Kamis, 21 Juli 2011

Ternyata Memang Lagu itu

Secara tak sengaja aku membaca tulisan yang kau tulis di papan pesan depan stasiun. Tulisan yang meminta entah siapa untuk kembali kepadamu karena kau merindukannya, merindukan suaranya, merindukan kata-katanya, merindukan sosoknya.

Mungkin aku terlalu berharap karena kupikir pesan itu untukku, ya, kupikir pesan itu untukku. Tapi ada yang janggal dari pesan itu, kau merindukan ia yang menyanyikan lagu favoritmu? Aku tak pernah menyanyi, menyanyikan lagu apapun aku tak pernah, bahkan aku tak tahu apa itu lagu kesukaanmu. Lama sejak hari itu, kalimatmu itu masih terbayang dalam ingatanku meski sekarang papan pesan itu telah kau ganti dengan pesan moral. Aku masih memikirkannya.

Entah karena tuntutan pekerjaan atau apa, aku iseng pergi ke toko musik, menanyakan lagu yang mungkin kau suka kepada si pemilik toko. Aku disodori sebuah album bersampul gambar tangan anak kecil, 'pohon, bulan, dan bintang'. Setelah menukarkan beberapa digit receh, aku pulang dan bersemangat untuk mendengarkan lagu-lagu di dalam kaset itu. Hingga sampai aku menemukan sebuah lagu yang sering ia nyanyikan. Ya, tak salah lagi. Lagu yang sering ia nyanyikan di malam bulan purnama, saat aku duduk di depan kertas dan tinta-tinta, saat kau duduk manis di balik mesin ketik, mendengarkan ia bernyanyi.

Ya, lagu itu memang lagu favoritmu, yang akhirnya aku tahu juga lagu favoritnya. Ya, tentu saja, pesan itu pun ditujukan untuknya, bukan? Ya, tak salah lagi, memang lagu itu, dan pesan itu memang untuk dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar