Selasa, 27 September 2011

Pesan yang Kau Sembunyikan Malam Ini

Aku marasa kau terlalu tega kepadaku karena tak mau memberitahukan dirimu kepadaku. Dan lagi-lagi, aku mendengarkan hal yang tak pernah ingin kau tunjukan kepadaku itu lewat orang lain.

Aku selalu bertanya-tanya tentang siapa dirimu yang sebenarnya, dirimu yang tak pernah aku lihat sebelumnya, dirimu yang lain. Entah karena kau memang tertutup atau karena kau yang pandai berakting di depanku, aku selalu tak bisa menemukan celah untuk menanyakan hal itu kepadamu, kawan. Tapi tak apa, aku akan menunggu hingga saat yang tepat untuk menanyakannya sendiri kepadamu.

Waktu berlalu, kawan. Tindak tandukmu yang mencurigakan itu kembali menggelitik rasa ingin tahu yang aku pendam dalam-dalam sejak lama, ini tentang dirimu yang lain. Tak pernah sekalipun kau mau menunjukan sisimu yang lain itu, dirimu yang lemah dan tak tahu hendak bersandar kepada siapa. Sedikit percakapanmu dengan seseorang itu bisa kuterjemahkan sebagai kepedihanmu yang terdalam, hal yang berharga aku kira. Aku diam dam memilih mengutukmu dalam hatiku. Aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri, apakah aku kurang pantas untuk mendapatkan kepercayaanmu dengan mendengar ceritamu itu? Apakah hal-hal yang lebih dari banyak kesenangan kita selama ini tak cukup meyakinkanmu untuk mempercayakan kepedihanmu itu kepadaku?

Tapi pada akhirnya waktu menjawab semua pertanyaan yang belum sempat aku pertanyakan kepadamu, lewat pesan berantai malam ini. Dan kau tahu apa yang aku lakukan ketika tahu sisi dirimu itu? Aku mengutukmu dalam hati karena telah mencabik perasaanku kepadamu lewat kabar angin malam itu. Aku merasa kau khianati meski selama ini aku telah begitu percaya kepadamu dan menunggumu dengan sabar.

Maafkan aku kawan, kepedihanmu itu tak serta merta aku mengerti, tapi ketika aku meresapinya, aku tiba-tiba sadar bahwa mataku basah oleh air mata. Rasa sedih itu, rasa tersakiti itu, perasaan kehilangan itu, hal-hal yang tak kau lampiaskan itu entah mengapa menyesakkan dadaku yang membayangkanmu berdiri memandangku tanpa emosi apapun. Malam ini juga, aku ingin berlari ke tempatmu berada sekarang. Dan ketika kau bangkit dari dudukmu sambil tersenyum kepadaku, rasa terkhianati dalam diriku membuncah. Sekonyong-konyong, aku menerjangmu lalu melayangkan tanganku ke mukamu. dan kau yang tanpa pertahanan apapun saat itu, merelakan kedua sisi wajahmu aku pukul, lantas rubuh di hadapanku. Aku memegang kerah kemeja hitam yang belum kau ganti sedari tadi pagi, hendak memukulmu lagi tetapi aku tak punya daya apapun. Serta merta aku malah duduk lemas di hadapanmu yang tertunduk, siap menerima pukulan dariku lagi. Kau gemetar menahan perasaanmu, rasa sedihmu, rasa kehilanganmu, rasa tersakiti di hatimu, aku bisa merasakannya, lama-lama memenuhi dadaku dan membuatku sesak. Lantas tanpa pertahanan apapun aku mulai menangis di hadapanmu. Dan kau hanya diam masih tertunduk dan gemetar, bibir bawah yang kau gigit mulai berdarah.

Sungguh aku merasakan perasaan yang tak ingin kau perlihatkan kepada orang lain, sisi terlemahmu, sisimu yang lain. Tapi biarkan kali ini aku mewakilimu untuk menangisi salah satu hal yang paling berharga dalam hidupmu. Ya, kali ini saja, biarkan aku yang terlihat lemah di hadapanmu, bukan kau.

Senin, 26 September 2011

Lari Estafet

Adalah berdiri di podium yang sama sambil mengangkat tropi dan menyemburkan bir bersamamu, hal yang selama ini kuinginkan meski aku tetap bingung bagaimana menyampaikannya kepadamu.

Sudah aku putuskan sejak awal, aku akan mengikuti lomba lari estafet ini, bersamamu tentunya. Aku sudah berlatih jauh-jauh hari, menyiapkan segala sesuatu termasuk sepatu dan juga seragamku. Semua orang telah meyakinkanku bahwa aku akan dapat berlari hingga bagianku selesai, hingga aku pun tak gentar lagi untuk berlari, karena aku yakin di ujung lintasan ini aku kan menyerahkan tongkat estafet ini kepadamu.

Aku pun bersiap di garis start sambil mengencangkan tali sepatuku. Ketika aba-aba dari wasit dicetuskan, aku mengambil posisi siap, start jongkok sambil memandang lurus ke depan, ujung lintasanku, dan samar-samar aku melihatmu ada di sana. Dan pada akhirnya pistol angin itu meletup, aku berlari serta merta mengerahkan seluruh usahaku untuk menyerahkan tongkat yang kugenggam ini kepadamu. Karena aku percaya, kau akan menuntaskan separoh terakhir dari lintasan lari ini.

Tapi, hei, ketika ujung separuh lintasanku ini mulai terlihat, aku tak melihatmu di sana, di ujung lintasan ini. Alih-alih ternyata kau malah berasa di ujung lintasan yang berbeda, sedang menunggu seseorang mengoperi tongkat kepadamu. Lalu aku melambatkan lariku, karena sadar tak ada siapa pun di lintasan ini untuk meneruskan separoh terakhir lariku. Aku tak mengerti mengapa kau berada di lintasan yang berbeda, kupikir kau telah menyetujui untuk memenangkan lomba lari estafet ini bersamaku. Tapi, haruskah aku menyelesaikan perlombaan ini sendirian? Lantas bukankah usahaku selama ini pun jadi tak penting lagi untukku juga kau?



Aku mungkin akhirnya sadar, kalau mungkin sejak awal kau memang tak ada di jalur yang sama denganku, benar begitu?

Minggu, 25 September 2011

Lomba Lari

Satu lagi orang bodoh yang kutemui.


Ia adalah salah seorang calon peserta lomba lari yang ingin kuikuti kemarin dulu. Aku berkenalan dengannya saat aku masih muda dan entah mengapa kuhabiskan waktu menanti kedewasaan bersama dia dan orang-orang dari negeri dongeng. Ia adalah seorang jenderal perang, sekaligus filsuf yang pemikirannya melebihi Shikamaru. Sudah banyak peperangan yang ia hadapi dan hasilnya ia tak pernah kalah, kalaupun tak menang, kedudukannya selalu berimbang. Ketika kutanyakan kepadanya apakah ia mau mengikuti lomba lari itu, ia malah berkilah kalau sepatunya hilang sehingga aku pun meminta dia memetakan jalur perlombaan kepadaku, agar aku bisa selamat sampai ke akhir lintasan lariku.

Ketika hari perlombaan, aku melihatnya berdiri di belakang garis start, lalu aku tersenyum kepada diriku sendiri. Aku menghampiri dan menyapanya lalu dia hanya tersenyum, katanya ia akan berlari tanpa sepatu itu. Lalu aku berdoa kepada tuhan semoga kami bisa berdiri di podium yang sama lalu tersenyum bersama sambil mengangkat tropi dan menyemburkan bir.

Tapi seperti yang ia katakan, semesta memiliki refleks kepada manusia, dan begitu pula manusia. Ketika aku dan dia telah bersiap menunggu aba-aba dan letupan senapan angin, rasionalitas dalam diriku menguasai perasaanku. Apa yang terbayangka digaris finis bisa saja sama, tapi rasion itu berbisik kepadaku, mungkin saja garis finis tak seperti apa yang aku pikirkan dulu. Dan aku pada akhirnya merasa gentar berlari.

Hei, jenderal, ketika letupan senapan itu terdengar dan kau serta merta semua orang itu berlari menyongsong garis finis kalian sendiri-sendiri, aku memutuskan untuk tak berlari. Dan rasionalitasku mulai menjalari tubuhku. Ketika kau berteriak kepadaku bahwa kau berlari terlalu kencang hingga tak sadar telah melewati garis finis, kau menoleh dan mendapatiku sedang melakukan harakiri.


Ya, jenderal, aku mungkin sekarang telah mati akibat hal yang belum aku mulai.

Sabtu, 17 September 2011

Pertemuan

Ada banya hal yang tak bisa aku jelaskan lewat kalimat kepadamu, kawan, begitu pula apa yang kau sembunyikan dariku selama ini.

Malam itu tanpa salah satu saudara perempuan kita itu, kita sekeluarga pergi ke sebuah tempat yang sama setahun lalu. Tanpa kau sadari, lagi-lagi pertemuan itu terjadi pada tanggal yang sering kita hindari, tapi anehnya selalu kita pakai sebagai waktu untuk berkumpul tanpa sengaja. Malam itu tidak mendung, bulan kelihatan jelas, tapi aku sama sekali tak bisa membaca wajahmu yang dipenuhi kegundahan. Entah apa yang membebani pikiranku malam itu, tapi aku jelas bisa menangkap kedalaman suaramu, penuh rasa sakit yang entah mengapa ikut membuatku sakit.

Lalu kau memilih ntuk tak mengajakku bicara meski kita sama-sama bermain melempar kata dan kelicikan kita masing-masing bertama saudara-saudari kita. Malam semakin larut saja dan aku gelisah memikirkan jalan pulang malam itu. Tidak masalah, hanya saja aku tak ingin terjebak dipekarangan orang lain malam itu. Saat itu aku menemukan dirimu bersama seseorang yang kau percaya sejak lama itu, bercerita mengenai kegundahanmu malam itu. Sedikit banyak aku bisa membaca gerak bibirmu yang terbata-bata bercerita tentang ganjalanmu selama berhari-hari ini. Entah mengapa aku sedikit iri kepada seseorang yang kau ceritai itu, hingga aku bertanya dalam hati, apakah kau tak cukup percaya kepadaku untuk menyimpan kegundahanmu itu?

Kawan, ketika kau sore itu pun pergi menuju tanah perantauan, aku mendoakan kebahagiaanmu di sana dan juga berharap agar ketika kau kembali ke tanah tempat kau dibesarkan, kau sudah bisa mempercayaiku, dan tentu saja, dengan senang hati aku akan mendengarkan segala pemikiranmu.

Kamis, 15 September 2011

What am I to say?

With this song in my ears, I remember the all thing that we shared and did together. What a best thing in my life!

I still don’t understand what you exactly feel to me, and also, my feeling. It’s hard for me to realize this truly called, and when I recognized it, I really still didn’t understand what its mean and how I should act in front of you. Always, I still couldn’t find any suitable words to tell you how I feel, until now and make it can’t be understood. I really didn’t know what I want from you, and also, I didn’t know what you want from me because you never tell me. Really, I don’t know what we exactly should be. Somehow I feel it’s enough for me to and tell you how about me, but in other side, I don’t want you to let it go in this way.

I thought you will find any right time to talk to me, so I could tell you about something which make me can’t sleep every night. I decided to wait because I want you to tell me if you really want to do it, not because you are under pressure. But maybe God never gives you any chance to talk to me, or you, who decide not to tell me? I don’t know; really don’t know what is in your mind. Yeah, I never can read your mind perfectly.

Argh, I don’t know what I said to you now. But really, if I could spin the time back, I would find a right time to tell you it.

Could I speak to you now? I want you to do one thing for me. I beg to you.

Selasa, 13 September 2011

Bicaralah ( karena aku tak paham diammu )

Untuk my encephalitis-sista,

Dalam pertemanan pasti selalu ada prasangka. Dan tak mungkin bila sebuah pertemanan dilalui tanpa ada permasalahan di dalamnya.

Aku selalu merasa tak berguna ketika kau memilih diam dan tak bercerita kepadaku tentang semua kegundahan yang kau perlihatkan kepadaku di sembarang tepat. Aku merasa seperti kau permainkan. Aku telah mengenalmu bertahun-tahun, baru mungkin beberapa tahun belakangan ini kita begitu dekat, kawan, aku menemukan ikatan persaudaraan tak resmi itu. Kau cukup polos untuk ukuran anak seumurmu, kawan, sedang ketika kau bertemu denganku, aku adalah sosok yang selalu tergagap saat bicara. Aku senang berkawan denganmu karena kau bisa memahami gagap kataku, senang dengan kepolosanmu itu hingga aku lupa tentang beban hidup yang aku bawa bertahun-tahun.

Aku turut bahagia ketika kau menemukan kebahagiaanmu sendiri, meski aku masih mencari-cari kebahagiaan itu tanpa petunjuk apapun. Kadang aku merasa iri dan takut karena kita akan jadi lebih jarang berbincang-bincang seperti dulu, akan lebih jarang menghabiskan waktu bersama sambil berkelana ke hutan atau menyusuri pantai, atau akan lebih jarang bertukar mimpi. Dan ketakutanku itu pun sepertinya benar, kau terlalu bahagia hingga aku takut mengusikmu, kawan. Aku ingin mengatakannya kepadamu, tetapi aku takbisa mengatakan hal-hal seperti ini dengan lancar, malah tergagap dan gentar ketika ingin mengucapkannya dan akhirnya tak pernah terucapkan karena nyaliku yang lama-lama menciut.

Aku selalu merasa ingin marah kepadamu sejak lama, tetapi selalu tak bisa, karena aku sadar kalau aku tak mungkin memaksakan keegoisanku itu untuk memaksamu bercerita kepadaku. Padahal aku selalu memastikan kau baik-baik saja agar tak ada yang melukaimu, karena aku akan merasa sedih kalau kau sedih. Kadang aku ingin menceritakan ceritaku kepadamu, meminta pendapatmu, tapi aku merasa kau tak bisa meluangkan waktu sedikit saja untuk memberiku saran, atau hanya aku saja yang merasa aku akan mengusikmu dengan masalahku dan membuatmu semakin menggalau? Ya, aku memilih diam, agar masih ada yang bisa berpikir dengan jernih ketika kau meminta pendapatku. Tapi tak pernah, dan aku pun memilih untuk diam, menunggumu bercerita, tapi tak kunjung terjadi. Aku tak ingin kau merasa aku mencampuri hal terdalam darimu, aku hanya ingin kau tetap baik-baik saja di tempatmu saat ini.

Dan kalau kini kau marah kepadaku karena aku yang membiarkanmu hanya tahu sepatah-patah cerita itu, aku minta maaf kepadamu. Tapi tolong katakan kepadaku apa yang harus aku lakukan agar kau berhenti mendiamkanku seperti ini? Kalau yang kau inginkan adalah ceritaku, aku bersedia bercerita kepadamu, tapi biarkan aku mengumpulkan tekad dan memilih waktu yang tepat untuk menceritakannya kepadamu karena bagiku ini tak mudah dan cerita itu akan begitu panjang dan mungkin akan membutamu bosan. Jadi katakan kepadaku kawan, aku tak terbiasa mendapatkan jawaban tanpa kata-kata yang kau lakukan sekarang, apa yang benar-benar harus kulakukan agar kau tak marah kepadaku lagi?


Karena aku tak bisa berbicara dengan lantang, dan hanya bisa menulis ini.