Senin, 26 September 2011

Lari Estafet

Adalah berdiri di podium yang sama sambil mengangkat tropi dan menyemburkan bir bersamamu, hal yang selama ini kuinginkan meski aku tetap bingung bagaimana menyampaikannya kepadamu.

Sudah aku putuskan sejak awal, aku akan mengikuti lomba lari estafet ini, bersamamu tentunya. Aku sudah berlatih jauh-jauh hari, menyiapkan segala sesuatu termasuk sepatu dan juga seragamku. Semua orang telah meyakinkanku bahwa aku akan dapat berlari hingga bagianku selesai, hingga aku pun tak gentar lagi untuk berlari, karena aku yakin di ujung lintasan ini aku kan menyerahkan tongkat estafet ini kepadamu.

Aku pun bersiap di garis start sambil mengencangkan tali sepatuku. Ketika aba-aba dari wasit dicetuskan, aku mengambil posisi siap, start jongkok sambil memandang lurus ke depan, ujung lintasanku, dan samar-samar aku melihatmu ada di sana. Dan pada akhirnya pistol angin itu meletup, aku berlari serta merta mengerahkan seluruh usahaku untuk menyerahkan tongkat yang kugenggam ini kepadamu. Karena aku percaya, kau akan menuntaskan separoh terakhir dari lintasan lari ini.

Tapi, hei, ketika ujung separuh lintasanku ini mulai terlihat, aku tak melihatmu di sana, di ujung lintasan ini. Alih-alih ternyata kau malah berasa di ujung lintasan yang berbeda, sedang menunggu seseorang mengoperi tongkat kepadamu. Lalu aku melambatkan lariku, karena sadar tak ada siapa pun di lintasan ini untuk meneruskan separoh terakhir lariku. Aku tak mengerti mengapa kau berada di lintasan yang berbeda, kupikir kau telah menyetujui untuk memenangkan lomba lari estafet ini bersamaku. Tapi, haruskah aku menyelesaikan perlombaan ini sendirian? Lantas bukankah usahaku selama ini pun jadi tak penting lagi untukku juga kau?



Aku mungkin akhirnya sadar, kalau mungkin sejak awal kau memang tak ada di jalur yang sama denganku, benar begitu?

4 komentar: