu?

Aku limbung, perasaanku kacau, tinggal menunggu waktunya aku meledak dan semua hal yang aku pendam terhadapmu menjadi berserakan. Mungkin hal itu akan jadi baik, tapi bisa saja tidak. Semua orang akan tahu, kau juga akan tahu, dia juga akan tahu, dan aku tak bisa lagi menghindar dari pertanyaan yang akan memberondongiku seperti peluru yang keluar dari senapan otomatis.

Pikiranku penat, penuh denganmu, walau sedikit-demi sedikit pikira itu mulai meresap ke celah-celah yang sudah kututup beberapa saat lalu. Sedikit demi sedikit mengendapkan bayanganmu padaku. Bahkan tanpa sempat aku mengelak, celah itu melebar seukuran tangan. Dan kau dengan caramu itu membuatku semakin sulit menutupi celah itu.

Sungguh aku ingin berhenti memikirkanmu sejenak saja. Biarkan aku menjadi orang yang bebas seperti beberapa tahun lalu.