Jumat, 26 Agustus 2011

Saksi Tumbuh Kembang Kita

Bersamamu kawan, kemarin aku dan kau menapaki sebuah lorong menuju sebuah tangga yang akan menghantarkan kita ke tempat itu, tempat yang dulu kita sebut sebagai rumah, tempat yang lebih suka kusebut sebagai atap langit, atau juga ku sebut menara Gou, tempat semua dongeng berasal.

Waktu telah menorehkan kerentaan terhadap tempat itu, kawan, kau menyaksikannya sendiri. Rumah kita telah berpindah tangan dan ketika aku melongok menatap deretan bangku-bangku di dalam sana, urutannya tak seperti dulu, dan lukisan dinding itu telah dibajak. Ah, mungkin seharusnya kau dulu membawanya bersama kita. Banyak yang berubah kawan, tempat kita biasa menggelar tikar untuk piknik di bawah terik matahari telah menjadi tempat yang tak dapat dimasuki. Ya, kau saksikan itu sendiri, bukan?

Tapi ada sesuatu yang tak berubah dari tempat itu kawan. Lorong itu tidak berubah, tetap dengan ubin merahnya tempat kita dulu berbagi duduk ataupun tidur siang sambil dibelai angin. Langit-langitnya tak berubah, masih saja putih dan suka menguping pembicaraan kita. Kaca-kaca di jendela itu masih sama, selalu memantulkan langit di seberang timur laut, juga membagi ramalan cuaca hari itu. Satu hal yang benar-benar tak berubah dari tempat itu, kawan, aromanya. Ya, aromanya masih seperti dulu, selalu menenangkan, hingga kita bisa leluasa berbagi tentang apa yang kita rasakan satu sama lain. Dan kau tahu kawan, rasanya, hanya di tempat itu saja aku merasakan waktu berjalan begitu lambat sedang diluar sana entah jam dinding sudah menunjukkan pukul berapa.

Ya, kawan, mungkin aku benar-benar bisa menghabiskan hariku hanya untuk duduk di sana dan mendengarkan kisahmu.

2 komentar: